Jumat, 27 September 2013

Menyoal Arsitektur Islam Dan Arsitektur Islami

Menyoal istilah Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami, baik secara zhahir peristilahannya maupun makna di baliknya, hingga kini masih belum menampakkan titik terang kesepakatan di antara para penggiatnya. Perdebatan keras masih sering ditemui, tidak hanya di forum perkuliahan dan seminar, tapi telah melebar ke forum sosial media, serambi masjid, bahkan angkringan. Dalam usaha saya untuk memahami kedua istilah tersebut, saya menemu kenali tiga kalangan yang memiliki perbedaan pemahaman antara satu dengan lainnya. Bukan berarti perbedaan pemahaman antara ketiganya harus dimaknai negatif. Di satu sisi hal tersebut menandakan semakin luasnya perhatian umat Islam terhadap pewacanaan arsitektur dan keterkaitannya dengan Islam serta geliat upaya yang dilakukan, tapi di sisi lain harus diakui perdebatan di ranah peristilahan dirasa telah mencapai titik anti klimaks yang dirasa telah mencapai kondisi kontra produktif.

Kalangan pertama memahami bahwasanya terdapat perbedaan makna antara istilah Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami[1]. Istilah Arsitektur Islam dimaknai kalangan ini bahwa Islam adalah arsitektur sebagaimana istilah arsitektur komputer dan yang semisalnya[2]. Kalangan ini memahami istilah Arsitektur Islam secara tekstual dan meyakini penisbatan suatu istilah kepada Islam merupakan upaya reduksi Islam sebagai dien. Berdasarkan anggapan tersebut, kalangan ini menilai penisbatan arsitektur kepada Islam merupakan pelecahan terhadap Islam yang harus dicegah. Sementara kalangan ini memaknai istilah Arsitektur Islami sebagai arsitektur yang melalui wujud dan karakter-karakter fisiknya merepresentasikan sebuah usaha seseorang atau sebuah komunitas Muslim untuk mengamalkan ajaran Islam dalam visi yang menyeluruh (kaffah), sehingga dapat dipahami bahwa Arsitektur Islami adalah sebuah manifestasi fisik yang merupakan refleksi dari cara dan pola hidup yang Islami[3].