Sabtu, 11 Januari 2014

Arsitektur Dalam Struktur Sosial Masyarakat Muslim

Hari Jum’ah bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1435 Hijrah Nabi/10 Januari 2014, seorang guru kami Bapak Mualimbunsu Syam Muhammad memberikan pelajaran kepada kami mengenai struktur sosial masyarakat Muslim yang beliau kutip dari buku Halumma Ila Mardhatillah.

Hirarki dalam struktur sosial masyarakat Muslim dapat diuraikan berikut, (1) Allah Azza wa Jalla sebagai pencipta seluruh makhluq merupakan puncak sekaligus tujuan dari struktur sosial masyarakat Muslim. Dzat yang tidak beranak dan tidak diperanak, Yang Maha Esa, sang pembuat syariat dan tiada yang mendahului-Nya. Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul untuk menunjuki manusia kepada jalan yang haq; jalan yang diridhai-Nya. Salah seorangnya adalah (2) Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, seorang hamba Allah dan pembawa risalah nubuwah teruntuk seluruh alam sekaligus penutup masa kenabian. Manusia yang paripurna lagi ma’sum. Kita bersaksi beliau Shalallahu Alaihi Wasallam telah menyampaikan risalah yang dibebankan kepadanya dengan sempurna dan tuntas. Segala perkara yang dicintai Allah telah beliau tunjukkan dan perintahkan untuk mengerjakannya, dan segala perkara yang dimurkai Allah telah beliau peringatkan dan perintahkan untuk meningalkannya.

Allah Azza Wa Jalla selepas wafatnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan amanah kepada (3) ulil-amri untuk memimpin (4) hamba-Nya yang wajib ditaati selama tidak menyelisihi syariat-Nya. Ulil-amri wajib menegakkan syariat Allah dengan kekuasaan yang ada padanya sebagai wujud ibadah kepada Rabb-nya untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil agar (5) wilayah yang diamanahkan kepadanya menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa Robbun ghofur. Negeri yang dihuni masyarakat yang hanya memiliki cita-cita meraih ridha Allah melalui jalan yang telah ditempuh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. 

Arsitektur merupakan perwujudan fisik dari peradaban manusia karenanya tidak dapat dilepaskan dari aspek wilayah dalam struktur sosial masyarakat Muslim. Arsitektur merupakan pengisi wilayah dalam konteks lingkungan binaan dan pembatas wilayah dalam konteks pembentuk teritori ruang. Paham yang tengah berkembang menyatakan majunya suatu peradaban manusia diukur dari seberapa jauh pencapaian arsitekturnya, seberapa besar skala arsitekturnya, seberapa estetis, seberapa mewah, seberapa canggih teknologi arsitekturnya. Peradaban manusia diukur dari pencapaian materi. Peradaban yang materialis. 

Peradaban Islam berbeda. Sebagaimana wilayah, arsitektur dalam struktur sosial masyarakat Muslim menyediakan ruang bagi masyarakat untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dalam pengertian yang seluas-luasnya, sehingga arsitektur bukan merupakan tujuan dalam peradaban yang didasarkan nilai-nilai Islam. Arsitektur hanya sebatas wasilah untuk mencapai tujuan hidup seorang hamba. Wasilah memiliki kedudukan yang penting, namun tidak lebih penting daripada tujuan yang ingin dicapai. Aktivitas seorang hamba di dalam ruang arsitektur memiliki kedudukan yang lebih penting dibandingkan ruang itu sendiri secara fisik, karenanya arsitektur tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya tolak ukur penentu majunya suatu peradaban. 

Dapat kita saksikan arsitektur bergaya Gotik dari era kegelapan Eropa masih kokoh berdiri. Peninggalan arsitekturnya yang monumental tak memiliki korelasi dengan tingkat ketakwaan masyarakatnya. Kegemilangan pencapaian arsitektur menutupi kerusakan struktur sosial masyarakatnya dan Barat tidak pernah belajar dengan benar. Kecongkakan arsitekturnya pada masa lalu tetap diwariskan dan menjadi raut wajah peradaban Barat hingga masa kini untuk mengalihkan pandangan mata dari kusutnya struktur sosial masyarakatnya. Atau dapat kita ketahui dari Ibnu Khaldun -semoga Allah merahmatinya- betapa pesat dan membabi buta pembangunan arsitektur di Mesir pada masanya memiliki korelasi kuat dengan tingkat kematian masyarakatnya akibat wabah penyakit. 

Islam yang karenanya seluruh aktivitas seorang hamba bernilai ibadah menjadikan pembangunan arsitektur memiliki dimensi ibadah jika diniatkan hanya untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla. Dalam peradaban yang materialis, seorang hamba membangun sebuah rumah hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan representasi simbolis identitasnya. Tidak ada keterkaitan antara pembangun arsitektur dengan Sang Maha Pencipta. Berbeda dengan peradaban yang didasarkan nilai-nilai Islam, lurusnya niat dalam pembangunan arsitektur memiliki kedudukan yang utama, yang menentukan pembangunan arsitektur bernilai ibadah atau tidak. Rumah didirikan dengan niat untuk menyediakan ruang berkeluarga, ruang bagi kepala keluarga mendidik anggota keluarganya, ruang bagi penghuni untuk mendekatkan dirinya kepada Rabb semesta alam. Setelahnya baru melangkah pada kebutuhan fisik dan representasi simbolis. 

Aktivitas manusia terjadi di dalam ruang. Di ruang mana pun seorang hamba beraktivitas, apakah di ruang rumah, di ruang sekolah, di ruang kantor, di ruang pasar, atau di ruang istana presiden sekali pun maka ia akan berupaya mencontoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Tiada jalan lain meraih ridha Allah Azza wa Jalla selain mencontoh suri tauladan dari seorang Rasul yang dicintainya melebihi kecintaannya kepada kedua orang tuanya dalam seluruh aktivitas kehidupannya. Karenanya aspek ruang dalam Arsitektur Islam menjadi sangat penting dan sentral. Tidak saja berkaitan dengan proses pembangunan dan wujud fisiknya yang harus sesuai dengan syariat, namun juga aktivitas yang dilakukan di dalam ruangnya harus sejalan dengan suri tauladan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Arsitektur dalam struktur sosial masyarakat Muslim tidak sebatas berbicara manajemen pembangunan dan wujud fisik arsitektural namun memperhatikan bagaimana ruang-ruangnya digerakkan oleh masyarakat. 

Masyarakat sebagai pengguna arsitektur diarahkan untuk menggerakkan ruang-ruangnya dalam dimensi ibadah dan muamalah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah Azza wa Jalla. Ruang-ruangnya untuk mendakwahkan Islam, untuk menunjukkan keindahan ajaran Islam, untuk membangun dan memperkuat modal sosial masyarakat. Pada titik inilah kemudian dibutuhkan ulil-amri sebagai regulator arsitektur untuk mendistribusikan kepemilikan dan akses ruang secara merata kepada masyarakat. Arsitektur untuk masyarakat, tanpa pemilahan kelas ekonomi, sosial, dan politik. Ulil-amri tidak saja mengatur pembangunan dan wujud tampilan fisik arsitektur, namun juga pengawasan terhadap fungsi ruang, sehingga di dalam peradaban yang berdasarkan nilai-nilai Islam tidak dapat ditolelir munculnya ruang lokalisasi PSK, perjudian, industri miras dan narkotika, ruang-ruang kumuh yang berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat, serta fungsi-fungsi lainnya yang tidak dibenarkan oleh syariat. 

Dengan kata lain, arsitektur yang beradab lahir di tengah peradaban masyarakat yang bertakwa dan ulil-amri yang menegakkan syariat Allah yang bersama dengan masyarakatnya berlomba-lomba meraih ridha Allah dengan menjadikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan. Arsitektur yang terbangun merupakan representasi kokohnya struktur sosial masyarakat Muslim. Arsitektur yang barokah bagi seluruh alam. 

Jika ulil-amri dan masyarakat tidak lagi menjadikan Allah sebagai tujuan hidup dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai satu-satunya jalan menuju Allah, maka runtuhlah struktur sosial masyarakat Muslim. Segala urusan tercerai berai, ulil-amri dan masyarakat saling menjauh dan berpaling muka. Kemudian Allah mencabut kebarokahan dari arsitektur yang dibangunnya dan perlahan memasuki lubang biawak sebagaimana Barat telah memasuki. Peradaban tauhid perlahan luntur menjadi peradaban materialis, dan arsitektur diandalkan sebagai topeng peradabannya. Tengok saja Dubai. 

Telah kita saksikan peradaban materialis yang hanya menjadikan pencapaian wujud fisik sebagai penentu tolak ukur kemajuan. Arsitekturnya yang canggih, yang skalanya besar, yang bahannya mewah, yang estetikanya menyilaukan mata, pada hakikatnya hanya topeng peradaban untuk menutupi borok struktur sosial masyarakatnya. Peradaban yang hanya memikat pada polesan luarnya. Bagaikan makhluk hidup, arsitekturnya adalah jasad yang menipu sehingga kerusakan organ dalamnya tak terlihat dan kegundahan jiwanya tak tersirat. Menunggu ajal menjemput. 

Tentu bukan itu yang diinginkan Allah, dan bukan begitu pula Rasulullah mengajari umatnya. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Awal 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar