Kamis, 16 Januari 2014

Balada Kaos Dan Sarung (Pinjaman); Salah Laku Di Ruang Masjid



Lucu juga melihat gambar dari salah satu fanspage facebook di atas, walaupun tujuannya satire tapi menyisakan pertanyaan, mengapa perilaku tak senonoh seperti itu terjadi di ruang masjid jika diasumsikan ketiga orang di gambar tersebut adalah orang yang sama?

Penulis masih ingat, di salah satu masjid dekat dengan kos penulis di Yogyakarta menyediakan lemari pakaian yang disediakan khusus untuk para jama’ah dan seringkali dalam berbagai kesempatan seorang takmir menyampaikan kepada jama’ah untuk memanfaatkan pakaian yang telah disediakan agar beribadah dengan layak dihadapan Allah. Solusi yang patut diapresiasi, tapi seberapa efektif? Seringkali penulis perhatikan di beberapa masjid yang menerapkan solusi yang sama malah mendorong munculnya fenomena perilaku yang lebih merisaukan; ke masjid bermodal baju kaos dan celana pendek di atas dengkul. 

Sekali lagi, penulis tidak bermaksud mengatakan solusi yang diterapkan salah dan tidak berdampak perbaikan sama sekali. Hanya saja perilaku yang merupakan ekses dari persepsi dan kognisi membutuhkan solusi yang holistik dari berbagai pendekatan.

Dalam artikel ini penulis tidak akan membahasnya dari pendekatan fiqih karena penulis tak memiliki otoritas dibidang tersebut, tidak pula menggunakan pendekatan ilmu psikologi perilaku. Tapi bagaimana dengan kaitan antara perilaku dan ruang masjid? Sebagaimana Edward Soja katakan,
“People modify the space they live in, in turn are modified by them. Society creates space, space creates society”.
Inilah pendekatan yang akan penulis gunakan dengan fokus masalah yang diperluas menjadi perilaku tak senonoh di dalam ruang masjid. Pacaran di pojokan? Majelis gosip lelaki shalihah di emper masjid saat waktu jama’ah shalat? Nge-gas motor sekeras-kerasnya di parkiran masjid? Namun perlu penulis sampaikan tujuan artikel ini bukan untuk menyodorkan solusi konkrit dan hanya sebatas provokasi untuk memerahkan gairah penggiat Arstitektur Islam yang mendalami konsentrasi arsitektur perilaku.

*****

Ruang tak dapat dilepaskan dari klaim kepemilikan yang disebabkan oleh rasa kepemilikan dan keterikatan terhadap ruang tersebut. Klaim kepemilikan ruang mendorong munculnya perilaku teritorialitas yang bertujuan untuk mengkonstruksi, mengkomunikasikan, memelihara, memantapkan, dan merestorasi rasa kepemilikan terhadap ruang yang diklaimnya. Semakin kuat rasa kepemilikan dan keterikatan ruang akan mendorong sikap teritorialitas yang semakin kuat yang berdampak secara fisikal dan non fisikal terhadap ruang untuk menandakan wilayah kepemilikannya dan mengkomunikasikan kepada masyarakat perihal klaim kepemilikan ruangnya. Kemudian terbentuk siklus, teritorialitas yang stabil akan menjaga rasa kepemilikan dan keterikatan terhadap ruang yang berarti penerimaan masyarakat terhadap klaim kepemilikannya.

Membentuk teoritori ruang pada umumnya dilakukan dengan dua tindakan teritorialitas. Tindakan pertama adalah penandaan teritori yang berorientasi pada identitas dengan cara melakukan modifikasi atau merancang ruang dan menandainya dengan simbol atau elemen yang merefleksikan kepemilikannya.

Bangunan kantor cenderung menerapkan gaya formal dengan garis vertikal yang kuat untuk menghadirkan kesan serius dan fokus, sedangkan bangunan pertemuan (convention hall) menerapkan skala ruang yang tidak manusiawi untuk menghadirkan kesan megah dan takjub dari penggunanya. Dengan penanda teritori ruang yang diterapkan, pemilik dapat mengontrol dan menekan perilaku pengguna ruang sebagaimana yang diinginkannya. 

Bangunan kantor yang formal menekan perilaku penggunanya untuk bersikap formal dan mengenakan pakaian formal yang dikuatkan dengan menciptakan atmosfir lingkungan kantor melalui struktur manajemen yang rigid yang menunjukkan strata pengguna di dalam ruang kantor. Begitu pula bangunan pertemuan, skala ruang dalamnya yang megah dimaksudkan untuk menekan perilaku pengguna agar menghormati acara yang diselenggarakan yang dikuatkan dengan menciptakan atmosfir lingkungan ruang pertemuan melalui struktur pengguna ruang; pemilik acara-tamu kehormatan-tamu keluarga-tamu undangan. Di satu sisi kemegahan ruang menuntut pengguna mengimbanginya dengan kemegahan penampilan, dan di sisi lain antara institusi sosial pengguna ruang terjadi perlombaan penampilan untuk menunjukkan citra diri dan mengukuhkan eksistensinya di dalam struktur pengguna ruang.

Tindakan kedua pembentukan teritori ruang melalui kendali aksesibilitas pengguna yang bertujuan untuk mengkomunikasikan klaim kepemilikan ruang agar ruang tidak dapat diintervensi, digunakan, dan diambil alih pihak lain tanpa persetujuan pemilik ruang.

Untuk memasuki bangunan kantor dan menemui seseorang, seorang tamu diharuskan melapor terlebih dahulu ke bagian resepsionis, tak jarang membutuhkan berbagai dokumen dan surat yang disyaratkan, kemudian menunggu di ruang tamu yang formal sebelum diperbolehkan memasuki ruangnya lebih dalam. Begitu pula bangunan pertemuan, para undangan diharuskan menunjukkan kartu undangan dan mengisi daftar hadir sebelum diperbolehkan memasuki ruang utama. Berbagai prosedur memasuki ruang yang diterapkan pada hakikatnya untuk mengontrol aksesibilitas pihak luar terhadap ruang yang dimiliki agar pihak-pihak yang tidak diinginkan kehadirannya dapat dicegah. Sekali lagi, kedua tindakan pembentukan teritori ruang bertujuan untuk menghindari terjadinya intervensi dan perebutan ruang yang telah diklaim kepemilikannya.

Karenanya kita sadar diri ketika akan berkunjung ke salah satu kantor perusahaan ternama akan mengenakan pakaian formal, begitu pula tanpa dipaksa pun kita sadar diri mengenakan pakaian yang pantas untuk memenuhi undangan pernikahan seorang pejabat negara yang diadakan di bangunan pertemuan yang mewah. Ruang telah membentuk perilaku kita sesuai yang diinginkan pemiliknya sehingga terbentuk pola hubungan berikut,


Lalu bagaimana dengan ruang masjid dan berbagai fenomena perilaku tak senonoh yang kita temui di dalam ruangnya?

Munculnya berbagai perilaku tak senonoh di ruang masjid memiliki faktor determinan yang sangat beragam dan luas yang tak dapat dilepaskan dari konteks ruang-waktu-pelaku. Poin pertama adalah kesadaran pengguna terhadap kepemilikan ruang masjid dan klaim kepemilikannya sebagaimana klaim Allah atas kepemilikan masjid pada surah al-Jin: 18. Kesadaran terhadap kepemilikan ruang masjid sangat terkait dengan konsep ihsan, yaitu kesadaran seorang hamba atas pengawasan Allah terhadap segala perilakunya, terlebih di dalam ruang yang telah diklaim Allah sebagai ruang yang dicintai-Nya yang akan menumbuhkan perilaku yang dikehendaki Allah. Patut dicurigai kesadaran pengguna terhadap kepemilikan ruang masjid dan klaim kepemilikannya jika muncul perilaku tak senonoh di ruang masjid.

Poin kedua adalah teritorialitas ruang masjid untuk merepresentasikan kepemilikan Allah terhadap ruangnya. Poin ini berkaitan langsung dengan ilmu arsitektur yang berangkat dari asumsi bahwa desain ruang yang tepat akan membentuk perilaku pengguna sebagaimana yang diinginkan pemilik ruang, karenanya tidak tepat hanya menggunakan pendekatan unsur dan prinsip desain namun mengabaikan panduan yang telah diberikan oleh pemilik ruang masjid; syariat Allah Azza wa Jalla.

Sayangnya pihak perancang masjid sering kali terjebak dengan pendekatan 'masjid sebagai rumah Tuhan' karenanya masjid harus dibangun sebesar mungkin, semewah mungkin, seindah mungkin, dan secara keruangan dipisahkan dari fungsi-fungsi lainnya secara tegas (permukiman, pendidikan, perdagangan, pemerintahan) untuk merepresentasikan sifat-sifat pemilik ruangnya. Konsepsi masjid sebagai ruang suci bergeser menjadi masjid sebagai ruang sakral yang berdampak pada reduksi fungsi masjid sebatas tempat untuk melaksanakan ibadah maghdah sehingga esensi masjid sebagai ruang membangun peradaban terlupakan dan terabaikan. Untuk pembahasan lebih jauh tentang pendekatan 'masjid sebagai rumah Tuhan' dan berbagai kelemahan konsepsinya, penulis menganjurkan untuk merujuk ke buku Arsitektur Islam; Pemikiran, Diskusi, dan Pencarian Bentuk yang ditulis oleh Prof. Nangkula Utaberta.

Pendekatan perancangan yang tidak tepat akan berpengaruh terhadap perilaku pengguna di dalam ruang masjid berdasarkan persepsi dan kognisinya terhadap ruang masjid, walaupun diakui penggunaan konsep kognisi tidak tepat dan problematis untuk kasus kepemilikan ruang masjid karena tak menjangkau aspek iman.

Karenanya solusi untuk mengontrol perilaku pengguna ruang masjid melibatkan berbagai pihak, yaitu (1) pihak guru untuk terus mendidik dan menguatkan keimanan umat serta memberikan pengajaran perihal adab berperilaku di dalam ruang masjid, (2) pihak takmir masjid dan jama’ah untuk saling mengawasi penggunaan ruang masjid dengan saling menasehati dalam kebenaran dengan cara yang santuk, dan (3) pihak penggiat Arsitektur Islam untuk menggunakan pendekatan dan rumusan yang tepat dalam perancangan ruang masjid, dalam kasus ini pembentukan teritori ruang masjid yang berarti berbagai kajian lebih mendalam mencakup topik ini (relasi manusia-ruang-pemilik ruang) harus terus dilakukan untuk menyediakan panduan-panduan desain ruang masjid karena terbentuknya perilaku yang beradab tak dapat dilepaskan dari ruang yang beradab.

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Awal 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar