Selasa, 22 Oktober 2013

(Benarkah) Perjuangan SI Mencapai Bali (?) - Bagian 1

Benarkah perjuangan SI (Sarekat Islam) mencapai Bali? Sepertinya bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab di tengah keterbatasan data yang tersedia untuk saat ini. Premis perjuangan SI mencapai Bali hingga saat ini memang belum dapat dibuktikan, tapi tidak berarti premis tersebut tertolak selama terdapat usaha mencari bukti-bukti dan melacak jejak remah eksistensi SI di Bali.

Aku berupaya melacak perjuangan SI di Bali baru sebatas pada sumber sekunder diiringi upaya mencari sumber primer dan keberadaan artefak karenanya petualangan melintasi waktu kali ini dengan bekal ala kadarnya tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat seiring munculnya pertanyaan dan kebingungan di tengah perjalanan. 

Seri artikel ini akan terus berlanjut seiring data yang aku dapatkan. Baik data yang menguatkan maupun data yang melemahkan atau bahkan terang-terangan tanpa tedeng aling-aling menolak tegas, sehingga artikel ini tidak saja memaparkan data-data perihal eksistensi SI di Bali, tapi juga menceritakan kisah perjalananku selama mencari jawaban akan pertanyaan “Benarkan perjuangan SI mencapai Bali? 

***** 

Berawal pada 3 Dzulhijjah 1434 Hijrah Nabi/8 Oktober 2013, perjalanan ini dimulai ketika aku membaca buku berjudul "Genealogi Keruntuhan Majapahit; Islamisasi, Toleransi, dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali" yang ditulis oleh Prof. Nengah Bawa Atmadja yang diterbitkan pertama kali pada Desember 2010 oleh Pustaka Pelajar. Perlu kiranya penulis ceritakan sedikit latar belakang Prof. Nengah Bawa Atmadja. Beliau adalah guru besar bidang ilmu Antropologi dan Sosiologi di Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali. Pemikiran beliau dalam buku yang ditulisnya sarat dengan gagasan pluralisme, multikulturalisme, dan relativisme. Hal ini perlu aku sampaikan untuk menilai kualitas dan interpretasi data yang beliau sampaikan dalam bukunya. 

Di halaman 260, Prof. Nengah Bawa Atmadja mengutip Robinson dalam bukunya yang berjudul "Sisi Gelap Pulau Dewata; Sejarah Kekerasan Politik" yang diterbitkan LkiS pada tahun 2005, 
“Peningkatan jumlah orang Islam yang disertai dengan kehadiran elite Islam modern sebagai rantau pegawai, walaupun jumlahnya kecil, namun kepemilikan modal intelektual merupakan daya untuk mengembangkan politik identitas dengan cara mengikuti model Pergerakan Nasional di Jawa. Dalam konteks ini mereka pun membentuk organisasi modern pada masyarakat Bali.” 
Pemaparan di atas menarik dari dua sisi, (1) kedatangan orang Islam ke Bali yang berasal dari golongan elit dan memiliki modal intelektual. Keterangan ini menarik karena orang Islam yang datang ke Bali tidak berasal dari kalangan pedagang, abdi dalem atau prajurit kerajaan, sebagaimana umumnya orang Islam yang masuk ke Bali pada masa kisaran abad 14-19 masehi. Apakah yang dimaksud Robinson adalah orang Islam dari golongan pegawai pemerintah? Bisa jadi karena dikutip pula keterangan “rantau pegawai”. (2) Meningkatnya jumlah orang Islam ke Bali yang menjadi modal sosial bagi orang Islam dari golongan elit untuk mengembangkan politik identitas. Namun patut disayangkan data tersebut tidak mencantumkan keterangan waktu, terkhusus awal mula kedatangan orang Islam yang berasal dari golongan elit ke Bali, daerah asal dan persebarannya di Bali. 

Prof. Atmadja melanjutkan pada halaman 261, 
“Gejala ini terlihat pada pendirian organisasi bercorak keislaman, yakni Sarikat Islam (SI). Pendirian SI menandakan bahwa SI di Jawa berpengaruh pula pada masyarakat Bali. Pada tahun 1916 di Negara saja SI beranggotakan sekitar 1.064 orang. Keberadaan mereka tidak bisa diabaikan mengingat bahwa dalam Kongres Sarikat Islam di Bandung, SI cabang Bali mengirimkan utusannya. Gejala ini mengancam kelangsungan hidup kebudayaan Bali dan penjajah Belanda”. 
Data di atas berdasarkan penelitian beliau pada tahun 2001 yang berjudul "Reformasi ke Arah Kemajuan yang Sempurna dan Holistik; Gagasan Perkumpulan Surya Kanta tentang Bali di Masa Depan". Hingga saat artikel ini ditulis, aku belum dapat mengakses langsung hasil penelitian beliau karena dari informasi yang aku dapatkan hanya tersimpan di Perpustakaan Kota Denpasar dan Perpustakaan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. 

Pemaparan di atas sarat dengan informasi yang berharga terlepas dari validitasnya yang harus diverifikasi kembali. Terdapat keterkaitan antara orang Islam yang berasal dari golongan elit yang datang ke Bali yang memiliki modal intelektual dan sosial dengan terbentuknya SI cabang (afdeeling) Bali. Apakah ini yang dimaksud Robinson dengan politik identitas dalam keterangannya? Mengingat umat Islam hingga saat ini adalah minoritas di Bali, terlebih pada masa itu Bali masih merupakan ‘benteng tertutup’, sehingga dapat dipahami jika politik identitas yang dilakukan orang Islam di Bali dengan bernaung di bawah panji pergerakan Islam di tengah lingkungan minoritas tidak dapat dipandang sebelah mata dan remeh. 

Pernyataan Prof. Atmadja sangat menggelitik, sejauh mana pergerakan SI afdeeling Bali hingga dirasa mengancam kelangsungan hidup kebudayaan Bali? Apakah terjadi gesekan antara orang Islam dengan orang Hindu Bali; baik secara budaya maupun pergerakan? Atau apakah terjadi Islamisasi akar rumput sehingga menggoyahkan sendi Gusti-Panjak? Atau politik enclave yang diterapkan pihak Puri sejak masuknya orang Islam ke Bali pada abad 14 tidak diterapkan atau diterapkan tapi tidak lagi mampu membendung pergerakan orang Islam? Atau perkataan itu hanya interpretasi beliau yang berlebihan? Tidak boleh pula dilewatkan perkataan tersebut berdasarkan penelitian beliau mengenai Surya Kanta yang dipelopori dan dimotori golongan Waisya dan Sudra yang lebih dikenal dengan sebutan Kaum Jaba. Pertanyaan pun bertambah, adakah keterkaitan antara SI afdeeling Bali dengan pergerakan Surya Kanta? 

1.064 orang anggota bukanlah jumlah yang sedikit di tengah lingkungan minoritas, terlebih jumlah tersebut adalah anggota pergerakan Islam. Namun itu hanya jumlah anggota SI di Negara yang saat ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jembrana. Kabupaten Jembrana adalah kabupaten di Bali yang paling dekat dengan Pulau Jawa dan terdapat Pelabuhan Gilimanuk untuk menghubungkan kedua pulau. Sehingga tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut benar adanya karena dimungkinkan banyaknya pendatang orang Islam dari Jawa yang bermigrasi ke Bali, sebagaimana isyarat dari Robinson. 

Disebutkan pula SI afdeeling Bali mengirimkan utusannya ke NATICO CSI pertama di Bandung pada tahun 1916. Jika benar adanya, keterangan ini menandakan SI afdeeling Bali memiliki kemampuan finansial yang kuat mengingat perjuangan SI dibiayai sendiri oleh para anggotanya. Lalu dari mana dana yang didapatkan SI afdeeling Bali untuk menghadiri NATICO CSI di Bandung? Bisa jadi orang Islam yang berasal dari golongan elit tersebut memang pegawai pemerintah yang berpihak pada perjuangan SI, karena di masa itu golongan pegawai pemerintah memiliki kemampuan finansial yang terbilang baik. Atau tidak tertutup kemungkinan pula SI afdeeling Bali didukung para pedagang Muslim di Bali. 

Menarik pula untuk dicermati kalimat berikut, 
“Pada tahun 1916 di Negara saja SI beranggotakan sekitar 1.064 orang.” 
Keterangan di atas menyiratkan SI afdeeling Bali tidak saja terdapat di daerah Negara. Walaupun keberadaannya di Negara masih penulis pertanyakan, tapi tidak menutup kemungkinan keberadaan SI afdeeling Bali benar adanya dan memiliki anak-anak cabang di daerah lainnya di Bali. Jika dikaitkan dengan sumber dana perjuangan SI yang berasal dari iuran anggota dan bantuan dari para pedagang Muslim, kemudian hal ini dikaitkan dengan kemampuan finansial SI afdeeling Bali untuk mengirimkan utusan ke NATICO CSI di Bandung pada tahun 1916, terbuka kemungkinan adanya cabang SI lainnya di daerah-daerah pusat perdagangan di Bali yang sekaligus menjadi basis komunitas umat Islam di Bali. Perlu diperhatikan pula, di pusat-pusat perdagangan pada umumnya terdapat kantor pemerintahan karena daerah tersebut menjadi pusat aktivitas masyarakat. Hal ini untuk mengkaitkan dengan orang Islam yang memiliki modal intelektual sebagaimana keterangan Robinson yang aku duga datang ke Bali sebagai pegawai pemerintah. 

Di Jembrana sendiri memiliki pusat perdagangan bernama Bandar Pancoran di daerah Loloan yang diperkirakan telah menjadi pusat perdagangan di daerah Bali Barat sejak abad 17 masehi yang awal mulanya digerakkan para Muslim Bugis dan hingga saat ini menjadi salah satu enclave komunitas Muslim di Bali. Patut pula dicurigai pusat perdagangan terbesar di Bali Utara pada masa itu, yaitu di daerah Buleleng yang sedikitnya memiliki 4 buah pelabuhan besar; Pelabukan Kota Banding yang disebut Bandar Tebanding, Labuhan Haji, Bandar Pabean yang berlokasi di Kota Singaraja, dan Pelabuhan Pengastulan. Tidak hanya menjadi pusat perdagangan, daerah Buleleng terkhusus Kota Singaraja telah sejak abad 15 masehi menjadi salah satu enclave komunitas Muslim terbesar di Bali hingga saat ini. Ditinjau dari posisinya, Jembrana dan Buleleng adalah daerah yang bersebelahan dan telah sejak berabad-abad lalu menjadi salah dua lokasi masuknya umat Islam ke Bali sehingga membentuk kantung-kantung komunitas Muslim yang tidak sedikit jumlahnya. 

Bukan suatu yang berlebihan rasanya jika mulai mencari jejak SI afdeeling Bali dimulai dari pusat-pusat perdagangan di Bali yang sekaligus menjadi pusat komunitas Muslim di masanya. Dengan asumsi para pedagang yang memiliki kondisi finansial yang kuat dan para pegawai pemerintahan yang merupakan orang Islam dan memiliki modal intelektual dan sosial yang kuat, menjadi tokoh pergerakan SI di Bali sekaligus sumber dana bagi perjuangannya sebagaimana SI di Jawa. 

Lalu, benarkan perjuangan SI mencapai Bali? Rasanya paparan di atas belum mampu untuk menjawabnya, terlebih masih sebatas dugaan-dugaan dan data-data yang perlu diverifikasi kembali validitasnya dan diperinci kembali keterangan-keterangannya, namun sudah cukup untuk meletupkan ghirah Islamiyah bagi para penggiat sejarah Islam di Indonesia; terkhusus di Bali, untuk memulai petualangannya melintasi waktu dan menyisir jalan yang panjang. Yang dibutuhkan hanya dirimu untuk berpartisipasi menjadi rekan seperjalanan. In syaa Allah bahasan ini akan berlanjut di bagian ke-2, jika Allah menghendaki. 

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Dzulhijjah 1434 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar