Sabtu, 26 Oktober 2013

Hari-Hari Terakhir Hadji Samanhoedi; Pejuang Yang Ter(Di)lupakan

Tepat 1 Dzulhijjah 1434 Hijrah Nabi/6 Oktober 2013 penulis bersama rekan-rekan mengadakan silaturahim ke Kampoeng Laweyan Surakarta bermaksud untuk mengenal lebih dekat sosok Hadji Samanhoedi perihal sepak terjang perjuangan dan pemikirannya. Didampingi Mas Yanu dari Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, kami menyisir sudut demi sudut Kampoeng Laweyan diselingi obrolan hangat. Mas Yanu adalah salah seorang tokoh muda Islam di Kampoeng Laweyan yang beberapa kali berkata kepada kami,

“Ini versi sejarah kami yang golongan Islam. Beda lagi kalau versi yang diyakini golongan Nasionalis dan Kejawen.”
Tampaknya memang penuturan sejarah harus berpihak disebabkan sejarah dituturkan oleh berbagai pihak yang berbeda perspektif. Tinggal kita memilih untuk berada di pihak mana dan untuk memperjuangkan penuturan sejarah versi siapa. Tentu setiap pilihan akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah Azza wa Jalla.

Oleh Mas Yanu kami dikenalkan kepada Bapak Haji Achmad Sulaiman. Beliau adalah tokoh sepuh di kalangan masyarakat Laweyan dan salah seorang tokoh Islam di Kampoeng Laweyan. Yang menjadikan penulis sangat antusias adalah karena beliau di masa remajanya masih menjumpai Hadji Samanhoedi yang di kala itu telah berumur lanjut. Setelahnya Mas Yanu mengajak kami silaturahim menemui Bapak Alpha Febela Priyatmono. Beliau adalah Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan dan tokoh muda Islam di Kampoeng Laweyan yang tengah berupaya membangkitkan kembali kejayaan Laweyan berdasarkan Islam sebagaimana dahulu telah dirintis oleh tokoh-tokoh Islam asli Laweyan. Tak perlu diragukan lagi beliau memang memahami dan menghayati kiprah perjuangan dan pemikiran Hadji Samanhoedi, baik sebagai saudagar batik maupun tokoh pejuang Islam.

Selasa, 22 Oktober 2013

(Benarkah) Perjuangan SI Mencapai Bali (?) - Bagian 1

Benarkah perjuangan SI (Sarekat Islam) mencapai Bali? Sepertinya bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab di tengah keterbatasan data yang tersedia untuk saat ini. Premis perjuangan SI mencapai Bali hingga saat ini memang belum dapat dibuktikan, tapi tidak berarti premis tersebut tertolak selama terdapat usaha mencari bukti-bukti dan melacak jejak remah eksistensi SI di Bali.

Aku berupaya melacak perjuangan SI di Bali baru sebatas pada sumber sekunder diiringi upaya mencari sumber primer dan keberadaan artefak karenanya petualangan melintasi waktu kali ini dengan bekal ala kadarnya tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat seiring munculnya pertanyaan dan kebingungan di tengah perjalanan. 

Seri artikel ini akan terus berlanjut seiring data yang aku dapatkan. Baik data yang menguatkan maupun data yang melemahkan atau bahkan terang-terangan tanpa tedeng aling-aling menolak tegas, sehingga artikel ini tidak saja memaparkan data-data perihal eksistensi SI di Bali, tapi juga menceritakan kisah perjalananku selama mencari jawaban akan pertanyaan “Benarkan perjuangan SI mencapai Bali? 

Sabtu, 05 Oktober 2013

Jejak Perempuan Pejuang Islam Nusantara



"Perempuan Pejuang; Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa" yang ditulis oleh Widi Astuti (2013). Buku yang mengulas topik yang sangat tidak populer, terkhusus di kalangan generasi muda, ditinjau dari tiga sisi.

Pertama, buku ini mengulas perihal sejarah. Seperti yang telah dimaklumi sejarah adalah bidang ilmu yang telah lama menjadi anak tiri dalam diri anak-anak bangsa. Kedua, buku ini mengulas sejarah Nusantara dari perspektif umat Islam. Seperti yang terdahulu, perspektif ini dipandang dengan skeptis oleh berbagai kalangan, termasuk sebagian dari umat Islam sendiri. Dikatakannya hanya sebagai wujud euforia kebebasan reformasi setelah babak belur di masa orde baru. Ketiga, buku ini mengulas pergerakan para wanita pejuang yang berusaha mendobrak historiografi Nusantara yang populer diceritakan dari perspektif peran lelaki. Seperti masih banyak diantara kita memaklumi, perempuan tempatnya di ring dapur bukan di ladang pertempuran. 

‘Ketidak populeran’ topik yang diangkat menjadikan buku ini teramat penting dikategorinya. Ditengah penyakit lupa sejarah, Widi Astuti membincangkannya dengan bahasa yang populer. Ingin menyuapi kembali bangsa ini dengan nutrisi-nutrisi masa lalu yang tidak mampu diserap bahwa perempuan Islam Nusantara bukanlah ibu-ibu yang hanya berkutat di dapur bak pembantu, bukan perempuan yang lemah, bukan perempuan yang bodoh, apalagi perempuan yang asal manut tanpa berpikir kritis. Bukan perempuan rendahan penjual harga diri. Namun sekali lagi, bangsa ini tengah menikmati ke-lupa-annya. Karenanya buku ini ditulis oleh Widi Astuti di atas nada keprihatinan.