Selasa, 12 November 2013

Buah Pemikiran Dari Semnas Arsitektur Islam 3

Bertepatan 3 Muharram 1435 Hijrah Nabi/7 November 2013 di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, diselenggarakan hajat terbesar seminar Arsitektur Islam di Indonesia yang pada tahun ini mengusung tema “Islam, Arsitektur, dan Kesahajaan”. Forum silaturahim bagi cendikiawan dan praktisi penggiat Arsitektur Islam di mana perbincangan arsitektur tak dilepaskan dari Islam.

Ada beberapa poin menarik darinya yang perlu aku sampaikan melalui artikel ini untuk dapat dikembangkan dan diamalkan dalam wacana keilmuan Arsitektur Islam. Walaupun apa yang akan aku sampaikan perlu untuk ditinjau dan dievaluasi kembali oleh para ahli yang otoritatif di bidang Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sebagai wujud kesadaran diriku akan terbatasnya ilmu, dangkalnya pemikiran, dan minimnya pengalaman.

Poin pertama,

Mulai dikaitkannya kajian Arsitektur Islam dengan Pandangan Alam Islam (Islamic worldview) yang menjadikan wacana keilmuan Arsitektur Islam memasuki tahap ontologi dan epistemologis di mana selamanya lelah berkutat dalam tahap aksiologis. Arsitektur dikaitkan dengan Islam sebatas nilai-nilai praksis dan sebagai sumber inspirasi dalam perancangan wujud arsitektural yang kemudian diklaim Islami. Bukan berarti salah, tahap ini memang diperlukan dalam proses pembentukan dan pengamalan ilmu pengetahuan. Namun tahap yang tidak boleh dilewatkan sebelumnya adalah tahap ontologi dan epistemologi yang menjadikan Islam sebagai 'kacamata' untuk melihat realitas sekaligus sumber kebenaran yang mutlak. Jika pada tahap aksiologis menitik beratkan pada hasil akhir ilmu dalam hal ini produk arsitektur dan berarsitektur yang Islami, maka pada tahap ontologi dan epistemologi menitik beratkan pada manusia sebagai penggiat ilmu yang terlebih dahulu harus di-Islam-kan sebelum kemudian ia meng-Islam-kan arsitektur.



Dalam Semnas Arsitektur Islam 3 beberapa waktu yang lalu, kemajuan tersebut yang selayaknya disambut dengan rasa syukur kepada Allah azza wa jalla ditunjukkan dengan kehadiran Dr. Nirwan Syafrin Manurung dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor sebagai salah satu pembicara utama dengan makalah beliau yang berjudul "Kerangka Dasar Epistemologi Islam". Dalam pemaparan makalahnya, beliau memulai dengan urgensi epistemologi Islam di tengah benturan antar peradaban yang lebih tepat disebut dengan benturan antar pandangan alam masing-masing peradaban. Di sinilah beliau memahamkan bahwa setiap peradaban memiliki pandangan alam-nya sendiri yang khas sehingga menjadikannya berbeda dengan Pandangan Alam Islam. Antara Islam, Barat, Cina, Jepang, dan Afrika berbeda yang disebabkan perbedaan pandangan alam-nya yang kemudian menjadikan perbedaan ukuran kebenaran setiap peradaban. Apa yang dipandang benar oleh Islam belum tentu dipandang benar oleh peradaban lainnya.

Dilanjutkan oleh beliau dengan merinci unsur-unsur pembentuk Pandangan Alam Islam dan keterkaitannya dengan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Kedua poin pembahasan yang terakhir disampaikan secara sekilas karena beliau memberikan porsi yang lebih besar dan penekanan pada pemaparan poin yang pertama. Tentu tidaklah cukup materi yang disampaikan oleh beliau untuk memahami Pandangan Alam Islam (Islamic worldview) secara utuh dan menyeluruh. Namun apa yang disampaikan menjadi awal yang baik bagi wacana keilmuan Arsitektur Islam dan karenanya secara berkelanjutan harus terus disampaikan dan dikembangkan di berbagai forum dan media.

Arsitektur Islam idealnya didasarkan atas ontologi dan epistemologi Islam jika tidak dikatakan harus dikarenakan kedua aspek tersebutlah yang akan membedakan antara Arsitektur Islam dengan arsitektur lainnya, dengan kata lain yang menjadikannya khas. Islam sebagai asas, bukan pelengkap atau ‘bumbu’ yang sekedar mengutip dalil kemudian diinterpretasikan secara bebas untuk mendukung gagasan-gagasan arsitekturalnya. Atau sekedar mengklaim Islam namun pandangan alam yang digunakan sekularisme bahkan anti Islam. Untuk menuju ke arah Arsitektur Islam berbasiskan Pandangan Alam Islam, beberapa program baiknya mulai dirintis diantaranya,

(1) Menjalin kerjasama dengan komunitas atau institusi yang berfokus terhadap Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sehingga wacana keilmuan Arsitektur Islam menjadi gerakan yang lebih masif dan luas dengan melibatkan para cendikiawan Islam dari berbagai disiplin ilmu.

(2) Seri Seminar Nasional Arsitektur Islam ke depannya tetap menghadirkan salah seorang pembicara utama dari kalangan cendikiawan Islam yang memiliki pemahaman terhadap Pandangan Alam Islam (Islamic worldview).

(3) Mengadakan mata kuliah Pandangan Alam Islam (Islamic Worldview) di Jurusan Arsitektur yang bernaung di bawah Perguruan Tinggi Islam. Sejauh pengamatanku, inilah pengisi ruang kosong antara ilmu syariat yang diberikan pada semester-semester awal dan ilmu arsitektur yang diberikan hingga semester akhir. Akibat gap yang terjadi menjadikan mahasiswa tidak mampu mengintegrasikan antara ilmu syariat dan ilmu arsitektur sehingga berkembang pemahaman di antara mahasiswa bahwa penyampaian materi-materi ilmu syariat hanya sekedar tuntutan kurikulum yang pada akhirnya tidak berguna dalam proses pembelajarannya dalam bidang ilmu arsitektur. Diharapkan materi Pandangan Alam Islam (Islamic Worldview) menjadi jembatan antara ilmu syariat dan ilmu arsitektur. Penerapan poin ini memang akan berdampak pada kurikulum, silabus, bahan ajar, buku-buku referensi, hingga tenaga pengajar. Memang ada harga yang harus dibayar untuk kemajuan, terlebih membangkitkan kembali Peradaban Islam.

Poin kedua,

Mengkaji Arsitektur Islam dari multi-disiplin keilmuan, sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. Nangkula Utaberta di awal paparan beliau sebagai salah seorang pembicara utama. Beliau adalah salah seorang tokoh cendikiawan Arsitektur Islam yang telah dikenal luas oleh para penggiat keilmuan Arsitektur Islam di Indonesia dan Malaysia pada khususnya. Beliau pun produktif dalam menulis dan karya tulis beliau menjadi salah satu referensi utama untuk mempelajari Arsitektur Islam. Karenanya apa yang disampaikan oleh beliau patutnya menjadi perhatian.

Beliau menyampaikan bahwa sudah seharusnya kajian Arsitektur Islam melibatkan para penggiat ilmu dari berbagai disiplin keilmuan, terutama ilmu-ilmu sosial. Gagasan beliau dapat dipahami bahwa ilmu arsitektur bersifat sangat kompleks jika mendudukkannya sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia. Selama ini ilmu arsitektur dibatasi dalam perspektif ilmu (obyek formal) keteknikan dan seni sehingga spektrum kajiannya sangat sempit yang merupakan efek dari ‘meniru’ keilmuan Barat. Kemudian hegemoni Barat dikukuhkan dengan adanya dogma otoritas ilmu dan spesialisasi ilmu dalam pengertian sempit yang diamini dan dipegang teguh oleh banyak kalangan pelajar dan cendikiawan Muslim.

Mendudukkan kembali ilmu arsitektur dalam pangkuan Islam menjadikannya mampu mendobrak tembok tinggi antar bidang keilmuan sebagaimana yang dikehendaki Barat. Ilmu Arsitektur akan saling terkait dengan ilmu-ilmu lainnya sehingga menghasilkan cendikiawan yang multi disiplin ilmu dan pada akhirnya dicapai pengkayaan ilmu dalam kerangka Islam.

Saat ini terdapat beberapa komunitas dan institusi Islamisasi ilmu pengetahuan yang merangkul penggiat ilmu dari berbagai disiplin keilmuan. Namun cakupan pembahasannya masih bersifat umum dan terutama menekankan pada filsafat ilmu dan pemikiran. Karenanya dipandang perlu membuka akses keanggotaan forum komunitas Arsitektur Islam agar dapat dimasuki oleh penggiat ilmu dari berbagai disiplin ilmu dengan bahasan yang berfokus pada bidang ilmu arsitektur sehingga kajian psikologi ruang dan perilaku pengguna ruang, sosiologi ruang, antropologi ruang, semiotika arsitektur, arsitektur dikaitkan dengan ekonomi dan politik, dan lain sebagainya dapat berkembang dan mengokohkan struktur ilmu Arsitektur Islam untuk kemudian didistribusikan kepada ummat sebagai langkah mensejahterakan ummat dalam rangka ibadah kepada Allah azza wa jalla. Jika dikaitkan dengan poin sebelumnya, tentu kajian multi-disiplin yang berfokus pada keilmuan Arsitektur Islam harus berdasarkan pada Pandangan Alam Islam.

Komunitas Arsitektur Islam yang bersifat multi-disiplin tidak saja diperlukan pada tingkatan para cendikiawan, sehingga kedepannya pembicara utama dalam seri Seminar Arsitektur Islam berasal dari latar belakang keilmuan yang berbeda namun memiliki keterkaitan dengan ilmu arsitektur. Perlu juga dirintis untuk membentuk komunitas serupa pada tingkatan mahasiswa agar sejak awal mahasiswa arsitektur terbiasa mengkaji Arsitektur Islam dari berbagai pendekatan ilmu serta terbiasa menjalin kerjasama dan komunikasi dengan penggiat ilmu dari bidang keilmuan yang berbeda. Mahasiswa arsitektur yang memiliki minat dengan psikologi ruang dapat berdiskusi dengan mahasiswa psikologi, sehingga kajian yang dilakukan lebih mendalam dan menyeluruh. Tentu hal tersebut menjadi harapan bagi kita yang perlu untuk direalisasikan dengan menyusun langkah-langkah kerja yang sistematis dan konkrit.

Dengan mengkaji Arsitektur Islam dari multi-disiplin ilmu memiliki maksud politis untuk menunjukkan kepada Barat kemampuan intelektualitas cendikiawan Islam dan solidnya ukhuwah Islamiyah diantara penggiat keilmuan Islam. Tidak terjadi lagi egoisme diantara para penggiat ilmu sebagaimana yang diinginkan Barat. Tidak akan terjadi lagi pembiaran di antara umat Islam dan acuh tak acuh dengan sesama saudara Muslim-nya. Saling merangkul atas nama Islam. Bekerja, berpikir, dan beramal bersama untuk satu tujuan, membangkitkan kembali Peradaban Islam.

In syaa Allah, semoga Allah memperkenankan bagi kita sekalian.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Jimbaran Bali pada bulan Muharram 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar