Rabu, 20 November 2013

Ruang Tidur Kakek Nenek

Salah satu adab seorang anak kepada kedua orang tuanya adalah menyayangi dan mematuhi perintah keduanya sejauh dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, dan merawat keduanya dengan baik di hari tua kelak. Bukan hanya karena keduanya telah melahirkan, merawat, mendidik, dan mencukupi kebutuhan dirinya sebagai seorang anak. Semua semata karena perintah Allah, semata untuk tunduk patuh dan ibadah kepada Allah.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Surah al-Israa: 23) 
Karenanya dalam Arsitektur Islam tidak dikenal tipe fungsi bangunan Panti Jompo. Apa pun alasan si anak. Apa pun dalih yang digunakannya. Selama ia mengaku seorang Muslim, selama ia diberi hidup dan sehat, wajib baginya merawat kedua orang tuanya. Sibuknya pekerjaan, jauhnya jarak, bukanlah alasan bagi anak membiarkan orang tuanya menua berdua atau bahkan seorang diri. Tidak berlebihan memang jika banyak para ulama dan cendikiawan Islam mengatakan, “Kejayaan Peradaban Islam diawali dengan keluarga yang beradab”. 

Seorang anak yang telah menikah kebanyakannya memutuskan untuk pindah dari rumah orang tuanya dengan dalih agar mandiri dan belajar membangun hidupnya sendiri. Jasadnya yang jauh dari jasad kedua orang tua, tanpa disadari perlahan akan mempengaruhi rasa sayang dan adab kepada keduanya. Dunia yang menyibukkan menjadikannya hanya memikirkan istri dan anak-anak. Tiada lagi banyak waktu memikirkan apalagi memperhatikan orang tua yang telah jauh dari pandangan matanya. Menjenguk pun karena tradisi hari raya semata. Dan kelak begitu pula anak-anak akan memperlakukannya sebagai orang tua kemudian jadilah lingkaran iblis yang tiada putus dari generasi ke generasi. 

Peradaban Islam rapuh dari unit terkecil. Pondasi yang tidak mampu menopang bangunan ilmu di atasnya. Ambruk dari atas hingga dasar, merata. Keluarga yang tidak lagi berperan sebagai generator peradaban karena khianat seorang atau beberapa anggotanya. 

Begitu banyak ulama dan cendikiawan Islam memberi kuliah, seminar, pembinaan tentang keluarga agar kembali kepada asas-asas Islam. Berjilid-jilid buku pun telah ditulis dan dicetak berulang-ulang. Namun kita dapati seorang pejuang yang tertinggal yaitu para penggiat Arsitektur Islam yang belum banyak melontarkan gagasan memberi solusi disebabkan terlampau sibuk bergulat dengan teori melangit. Padahal ummat telah menunggu sambil bengong, kadang dengan tatapan kosong, atau mungkin telah putus asa dan mungkin tak mau tahu, atau bisa jadi malah heran dan bertanya-tanya, “Apa arsitektur punya solusi?” 

In syaa Allah, arsitektur yang berasaskan Islam selalu memiliki solusi. Bukan karena arsitektur-nya, tapi karena Islam-nya yang telah disempurnakan oleh Rabb seluruh makhluq; Allah Azza wa Jalla. Bahkan banyak solusi sederhana yang dapat ditawarkan tanpa perlu memanggil arsitek, meminjam uang untuk melunasi RAB atau menyediakan waktu untuk mengawasi para tukang bekerja. Solusi sederhana yang dimulai dari merubah pola pikir. 

Untuk itu, izinkan aku menjabarkannya. 

Seorang anak yang menikah kemudian memutuskan untuk berpindah rumah dan hidup terpisah dari orang tua pada umumnya dimulai dari sebuah kamar kos yang sempit, kemudian pindah ke rumah kontrakan hingga akhirnya mampu membeli atau membangun rumahnya sendiri yang lapang. Sebagai seorang anak yang memiliki orang tua yang masih hidup dan diberi nikmat oleh Allah memiliki sebuah hunian yang baik, adabnya sediakanlah sebuah ruang tidur yang paling besar di rumah untuk kedua orang tua. Katakan pada anak-anak, “Itu kamar kakek nenek”. 

Kamar kakek nenek yang walaupun kosong, rawatlah setiap hari. Bersihkan lantainya, rapikan dipannya, lap perabotnya. Buka setiap pagi jendelanya agar sinar dan udara segar memenuhi ruang, seakan orang tua sedang menempati, dan beri wewangian. Biarkan anak-anak melihat betapa orang tuanya selalu melayani kakek neneknya, walaupun keduanya sedang tidak berada di tengah-tengah keluarga kecil mereka. 

Pertanyaannya, kenapa ruang tidur? 

Ruang tidur adalah ruang yang sangat pribadi. Ruang yang intim. Ruang tidur paling luas yang menandakan ruang pribadi bagi pemilik rumah. Ruang yang dari luasannya menguasai ruang-ruang pribadi lainnya yang bagaikan kediaman pribadi raja letaknya di bagian ndalem sehingga jauh dari jangkauan orang luar. Karenanya dibutuhkan pengabdian para abdi ndalem, yaitu anggota keluarga untuk melindungi pemilik rumah dari para pengganggu, walaupun rumah tersebut secara sah legal formal milik sang anak. Bisa dikatakan ini bagaikan sang raja yang menyerahkan tanggung jawab kerajaan kepada pangerannya, tetaplah kedudukan sang raja di atas kedudukan pangeran walaupun sang pangeran yang sedang memegang tampuk kekuasaan. 

Tapi bagaimana dengan seorang anak yang belum mampu membeli atau membangun rumah yang lapang? 

Paling tidak pasti memiliki sebuah ruang tidur. Beri nama ruang tidur itu kamar kakek nenek, dan jangan lupa katakan kepada anak-anak. Jika keduanya datang untuk menginap, relakan diri untuk tidur di ruang keluarga, dan biarkan orang tua menempati kamarnya. Anak-anak akan melihat bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan kakek neneknya di rumah mungil yang mereka tempati. Layaknya sang abdi ndalem yang menjaga dan melayani tuannya di luar ruang. 

Solusi yang sederhana pun membutuhkan adab untuk mengamalkannya, dan adab hanya didapatkan melalui ilmu syariat. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas. Tanpa adab hanya akan mencaci dan meremehkan solusi. Solusi tak berbayar dipandangnya tak berharga, atau malah tak dapat dinalar. 

Solusi arsitektural yang terlampau sederhana tersebut bertujuan agar kelak begitu pula anak-anak akan memperlakukan kedua orang tuanya setelah ia melihat dan memperhatikan betapa besar perhatian, pelayanan, dan penghormatan keduanya kepada kakek neneknya. Dan kelak tidak akan terlintas dipikirannya berlama-lama jauh dari orang tua, apalagi menitipkan keduanya ke rumah jompo. Tidak saja hati yang rindu karena terpisah jarak, jasad pun menuntut untuk kembali bertemu. Bertemu dalam ruang. Ruang untuk kakek dan nenek. Dan begitu di setiap keluarga Muslim dari generasi ke generasi. 

Ruang yang beradab untuk menumbuhkan keluarga yang beradab. Insya Allah, atas izin Allah dan jika kita mau untuk berubah. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra atas inspirasi dan pelajaran yang diberikan oleh Bapak Mashudi pada 13 Dzulhijjah 1434 Hijrah Nabi. 
Bertempat di Jimbaran, Bali pada bulan Muharram 1435 Hijrah Nabi

2 komentar: