Sabtu, 05 Oktober 2013

Jejak Perempuan Pejuang Islam Nusantara



"Perempuan Pejuang; Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa" yang ditulis oleh Widi Astuti (2013). Buku yang mengulas topik yang sangat tidak populer, terkhusus di kalangan generasi muda, ditinjau dari tiga sisi.

Pertama, buku ini mengulas perihal sejarah. Seperti yang telah dimaklumi sejarah adalah bidang ilmu yang telah lama menjadi anak tiri dalam diri anak-anak bangsa. Kedua, buku ini mengulas sejarah Nusantara dari perspektif umat Islam. Seperti yang terdahulu, perspektif ini dipandang dengan skeptis oleh berbagai kalangan, termasuk sebagian dari umat Islam sendiri. Dikatakannya hanya sebagai wujud euforia kebebasan reformasi setelah babak belur di masa orde baru. Ketiga, buku ini mengulas pergerakan para wanita pejuang yang berusaha mendobrak historiografi Nusantara yang populer diceritakan dari perspektif peran lelaki. Seperti masih banyak diantara kita memaklumi, perempuan tempatnya di ring dapur bukan di ladang pertempuran. 

‘Ketidak populeran’ topik yang diangkat menjadikan buku ini teramat penting dikategorinya. Ditengah penyakit lupa sejarah, Widi Astuti membincangkannya dengan bahasa yang populer. Ingin menyuapi kembali bangsa ini dengan nutrisi-nutrisi masa lalu yang tidak mampu diserap bahwa perempuan Islam Nusantara bukanlah ibu-ibu yang hanya berkutat di dapur bak pembantu, bukan perempuan yang lemah, bukan perempuan yang bodoh, apalagi perempuan yang asal manut tanpa berpikir kritis. Bukan perempuan rendahan penjual harga diri. Namun sekali lagi, bangsa ini tengah menikmati ke-lupa-annya. Karenanya buku ini ditulis oleh Widi Astuti di atas nada keprihatinan.

Buku ini membincangkan 17 pejuang perempuan Islam Nusantara dari masa ke masa yang sebagiannya dipastikan asing di telinga generasi belakangan. Ialah (1) Kalinyamat; (2) Malahayati; (3) Safiatudin; (4) Nyi Ageng Serang; (5) Siti Aisyah We Tenriolle; (6) Cut Nyak Dien; (7) Tengku Fakinah; (8) Pocut Baren; (9) Cut Nyak Meutia; (10) Pocut Meureh Intan; (11) Siti Walidah; (12) Kartini; (13) Dewi Sartika; (14) Rohana Kudus; (15) Rahmah El-Yunusiyah; (16) HR. Rasuna Said; (17) Solichah A. Wahid Hasyim. Diawali oleh Kalinyamat dari abad 16 masehi dan ditutup oleh Solichah A. Wahid Hasyim dari abad 20 masehi. Empat abad bukanlah rentang waktu yang sebentar untuk ukuran sebuah perjuangan, namun jasa yang mampu diberikan hanya sebatas penamaan jalan kemudian ghirah-nya menguap bersama waktu. 

17 perempuang yang dibincangkan memulai perjuangannya di tanah kelahiran; Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi. Dari pertempuran bersenjata sampai pertempuran pemikiran. Dari berbekal ‘rencong’ sampai memegang tampuk kekuasaan dan kursi pendidik. Lintas area pertempuran yang dilakoni hanya satu yang dituju, berjuang di jalan Allah untuk memenangkan Islam dari segala bentuk penjajahan. Lalu di mana perempuan di Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua? Bukannya tidak ada, hanya saja jejak remahnya belum terbaca, dan bisa dipastikan penulis memiliki keterbatasan referensi tentang sosok dan kiprah perjuangan mereka yang hingga di hari ini kita belum mendengar namanya. 

Tidak perlu lagi diragukan perjuangan jihad fii Sabilillah yang dilakukan Kalinyamat, Malahayati, Safiatudin, Nyi Ageng Serang, Siti Aisyah We Tenriolle, Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Cut Nyak Meutia, dan Pocut Meureh Intan. Sebagiannya berjuang hingga berdarah-darah bahkan hingga wafat di medan jihad untuk membebaskan umat dari bengisnya kaum penjajah, dan sebagian lainnya berjuang memakmurkan kehidupan umat yang termiskinkan dan terbodohkan akibat penjajahan. Takbir tak henti-hentinya mengiringi perjuangan melawan sang kaphee. 

Mencermati judul Perjuang Perempuan Islam Nusantara akan menuai kontroversi dengan dibincangkannya Kartini di tengah badai yang menggugat perannya atas Islam. Bahkan tidak sedikit yang menggugat agama Kartini; Islam-kah, Kejawen-kah; Teosofi-kah? Setelah membacanya hingga tuntas barulah dipahami perspektif penulis yang unik. Kartini tidak diangkat melebihi usahanya. Dibukanya dengan kalimat “Salah satu pahlawan paling terkemuka di Indonesia”. Satu kata “Islam” pun tidak dituliskan, hanya Keputusan Presiden Republik Indonesia menjadi legitimasi gelar kepahlawanannya. Toh penulis cukup membahas Dewi Sartika untuk mengakhiri cita-cita Kartini. Dewi Sartika tidak hanya bercita-cita dan berwacana, namun telah menjadikan nyata pendidikan bagi kaum perempuan. Tidak cukup Dewi Sartika, penulis pun ‘mengugat’ Kartini melalui Siti Walidah, Rohana Kudus, Rahmah El-Yunusiyah, HR. Rasuna Said, dan akhirnya Solichah A. Wahid Hasyim yang jelas-jelas mengibarkan bendera dakwah Islam. 

Sebagai buku yang ditulis oleh manusia yang tak maksum, tentu buku ini memiliki kekurangan yang atas izin Allah akan mampu diperbaiki oleh penulis. Karena Allah azza wa jalla hanya berkenan untuk menyempurnakan kitab-Nya dan menjadikan kitab selainnya cacat dan memiliki kekurangan. Namun cacat yang setitik tidaklah tampak jika dibandingkan teguhnya niat dan besarnya potensi yang telah dicurahkan oleh penulis.

Buku ini tepat dijadikan sebagai pintu awal yang baru, pemicu gairah, kemudian disambut oleh Widi Astuti lainnya untuk melanjutkan perjuangan literasi yang baru saja dimulai. Tidak cukup sebuah buku untuk membangkitkan kembali ruh perjuangan ke-17 pejuang perempuan Islam Nusantara, dan tidak cukup sebuah buku mampu menggeledeh seluruh daerah Nusantara di sepanjang zaman untuk menemukan pejuang perempuan Islam lainnya yang hingga hari ini kita masih terlupakan dan dilupakan akan sosok mereka. 

Semoga dengan adanya buku ini di tengah kancah pergulatan informasi, menjadikan perempuan-perempuan Islam di Indonesia tersulut kembali sumbu perjuangannya. Bersama kaum pria menegakkan panji Islam di bumi Allah. Apalah jadinya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tanpa Khadijah dan Aisyah. Kami tunggu pekikan kembali takbirmu wahai perempuan pejuang Islam! 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Dzulqa’dah 1434 H

6 komentar:

  1. Matur nuwun mbak Sket. Semoga bisa mengambil hikmah dari Perempuan Pejuang Islam :)

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai nusantara indonesia.Benar benar bermamfaat dalam menambah wawasan kita mengenai indonesia Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Indonesia

    BalasHapus
  3. sangat bermanfaat bagi yang membacanya..


    http://st3telkom.ac.id/

    BalasHapus