Sabtu, 28 Maret 2020

Orientasi Sains Islam

Tiga Model Sains Barat

Pada masa kini dalam dunia intelektual yang masih saja didominasi Peradaban Barat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptanya, kita mendapati tiga model sains yang tengah berkembang dan mempengaruhi aktivitas ilmiah dalam skala global, tidak terkecuali di tengah komunitas umat Islam. Tiga model sains Barat Kontemporer yang saya maksud ialah (1) sains berparadigma Positivisme; (2) sains sosial humaniora berparadigma Relativisme; dan (3) sains alam berparadigma Spiritualisme. Dalam tulisan ini secara singkat saya akan menjelaskan masing-masing orientasi tiga model sains tersebut kemudian membandingkannya dengan Sains Islam dalam aspek yang sama.

Sabtu, 07 Maret 2020

Membidik Harari (Bagian 2-Selesai)

Menguliti Pemikiran Harari

Yuval Noah Harari melalui dua magnum opus-nya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus, dikenal dan tengah menjadi buah bibir di kalangan intelektual hingga pembelajar di Indonesia. Sebagiannya menyambut positif pemikiran Harari, sebagian yang lainnya melakukan penolakan. Penolakan terhadap Harari didasari beragam argumentasi. Sebagiannya didasari latarbelakang Harari sebagai seorang Yahudi, penganut Atheisme, dan pelaku homo seksual, sementara sebagian yang lain melakukan penolakan terhadap karya Harari disebabkan ketidaksetujuan terhadap penafsiran sejarah yang disuguhkan Harari di dalam dua bukunya. Pihak pertama yang menolak Harari menilainya sebagai ilmuwan yang tidak beradab, sehingga gagasannya tidak pantas untuk dipelajari apalagi didiskusikan, sedangkan pihak kedua menilai Harari sebagai sejarahwan yang liar dalam penafsiran yang menjadikan karyanya bernilai janggal.

Saya hendak menyoroti lebih jauh kalangan yang mengapresiasi, bahkan mengamini pandangan Harari. Dua hal yang dinilai menarik dari Harari oleh kalangan ini ialah (1) kapasitasnya sebagai sejarahwan yang mampu menarasikan sejarah panjang umat manusia hingga prediksi masa depan eksistensi manusia dengan bahasa populer, sehingga mudah dipahami oleh kalangan awam sekalipun; dan (2) analisa Harari yang mengungkap kemampuan fundamental Homo Sapiens untuk bertahan hidup, yakni berbahasa yang menjadikan manusia mampu berkomunikasi dengan sesamanya, sehingga meniscayaakan terbentuknya komunitas sebagai wadah bagi manusia untuk bekerjasama dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dengan kekuatan komunal ini, Harari menyatakan, memampukan Homo Sapiens mempertahankan eksistensinya dengan cara menyingkirkan sesama manusia dari jenis berbeda yang dianggap sebagai pesaing dalam hal penguasaan ruang kehidupan dan sumber daya makanan.

Senin, 02 Maret 2020

Membidik Harari (Bagian 1)

Memposisikan Harari

Nama Yuval Noah Harari; seorang profesor di bidang sejarah dari Universitas Ibrani Yerusalem, melalui dua karya bukunya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus, selain itu melalui channel Youtube pribadi yang digunakan Harari untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya, tengah menjadi buah bibir di kalangan intelektual di Indonesia. Kemunculan Harari tidak saja merupakan sebuah peristiwa intelektual yang sedang riuh dibaca, didiskusikan, maupun didebat pada masa kini. Jika ditelusuri sejarah intelektual Barat sejak masa Modern, setiap kali terjadi krisis peradaban yang menandai peralihan periode dalam Peradaban Barat, selalu muncul tokoh intelektual yang melalui karya-karyanya mengarahkan masyarakat untuk menyambut masa depan sekaligus memberikan gambaran yang mudah ditangkap oleh masyarakat perihal zaman baru yang akan datang. Melihat keberulangan peristiwa yang sama, dalam tulisan ini saya hendak menjelaskan kemunculan Harari sebagai bagian dari fenomena tersebut yang menandai peralihan periode dalam Peradaban Barat.

Gambar: Yuval Noah Harari

Kita sejenak mundur ke belakang untuk membaca fenomena ini. Ketika Modernisme dengan gerak liniernya memasuki fase Revolusi Industri 2.0 yang merubah manajemen pabrik menjadi lebih efisien dalam hal pengaturan peran tenaga kerja terkait proses produksi, muncul seorang intelektual berlatarbelakang keilmuan psikologi bernama Erich Fromm yang dalam serangkaian karya bukunya melihat efisiensi industrialisasi yang sedang dialami masyarakat Barat berpotensi besar, dan memang secara faktual pada zamannya telah membuktikan, terjadinya krisis kemanusiaan. Fromm mengkritik industrialisasi yang menyebabkan terjadinya dehumanisasi, sehingga mendegradasi kualitas kehidupan manusia. Perlu digarisbawahi kritik yang disampaikan Fromm bukan dalam rangka menentang industrialisasi. Melalui karya-karyanya, Fromm memberikan panduan bagi masyarakatnya yang pada masa itu sedang bergeliat memasuki fase Revolusi Industri 2.0 untuk mewujudkan industrialisasi yang manusiawi dengan memperhatikan aspek spiritualitas manusia dalam kegiatan produksi, distribusi, hingga konsumsi.