Sabtu, 21 Desember 2013

Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan Dalam Ruang Kauman Yogyakarta


Lukisan K.H. Ahmad Dahlan pada masa mudanya saat mengawali pergerakan Muhammadiyah

Muhammadiyah tak dapat dijauhkan dari Kampung Kauman Yogyakarta, begitu pula sebaliknya. Paling tidak karena dua sebab musabab. Pertama, menurut salah satu riwayat disebutkan sang pendiri Muhammadiyah; K.H. Ahmad Dahlan, adalah putra kelahiran Kampung Kauman Yogyakarta. Sedangkan riwayat lain menyebutkan Kiai lahir di Nitikan dan barulah beberapa hari setelah kelahirannya dibawa ke Kauman. Kedua, ikrar berdirinya Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan sosial pendidikan berasaskan Islam terjadi di Kampung Kauman Yogyakarta. Karenanya antara Muhammadiyah dan Kampung Kauman Yogyakarta memiliki ikatan historis, basis sosial, dan emosional yang tak mungkin dapat dipisahkan. 

Mempelajari perjuangan Islam di Nusantara akan kita temui Muhammadiyah. Mempelajari Muhammadiyah tepatnya dimulai dengan mempelajari kehidupan dan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan. Untuk memulai usaha mengenali sosok Kiai tepatnya diawali dari ruang-ruang Kauman; tempat di mana Kiai tumbuh besar, memulai perjuangan, dan kembali kehadirat Rabb-nya pada hari Jumat tanggal 7 Rajab 1341 Hijrah Nabi/23 Februari 1923. Walaupun kemudian jasad Kiai tidak dimakamkan di Kauman, namun jejak dan semangat perjuangannya masih membekas dalam ruang-ruang yang pernah merekam.

Rabu, 20 November 2013

Ruang Tidur Kakek Nenek

Salah satu adab seorang anak kepada kedua orang tuanya adalah menyayangi dan mematuhi perintah keduanya sejauh dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, dan merawat keduanya dengan baik di hari tua kelak. Bukan hanya karena keduanya telah melahirkan, merawat, mendidik, dan mencukupi kebutuhan dirinya sebagai seorang anak. Semua semata karena perintah Allah, semata untuk tunduk patuh dan ibadah kepada Allah.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Surah al-Israa: 23) 
Karenanya dalam Arsitektur Islam tidak dikenal tipe fungsi bangunan Panti Jompo. Apa pun alasan si anak. Apa pun dalih yang digunakannya. Selama ia mengaku seorang Muslim, selama ia diberi hidup dan sehat, wajib baginya merawat kedua orang tuanya. Sibuknya pekerjaan, jauhnya jarak, bukanlah alasan bagi anak membiarkan orang tuanya menua berdua atau bahkan seorang diri. Tidak berlebihan memang jika banyak para ulama dan cendikiawan Islam mengatakan, “Kejayaan Peradaban Islam diawali dengan keluarga yang beradab”. 

Seorang anak yang telah menikah kebanyakannya memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya dengan dalih agar mandiri dan belajar membangun hidupnya sendiri. Jasadnya yang jauh dari jasad kedua orang tua, tanpa disadari perlahan akan mempengaruhi rasa sayang dan adab kepada keduanya. Dunia yang menyibukkan menjadikannya hanya memikirkan istri dan anak-anak. Tiada lagi banyak waktu memikirkan apalagi memperhatikan orang tua yang telah jauh dari pandangan matanya. Menjenguk pun karena tradisi hari raya semata. Dan kelak begitu pula anak-anak akan memperlakukannya sebagai orang tua kemudian jadilah lingkaran iblis yang tiada putus dari generasi ke generasi. 

Selasa, 12 November 2013

Buah Pemikiran Dari Semnas Arsitektur Islam 3

Bertepatan 3 Muharram 1435 Hijrah Nabi/7 November 2013 di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, diselenggarakan hajat terbesar seminar Arsitektur Islam di Indonesia yang pada tahun ini mengusung tema “Islam, Arsitektur, dan Kesahajaan”. Forum silaturahim bagi cendikiawan dan praktisi penggiat Arsitektur Islam di mana perbincangan arsitektur tak dilepaskan dari Islam.

Ada beberapa poin menarik darinya yang perlu aku sampaikan melalui artikel ini untuk dapat dikembangkan dan diamalkan dalam wacana keilmuan Arsitektur Islam. Walaupun apa yang akan aku sampaikan perlu untuk ditinjau dan dievaluasi kembali oleh para ahli yang otoritatif di bidang Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sebagai wujud kesadaran diriku akan terbatasnya ilmu, dangkalnya pemikiran, dan minimnya pengalaman.

Poin pertama,

Mulai dikaitkannya kajian Arsitektur Islam dengan Pandangan Alam Islam (Islamic worldview) yang menjadikan wacana keilmuan Arsitektur Islam memasuki tahap ontologi dan epistemologis di mana selamanya lelah berkutat dalam tahap aksiologis. Arsitektur dikaitkan dengan Islam sebatas nilai-nilai praksis dan sebagai sumber inspirasi dalam perancangan wujud arsitektural yang kemudian diklaim Islami. Bukan berarti salah, tahap ini memang diperlukan dalam proses pembentukan dan pengamalan ilmu pengetahuan. Namun tahap yang tidak boleh dilewatkan sebelumnya adalah tahap ontologi dan epistemologi yang menjadikan Islam sebagai 'kacamata' untuk melihat realitas sekaligus sumber kebenaran yang mutlak. Jika pada tahap aksiologis menitik beratkan pada hasil akhir ilmu dalam hal ini produk arsitektur dan berarsitektur yang Islami, maka pada tahap ontologi dan epistemologi menitik beratkan pada manusia sebagai penggiat ilmu yang terlebih dahulu harus di-Islam-kan sebelum kemudian ia meng-Islam-kan arsitektur.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Hari-Hari Terakhir Hadji Samanhoedi; Pejuang Yang Ter(Di)lupakan

Tepat 1 Dzulhijjah 1434 Hijrah Nabi/6 Oktober 2013 penulis bersama rekan-rekan mengadakan silaturahim ke Kampoeng Laweyan Surakarta bermaksud untuk mengenal lebih dekat sosok Hadji Samanhoedi perihal sepak terjang perjuangan dan pemikirannya. Didampingi Mas Yanu dari Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, kami menyisir sudut demi sudut Kampoeng Laweyan diselingi obrolan hangat. Mas Yanu adalah salah seorang tokoh muda Islam di Kampoeng Laweyan yang beberapa kali berkata kepada kami,

“Ini versi sejarah kami yang golongan Islam. Beda lagi kalau versi yang diyakini golongan Nasionalis dan Kejawen.”
Tampaknya memang penuturan sejarah harus berpihak disebabkan sejarah dituturkan oleh berbagai pihak yang berbeda perspektif. Tinggal kita memilih untuk berada di pihak mana dan untuk memperjuangkan penuturan sejarah versi siapa. Tentu setiap pilihan akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah Azza wa Jalla.

Oleh Mas Yanu kami dikenalkan kepada Bapak Haji Achmad Sulaiman. Beliau adalah tokoh sepuh di kalangan masyarakat Laweyan dan salah seorang tokoh Islam di Kampoeng Laweyan. Yang menjadikan penulis sangat antusias adalah karena beliau di masa remajanya masih menjumpai Hadji Samanhoedi yang di kala itu telah berumur lanjut. Setelahnya Mas Yanu mengajak kami silaturahim menemui Bapak Alpha Febela Priyatmono. Beliau adalah Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan dan tokoh muda Islam di Kampoeng Laweyan yang tengah berupaya membangkitkan kembali kejayaan Laweyan berdasarkan Islam sebagaimana dahulu telah dirintis oleh tokoh-tokoh Islam asli Laweyan. Tak perlu diragukan lagi beliau memang memahami dan menghayati kiprah perjuangan dan pemikiran Hadji Samanhoedi, baik sebagai saudagar batik maupun tokoh pejuang Islam.

Selasa, 22 Oktober 2013

(Benarkah) Perjuangan SI Mencapai Bali (?) - Bagian 1

Benarkah perjuangan SI (Sarekat Islam) mencapai Bali? Sepertinya bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab di tengah keterbatasan data yang tersedia untuk saat ini. Premis perjuangan SI mencapai Bali hingga saat ini memang belum dapat dibuktikan, tapi tidak berarti premis tersebut tertolak selama terdapat usaha mencari bukti-bukti dan melacak jejak remah eksistensi SI di Bali.

Aku berupaya melacak perjuangan SI di Bali baru sebatas pada sumber sekunder diiringi upaya mencari sumber primer dan keberadaan artefak karenanya petualangan melintasi waktu kali ini dengan bekal ala kadarnya tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat seiring munculnya pertanyaan dan kebingungan di tengah perjalanan. 

Seri artikel ini akan terus berlanjut seiring data yang aku dapatkan. Baik data yang menguatkan maupun data yang melemahkan atau bahkan terang-terangan tanpa tedeng aling-aling menolak tegas, sehingga artikel ini tidak saja memaparkan data-data perihal eksistensi SI di Bali, tapi juga menceritakan kisah perjalananku selama mencari jawaban akan pertanyaan “Benarkan perjuangan SI mencapai Bali? 

Sabtu, 05 Oktober 2013

Jejak Perempuan Pejuang Islam Nusantara



"Perempuan Pejuang; Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa" yang ditulis oleh Widi Astuti (2013). Buku yang mengulas topik yang sangat tidak populer, terkhusus di kalangan generasi muda, ditinjau dari tiga sisi.

Pertama, buku ini mengulas perihal sejarah. Seperti yang telah dimaklumi sejarah adalah bidang ilmu yang telah lama menjadi anak tiri dalam diri anak-anak bangsa. Kedua, buku ini mengulas sejarah Nusantara dari perspektif umat Islam. Seperti yang terdahulu, perspektif ini dipandang dengan skeptis oleh berbagai kalangan, termasuk sebagian dari umat Islam sendiri. Dikatakannya hanya sebagai wujud euforia kebebasan reformasi setelah babak belur di masa orde baru. Ketiga, buku ini mengulas pergerakan para wanita pejuang yang berusaha mendobrak historiografi Nusantara yang populer diceritakan dari perspektif peran lelaki. Seperti masih banyak diantara kita memaklumi, perempuan tempatnya di ring dapur bukan di ladang pertempuran. 

‘Ketidak populeran’ topik yang diangkat menjadikan buku ini teramat penting dikategorinya. Ditengah penyakit lupa sejarah, Widi Astuti membincangkannya dengan bahasa yang populer. Ingin menyuapi kembali bangsa ini dengan nutrisi-nutrisi masa lalu yang tidak mampu diserap bahwa perempuan Islam Nusantara bukanlah ibu-ibu yang hanya berkutat di dapur bak pembantu, bukan perempuan yang lemah, bukan perempuan yang bodoh, apalagi perempuan yang asal manut tanpa berpikir kritis. Bukan perempuan rendahan penjual harga diri. Namun sekali lagi, bangsa ini tengah menikmati ke-lupa-annya. Karenanya buku ini ditulis oleh Widi Astuti di atas nada keprihatinan.

Jumat, 27 September 2013

Menyoal Arsitektur Islam Dan Arsitektur Islami

Menyoal istilah Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami, baik secara zhahir peristilahannya maupun makna di baliknya, hingga kini masih belum menampakkan titik terang kesepakatan di antara para penggiatnya. Perdebatan keras masih sering ditemui, tidak hanya di forum perkuliahan dan seminar, tapi telah melebar ke forum sosial media, serambi masjid, bahkan angkringan. Dalam usaha saya untuk memahami kedua istilah tersebut, saya menemu kenali tiga kalangan yang memiliki perbedaan pemahaman antara satu dengan lainnya. Bukan berarti perbedaan pemahaman antara ketiganya harus dimaknai negatif. Di satu sisi hal tersebut menandakan semakin luasnya perhatian umat Islam terhadap pewacanaan arsitektur dan keterkaitannya dengan Islam serta geliat upaya yang dilakukan, tapi di sisi lain harus diakui perdebatan di ranah peristilahan dirasa telah mencapai titik anti klimaks yang dirasa telah mencapai kondisi kontra produktif.

Kalangan pertama memahami bahwasanya terdapat perbedaan makna antara istilah Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami[1]. Istilah Arsitektur Islam dimaknai kalangan ini bahwa Islam adalah arsitektur sebagaimana istilah arsitektur komputer dan yang semisalnya[2]. Kalangan ini memahami istilah Arsitektur Islam secara tekstual dan meyakini penisbatan suatu istilah kepada Islam merupakan upaya reduksi Islam sebagai dien. Berdasarkan anggapan tersebut, kalangan ini menilai penisbatan arsitektur kepada Islam merupakan pelecahan terhadap Islam yang harus dicegah. Sementara kalangan ini memaknai istilah Arsitektur Islami sebagai arsitektur yang melalui wujud dan karakter-karakter fisiknya merepresentasikan sebuah usaha seseorang atau sebuah komunitas Muslim untuk mengamalkan ajaran Islam dalam visi yang menyeluruh (kaffah), sehingga dapat dipahami bahwa Arsitektur Islami adalah sebuah manifestasi fisik yang merupakan refleksi dari cara dan pola hidup yang Islami[3].

Rabu, 15 Mei 2013

Aku, Sang Pilot, Dan Imaji

Hari ini menjelang siang aku kembali ke Yogyakarta setelah liburan singkat bersama keluarga selama tiga hari. Sepertinya aku tidak akan dapat menikmati penerbangan kali ini karena kondisiku yang begitu lelah dan kantuk akibat menghabiskan malam dalam riuh imaji dua orang sahabatku. Sempat antusias ketika memasuki kabin pesawat, ternyata kali ini aku akan terbang dengan 737-800 NG. Sekilas aku perhatikan interior-nya memang lebih berkualitas dan smooth dibandingkan 737-900 ER yang kasar dan detailnya yang cacat. Tapi aku hanya ingin cepat duduk dan tertidur. Sapaan salam dari pramugari pun tak aku hiraukan.


Setelah duduk aku keluarkan buku dari tas untuk teman pengantar tidur. Travels in Hyper-Reality dari Umberto Eco. Memang bukan buku yang pas mengantar tidur, bahasanya yang pedas dan provokatif malah membuatku berpikir keras. Tapi entahlah, aku suka membacanya sebelum tidur.

Selang beberapa lama, duduk seorang pria bule di seat sebelahku. Kami hanya bertegur sapa dan bertukar senyum. Dari dialeknya aku menebak dia berasal dari Prancis. Aku memang sedang tak ingin berbincang, apalagi jika teringat penerbanganku beberapa bulan yang lalu duduk di depan rombongan bule ‘preman’ sok gaul yang sedang mabuk.