Kamis, 30 Januari 2014

Tradisi Yang Dipaksa Kalah

Sistem ahli arsitektur sebagai anak kandung modernitas tak hanya merubah wujud arsitektur, namun lebih dalam lagi merubah pandangan kita terhadap arsitektur dan perlahan menggerogoti tradisi arsitektur kita. Kampung telah menjadi kota baru, dan suasana kehidupan kampung telah menjadi bagian dari masa lalu yang dengannya kita terkadang hanyut dalam kenangan. Kita menginginkan kota yang sekarang, sekaligus mendambakan kampung yang dahulu. Tapi tak ada jalan untuk memutar, tak ada jalan untuk mengembalikan kota menjadi kampung. Modernitas tak akan pernah memberi jalan bagi kita untuk menoleh ke belakang.


Modernitas mendorong arsitektur memasuki pintu tekno-sains. Arsitektur tidak lagi budaya komunal dan sebentuk struktur visual untuk merepresentasikan nilai-nilai luhur masyarakat pembangunnya. Yang tersisa darinya hanya sekedar wujud fisik. Modernitas telah menggenjot perkembangan arsitektur dengan berbagai temuan teknologi canggih bahkan pada beberapa kasus arsitektur menuntut diciptakannya teknologi yang lebih canggih. Arsitektur menjadi seperangkat organisme teknologi yang harus ilmiah, harus obyektif, penuh perhitungan rumit dan istilah asing yang tak mampu dipahami orang awam. Dari ranah sosial yang hangat, proses kelahiran arsitektur beralih ke ruang laboratorium industri yang dingin.

Modernitas yang mendorong arsitektur semakin kompleks berdampak pada sistem ahli arsitektur yang dituntut untuk semakin kompleks pula. Kita sadar, terutama para ahli arsitektur sadar, bahwa kemajuan arsitektur yang semakin kompleks menghadirkan resiko yang semakin menakutkan. Untuk menghadapi resiko, sistem ahli kemudian dipercanggih dengan strata pendidikan yang semakin panjang, pendidikan keprofesian, sertifikasi berjenjang, berbagai asosiasi profesi dan undang-undang keprofesian. Tak lain untuk meminimalkan resiko disebabkan perkembangan arsitektur yang tak lagi dapat dihentikan lajunya selain untuk memastikan kepercayaan kita terhadap kinerja sistem ahli. Kita tidak diberi pilihan selain untuk percaya.

Kompleksitas arsitektur dan sistem ahli arsitektur menjadikannya tertutup bagi kalangan masyarakat awam. Kita teraleniasi dari arsitektur dan pembangunnnya, tapi apa boleh buat karena keasingan inilah yang dikatakan kemajuan, dikatakan modern, dikatakan kota. Pengetahuan membangun arsitektur yang diwariskan dari generasi terdahulu tak lagi dapat diterapkan di tengah lingkungan modern. Tacit knowledge dipaksa berhadapan vis a vis dengan science knowledge dan akhirnya menyerah. Diawali hilangnya tradisi komunal membangun arsitektur, kemudian tersingkirnya tukang-tukang kampung, dan kelak siapa pun yang mengaku sebagai ahli tanpa memiliki ijazah dan sertifikasi turut akan disingkirkan paksa. Kejam, namun begitulah jalan yang ditempuh sistem ahli arsitektur untuk meminimalkan resiko, menjamin keselamatan masyarakat, dan memenuhi janjinya terhadap kemajuan. 

Potensi alam dan kerja guyub digantikan dengan mesin dan mega-mesin dalam pandangan Lewis Mumford. Umpak, pasak, bambu, kayu, digantikan dengan produk-produk hasil mesin industri semisal parket laminasi, wallpaper, bata hebel, rangka baja ringan. Berbagai produk industri diharuskan menjalani tes laboratorium untuk menjamin kekuatan dan potensinya. Arsitektur tak lagi diadakan atas semangat kolektif dengan peralatan sederhana digantikan dengan mesin-mesin berat untuk mengeduk lubang pondasinya, untuk mendirikan tiangnya, untuk mengangkat rangka atapnya. Tak ada lagi kerja guyub diselingi candaan ramah antar kawan sambil menikmati suguhan kopi dan gorengan dari sang empunya gawe, tersingkirkan oleh mega-mesin; para pekerja ahli yang bagaikan mesin diharuskan bekerja dalam program dan manajemen yang rasional. 

Dalam pandangan Anthony Giddens, sistem aktif yang terbentuk sebagai konsekuensi kepercayaan kita terhadap sistem ahli dilindungi dan didorong perkembangannya oleh empat institusi khas modernitas yaitu, institusi kapitalis, institusi industri, instituti keamanan, dan institusi birokrasi. Institusi kapitalis menyediakan gelontoran modal untuk berkembangnya sistem aktif. Para pemilik modal menginginkan arsitektur yang lebih lagi, bukan arsitektur yang biasa dan pasaran. Di sisi lain, modal turut mengarahkan sistem ahli untuk mengembangkan profesionalitas seiring tuntutan arsitektur yang lebih dari pemilik modal. Tuntutan akan arsitektur yang lebih menyebabkan munculnya resiko yang lebih besar sehingga mutlak diperlukan tingkat profesionalitas yang lebih mahir dari para ahli arsitektur. Di sinilah sistem aktif mendapatkan dukungannya dari institusi industri untuk mengembangkan teknologi rancang bangun hingga batas terjauhnya. Teknologi yang diproduksi massal atau teknologi yang khusus dibuat untuk sebuah wujud arsitektur selalu dapat diwujudkan asal tersedia kucuran modal. 

Terikatnya sistem aktif dengan institusi keamanan menuntut arsitektur yang lebih aman, semakin aman. Arsitektur yang berfokus pada keselamatan penggunanya. Teknologi sensor alarm keamanan, penghawaan buatan yang mampu menyaring polusi dari ruang luar, tirai yang dapat menutup otomatis mengikuti pergerakan sinar matahari untuk menjaga suhu ruang dalam batas ideal. Bahkan di tengah bencana alam yang akhir-akhir terus terjadi kita semakin menuntut arsitektur yang tahan gempa, arsitektur yang tahan banjir, arsitektur yang tahan muntahan lava gunung berapi, arsitektur yang tahan tsunami, arsitektur yang tahan hempasan angin muson. 

Untuk menjamin berjalan tertibnya relasi sistem aktif-institusi kapitalis-institusi industri-institusi keamanan, institusi birokrasi mengambil peran dengan menetapkan berbagai peraturan perundangan, etika profesi, perlindungan konsumen, aturan kontrak kerja, dsb. Tak diperbolehkan munculnya praktek berarsitektur yang berlawanan dengan kehendak institusi birokrasi. Birokrasi pun tak pelak lagi memiliki pengaruh untuk mengontrol sistem ahli arsitektur, arah pendidikannya, orientasi praksisnya, kriteria profesionalitasnya. Masalah bertambah disebabkan institusi birokrasi terikat dengan institusi kapitalis, institusi industri, dan institusi keamanan karenanya bekerja sesuai kehendak modal, kemampuan industri, dan tuntutan keamanan.

Gambar: Dimensi institusional modernitas
Dimodifikasi dari Anthony Giddens, 2009; 78

Sistem aktif yang didukung oleh empat institusi khas modernitas sebagaimana pandangan Anthony Giddens menjadikan sistem ahli dapat berkembang pesat; terus tumbuh. Sistem ahli yang semakin profesional menjadikan kita sebagai masyarakat awam yang telah sadar akan resiko lingkungan modern semakin mempercayainya yang berarti menjadikan kita semakin bergantung pada eksistensinya sebagai sebuah sistem yang tertutup. Tanpa sadar kita pun turut menggilas keberadaan tukang kampung apalagi tetangga yang tak memiliki penguasaan ilmu dan teknologi membangun serta mengantongi izin resmi sebagai legitimasi praktek berarsitekturnya. Sekali lagi, tacit knowledge milik masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi memilih untuk menyerah dari sistem ahli yang didukung oleh kita. 

Tanpa disangka sistem ahli mengkhianati kepercayaan kita. Kita yang hanya memiliki pilihan untuk mempercayainya, alih-alih berjanji memberikan arsitektur yang kita idamkan ternyata lebih memihak kepada para pemilik modal. Arsitektur menjadi tak terjangkau bagi kita dan perlahan-lahan meninggalkan kita sedangkan daya kekuatan modernitas semakin mendesak seiring kuatnya kepercayaan kita terhadap sistem ahli. Mendesak untuk meninggalkan dan melupakan institusi tradisional sambil terus menawarkan dengan berbagai bujuk rayu sebuah identitas masyarakat modern, masyarakat yang maju, masyarakat global. Apalah daya kita di tengah ketiadaan modal, pengkhianatan sistem ahli, dan birokrasi yang tak memikah, sedangkan keinginan terus membuncah untuk menyandang gelar wong kuto dengan arsitekturnya yang menawan. 

Tradisi arsitektur masa lalu telah lenyap bersama waktu. Kini kita ingin menjadi modern tapi tak mampu memiliki arsitekturnya yang dikatakan murni; purisme. Tak apalah bermukim di samping komplek pabrik semoga tertular derum tektonis arsitekturnya atau sebagian yang lain memilih untuk bermukim di pinggir kali berdekatan dengan apartemen beratus lantai dengan harapan tertular kemewahan arsitekturnya. Sambil terus berdoa agar Allah membuka hati para ahli arsitektur untuk berpihak kepada kita layaknya dahulu para tetangga yang tanpa pamrih bersedia bergotong royong membangun rumah yang hangat, nyaman, dan penuh kenangan indah. Kita hanya mampu percaya kepada sistem ahli, namun tak mampu meyakini sebagaimana dahulu kita meyakini komunitas sosial yang komunal. Suatu saat nanti mungkin kita bisa meyakini sistem ahli arsitektur, tapi tidak hari ini. 

Sudah malam, suasana pabrik telah senyap dan bau air kali pun semakin menyengat pertanda waktu bagi kita beristirahat di atas tumpukan kardus produk-produk industri modern. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Awal 1435 Hijrah Nabi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar