Sabtu, 20 Desember 2014

Rumah; Meleburnya Kenangan dan Imajinasi


Alex Wyler yang diperankan oleh Keanu Reeves; seorang arsitek muda yang bekerja pada sebuah pengembang perumahan, dan Kate Foster yang diperankan oleh Sandra Bullock; seorang dokter yang pindah dari kota kecil untuk menjemput peluang karir yang lebih baik di rumah sakit kota metropolis. Keduanya menghuni sebuah ruang yang sama hanya terpisahkan waktu. Ruang yang dinamakan Rumah Danau (The Lake House).

Rumah Danau dirancang oleh ayah Alex bernama Simon Wyler pada masa karir awalnya sebagai arsitek. Simon Wyler diceritakan sebagai arsitek ternama yang memiliki hubungan personal dengan Le Corbusier dan Frank Lloyd Wright yang tak dipungkiri telah membentuk ‘mitos’ dirinya. Dalam suatu plot, Alex menceritakan kepada Henry Wyler; adiknya tentang keterperangkapan keduanya dalam kebesaran dan ‘mitos’ sang ayah yang menjadikan turut menapaki jejaknya sebagai arsitek. Berbincang tentang ruang, cahaya, dan kehadiran sebagai seorang ayah dan anak. Tapi sayangnya tak selalu hangat.


Dalam pandangan Heidegger, arsitektur dibuat oleh manusia untuk manusia sehingga yang dihasilkannya sarat dengan kepentingan manusia. Sebagaimana sebuah rumah di pinggir bibir danau yang ditegakkan dengan rangka baja ekspos dan diselimuti kulit kaca, tak sekedar karya awal Simon Wyler untuk mencurahkan kepentingan hasratnya dan kepentingan karirnya. Bahkan jauh lebih dalam, Rumah Danau adalah kepentingan cinta, hadiah darinya teruntuk Mary; kekasih dan ibu bagi kedua putranya. Rumah yang setiap garisnya adalah kerinduan, harapan, dan imajinasi akan masa depan. Rumah di mana Mary memilih untuk menghabiskan hari-harinya, mengandung dan membesarkan anak-anaknya, memberi dukungan suaminya yang mulai merangkak menapaki karir hingga didapatinya menjadi arsitek ternama.

Senin, 24 November 2014

Bangun Runtuh dan Perebutan ‘Ruang’ SPBU

Dalam pandangan Henri Lafebvre, praktik sosial merupakan praktik spasial dalam arti praktik sosial disadari atau tidak merupakan aktivitas produksi ruang. Mudahnya begini, hadirnya ruang SPBU secara fisik merupakan konsekuensi dari praktik sosial untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat. Praktik sosial untuk memenuhi kebutuhan BBM didahului atas kesadaran terhadap ruang dan kebutuhan ruang untuk dilangsungkannya praktik sosial yang dinamakan dengan ruang Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU). Dari kesadaran tersebut terbentuk konsepsi ruang SPBU, sehingga dapat dipahami kehadiran ruang SPBU didahului kesadaran dan konsepsi ruang sebagai tuntutan dari praktik sosial.

Di ruang SPBU, praktik sosial antara masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan BBM dengan pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan BBM tidak terjadi secara langsung tatap muka karena pemerintah mewakilkan kehadirannya kepada pengelola ruang SPBU dengan seperangkat legitimasi seperti seragam dan logo Pertamina, sehingga praktik sosial yang berlangsung di ruang SPBU tidak dapat diartikan antara masyarakat dengan pengelola SPBU sebab simbol-simbol yang dikenakan dan ditampakkan.
Ketika melangsungkan praktik sosial dalam sebuah ruang, berawal dari mempersepsi ruang kemudian manusia memaknai ruang; menanamkan makna dalam ruang yang menjadikan ruang tidak lagi netral dan tidak lagi kosong. Ruang berisi oleh makna. Yang awalnya ruang SPBU merupakan ruang fisik-konkret menjadi ruang-persepsi kemudian ruang-makna dan terabstraksi menjadi ruang-simbolik.

Berlangsungnya praktik sosial di mana masyarakat terpenuhi kebutuhannya akan BBM dan pemerintah dapat menyediakan BBM dengan pelayanan yang disetujui oleh masyarakat –termasuk menyoal harga dan kelancaran distribusi- maka dari perspektif masyarakat ruang SPBU merupakan simbol pemerintah pelayan masyarakat. Walaupun begitu, kuasa dominan ruang tidak berada di tangan masyarakat atau di tangan pemilik ruang SPBU yang dapat saja dimiliki perseorangan, tapi berada sepenuhnya di tangan pemerintah. Masyarakat tidak mempersoalkan dominasi kuasa ruang SPBU oleh pemerintah selama dapat menjamin keberlangsungan praktik sosial sebagaimana dikehendaki masyarakat, bahkan dominasi kuasa ruang SPBU oleh pemerintah merupakan amanah dari masyarakat melalui UUD sekaligus menjadi pondasi struktur ruang-simbolik SPBU yang dikonstruksi masyarakat.

Jumat, 14 November 2014

Seni Dalam Pandangan Alija Ali Izetbegovic

Alija Ali Izetbegovic adalah presiden pertama Republik Bosnia dan Herzegovina yang menjabat dari 20 Desember 1990 hingga 14 Maret 1996. Memang tak ramai yang mengetahui sosoknya sebagai seorang presiden sekaligus ahli hukum, filosof, dan penulis, apalagi sebagai seorang aktivis Islam yang dicap fundamentalis sebagai ujung dari deklarasinya pada tahun 1970 mengenai relasi antara Islam, negara, dan masyarakat. Alija Ali lahir pada 8 Agustus 1925 di Bosanski Samac dan kembali kepada ALLAH pada usia 78 tahun tepat pada 19 Oktober 2003 di Sarajevo.

Alija Ali Izetbegovic
Unduh dari Wikipedia, hasil foto Helene C. Stikkel; Departemen Pertahanan Amerika

Selain The Islamic Declaration, Alija Ali menulis sebuah buku berjudul Islam Between East and West yang langsung saja menjadi magnum-opusnya dan telah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Membangun Jalan Tengah: Islam antara Timur dan Barat oleh Mizan pada tahun 1992.

Tulisan singkat ini merupakan kutipan dan abstraksi mengenai seni dalam pandangan Alija Ali yang dituangkannya dalam buku yang disebut terakhir. Bukan karena sosoknya sebagai seorang presiden, tapi sebab penghayatannya akan dunia seni yang dalam dan penuh misteri untuk menggambarkan surga di alam sana.

Kamis, 16 Oktober 2014

7 Pilar Memahami Arsitektur Islam

Tulisan ini merupakan ulasan dari makalah dengan judul How to Grasp Islamic Architecture yang ditulis oleh Dr. Khaled Azab dalam publikasi Bibliotheca Alexandrina Issue No.12 July 2011 halaman 22-26.


*****

Khaled membuka bahasan makalahnya dengan sebuah pernyataan bahwa untuk memahami Arsitektur Islam masih dibutuhkan jalan yang panjang disebabkan pengkajian dan pemahaman terhadap Arsitektur Islam masih bersandarkan pada pendekatan yang digunakan oleh kalangan Orientalis, yaitu arsitektur sebagai sebuah wujud fisik semata, terkhusus wujud yang dipenuhi dengan ornamentasi. 

Rabu, 08 Oktober 2014

Arsitektur Kini Untuk Kehidupan Esok

Arsitektur yang tak sesingkat namanya memiliki spektrum fungsi yang luas. Dikaitkan dengan kebutuhan primordial manusia, arsitektur adalah baju kedua bagi manusia untuk melindungi tubuh biologisnya yang rapuh. Dikaitkan dengan fungsi pragmatisnya, arsitektur adalah wadah bagi aktivitas manusia. Dikaitkan dengan ekonomi, arsitektur bernilai investasi bagi pemiliknya. Dikaitkan dengan kehidupan sosial, arsitektur –baik wujud fisik maupun ruang- merupakan media penyampai pesan bagi suatu komunitas atau masyarakat akan identitasnya. Dikaitkan dengan keagamaan, arsitektur memuat simbol-simbol bermakna spiritual hingga ungkapan pengalaman spiritual yang telah atau hendak dicapai. Dan itu belum semua tentang arsitektur.

Singkatnya, arsitektur sangat erat dengan manusia, dengan aktivitasnya, bahkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Begitu pula arsitektur sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia semakin mengukuhkan kehadiran arsitektur sebagai konsekuensi dari kehadiran manusia di alam budaya. Pernyataan ini dapat ditelusur dari pelajaran yang disampaikan Imam Ghazali –semoga ALLAH merahmati dan meridhai beliau-, bahwa sementara manusia berada di dunia terdapat dua hal yang perlu baginya. Pertama, perlindungan dan pemeliharaan jiwanya. Kedua, perawatan dan pemeliharaan jasadnya. Terkait dengan perawatan dan pemeliharaan jasadnya, manusia memiliki kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Yang terakhir dari kebutuhan jasadiyah manusia tersebut merujuk pada arsitektur.

Kalaulah begitu eratnya hubungan manusia dengan arsitektur, hingga batas apa arsitektur dapat bermanfaat bagi manusia, bagi kehidupannya kini di sini di alam dunia dan kelak di sana di alam akhirat? Untuk itu arsitektur butuh ditempatkan pada posisinya yang tepat sesuai dengan kedudukan segala sesuatu yang telah ALLAH tentukan dan kehendaki sebagai Sang Pencipta. Salah memahami dan menempatkan arsitektur dalam relasinya dengan ALLAH-manusia-alam merupakan tindak kezhaliman, sehingga arsitektur yang oleh Imam Ghazali dibutuhkan manusia untuk merawat dan memelihara jasadnya justru menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi dan mengancam eksistensi manusia dan alam. Karena dampak yang diakibatkan perilaku zhalim, ALLAH tidak menyukai pelakunya –innahu laa yuhibbu al-zhoolimiina- dan ALLAH tidak memberi petunjuk kepadanya –innallaha laa yahdii al-qauma al-zhoolimiina.

Senin, 29 September 2014

Kita Yang Baru Saja Terbangun

Ilmu pengetahuan semasa (present-day knowledge) yang menjadi arus utama dalam alam dunia modern dan menjadi satu-satunya rujukan ke-ilmiah-an bagi ilmu pengetahuan selainnya, termasuk dalam bidang arsitektur, kini tengah mengalami krisis. Ilmu pengetahuan semasa yang oleh pemujanya merupakan satu-satunya jalan yang sah bagi manusia untuk mencapai puncak peradaban, kini harus berhadapan dengan berbagai dampat negatif berupa kerusakan alam manusia, alam hewan, alam tumbuhan, dan alam mineral. Pembangunan dalam skala besar dan singkat yang membuta tuli ditempuh melalui mekanisasi manusia, eksploitasi sumber daya alam, pengerusakan lingkungan hidup disebabkan materialisme sebagai asas pembangunan yang menjadi agenda utamanya memandang manusia, alam, hewan, dan tumbuhan hanya sebatas materi dan jasad dan relasi di antaranya hanya didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan.

Ilmu pengetahuan semasa yang bersandarkan pada rasio dan pancaindera meniscayakan manusia mencapai teknik rekayasa hingga batas-batas terjauhnya. Gurun tandus menjadi hamparan padang rumput, gedung-gedung melebihi tinggi gunung-gunung, bahkan menghadirkan daratan di tengah lautan lepas dan seketika menyulapnya menjadi kota penuh gemerlap lampu-lampu neon. Tapi kini dipaksa berhadapan dengan keterbatasannya bahwa ternyata pembangunan yang didasarkan ilmu pengetahuan semasa tak mampu menyentuh dimensi ruhaniyah yang merupakan esensi manusia akibat penolakannya terhadap spiritualitas melalui legitimasi ketidak-ilmiahan wahyu dan intuisi atas nama kebenaran obyektif. Epistemologi sedemikian menghasilkan teori yang kering dan gersang yang berarti tidak manusiawi. Konsekuensi logisnya, tingkat pembangunan fisik tidak beriringan dengan tingkat pembangunan ruhani sedangkan spiritualitas yang ditolaknya adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menemukan makna diri, tujuan hidup, dan nilai-nilai abadi. Ilmu pengetahuan semasa yang lahir dari rahim humanisme dengan menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan ukuran kebenaran kini berhadapan dengan kemanusiaan dan kehidupan.

Minggu, 07 September 2014

Logika Kusut Rumah Susun

Rumah susun sebagai solusi hunian bagi masyarakat dengan kepemilikan ekonomi menengah bawah sedang giat-giatnya dipromosikan dan direalisasikan. Sedang giat pula menjadi topik kajian di universitas-universitas ternama. Giat pula mahasiswa arsitektur menjadikannya sebagai obyek perancangan tugas akhir. Rumah susun segera saja menjadi primadona tanpa ruang kritik dan gugatan karena telah dilabeli cap ilmiah.

Ketersediaan lahan menjadi logika rumah susun yang dengan masifnya diinternalisasikan ke dalam alam pikir mahasiswa dan kalangan awam. Tingginya tingkat penduduk tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lahan, sehingga pembangunan hunian vertikal menjadi solusi yang realistis lagi tepat. Masalah tersebut diklaim semakin parah dari tahun ke tahun karena arus migrasi dari desa ke kota tak kunjung reda. Begitu pula dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang tak mungkin berhenti. Dapat kita lihat bersama gelombang warga pendatang paska-lebaran ke kota-kota besar yang rela meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib meraih impian. Kota masih memancarkan daya tarik dan harapan masa depan yang lebih baik. Katanya begitu.

Sudah banyak upaya untuk mengurai kepadatan penduduk kota. Mulai dari berbagai program peningkatan perekonomian desa agar warganya tidak lagi silau dengan gemerlap kota maupun program transmigrasi untuk memeratakan persebaran penduduk, tapi kerap kali mengalami kegagalan karena tidak meratanya pembangunan menjadikan warga transmigran cenderung pulang ke daerah asal. Tampaknya kota masih menjadi magnet yang sangat kuat yang berarti semakin menguatkan logika pertambahan penduduk tidak diiringi ketersediaan lahan. Rumah susun semakin mendominasi menjadi satu-satunya solusi untuk masalah perumahan.

Rabu, 06 Agustus 2014

Masjid Sepanjang Perlintasan Mudik

Mudik menyambut datangnya hari lebaran merupakan tradisi bagi kebanyakan umat Islam di Indonesia. Bagi diriku yang penikmat arsitektur, mudik tak sekedar tradisi tapi juga pengalaman meruang memasuki ruang kota demi ruang kota, menghirup suasananya, menikmati arsitekturnya, memperhatikan kegiatan dan tak jarang berbincang dengan warganya. Begitu pula pengalamanku mudik tahun ini dari Denpasar menuju Lumajang dan dari Lumajang menuju Surakarta.


