Sabtu, 04 Januari 2014

Kita Tak Lagi Wong Ndeso

Dewasa ini kotaisasi semakin merambah kampung-kampung yang tersisa. Dibandingkan dengan kondisi 50 tahun lalu sudah lenyap tanda kelampauannya. Tak kita temui lagi rumah berdinding anyaman bambu berpagar tanaman di sisi jalan tanah pedesaan tergantikan dengan rumah beton berpagar benteng di sisi jalan paving. Keguyuban gotong royong membangun arsitektur tergantikan dengan sistem dan teknologi modern yang tak pernah dibayangkan kehadirannya oleh kakek buyut generasi sekarang. Tak kita dapati lagi para bapak-bapak bergotong royong membangun rumah tetangganya, sambil ngudut menyerut kayu, sambil berbincang menebang bambu.


Kita terlalu cepat berubah, bahkan sangat cepat dengan kecepatan yang tak mampu kita kontrol. Seakan kita masuk ke dalam mesin waktu. Kampung demi kampung menjadi kota baru. Kampung yang mencoba bertahan di tengah kota pun tinggal menunggu waktu untuk menyerah dari gencaran pengaruh modernitas. Perubahan yang terlalu cepat akhirnya mempengaruhi pemikiran kita tentang kampung dan kota. Mana yang kampung? Mana yang kota? Lalu apa itu kampung kota? Bagaimana dengan kota kampung? Akhirnya kita pun bingung. Alih-alih memikirkannya dan mencari jawaban melalui refleksi filosofis, kita memilih untuk cuek dan berfokus pada kemajuan. Berbagai masalah yang timbul akibat cepatnya perubahan dianggap sepadan dengan perubahan itu sendiri yang telah diraih.

Dahulu kita semua mengakui berasal dari kampung. Sebutan wong ndeso berkonotasi positif merujuk pada asal muasal kita untuk selalu mengingatkan akan kampung halaman. Namun perubahan yang terlampau cepat menjadikan kita tak lagi mengakui identitas kekampungan dalam diri. Sebutan wong ndeso pun menjadi berkonotasi negatif merujuk pada sekelompok masyarakat yang anti perubahan atas nama tradisi; Luddisme. Sedang kita saksikan perlombaan antar kampung menuju kemodernan dengan trofi pengakuan sebagai entitas masyarakat modern, masyarakat global. Sebuah entitas masyarakat yang menjunjung tinggi teleologi kemajuan dengan mengsubordinasikan wong ndeso.

Kita wong ndeso yang terlalu cepat menjadi wong kuto. Bahkan harus diakui tak banyak yang memahami ke mana modernitas akan membawa kita, di mana tujuan akhirnya. Kita hanya merasa jijik disebut kaum anti perubahan sehingga tak kritis atau memang tak mampu kritis dan karena memang modernitas tak menyediakan ruang untuk kritis. Anthony Giddens menyebutnya dengan pengaruh modernitas-radikal yang dianalogikannya dengan sebuah kendaraan bernama Juggernaut yang akan melindas siapa pun yang mencoba menghalagi lajunya. Kita memilih untuk ikut bersamanya daripada terlindas tanpa belas kasih. Kejam memang, namun begitulah modernitas berupaya memenuhi janjinya atas kemajuan; dunia yang lebih baik.

Tak dapat dinalar jika dahulu para bapak-bapak bergotong royong membangun rumah tetangganya, kini bergotong royong membangun rumah gedong atau bangunan berpuluh lantai. Pasti akan dikatakan irasional, tidak profesional, terlampau beresiko. Namun pada kenyataannya modernitas menyengaja mengkondisikan kehidupan penuh resiko yang tak mampu dikontrol oleh kita sebagai masyarakat awam dan di sisi lain membentuk sistem ahli (expert system) yang dalam pandangan Anthony Giddens alih-alih untuk mengatasi resiko kehidupan modernitas pada kenyataannya berperan memperluas pengaruh modernitas dan melanggengkan kedudukannya sebagai grand-narration dalam istilah Lyotard.

Sistem ahli melibatkan para ahli dibidangnya yang berjalinan dengan pendidikan, asosiasi profesi, dan berbagai sertifikasi. Sistem ahli arsitektur merubah persepsi kita terhadap arsitektur. Kita tak lagi bisa dan memang tak diperbolehkan mempercayai tetangga untuk bergotong royong membangun rumah sebagaimana dahulu. Kita sadar resikonya, dan yang lebih penting kesadaran bahwa kita dan tetangga tak menguasai ilmu teknik bangunan. Untuk meminimalkan resiko kita memilih mempercayai sistem ahli arsitektur, dan karena memang kita tak memiliki pilihan lain. Individu yang memilih untuk percaya kepada sistem ahli akan membentuk sebuah sistem yang dinamakan oleh Anthony Giddens dengan sistem aktif. Semakin banyak individu yang menaruh kepercayaannya kepada sistem ahli akan semakin meluaskan pengaruh modernitas dan semakin menguatkan sistem aktif. 

Tanpa kita sadari sistem ahli yang lahir dari rahim modernitas adalah agen-agen modernis. Dari sini kita memahami Charles Jencks yang mengatakan arsitek modernis berperan bagaikan nabi yang membawa kabar gembira kepada kaumnya. Arsitek yang berperan sebagai juru selamat, menyelamatkan kehidupan masyarakat dari berbagai resiko modenitas yang tak mampu dihadapinya sebagai orang awam. Bagaikan seorang nabi, masyarakat tak dapat dan memang tak diperbolehkan untuk mengkritisi sistem ahli arsitektur. Tak pantas seorang awam meragukan apalagi beradu debat dengan nabinya. 

Orang-orang terdahulu dapat tidur nyenyak di dalam rumah yang dibangunnya bersama dengan para tetangga. Tak ada rasa khawatir rumahnya tiba-tiba akan roboh karena memilih untuk meyakini etikat baik tetangganya walaupun ia paham tetangganya tak pernah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar apalagi sekolah teknik bangunan. Keyakinan yang tumbuh atas dasar relasi sosial yang kuat sehingga perbuatan sengaja menyakiti sesama dianggap tabu dan para pelanggarnya akan dikenai sanksi sosial berupa pengucilan dari masyarakatnya, karenanya memikirkan resiko di atas pondasi keyakinan berbasis relasi sosial pun menjadi tabu. Masyarakat memilih yakin terhadap sesama untuk lepas dari rongrongan resiko. 

Masa kini, adakah dari kita yang dapat tidur nyenyak di bawah rangka atap dengan berat ratusan kilogram yang dikerjakan oleh tetangga kita yang tidak memiliki keahlian di bidang teknik bangunan? Atau adakah di masa kini yang ingin membangun hotel puluhan lantai dan mempercayakan pembangunannya kepada sekumpulan bapak-bapak ronda malam di lingkungan huniannya? Tidak, karena kita sadar akan resiko. Kemajuan yang ditawarkan modernitas memang berbanding lurus dengan resiko yang akan dihadapi. Karena itu kita memilih untuk mempercayai sistem ahli arsitektur dibandingkan para tetangga kita yang seorang dokter untuk merancang kawasan super block. Semakin sadar kita akan resiko yang dihadapi maka akan semakin membutuhkan para ahli yang semakin ahli lagi untuk meminimalkan resiko. Jenjang pendidikan, asal lulusan, sertifikasi dan setumpuk portfolio menjadi legitimasi profesionalitas seorang ahli. Sebuah syarat yang dibutuhkan kita agar percaya, agar bersedia menjadi bagian dari sistem aktif, agar bersedia memperdalam cengkeraman modernitas.

Kini kampung telah berubah menjadi kota. Kita pun tak lagi ingin disebut dengan julukan wong ndeso. Tak hanya wujud fisik arsitektur yang berubah, tapi modernitas juga merubah diri kita, keyakinan kita terhadap sistem sosial kampung, keyakinan kita terhadap niat baik tetangga, keyakinan kita terhadap kemampuan komunal untuk membangun arsitektur. Karenanya tak lagi kita dapati kerja guyub bersama tetangga walau sekedar memperbaiki atap dak rumah yang bocor. Terperangkapnya kita dalam sistem aktif telah melunturkan tradisi arsitektur berbasiskan komunal. Dan karena kita memang wong kuto yang bersedia tunduk kepada modernitas untuk sebuah janji kemajuan yang ditawarkannya. Entah sampai kapan kita mempercayai sebuah sistem yang tak memahami tujuannya sendiri dan di mana ia akan berlabuh. Tapi tidak hari ini karena kita masih membutuhkan pekerja ahli arsitektur untuk memperbaiki atap dak rumah yang bocor.

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Awal 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar