Minggu, 26 Desember 2021

Merumahkan Tunawisma

Suatu hari menjelang maghrib ketika kami berkeliling Kota Surakarta, di titik perhentian lampu lalu lintas, saya mengalihkan perhatian Esa untuk melihat ke salah satu sisi jalan di mana seorang pria tua mendorong gerobak ditemani seorang wanita tua dan dua orang perempuan berusia anak-anak di belakangnya. Di dalam gerobak yang didorong dengan sangat lamban terlihat tumpukan kardus dan beberapa buah bantal yang warnanya telah pudar. Saya berkesimpulan mereka adalah keluarga tunawisma yang hidup berpindah-pindah dengan gerobak beserta isinya sebagai satu-satunya harta benda yang dimiliki. Pada kesempatan yang lain menjelang jam 10 malam, dalam kegiatan yang sama berkeliling Kota Surakarta, saya kembali mengarahkan perhatian Esa untuk melihat ke salah satu bagian depan toko yang telah tutup di mana beberapa tunawisma tengah mempersiapkan alas tidur dari kardus dan beberapa tas dari karung goni yang disusun di samping tempat pembaringan sebagai penanda teritori untuk memberikan rasa privasi secara psikologis.

Tunawisma menjadi fenomena yang marak hadir di kota-kota modern, termasuk pula di Indonesia. Di Jakarta saja yang merupakan kota termaju di Indonesia, menurut data BPS tahun 2020 terdapat 2.169 orang yang digolongkan sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dengan sejumlah 1.003 orang berstatus sebagai gelandangan. Angka yang tidak dapat dikatakan sedikit. Tentu sangat mengherankan, kota modern yang bernafaskan industrialisasi untuk memompa denyut kehidupan serba ekonomi, justru menyebabkan sekalangan warga kota tidak memiliki ruang hunian, sehingga terpaksa hidup berpindah-pindah bagaikan masyarakat nomaden yang identik dengan kehidupan jauh sebelum modern. Perjalanan kalangan ini baru berhenti ketika malam telah datang untuk tidur di mana pun ruang tersedia asalkan bernaung atap dan aman dari pantauan aparat berwenang. Maka pada malam hari, halte, jalur pedestrian, dan teras pertokoan yang telah tutup, jamak beralih fungsi menjadi ruang tidur bagi kalangan tunawisma sampai terbangun keesokan pagi sebab lapar, diusir pemilik toko, atau didatangi pamong praja. Fenomena demikian menunjukkan tingkat perkembangan fisik kota modern yang dengan gamblang terlihat dari kualitas dan kuantitas arsitekturnya yang mengagumkan, serta penggunaan teknologi tinggi dalam kehidupan keseharian, tidaklah sejalan dengan pemerataan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warganya.

Dari perspektif ilmu ekonomi, pembangunan yang berasaskan paham Kapitalisme dengan mekanisme pembangunan trickle down effect, sebagaimana mulai diterapkan di Indonesia pada masa Orde Baru, telah terbukti gagal. Roda perekonomian kota semakin meningkat, tetapi jurang kesenjangan semakin lebar yang salah satu indikatornya adalah munculnya masalah tunawisma. Memperkaya kalangan pemodal dengan harapan sebagian keuntungan yang diperoleh dari kegiatan perekonomian kota dapat menetes ke bawah dalam bentuk perluasan lapangan kerja hanyalah pepesan kosong. Pemodal semakin kaya, kelas menengah semakin gemuk, tetapi kelas bawah hampir-hampir tidak mendapatkan bagian kue ekonomi, bahkan sekedar remah-remah. Dalam kondisi ketimpangan yang hampir tidak teratasi, kebijakan pemerintah untuk mewujudkan negara kesejahteraan (welfare state) menjadi satu-satunya harapan bagi keberlangsungan hidup kalangan lemah, di antaranya tunawisma. Konon secara teoritik maupun empirik inilah satu-satunya cara menundukkan Kapitalisme yang seringkali disebut dengan nada cemooh sebagai Sosialisme merangkak.

Sabtu, 06 November 2021

Kita Yang Terlindas Zaman

Dunia (AS) Yang Macet

Tulisan ini berangkat dari analisa yang diketengahkan Alvin Toffler bersama istrinya; Heidi Toffler dalam buku berjudul Creating A New Civilization: The Politics of the Third Wave yang diterbitkan tahun 1995 dan diterjemah dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2002 oleh penerbit Tera Litera dengan judul Menciptakan Peradaban Baru: Politik Gelombang Ketiga. Bukan tanpa cerita, benih buku ini berawal pada tahun 1975 dalam konferensi mengenai Futurisme dan demokrasi antisipatoris yang diinisiasi oleh Partai Demokrat dan diperuntukkan bagi senator serta anggota dewan AS. Hadir juga pada acara tersebut satu-satunya anggota Partai Republik; Newt Gingrich, yang kelak menjalin hubungan dekat dengan Toffler dan mendorong diterbitkannya buku ini. Oleh karenanya dapat dipahami jika buku ini diberi kata pengantar oleh Gingrich dengan tujuan mempercepat transformasi AS memasuki Gelombang Ketiga yang mensyaratkan perubahan kebijakan pemerintah. Untuk tujuan itu buku tersebut pada awalnya dicetak terbatas untuk dibaca dan dipelajari kalangan dewan perwakilan rakyat AS ketika Gingrich menjadi ketuanya pada tahun 1994 dan kemudian pada kesempatan yang lain dipresentasikan di kalangan Partai Demokrat.

Dalam buku tersebut Toffler bersama sang istri mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi kehidupan di Amerika Serikat yang tidak kunjung memasuki periode Gelombang Ketiga secara menyeluruh, sebagaimana ia prediksi pada buku-buku sebelumnya, seperti Future Shock dan The Third Wave. Secara khusus kekecewaan tersebut Toffler tujukan kepada pihak pemerintah yang dinilai olehnya enggan mengambil kebijakan strategis untuk mempercepat AS beradaptasi dengan zaman baru yang kedatangannya tidak dapat ditunda dan tidak mungkin dihindari, sebagaimana analogi gelombang yang digunakan Toffler yang jika tidak diantisipasi akan menyapu bersih dan menghanyutkan AS dan negara-negara maju lainnya. Singkatnya, Toffler hendak mengatakan AS dalam kondisi macet!

Toffler mengungkapkan arah kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Gelombang Ketiga disebabkan kedekatan pemerintah dengan pihak swasta yang menguasai perekonomian Gelombang Kedua. Persekutuan kedua pihak tersebut menjadikan AS masih mengandalkan perekonomian pabrik yang disebut Toffler dengan istilah perekonomian cerobong asap, sehingga begitu lambat memasuki perekonomian fiber optik sebagai tulang punggung Gelombang Ketiga. Gelombang yang akan datang membawa perubahan pada alat produksi secara fundamental, dari mesin yang oleh Armahedi Mahzar (1993) disebut arkeo taknik karena memiliki artefak berukuran besar, beralih pada teknologi informasi yang disebut oleh Mahzar (1993) dengan meta teknik karena memiliki artefak yang jauh lebih kecil, namun memiliki kemampuan jauh lebih besar dengan membentuk ruang digital yang tidak berwujud fisikal, atau kita mengenalnya dengan istilah ruang maya atau ruang virtual. Maka Gelombang Ketiga tidak saja membawa teknologi baru, tetapi ruang kehidupan baru bagi manusia.

Penjelasan Mahzar di atas memiliki kesejajaran dengan uraian Toffler. Penguasaan perekonomian Gelombang Kedua dengan pabrik yang berceborong asap ditentukan dari jumlah produksi yang berkorelasi dengan luas ruang pabrik. Dengan kata lain penguasa ekonomi pada periode Gelombang Kedua ialah pemilik pabrik terbesar yang menandakannya memiliki jumlah mesin produksi terbanyak, sehingga memiliki kemampuan mencapai tingkat produksi paling tinggi. Dalam perekonomian cerobong asap, luas ruang pabrik juga berkorelasi dengan jumlah pekerja yang terlibat dalam produksi. Dengan demikian untuk mencapai tingkat produksi tertinggi, selain dibutuhkan mesin produksi yang mumpuni dari aspek kuantitas dan kualitas, juga membutuhkan sejumlah tenaga kerja untuk mengoperasionalkan mesin. Dapat disimpulkan dari penjelasan Toffler, perekonomian Gelombang Kedua membutuhkan segala sesuatu yang serba besar, mulai dari aspek ruang pabrik, mesin produksi, hingga jumlah tenaga kerja.

Rabu, 06 Oktober 2021

Masjid Sebagai Ruang Komunal

Pusat Ruang Komunitas

Dalam magnum opus-nya berjudul Mesjid: Pusat Peribadatan dan Kebudayaan Islam yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1962, Sidi Gazalba (1994) menyatakan masjid ialah pusat bagi komunitas umat Islam. Pernyataan Gazalba tadi bermakna bahwasanya masjid merupakan tempat berkumpulnya umat Islam untuk melakukan kegiatan komunal. Pemahaman ini sangat penting terkait peran dan fungsi masjid dikarenakan menegaskan masjid sebagai ruang yang mengikat umat Islam dalam kesatuan sosial sekaligus tempat mewujudkan tujuan hidup bersama melalui keterlibatan seluruh unsur masyarakat Islam.

Keberadaan masjid dari perspektif sosiologis sebagaimana di atas mendapatkan landasan historis dari teladan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak menunggu waktu lama untuk mendirikan masjid begitu tiba di Yatsrib. Kuntowijoyo (2017) menjelaskan, Rasul Muhammad tidak mendirikan istana di tanah hijrah untuk mempersatukan manusia di bawah kekuasaan politik, pun tidak menguasai pasar untuk menghimpun manusia melalui kepentingan ekonomi. Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam justru mendirikan masjid untuk mengikat manusia dengan keimanan kepada Tuhan, sehingga terbentuk masyarakat Islam dengan karakternya yang egaliter sebagai perwujudan dari iman yang hanya mengakui Tuhan sebagai pemilik kekuasaan dan otoritas penuh atas diri dan hidup manusia. Masyarakat inilah yang disebut oleh Kuntowijoyo (2016) dengan istilah Humanisme Teosentris di mana hubungan antar anggota kepada sesamanya sebagai manusia dilandasi hubungan kepada Tuhan sebagai pemilik segala.

Namun demikian, masyarakat Islam bukanlah masyarakat tanpa kelas karena bagaimana pun juga hirarki merupakan sunnatullah alam semesta yang telah ditetapkan Tuhan, sehingga tak dapat ditiadakan dan penolakan terhadap hal tersebut justru akan menyebabkan kerusakan. Jika masyarakat yang berpusat pada istana menempatkan raja sebagai pemilik kekuasaan mutlak, dan pasar menempatkan para pemilik modal di posisi puncak struktur sosial, maka masyarakat Islam yang berpusat pada masjid menempatkan orang-orang bertakwa yang memiliki kedekatan dengan Tuhan sebagai pemimpin, sebagaimana ditetapkan Tuhan dalam Surah Al-Hujarat: 13 dan Surah An-Nisaa: 59 berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Terjemah QS Al-Hujurat: 13)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya (Terjemah QS An-Nisaa: 59)