Rabu, 01 Januari 2020

Ibnu Sina Mengetuk Pintu Ilmu


Sepanjang sejarah Peradaban Islam yang diterangi oleh para ahli ilmu, nama Ibnu Sina merupakan salah satu dari sekian banyak lentera yang dimiliki umat Islam yang dikenal karena capaiannya di bidang filsafat dan kedokteran. Penghormatan dan pengakuan atas perannya yang sangat besar terlihat dari penyematan nama Ibnu Sina pada sekolah, rumah sakit, hingga masjid. Banyak dari kita pun bertanya, bagaimana cara yang dilakukan Ibnu Sina hingga mampu mencapai kedudukan ilmu yang tinggi dan menghasilkan karya keilmuan yang diakui berbilang abad lamanya? Dalam autobiografi yang dikumpulkan oleh seorang muridnya bernama Al-Juzjani dan diterjemah dalam bahasa Inggris oleh William E. Gohlman dengan judul The Life Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan tadi.

Dalam autobiografinya, Ibnu Sina menuliskan guru-guru pada fase awal pertumbuhan intelektualnya. Yang pertama ialah seorang penjual sayuran yang ahli dalam perhitungan dengan model India, sehingga ayahnya memerintahkan Ibnu Sina untuk belajar berhitung kepada pedagang tersebut. Yang kedua bernama Abu Abdullah al-Natili yang mengklaim dirinya memiliki keahlian di bidang ilmu filsafat. Pada masa lalu, filsafat yang dikenal sebagai the mother of science merupakan nama untuk berbagai cabang ilmu pada masa kini, sehingga Dr. Syamsuddin Arif menggarisbawahi yang dimaksud dengan filsafat pada masa lalu mencakup sains seperti yang kita dapati pada masa kini. Mengetahui kedatangan Abu Abdullah al-Natili ke wilayahnya, ayah Ibnu Sina meminta al-Natili tinggal di rumahnya untuk memberikan pengajaran kepada Ibnu Sina. Selain itu, Ibnu Sina juga menyebutkan seorang guru bernama Ismail yang sering dikunjunginya untuk belajar fikih sebelum kedatangan al-Natili. 

Selasa, 31 Desember 2019

Menempatkan Ibnu Sina Dengan Benar

Sumber: Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara

Sejak beberapa tahun silam beredar kabar berantai melalui media sosial yang menyatakan bahwasanya Ibnu Sina merupakan penganut Syiah, dan kabar lainnya mendakwa Ibnu Sina telah keluar dari Islam karena menghalalkan khamr bagi dirinya. Atas dasar dua tuduhan tadi, kabar berantai tersebut yang tidak dikenali penulisnya memberi arahan kepada umat Islam untuk menolak peran dan capaian keilmuan Ibnu Sina dalam sejarah Peradaban Islam. Selain itu juga mendorong umat Islam untuk menanggalkan nama Ibnu Sina pada sekolah, rumah sakit, hingga masjid karena tidak mencerminkan Islam dan mewakili umat Islam. Salah satu dari sekian banyak kabar berantai yang beredar terkesan lebih moderat dengan menyatakan pengakuannya terhadap capaian keilmuan Ibnu Sina, terutama di bidang kedokteran, sambil menolak capaiannya di bidang filsafat yang dinilai bertentangan dengan Islam. 

Dalam tulisan ini hendak diluruskan kesalahpahaman maupun ketidaktahuan terhadap dua persoalan yang dinisbatkan kepada Ibnu Sina, yakni (1) beraqidah Syiah Ismailiyah; dan (2) peminum khamr, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif sebagai ahli filsafat Ibnu Sina yang telah diakui otoritasnya di dunia internasional. Untuk mengetahui dengan tepat kedua persoalan tadi, maka harus diketahui sejarah hidup Ibnu Sina yang benar, yakni merujuk pada referensi yang otoritatif. Dr. Syamsuddin Arif pada kesempatan Kelas Sehari bertajuk Ibn Sina: His Life, Thought, and Legacies yang diselenggarakan oleh Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara di Masjid Kampus UGM pada 29 Desember 2019 menjelaskan bahwa referensi yang otoritatif untuk mengetahui sejarah kehidupan Ibnu Sina ialah autobiografi yang ditulis olehnya sendiri dan dikumpulkan oleh murid beliau bernama Al-Juzjani. Naskah ini telah diperiksa, diberi komentar, dan diterjemah dalam Bahasa Inggris oleh William E. Gohlman dengan judul The Life Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation yang menampilkan teks berbahasa Arab dan terjemahnya dalam bahasa Inggris.

Jumat, 20 Desember 2019

Model Masjid Tol

Saya menilai tidak tepat pembangunan masjid di rest area tol dengan argumentasi sebagaimana telah saya sampaikan pada bagian sebelumnya dari tulisan ini. Menurut saya, keberadaan mushala dengan kapasitas yang disesuaikan dengan jumlah pengunjung tertinggi dalam setahun, misalkan pada masa mudik lebaran, sudah cukup untuk mewadahi kegiatan ibadah shalat dan beristirahat yang merupakan kebutuhan mendasar pengguna maupun pegawai di rest area tol. Namun demikian, kehadiran masjid tol dimungkinkan jika terpenuhinya syarat modal sosial yang bersifat tetap. Inilah yang hendak saya bincangkan pada bagian kedua tulisan ini dengan menawarkan dua model masjid tol. Perlu dipahami, pendekatan model yang saya gunakan bersifat ideal, karenanya diperlukan kontekstualisasi, penjabaran, dan penyesuaian untuk dapat diterapkan di berbagai tempat dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. 

Model pertama, pembangunan masjid tol dilengkapi fasilitas asrama yang diperuntukkan untuk tempat bermukim modal sosial masjid dengan kapasitas paling tidak 40 orang menyesuaikan dengan syarat minimal dilaksanakannya peribadatan Shalat Jumat menurut salah satu pendapat dalam Fikih. Mengenai modal sosial masjid tol, pihak pembangun atau pewakaf masjid dapat menjalin kerjasama dengan Ormas Islam, seperti Muhammdiyah, NU, Persis, Al-Irsyad, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, atau yang lainnya. Salah satu mekanisme yang dapat diterapkan ialah mengutus santri yang telah dinyatakan lulus dan siap berdakwah, atau dai yang telah berpengalaman, untuk bermukim di area masjid tol sebagai modal sosial masjid yang bersifat tetap.