Puluhan kali menempuh perjalanan mudik, satu fenomena yang serasa wajib harus selalu hadir adalah penggalangan dana pembangunan masjid, khususnya di kota-kota kecil dan pedesaan, yang hingga meluber ke tengah jalan sehingga kendaraan bermotor terpaksa harus menurunkan kecepatannya tak lebih dari 10-20 km perjam. Suasana yang sangat meriah, hanya malam takbiran yang mengalahkan riuhnya. Seorang atau lebih akan berbicara melalui pengeras suara meminta bantuan dana, sedikit cerita tentang pembangunan masjid di lingkungannya, dan doa-doa yang dilantunkan teruntuk pemberi dana agar sampai di tujuan dengan selamat dan sebagian harta yang disumbangkan mendapatkan balasan berlipat-lipat dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Sedangkan warga lainnya berjejer di sepanjang tepi dan tengah jalan menengadahkan ember menyambut bantuan dana dari pemudik yang lewat. 

Di beberapa daerah tampak sangat terorganisir dan terlihat rapi. Warga yang turut membantu penggalangan dana mengenakan baju yang bersih, rapi, dan menutup aurat. Menghampiri pemudik yang lewat pun dengan santun, senyum, dan salam yang hangat. Tidak sedikit pula di beberapa daerah tampak tidak terorganisir, cenderung sporadis, dan berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Warga yang turut membantu penggalangan dana terlihat tampil apa adanya mengenakan baju yang lusuh, jauh dari kesan rapi, bahkan banyak yang tidak menutup aurat dengan sempurna. Tak jarang menghampiri pemudik dengan sikap yang tidak santun seperti mengetuk keras kaca jendela kendaraan, berteriak “Woi woi”, atau mengejar kendaraan pemudik yang tidak memberikan bantuan dana.

Selasa, 08 Juli 2014

Dari Masjid Mengusir Kemiskinan

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Dari Masjid Memerangi Kemiskinan” kita telah membahas peran sosial-kemasyarakatan ruang masjid yang mendesak untuk kembali dihadirkan sebagai solusi atas masalah sosial-ekonomi yang tengah dirasakan masyarakat Muslim saat ini melalui pengadaan fasilitas dapur umum masjid untuk memenuhi kebutuhan gizi warga yang tak berpunya di sekitar lingkungan masjid, fasilitas asrama masjid untuk ‘merumahkan’ generasi muda umat Islam yang belum berkeluarga, tidak mampu, dan tidak memiliki tempat tinggal layak agar tumbuh kedekatan emosional dan kesejarahan dirinya dengan masjid, dan fasilitas pendidikan syariat dan keterampilan hidup sebagai upaya untuk tidak saja menegakkan tulang belakang umat Islam yang tak berpunya tapi juga memberinya bekal keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan yang terpenting memasukkan iman ke dalam qolbu-nya.

Pada fase ini hakikatnya kita sedang memerangi kemiskinan dari dalam tubuh masyarakat Muslim. Fase memperkenalkan gagasan dan tahap awal penerapannya. Dibutuhkan pendekatan persuasif untuk menyampaikan gagasan agar pihak masjid memahami dan menyetujui. Pada awal penerapannya pun dibutuhkan pendekatan persuasif untuk menyampaikannya kepada warga di sekitar lingkungan masjid. Siapa yang berhak mendapatkan fasilitas dan siapa yang berkenan menjadi donatur untuk keberlangsungan operasionalnya. Masih terjadi tarik menarik dan tegangan yang jika diulur tidak akan pernah dapat terealisasi tapi jika seketika ditarik sekencang-kencangnya pasti akan patah dan menimbulkan masalah baru. 

Setelah fase awal telah terealisasi, tak berarti perjuangan kemudian berhenti. Dalam fase berikutnya, setelah memerangi, kita harus mengusir kemiskinan dari dalam tubuh masyarakat Muslim. Kita usir sejauh-jauhnya hingga tak berdaya lagi kemiskinan mendatangi dan merongrong masyarakat Muslim yang dampaknya merembet pada aqidah umat. Tapi kita pun tak menginginkan membentuk mental masyarakat Muslim menjadi masyarakat yang senantiasa disuapi, masyarakat yang memiliki ketergantungan mutlak kepada makhluk. Kita menginginkan setiap diri umat Islam menjadi umat yang mandiri dan dengan kemandiriannya dapat berdiri kokoh merapatkan barisan hingga tanpa celah sehingga menjadi barisan masyarakat Muslim yang di atasnya hanyalah Allah. Tak ada yang mampu membendung gerak lajunya kecuali hanya Allah yang menghendakinya demikian.

Senin, 23 Juni 2014

Dari Masjid Memerangi Kemiskinan

Masyarakat Muslim tengah menghadapi berbagai masalah kehidupan baik yang datangnya dari luar (eksternal) maupun dari dalam tubuh masyarakat Muslim sendiri (internal). Di antara masalah tersebut adalah masalah sosial-ekonomi yang akut hingga merembet pada bidang aqidah. Lumrah yang kemudian sepertinya telah dimaklumi bersama, kita dapati betapa banyaknya saudara Muslim mengemis di pintu-pintu masjid, di pinggir jalan, di sekitar lampu lalu lintas, dan diberbagai ruang publik. Di lain waktu kita disuguhi tawaran sebagian saudara Muslim yang memiliki kelebihan harta berkeinginan untuk membangun masjid bagaikan istana, bahkan dengan mantapnya berkeinginan mendirikan hotel berbintang dan memiliki maskapai penerbangan yang dikatakannya untuk kepentingan umat Islam. Umat Islam yang mana? Ya, di tengah kondisi masih kita dapati dan kita maklumi bersama di mana pada hari ini di saat artikel ini dituliskan masih banyak saudara Muslim yang terpaksa harus menahan lapar. Masih banyak bayi-bayi kaum Muslimin mengalami kekurangan gizi dan meregang nyawa karena bapak dan ibunya tak memiliki kecukupan harta bahkan sepeser pun, kemudian bunuh diri dirasa menjadi satu-satunya jalan keluar yang instan di tengah sempitnya himpitan hidup.

Masih banyak para suami yang terpaksa harus berurusan dengan rentenir untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya setiap bulan. Gali lubang tutup lubang. Selain karena tak memiliki keterampilan yang mumpuni juga tak tersedia lapangan kerja. Keinginan untuk berdagang sebagai sunnah Rasul yang selalu didengung-dengungkan para da’i pun tak dapat terwujud bagi mereka karena tak tersedianya modal. Sebagaimana bersama kita ketahui modal tak jatuh dari langit bagaikan air hujan, dan sebagaimana kita ketahui juga kecenderungan para pengusaha Muslim yang lebih tertarik bermain dengan bisnis bermodal besar yang menjanjikan keuntungan besar. Dalam kondisi hidup bersama yang sedang carut marut kita sebagai unsur masyarakat Muslim memang harus menekan ego pribadi, dan bukankah Islam mengajarkan untuk menekan ego pribadi demi kemaslahatan hidup bersama? Itu pun jika kita konsisten dengan tujuan sebuah tatanan masyarakat Muslim yang pondasinya adalah tauhid dan diikat erat dengan ukhuwah Islamiyah.

Senin, 09 Juni 2014

Arsitektur Yang Ditinggalkan

Aku selalu diyakinkan oleh para guru bahwasanya Islam bukanlah sekedar agama, Islam tidak hanya mencakup aspek ritual. Islam adalah jalan hidup yang melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia, Islam adalah sistem yang dengannya manusia dapat mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat. Karenanya lebih tepat disebut dan diyakini Islam adalah diin, bukan a-gama.

Hingga suatu hari seorang kawan bercerita padaku jika dirinya diharuskan meyakini bahwasanya Islam dan arsitektur tidaklah memiliki keterkaitan. Islam adalah urusan akhirat, sedangkan arsitektur adalah urusan duniawi, suatu sikap merendahkan Islam jika Islam diyakini berurusan pada hal-hal duniawi yang remeh temeh layaknya arsitektur. Ya, saat itu untuk kesekian kalinya aku harus mengelus dada karena sebab yang sama. Sudah sering kali aku dapati, saksikan sendiri, dan alami secara langsung upaya menjauhkan generasi muda umat Islam dari ilmu-ilmu yang dikatakan urusan duniawi. Tak sedikit yang awalnya bersemangat mempelajari ilmu arsitektur, kimia, fisika, biologi, dan lainnya, tetiba memilih untuk berhenti kuliah atau paling tidak tak lagi memiliki semangat belajar ilmu yang ditekuninya sehingga terpaksa asal lulus karena tuntutan orang tua. Aku tanya, “Kenapa dengan dirimu?” Dijawabnya, “Kata ustadz fulan, ilmu itu tak bermanfaat, hanya membuang-buang waktuku di dunia, sedangkan tujuan kita adalah akhirat”. Seketika dadaku terasa sesak setiap kalinya mendengar jawaban seperti itu. Sambil menengadah aku seringkali berkata dalam hati, “Ya Allah beginikah Islam yang engkau maksudkan sebagai petunjuk bagi seluruh alam? Ataukah kami sedang tersesat jalan?”

Pada hari-hari yang lain aku seringkali membaca atau diceritakan sebuah fatwa bahwasanya dalam kondisi darurat umat Islam diperbolehkan berobat kepada dokter non Muslim, para wanita Muslimah diperbolehkan untuk memeriksakan kandungannya kepada dokter pria. Karena alasan darurat pula umat Islam diperbolehkan meminum obat-obatan yang tak kunjung pasti kehalalannya oleh sebab kita tak memiliki ahli perobatan yang berkhidmat untuk kepentingan umat Islam. Jika begini kondisi yang sedang kita hadapi bersama sedangkan di satu sisi generasi muda umat Islam diyakinkan dengan segala cara untuk menjauhi ilmu-ilmu yang dikatakan duniawi, entah sampai kapan status darurat dalam berbagai bidang kehidupan umat Islam akan berakhir?

Jumat, 06 Juni 2014

Rumah Yang Hati Rasulullah Terpaut Kepadanya

Perjalanan hidup dan bahkan perjuangan dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tak dapat dilepaskan dari keberadaan rumah ibunda Khadijah –yang diridhai Allah-. Rumah yang hati beliau shalallahu alaihi wa sallam terpaut kepadanya karena keberadaan seorang kekasih yang turut meruang bersama. Ialah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay.

Bagaimana bisa beliau shalallahu alaihi wa sallam tak teramat sangat mencintai ibunda Khadijah. Disaat banyak orang mendustai dirinya, ibunda Khadijah membenarkan kenabian dan kerasulannya. Disaat banyak orang menjauhi dan memboikot dirinya, ibunda Khadijah menyerahkan seluruh harta benda yang dimilikinya untuk dakwah Islam. Disaat banyak orang berperilaku kasar, menghujat, dan mencemooh dirinya, ibunda Khadijah senantiasa mencurahkan kasih sayang dan kelembutan. Cinta yang terus tumbuh di atas dasar yang kokoh karena Allah. Cinta 3 kekasih. 

Di rumah itu pertama kali Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam bertemu dengan ibunda Khadijah. Para sejarahwan sepakat, sebelum menikah terhitung dua kali beliau shalallahu alaihi wa sallam berkunjung ke rumah ibunda Khadijah. Persiapan keberangkatan berdagang ke Syam menjadi pertemuan pertama antara keduanya. Hingga di sini para sejarahwan berbeda pendapat kronologis pertemuan keduanya. Hanafi Muhallawi berkeyakinan bahwasanya kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ke rumah ibunda Khadijah ditemani oleh Abu Thalib atas inisiatif dirinya sendiri, sedangkan Ibnu Ishaq meyakini bahwasanya ibunda Khadijah yang berinisiatif mengundang beliau shalallahu alaihi wa sallam ke rumah untuk membantunya berdagang sebab dikenalnya beliau sebagai pemuda yang terpercaya di tengah kaumnya.

Rabu, 21 Mei 2014

Masjid Yang Pondasinya Adalah Taqwa

Hari-hari belakangan adalah hari yang tak biasa bagi penduduk Yatsrib. Sedari pagi mereka telah keluar dari rumah dan berbondong-bondong berkumpul untuk menyambut kedatangan seorang Rasul Allah yang sangat dinantinya, tiada lain ialah Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam. Mereka yang kebanyakannya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, belum pernah melihat senyum beliau, menyentuh telapak tangan beliau, tapi bukan penghalang bagi tumbuhnya rasa iman, cinta, dan rindu di hati mereka.

Rasa cinta bercampur penasaran seperti apa sosok utusan Allah itu yang beritanya telah menyebar ke seluruh pelosok Yatsrib, menjadikan mereka begitu antusias menanti. Menaiki bukit dan bebatuan untuk melihat lebih jauh lagi, sambil terus rasa itu seakan ingin mendobrak dan menghancurkan relung-relung dada mereka. Hingga terik meninggi mereka terpaksa kembali memasuki bilik-bilik rumah karena tak tahan sengatannya. Hari berganti hari, masih tak dilihatnya dari arah kejauhan bayangan di hamparan pasir. Kekasih belum juga datang hari itu, mungkin esok.

Hari itu, hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke-14 kenabian yang kelak ditetapkan sebagai tahun pertama hijriah, ketika hari beranjak siang, seorang lelaki Yahudi berteriak lantang, “Wahai orang-orang Arab, inilah orang yang tengah kalian tunggu-tunggu”. Serentak kaum Muslimin membuka pintu rumahnya, berhamburan keluar tak hirau akan panasnya siang. Hari itu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memasuki Quba yang kira-kira berjarak 5 km dari Yatsrib dan bermukim di dalamnya selama 4 hari. Tinggal sepenggal lagi tiba di Darul Hijrah.

Senin, 19 Mei 2014

Rumah Sebagai Tubuh Kedua

Rumah bisa dikatakan sebuah perwujudan arsitektur yang sangat pejal untuk ditafsirkan sekaligus menjadikannya sangat mudah untuk ditafsirkan secara semena-mena. Bagi sebagian manusia, rumah adalah kebutuhan mendasar yang mendesak untuk dapat dipenuhinya. Bagi sebagian yang lain rumah adalah citraan bagi statusnya, monumen bagi pencapaian hidupnya, monumen perayaan kemenangan dalam medan peperangan hidup yang setiap waktu menjadi pengingat akan siapa dirinya, bahkan pengingat bagi generasi keturunannya.


Sebagian yang lain jika ditanya apa itu rumah hanya gelengan kepala menjadi jawaban. “Entah apa itu rumah, kami tak pernah merasa benar-benar di rumah. Kalaulah tempat kami berdiam beratap jalan layang dapat disebut rumah, hanya inilah yang kami sebut rumah.”

Membincangkan rumah menjadikan kita harus membincangkan manusia. Kenapa? Mudahnya karena ‘ada’nya rumah adalah konsekuensi dari ‘ada’nya manusia sehingga ‘ada’nya manusia mendahului ‘ada’nya rumah. Teka-teki yang lebih mudah dinalar daripada ‘ada’nya ayam dan telur. Manusia membutuhkan rumah sebagai konsekuensi atas eksistensi dirinya yang bertubuh materi. Suka atau tidak suka, selama menjajaki kehidupan dunia manusia akan senantiasa ‘ada’ sebagai makhluk dwitunggal dengan ruh dan tubuh, bagaikan sekeping mata uang logam.

Jumat, 02 Mei 2014

Kebermaknaan Rombong Sate

Pada tanggal 27 April 2014 saat memasuki waktu isya, di depan rumah dinas bapak di daerah Colomadu, Kartasura, lewat seorang pedagang sate dengan rombong yang dikayuh diiringi suara ‘kencrengannya’ yang khas. Kalau tidak salah menghitung, ini adalah pedagang sate ketiga yang lewat sejak memasuki waktu maghrib. Apa boleh buat karena perut pun tak lagi mau kompromi, sate ayam menjadi menu santapan malam kami.

Saat aku berjalan ke dapur sambil melihat ke arah pintu masuk terlihat rombong sate yang sekilas berbentuk seperti perahu. Tiba-tiba aku hentikan langkah, diam sejenak, bisa jadi karena rasa ingin tahu mengetuk disela rasa lapar untuk dicarikan jawabannya. Segera dan spontan saja aku berkenalan dengan mas pedagang sate dan berbagi cerita kira-kira selama 20 menit hingga seluruh sate yang kami pesan siap dihidangkan. Dari logatnya ia memang asli Madura, dan beberapa kali di antara Bahasa Jawa Timuran yang digunakannya terselip kosakata khas Madura.

Tak disangka ia –yang aku lupa tanyakan namanya- telah sejak lulus kelas 3 SD merantau ke Kartasura untuk berdagang sate, tepatnya tahun 2002 katanya sambil mengingat-ingat agar pasti. Alasan yang klise karena berasal dari keluarga tak mampu sehingga harus putus sekolah dan mencari penghidupan sendiri. Syukur-syukur kalau penghasilan yang didapatkan dapat membantu keluarga di kampung. Awalnya ia belajar berdagang sate dan meracik sate dari seorang sesepuh pedagang sate asli Madura di Kartasura pemilik nama Pak Hasan yang kini telah meninggal. Dari pembicaraan kami, ia sangat menyanjung Pak Hasan sebagai pribadi yang telah mendidiknya sekaligus membuka pintu bagi warga Madura lainnya untuk berkiprah berdagang sate di Kartasura. Paling tidak begitulah ia dengan semangatnya bercerita kepadaku mengenai sosok Pak Hasan yang diikuti dengan beberapa sosok pedagang sate asli Madura di Kartasura pada periode setelahnya yang telah menunai jerih payah dari usahanya berdagang. Dari nama-nama yang disebutkannya pun banyak yang telah bergelar Haji. Memang mereka telah menuai jerih payah usahanya setelah sebelumnya kita mengenal tukang bubur naik haji.

Senin, 21 April 2014

'Berhalaisasi' Slide Presentasi

Perkembangan teknologi digital turut menyentuh bahkan menggedor dunia pendidikan hingga hal-hal terkecilnya harus tersentuh peran teknologi terkini guna mencitrakan visi pendidikan yang jauh ke depan, sehingga perlahan media pembelajaran manual harus angkat kaki. Saking dianggap pentingnya peran teknologi, bukan lagi substansi pendidikan yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak, tapi seperangkat teknologi yang dijadikan sebagai topeng agar tampak memukau, karenanya tak aneh jika dibanyak brosur institusi pendidikan lebih menonjolkan fasilitas teknologi yang dimiliki; wi-fi dengan kecepatan cahaya, lcd proyektor, absen sidik jari, bahkan e-learning yang katanya antara guru dan murid dapat saling berinteraksi dalam ruang dan waktu yang terpisah selama proses pembelajaran tanpa mengurangi makna pembelajaran yang didapat.


Bukan berarti aku seorang penganut Ludisme, anti perkembangan teknologi dan terjebak nostalgia akan zaman kapak batu. Tapi memang ada beberapa aspek dalam pendidikan yang tak patut dan tak dapat digantikan dengan teknologi digital yang pada akhirnya turut berkontribusi melahirkan lulusan yang tak mampu runut dalam nalar dan berpikir kontemplatif-kritis. Dari sekian banyaknya aku hanya hendak membincangkan bagian kecil saja darinya yang seakan sudah dianggap lumrah bahkan wajib.

Sejak beberapa tahun lalu masih deras arus gelombang gerakan semesta mengganti media manual dengan slide presentasi. Tak peduli apakah murid atau guru, apakah murid tingkat awal atau tingkat akhir, apakah guru yang telah berpuluh-puluh tahun atau guru yang baru beberapa hari mengabdikan diri di dunia pendidikan, tak terdapat pengecualian harus menggunakan dan menguasai media slide presentasi dalam proses pembelajaran. Guru yang tak mampu menggunakan media slide presentasi yang diklaim merepresentasikan semangat zaman teknologi digital secara serampangan dicap tak layak mengajar karena telah tertinggal dalam gerakan zaman yang telah lalu. Begitu pula ketidakmampuan murid menguasainya berakhir pada tuduhan ketidakmampuan guru memberi contoh, seperti kata peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Sabtu, 05 April 2014

Dunia Yang (Tak) Sempurna

Dunia yang tengah kita mukimi kini telah menjadi tua dan akan terus menua hingga pada akhirnya mati. Berbagai penyakit masa tua telah mendatangi dan menggerogoti jasadnya; kerusakan alam, peperangan demi peperangan yang tak kunjung tampak klimaksnya, hingga kemiskinan dan kebodohan dalam skala global. Pendek kata dunia kita tengah sakit parah yang menjadikan jasadnya ringkih. Sakit yang tak hanya karena usia, tapi bagaikan orang tua lanjut usia melihat anak-anak yang diharapkan akan merawatnya di masa tua ternyata menelantarkan sambil terus menghamburkan harta hasil kerja keras di masa mudanya. Dunia yang semakin cepat menua oleh sebab kelakuan penghuninya.


Manusia tentu mengambil sikap. Kemana lagi harus bermukim karena hingga kini tak kunjung jelas kesiapan membangun peradaban baru di Mars atau paling dekat di bulan. Mau tak mau manusia tetap akan berada di bumi mendiami lingkungan yang tengah dalam proses kematiannya, paling tidak untuk beberapa waktu ke depan. Sebagian golongan manusia optimis menyelamatkan dunia dari kerusakan dan bergegas menyadarkan khalayak agar turut turun tangan menghijaukan lingkungan, mengurangi tingkat polusi, mengkonsumsi SDA dengan bijak, menggunakan energi ramah lingkungan, pengentasan kemiskinan dan kebodohan, mengajak kepada jalan Allah, dan sederet pemikiran serta aksi lainnya yang pada intinya berupaya menjadikan dunia sebagai tempat hidup dan berkehidupan yang kembali aman, nyaman dan sehat. Tentu banyak pula manusia yang acuh tak acuh semasih perut terisi dan rokok mengepul. Dan banyaknya manusia yang tidak mendapatkan pendidikan layak maupun informasi memadai sehingga ketidaktahuan menjadikannya tanpa aksi.

Sabtu, 22 Maret 2014

Bangunan Yang (Bukan) Arsitektur

Sejak awal memasuki dunia perkuliahan mahasiswa diberikan pemahaman bahwa arsitektur adalah bangunan tapi tidak semua bangunan adalah arsitektur. Apa yang membedakan antara bangunan dan arsitektur? Pada umumnya digunakan elemen arsitektur oleh Marcus Vitruvius Pollio untuk menjelaskannya dan menjadikan elemen venustas yang kemudian dipahami dengan kebahagiaan, kesenangan, gairah yang belakangan direduksi menjadi estetika sebagai pembeda di antara keduanya. Bangunan walaupun memenuhi elemen utilitas yang dipahami dengan fungsi, kegunaan dan elemen firminitas yang dipahami dengan materialitas, soliditas, kekuatan, namun jauh dari kesan indah, tak dapat menimbulkan kesan kesenangan, apalagi memicu gairah karenanya dikategorikan sebagai civil building. Dalam arti lain hanya sebatas bangunan bentukan manusia yang tak memiliki nilai estetis. Jadi memang tak aneh jika pada fase-fase awal perkuliahan mahasiswa ditekankan untuk mempelajari estetika bentuk.


Seiring pembahasan, elemen arsitektur oleh Vitrivius yang kemudian dipahami dalam kerangka arsitektur modern yang rasional digunakan untuk menilai bangunan tradisional yang bertujuan untuk mensubordinasikannya sehingga menjadikan bangunan modern sebagai satu-satunya arsitektur yang sah. Bangunan tradisional banyak dinilai oleh kalangan modernis tak memiliki standarisasi untuk mewadahi suatu fungsi, tak memiliki kekuatan, apalagi keindahan estetis yang terpancar dari keteraturan susunan formalnya. Tentu saja kalangan tradisionalis pun tak berpangku tangan dan tak ketinggalan untuk memahami elemen arsitektur oleh Vitrivius dengan pendekatan yang berbeda. Jadilah konsep tersebut bebas tafsir dan diperebutkan untuk mengukuhkan eksistensi ideologi masing-masing pihak.

Selasa, 18 Maret 2014

Memantik Cahaya Setangkai Lilin Arsitektur Islam

Pekan belakangan ini beberapa kawan mahasiswa Muslim yang sedang menempuh pendidikan di jurusan arsitektur menuntut Arsitektur Islam menjadi bagian dari kurikulum pengajaran di kampus yang diyakini dapat memberikan solusi terhadap arah pendidikan dan praktik arsitektur di Indonesia yang cenderung materialis dan pragmatis. Begitu pula bagi mereka yang terdaftar di perguruan tinggi berlabelkan Islam mulai bertanya-tanya mengapa universitas Islam tidak mengarahkan dan memfokuskan pendidikannya pada Arsitektur Islam, hingga mereka merasakan mempelajari arsitektur di universitas Islam tak berbeda dengan universitas bukan Islam. Tak sedikit pula yang skeptis dan mengatakan Arsitektur Islam bagaikan fatamorgana yang dari kejauhan tampak indah tapi setelah didekati ternyata hanya hamparan padang pasir tandus belaka. Atau suara-suara belakangan ini yang mengatakan Arsitektur Islam sekedar slogan dan labelisasi yang didorong motif ekonomi semata untuk meraup keuntungan materi, baik dalam ranah pendidikan maupun praktik berarsitektur.

Harus diakui bersama, wacana keilmuan Arsitektur Islam jika dikaitkan dengan arah pendidikan arsitektur di Indonesia pada khususnya, memang memiliki berbagai permasalahan yang pelik dan kompleks mulai dari sistem pendidikan itu sendiri, kebijakan, ekonomi, hingga ketersediaan dan kualitas SDM. Karenanya aku dapat memahami munculnya kebingungan dan sikap skeptis di kalangan mahasiswa. Tapi tak berarti harus berpangku tangan dan meratapi nasib, sebagaimana sebuah nasihat mengatakan, “Lebih baik menyalakan setangkai lilin daripada mencaci kegelapan”. Daripada mengeluh, mencaci, dan mencari kambing hitam lebih baik mengambil peran dan mencari solusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Dalam kehidupan di kampus, kalangan mahasiswa memiliki wadah organisasi himpunan mahasiswa yang potensinya sangat besar sekali. Kondisi yang membahagiakan semakin banyak bermunculan organisasi mahasiswa Muslim di bawah jurusan arsitektur di universitas negeri yang menandakan peran mahasiswa Muslim telah diakui dan dibutuhkan. Jika dikarenakan suatu sebab dan lain hal keilmuan Arsitektur Islam belum dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pengajaran dan disampaikan di kelas-kelas, sebenarnya peran tersebut dapat dijalankan oleh organisasi himpunan mahasiswa Muslim yang berada di bawah jurusan arsitektur, sehingga peran, fungsi, dan tujuannya dapat bersinergi dan melengkapi perkuliahan formal. 

Sabtu, 01 Maret 2014

Kota Yang (ke)Sepi(an)

Kota yang sepi. Kenapa?
Kota yang ditinggalkan masyarakatnya. Kemana?
Tak kemana. Ia hanya dicerai ruang terbuka.
Kota yang kesepian.

Sebab hal ihwal perceraian kota dengan ruang terbuka tak ingin aku ungkap di artikel ini toh bukan rahasia lagi bahkan banyak pihak saling tuding. Maksud ingin menghilangkan pilu, kota mencari pasangan baru. Mencoba menjalin hubungan dekat dengan Mall, awalnya berjalan baik tapi harus berakhir di tengah jalan karena keegoisannya menjadikan kota hanya sebatas obyek perasan. Kota yang tak ingin putus asa mencoba kembali menjalin hubungan mesra, kali ini dengan bangunan perkantoran yang menjulang tinggi hingga ke langit. Tapi lagi-lagi harus menahan pahitnya hinaan karena begitu sombongnya menjadikan kota direndahkan serendah-rendahnya. Kota yang kembali sendiri, tanpa hak asuh anak menjadikannya sepi. 

Dalam artikel ini aku ingin berbincang tentang ruang terbuka yang kini menjanda. Yang dari rahimnya lahir masyarakat yang memasyarakat, yang diasupinya dengan udara dan diajarinya menjalin rajutan pengalaman dalam ruang bersama. Ruang terbuka adalah ibu bagi masyarakat yang berkelanjutan, pasangan terbaik baik kota yang ingin tampak muda hingga seabad kedepan. Sungguh tah habis pikir berbagai konflik dan intrik yang dipaksakan untuk memisahkan keduanya kemudian merusak keharmonisan keluarga kota. Katanya demi kehidupan yang lebih baik, walaupun tahu tak ada perceraian membawa kebaikan. Karena itu dalam artikel ini pun aku ingin berbincang tentang kota yang (ke)sepi(an).

Setiap perceraian pasti menghadirkan korban; anak-anak hasil pernikahan yang harus mengalami trauma sepanjang angan. Masyarakat kota, korban dari perceraian kedua orang tua yang (tak) dikehendaki. Masyarakat yang dahulu memasyarakat kini tercerai berai menjadi (sekedar) orang-orang. Tak lagi dalam identitas keluarga. Di-panti asuhan-kan dalam penjagaan ibu asuh yang asing tapi melenakan. Tentu dalam artikel ini pun aku ingin berbincang tentang masyarakat kota yang mulai kehilangan ingatan atas ayah dan ibu kandungnya. Anak yang di-yatim-kan dan di-piatu-kan oleh pihak ketiga yang sedang (mulai) lupa akan usul dan asalnya. 

*****

Minggu, 16 Februari 2014

Digitalisasi Ruang; Ingatan Harus Mengalah

“Manusia hidup di dalam ruang dan waktu dengan berbagai realitas sosialnya. Ruang yang memiliki dimensi fisik dan terindera. Ruang di alam realitas” 

Ruang dan ingatan bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan ketika berbicara tentang meruang. Kehadiran ruang tak akan bermakna tanpa ingatan pelakunya, dan ingatan membutuhkan ruang sebagai petanda ingatannya untuk menjaga kestabilan struktur rekaman peristiwa yang terjadi. Ingatan yang mampu melintasi waktu namun tak mampu lepas dari ruang. 

Dalam meruang, manusia seringkali -kalau tidak dikatakan selalu- memanfaatkan teknologi untuk memudahkan aktivitasnya di dalam ruang yang berarti mempengaruhi pengalaman meruang yang dialaminya. Ketika menulis, manusia pada masa lalu menggunakan pena yang seiring zaman berganti dengan mesin ketik dan sekarang kita mendapati komputer yang menjadikan aktivitas menulis begitu mudah dan efisien. Begitu pula ketika menulis pada malam hari, manusia memanfaatkan lilin untuk menerangi ruang yang seiring zaman tergantikan dengan lampu yang terus mengalami penyempurnaan dari sisi teknologinya hingga masa kini. Kita yang hidup pada masa kini yang sehari-hari terbiasa menulis dengan komputer dan dengan pencahayaan ruang yang cukup sepanjang hari, ketika suatu waktu beralih menggunakan pena model lawas dan ditemani lilin untuk menerangi ruang tentu antara keduanya akan menimbulkan kesan meruang yang berbeda di dalam ruang yang sama. 

Keberadaan teknologi hakikatnya untuk memudahkan aktivitas manusia di dalam ruang. Menurut Marshall McLuhan, pada masa modern yang diawali dengan rentetan revolusi industri sebagai penanda lahirnya kapitalisme, teknologi lahir dalam wujudnya yang mekanis sebagai perpanjangan tubuh manusia –sebagaimana contoh di atas-. Setelahnya teknologi terus mengalami perkembangan yang seakan tak ingin berhenti walau sejenak.

Rabu, 12 Februari 2014

Ingatan Atas Ruang (Yang Hilang)

Meruang adalah pengalaman seseorang dalam ruang yang menuntut kesadaran terhadap ruang sekaligus kesadaran kehadiran diri dalam ruang yang melibatkan emosi sehingga membentuk sebuah ingatan yang bermakna atas ruang. Bisa jadi hanya duduk sambil menikmati aktor yang berkegiatan di dalam ruang atau berperan aktif dalam adegan yang sedang terjadi. Semakin jauh terlibat, semakin menyatu dalam ruang, dan semakin dalam melibatkan emosi, akan semakin kuat membentuk ingatan terhadap suatu peristiwa yang terjadi di dalam sebuah ruang. Dapat dikatakan, meruang adalah menumbuhkan rasa keterikatan terhadap ruang melalui ingatan pelakunya. 


Ingatan yang terbentuk dari pengalaman meruang tidak hanya disimpan dalam diri pelakunya tapi juga disimpan dalam ruang. Antara ingatan dan ruang terjadinya peristiwa saling mengait. Entah disebabkan tidak stabilnya ingatan manusia sehingga membutuhkan ruang sebagai tanda pengingat untuk menguatkannya, namun dapat dipahami mekanisme tersebut bertujuan untuk mempertahankan rasa keterikatan pelaku terhadap ruang. Sebagai contoh, mungkin kita akan sangat kesulitan mengingat tanggal pertama kali masuk sekolah TK atau SD, namun banyak diantara kita yang masih mengingat dengan baik di mana dan di ruang kelas yang mana serta berbagai perasaan yang dirasakan pada hari itu.

Semakin penting suatu peristiwa bagi pelakunya dan semakin kuat rasa keteritakannya terhadap ruang terjadinya peristiwa, maka semakin baik ia mampu mengingat dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi. Di sini antara ingatan dan sejarah berjalan beriringan, saling menguatkan dan saling melengkapi. Ingatan merujuk kepada ruang, sedangkan sejarah merujuk kepada peristiwa. Disebabkan kita hidup di dalam ruang dan berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya dalam rentangan waktu, maka akan membentuk ruang-ruang ingatan yang berbeda. Setiap ruang ingatan merujuk kepada sebuah ruang dalam realitas.

Minggu, 02 Februari 2014

Dari Nilai Guna Hingga Menjajakan Arsitektur

Karl Marx meyakini perkembangan masyarakat berawal dari tingkat masyarakat feodal, masyarakat kapitalis, dan masyarakat komunis sebagai puncak dari perkembangan sebuah sistem masyarakat tanpa kelas yang diidamkannya. Berangkat dari periodesasi yang dilakukan Marx, Jean Baudrillard dengan lantang mengatakan Marx pernah benar tapi saat ini terbukti ia salah. Baudrillard mengajukan perkembangan masyarakat versinya sebagai revisi terhadap Marx yang diawali dari tingkat masyarakat primitif, masyarakat hirarkis, dan masyarakat massa. Bukan masyarakat komunis yang tanpa kelas, tapi masyarakat massa sebagai puncak perkembangan masyarakat yang tunduk kepada kapitalisme, di sinilah kelirunya Marx menurut Baudrillard.

Baudrillard yang seorang fatalis memilih untuk menyerah kepada sebuah kekuatan yang dinamakannya late-capitalism. Alih-alih bersifat kritis, ia lebih memilih untuk menikmati gemuruh euforia masa puncak perkembangan masyarakat yang diyakininya.


Mengaitkan perkembangan arsitektur dengan perkembangan masyarakat versi Baudrillard akan berguna untuk menjelaskan fenomena arsitektur kekinian dalam dimensi sosiologis-ekonomi-budaya masyarakatnya. Pada awalnya, arsitektur dibangun berdasarkan nilai guna yang merupakan ciri khas tingkat masyarakat primitif. Kita boleh tidak sepakat dengan istilah masyarakat primitif yang digunakan Baudrillard, namun dalam pembahasan ini kita fokus pada ciri khas masyarakatnya yang memandang obyek berdasarkan nilai guna.

Kamis, 30 Januari 2014

Tradisi Yang Dipaksa Kalah

Sistem ahli arsitektur sebagai anak kandung modernitas tak hanya merubah wujud arsitektur, namun lebih dalam lagi merubah pandangan kita terhadap arsitektur dan perlahan menggerogoti tradisi arsitektur kita. Kampung telah menjadi kota baru, dan suasana kehidupan kampung telah menjadi bagian dari masa lalu yang dengannya kita terkadang hanyut dalam kenangan. Kita menginginkan kota yang sekarang, sekaligus mendambakan kampung yang dahulu. Tapi tak ada jalan untuk memutar, tak ada jalan untuk mengembalikan kota menjadi kampung. Modernitas tak akan pernah memberi jalan bagi kita untuk menoleh ke belakang.


Modernitas mendorong arsitektur memasuki pintu tekno-sains. Arsitektur tidak lagi budaya komunal dan sebentuk struktur visual untuk merepresentasikan nilai-nilai luhur masyarakat pembangunnya. Yang tersisa darinya hanya sekedar wujud fisik. Modernitas telah menggenjot perkembangan arsitektur dengan berbagai temuan teknologi canggih bahkan pada beberapa kasus arsitektur menuntut diciptakannya teknologi yang lebih canggih. Arsitektur menjadi seperangkat organisme teknologi yang harus ilmiah, harus obyektif, penuh perhitungan rumit dan istilah asing yang tak mampu dipahami orang awam. Dari ranah sosial yang hangat, proses kelahiran arsitektur beralih ke ruang laboratorium industri yang dingin.

Modernitas yang mendorong arsitektur semakin kompleks berdampak pada sistem ahli arsitektur yang dituntut untuk semakin kompleks pula. Kita sadar, terutama para ahli arsitektur sadar, bahwa kemajuan arsitektur yang semakin kompleks menghadirkan resiko yang semakin menakutkan. Untuk menghadapi resiko, sistem ahli kemudian dipercanggih dengan strata pendidikan yang semakin panjang, pendidikan keprofesian, sertifikasi berjenjang, berbagai asosiasi profesi dan undang-undang keprofesian. Tak lain untuk meminimalkan resiko disebabkan perkembangan arsitektur yang tak lagi dapat dihentikan lajunya selain untuk memastikan kepercayaan kita terhadap kinerja sistem ahli. Kita tidak diberi pilihan selain untuk percaya.

Kamis, 16 Januari 2014

Balada Kaos Dan Sarung (Pinjaman); Salah Laku Di Ruang Masjid



Lucu juga melihat gambar dari salah satu fanspage facebook di atas, walaupun tujuannya satire tapi menyisakan pertanyaan, mengapa perilaku tak senonoh seperti itu terjadi di ruang masjid jika diasumsikan ketiga orang di gambar tersebut adalah orang yang sama?

Penulis masih ingat, di salah satu masjid dekat dengan kos penulis di Yogyakarta menyediakan lemari pakaian yang disediakan khusus untuk para jama’ah dan seringkali dalam berbagai kesempatan seorang takmir menyampaikan kepada jama’ah untuk memanfaatkan pakaian yang telah disediakan agar beribadah dengan layak dihadapan Allah. Solusi yang patut diapresiasi, tapi seberapa efektif? Seringkali penulis perhatikan di beberapa masjid yang menerapkan solusi yang sama malah mendorong munculnya fenomena perilaku yang lebih merisaukan; ke masjid bermodal baju kaos dan celana pendek di atas dengkul. 

Sekali lagi, penulis tidak bermaksud mengatakan solusi yang diterapkan salah dan tidak berdampak perbaikan sama sekali. Hanya saja perilaku yang merupakan ekses dari persepsi dan kognisi membutuhkan solusi yang holistik dari berbagai pendekatan.

Sabtu, 11 Januari 2014

Arsitektur Dalam Struktur Sosial Masyarakat Muslim

Hari Jum’ah bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1435 Hijrah Nabi/10 Januari 2014, seorang guru kami Bapak Mualimbunsu Syam Muhammad memberikan pelajaran kepada kami mengenai struktur sosial masyarakat Muslim yang beliau kutip dari buku Halumma Ila Mardhatillah.

Hirarki dalam struktur sosial masyarakat Muslim dapat diuraikan berikut, (1) Allah Azza wa Jalla sebagai pencipta seluruh makhluq merupakan puncak sekaligus tujuan dari struktur sosial masyarakat Muslim. Dzat yang tidak beranak dan tidak diperanak, Yang Maha Esa, sang pembuat syariat dan tiada yang mendahului-Nya. Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul untuk menunjuki manusia kepada jalan yang haq; jalan yang diridhai-Nya. Salah seorangnya adalah (2) Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, seorang hamba Allah dan pembawa risalah nubuwah teruntuk seluruh alam sekaligus penutup masa kenabian. Manusia yang paripurna lagi ma’sum. Kita bersaksi beliau Shalallahu Alaihi Wasallam telah menyampaikan risalah yang dibebankan kepadanya dengan sempurna dan tuntas. Segala perkara yang dicintai Allah telah beliau tunjukkan dan perintahkan untuk mengerjakannya, dan segala perkara yang dimurkai Allah telah beliau peringatkan dan perintahkan untuk meningalkannya.

Allah Azza Wa Jalla selepas wafatnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan amanah kepada (3) ulil-amri untuk memimpin (4) hamba-Nya yang wajib ditaati selama tidak menyelisihi syariat-Nya. Ulil-amri wajib menegakkan syariat Allah dengan kekuasaan yang ada padanya sebagai wujud ibadah kepada Rabb-nya untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil agar (5) wilayah yang diamanahkan kepadanya menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa Robbun ghofur. Negeri yang dihuni masyarakat yang hanya memiliki cita-cita meraih ridha Allah melalui jalan yang telah ditempuh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. 

Sabtu, 04 Januari 2014

Kita Tak Lagi Wong Ndeso

Dewasa ini kotaisasi semakin merambah kampung-kampung yang tersisa. Dibandingkan dengan kondisi 50 tahun lalu sudah lenyap tanda kelampauannya. Tak kita temui lagi rumah berdinding anyaman bambu berpagar tanaman di sisi jalan tanah pedesaan tergantikan dengan rumah beton berpagar benteng di sisi jalan paving. Keguyuban gotong royong membangun arsitektur tergantikan dengan sistem dan teknologi modern yang tak pernah dibayangkan kehadirannya oleh kakek buyut generasi sekarang. Tak kita dapati lagi para bapak-bapak bergotong royong membangun rumah tetangganya, sambil ngudut menyerut kayu, sambil berbincang menebang bambu.


Kita terlalu cepat berubah, bahkan sangat cepat dengan kecepatan yang tak mampu kita kontrol. Seakan kita masuk ke dalam mesin waktu. Kampung demi kampung menjadi kota baru. Kampung yang mencoba bertahan di tengah kota pun tinggal menunggu waktu untuk menyerah dari gencaran pengaruh modernitas. Perubahan yang terlalu cepat akhirnya mempengaruhi pemikiran kita tentang kampung dan kota. Mana yang kampung? Mana yang kota? Lalu apa itu kampung kota? Bagaimana dengan kota kampung? Akhirnya kita pun bingung. Alih-alih memikirkannya dan mencari jawaban melalui refleksi filosofis, kita memilih untuk cuek dan berfokus pada kemajuan. Berbagai masalah yang timbul akibat cepatnya perubahan dianggap sepadan dengan perubahan itu sendiri yang telah diraih.

Dahulu kita semua mengakui berasal dari kampung. Sebutan wong ndeso berkonotasi positif merujuk pada asal muasal kita untuk selalu mengingatkan akan kampung halaman. Namun perubahan yang terlampau cepat menjadikan kita tak lagi mengakui identitas kekampungan dalam diri. Sebutan wong ndeso pun menjadi berkonotasi negatif merujuk pada sekelompok masyarakat yang anti perubahan atas nama tradisi; Luddisme. Sedang kita saksikan perlombaan antar kampung menuju kemodernan dengan trofi pengakuan sebagai entitas masyarakat modern, masyarakat global. Sebuah entitas masyarakat yang menjunjung tinggi teleologi kemajuan dengan mengsubordinasikan wong ndeso.