Rabu, 15 Mei 2013

Aku, Sang Pilot, Dan Imaji

Hari ini menjelang siang aku kembali ke Yogyakarta setelah liburan singkat bersama keluarga selama tiga hari. Sepertinya aku tidak akan dapat menikmati penerbangan kali ini karena kondisiku yang begitu lelah dan kantuk akibat menghabiskan malam dalam riuh imaji dua orang sahabatku. Sempat antusias ketika memasuki kabin pesawat, ternyata kali ini aku akan terbang dengan 737-800 NG. Sekilas aku perhatikan interior-nya memang lebih berkualitas dan smooth dibandingkan 737-900 ER yang kasar dan detailnya yang cacat. Tapi aku hanya ingin cepat duduk dan tertidur. Sapaan salam dari pramugari pun tak aku hiraukan.


Setelah duduk aku keluarkan buku dari tas untuk teman pengantar tidur. Travels in Hyper-Reality dari Umberto Eco. Memang bukan buku yang pas mengantar tidur, bahasanya yang pedas dan provokatif malah membuatku berpikir keras. Tapi entahlah, aku suka membacanya sebelum tidur.

Selang beberapa lama, duduk seorang pria bule di seat sebelahku. Kami hanya bertegur sapa dan bertukar senyum. Dari dialeknya aku menebak dia berasal dari Prancis. Aku memang sedang tak ingin berbincang, apalagi jika teringat penerbanganku beberapa bulan yang lalu duduk di depan rombongan bule ‘preman’ sok gaul yang sedang mabuk.

Beberapa saat kemudian capten in fly deck memberikan informasi kalau kita sudah siap terbang namun masih menunggu beberapa command dari control station. Kali ini tidak seperti biasanya kapten berinteraksi dengan penumpang tepat beberapa detik setelah pintu kabin ditutup. Terlalu cepat. Lebih cepat dari biasanya. Dan memang kali ini akan menjadi penerbangan yang tidak seperti biasanya bagiku.

Kira-kira 15 menit kemudian kami telah bersiap take-off. Waktu yang cukup lama untuk menunggu command. Aku menebak-nebak mungkin sedang terjadi air traffic di atas. Dan yang lebih mengherankan dalam 15 menit menunggu aku masih belum bisa tertidur.

Beberapa saat setelah take-off, si bule meminta izin untuk melihat ke luar dari jendela di sampingku. Aku lihat dia begitu antusias melihat hamparan laut dari atas seperti anak kecil yang baru pertama kali naik pesawat. Atau mungkin karena aku yang sudah lama tak lagi dapat menikmati antusiasme terbang bagaikan burung. Aku hanya memperhatikan si bule mengeluarkan iPhone-nya dan mengambil beberapa foto pemandangan di luar sambil sesekali mendesak aku dengan sikunya untuk memberinya cukup ruang.

Setelah terlihat puas dia mengatakan “thank you” dan menunjukkan hasil fotonya kepadaku. Di antara koleksi fotonya, aku melihat dia mengenakan seragam pilot yang sedang berpose gagah di depan sebuah pesawat Airbus. Dari perbincangan kami yang spontan aku baru tahu kalau dia seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan Eropa yang sedang mengisi masa grounded-nya dengan liburan di Bali dan Yogyakarta. Seakan-akan dia adalah cerminan diriku di masa kanak-kanak dahulu yang memiliki impian menjadi seorang pilot.

Keinginan menjadi pilot karena aku jatuh cinta dengan pesawat. Walaupun saat ini rasa cinta itu masih berbekas, namun jujur aku merasakannya sudah banyak berkurang dan hanya tersisa pada Antonov An-225 yang tetap membuatku antusias bagaikan seorang bocah dengan mainannya. Ibu pernah bercerita, pertama kali aku naik pesawat ketika berumur kurang dari 2 tahun. Rute Denpasar-Surabaya dengan maskapai penerbangan Bouraq. Kata beliau, aku terlihat sangat senang terbang naik pesawat, tidak rewel apalagi menangis. Mungkin itulah awal mula kecintaanku dengan pesawat.

Tapi lagi-lagi rasa kantuk mendatangiku. Di sela-sela usahaku untuk tidur aku mendengar si pilot bule mengeluarkan sesuatu dari tas kecil di pangkuannya. Rasa penasaran membuatku mengintip mencari tahu apa yang dikeluarkannya. Ternyata sebuah tablet PC berwarna hitam berukuran 10 inchi. Aku lihat dia membuka sebuah program yang dari icon-nya kemungkinan program navigasi.

“Waahh” gumamku. Program yang dibuka si pilot bule menampilkan rute yang dilalui pesawat kami, posisi koordinat, ketinggiannya dari permukaan air laut, kecepatan laju, kondisi cuaca, kecepatan angin, dan berbagai informasi navigasi lainnya yang tidak semua dapat aku pahami. Si pilot bule tersenyum padaku dan berkata “Now we are in fly deck. I’m a pilot and you are my co-pilot. So enjoy it”. Biasanya dia duduk di ruang kemudi, sekarang dia harus duduk di kabin penumpang. Mungkin inilah cara dia menikmati penerbangannya kali ini. Dan benar saja karena si bule rasa kantukku tiba-tiba hilang.

Aroma suasana itu membawaku menerawang melintasi waktu. Dahulu ketika berumur sekitar 10 tahun aku sangat mengidolakan The Wright Brothers; Wilbur Wright dan Orville Wright, sepasang kakak beradik penemu pesawat terbang. Aku mulai mengingat kembali buku-buku cerita yang dahulu aku baca tentang Wright bersaudara yang memiliki imajinasi terbang bagaikan burung. Mereka percaya suatu saat nanti manusia dapat terbang. Imajinasi yang hanya dianggap sekedar lamunan anak muda yang sedang bergairah. Imajinasi yang tak mungkin dapat diwujudkan. Imajinasi yang terlampau utopis pada masanya. Karenanya Wright bersaudara harus menerima sanksi sosial berupa cemooh dari masyarakat sebagai kakak beradik yang tidak waras. Oleh sebab mereka meyakini imajinasinya dan berupaya mewujudkannya dengan berbekal potensi yang dimiliki. Bahkan dengan cara menolak permintaan perbaikan sepeda yang terus berdatangan karena memang keduanya mahsyur dikenal sebagai montir sepeda yang cekatan hanya agar memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan eksperimen. Untuk terbang bagaikan burung, pekerjaan yang menjadi sumber pendapatannya pun direlakan.

Saat ini aku berada di dalam kabin pesawat yang jauh melebihi apa yang pernah diimajinasikan Wright bersaudara. Hanya dalam jangka waktu 1 abad kebanyakan manusia telah dapat terbang bebas menikmati hamparan angkasa. Dan itu berawal dari imajinasi dua orang kakak beradik yang pada masanya dicemooh sebagai pemuda yang tidak waras.

Mengingat kembali imajinasi Wright bersaudara mengingatkan akan masa kecilku. Mengingatkan akan antusiasme si pilot bule melihat hamparan laut dari angkasa melalui jendela di sampingku. Dan mengingatkanku akan kedua sahabatku yang memiliki imajinasi tentang masa depan. Suatu masa bangkitnya kesadaran komunal umat Islam akan nilai-nilai Islam dalam berarsitektur. Sebuah rumah, bukan, sebuah kota yang menerapkan nilai-nilai Islam. Fisik dan non fisiknya. Jasad dan jiwanya. Sejenak terlihat obsesi dan optimistik diwajah mereka, namun sejenak kemudian teraut ketidakmungkinan dan pesimistik dari perkataan mereka.

Aku tidak tahu apa imajinasi mereka lebih besar dari apa yang diimajinasikan Wright bersaudara. Mungkin dibenak Wright bersaudara pernah terbesit rasa pesimis akan imajinasinya, toh mereka tetap mencoba. Ketika pertama kali berhasil terbang di Kitty Hawk, mungkin mereka tidak memperhitungkan pesawat yang dibuatkan akan mengalami guncangan saat melaju menembus awan. Namun itu bukan alasan buat mereka untuk tidak terbang, dan itu bukan alasan untuk berbalik arah ketika capten in fly deck berkata “Penumpang yang terhormat, kita akan mengalami sedikit guncangan untuk beberapa saat karena memasuki daerah berawan”.

Yang mengakui keberhasilan Wright bersaudara adalah generasi setelahnya. Dan aku yakin jika kedua sahabatku mulai mencoba mewujudkan imajinasinya dan istiqamah, kelak generasi setelah mereka yang akan membuat pengakuan. Dua orang montir sepeda menjadi dua orang penemu pesawat, dan tidak ada yang aneh dengan itu. Lalu apa yang harus diragukan dari dua orang pemuda Muslim sekaligus mahasiswa desain yang menginginkan kehidupan masyarakat Islam yang lebih baik di dalam sebuah organisme arsitektur yang Islami.

Aku bisa merasakan betapa bersemangatnya kedua sahabatku berlari di padang Kitty Hawk, menatap hari yang cerah, dan mengundi dengan koin siapa yang akan terbang pertama kali hari ini. Kelak hari itu akan datang.

Keheranan si pilot bule membuyarkan penerawanganku, “why we are not landing!!”. Terlihat kecemasan di wajahnya sambil terus memahami sesuatu dari informasi di program navigasinya. Aku pun merasa kita hanya berputar-putar di atas Yogyakarta. Selang beberapa menit akhirnya kecemasan kami mencair saat pilot melalui radio komunikasi mengatakan pendaratan kita tertunda 10 menit karena ramainya air traffic di Bandara Adi Sucipto.

Terkadang memang dibutuhkan penundaan beberapa saat. Terkadang keterburu-buruan menyebabkan musibah. Dan terkadang, cemas itu tidak masalah. Itulah yang dialami Wright bersaudara ketika percobaan terbangnya yang pertama kali mengalami kegagalan. Itu pula yang kami alami dalam penerbangan kali ini. Dan bisa jadi itulah yang akan dialami kedua sahabatku dalam mewujudkan imajinasinya.

Aku berpisah dengan si pilot bule dengan ucapan, “thank you for everything sir”. Dan semalam aku berpisah dengan kedua sahabatku dengan ucapan, “matur nuwun cak”.

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Yogyakarta, 5 Rajab 1434 H/15 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar