Minggu, 02 Februari 2014

Dari Nilai Guna Hingga Menjajakan Arsitektur

Karl Marx meyakini perkembangan masyarakat berawal dari tingkat masyarakat feodal, masyarakat kapitalis, dan masyarakat komunis sebagai puncak dari perkembangan sebuah sistem masyarakat tanpa kelas yang diidamkannya. Berangkat dari periodesasi yang dilakukan Marx, Jean Baudrillard dengan lantang mengatakan Marx pernah benar tapi saat ini terbukti ia salah. Baudrillard mengajukan perkembangan masyarakat versinya sebagai revisi terhadap Marx yang diawali dari tingkat masyarakat primitif, masyarakat hirarkis, dan masyarakat massa. Bukan masyarakat komunis yang tanpa kelas, tapi masyarakat massa sebagai puncak perkembangan masyarakat yang tunduk kepada kapitalisme, di sinilah kelirunya Marx menurut Baudrillard.

Baudrillard yang seorang fatalis memilih untuk menyerah kepada sebuah kekuatan yang dinamakannya late-capitalism. Alih-alih bersifat kritis, ia lebih memilih untuk menikmati gemuruh euforia masa puncak perkembangan masyarakat yang diyakininya.


Mengaitkan perkembangan arsitektur dengan perkembangan masyarakat versi Baudrillard akan berguna untuk menjelaskan fenomena arsitektur kekinian dalam dimensi sosiologis-ekonomi-budaya masyarakatnya. Pada awalnya, arsitektur dibangun berdasarkan nilai guna yang merupakan ciri khas tingkat masyarakat primitif. Kita boleh tidak sepakat dengan istilah masyarakat primitif yang digunakan Baudrillard, namun dalam pembahasan ini kita fokus pada ciri khas masyarakatnya yang memandang obyek berdasarkan nilai guna.

Menggunakan istilah Prof. Eko Budihardjo, arsitektur berdasarkan nilai gunanya merupakan personal property untuk dicintai, dipelihara, dan dikembangkan bersama-sama dengan masyarakatnya yang kemudian membentuk tradisi membangun arsitektur secara komunal. Arsitektur tidak hanya bernilai guna bagi individu pemiliknya; baik dalam aspek fisikal maupun kultural, namun dalam jangkauan yang lebih luas memiliki nilai guna untuk mempererat struktur sosial masyarakat. Masyarakat guyub yang kini perlahan tersingkir ke sebuah daerah yang dinamakan kampung kota. Masyarakat yang seakan terlihat tangguh melawan modernitas pada kenyataannya babak belur menghadapi arus derasnya gelombang perubahan yang entah sampai kapan mampu bertahan.

Pada tahapan perkembangan selanjutnya, arsitektur dipandang berdasarkan nilai tukar yang merupakan ciri khas masyarakat hirarkis sekaligus merupakan awal tumbuhnya kekuatan kapitalisme menggantikan sistem masyarakat feodal. Tingkatan masyarakat hirarkis menekankan pada aspek produksi arsitektur untuk melepaskan diri dari belenggu tradisi arsitektur masa lampau dengan menghadirkan wujud arsitektur yang baru. Arsitektur yang menangkap semangat zamannya. Dapat kita temui dalam berbagai tulisan para tokoh pergerakan arsitektur modern awal yang menekankan arsitektur pabrikasi, industrialisasi, dan produksi massal yang terstandar yang kesemuanya merujuk pada aspek produksi sebagai bentuk upaya melawan tradisi elitis yang menjadikan arsitektur hanya untuk kalangan borjuis dan pihak kerajaan. Dengan arsitektur yang diproduksi massal diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat memiliki arsitektur dengan kualitas yang sama. 

Ternyata impian hanya tinggal impian. Pergerakan awal arsitektur modern yang diliputi semangat sosialis untuk memasyarakatkan arsitektur tak mampu melawan kekuatan institusi kapitalis yang bergandengan tangan dengan institusi industri yang berkeinginan memecah kelas masyarakat berdasarkan status ekonomi. Arsitektur yang memasuki ranah industri massal mengalami komodifikasi yang menjadikannya hanya mampu dijangkau oleh kalangan masyarakat bermodal, dengan kata lain kepemilikan modal menentukan kualitas arsitektur yang dapat dimiliki. Dari personal property, arsitektur telah berubah menjadi real property yang tujuannya untuk diperjual belikan berdasarkan nilai tukar yang disepakati oleh pasar. Karenanya tahap perkembangan ini merupakan lahan subur tumbuhnya pergerakan estetika Marxis dalam arsitektur dengan paham realisme sosialis yang disakralkannya. 

Masyarakat pemilik modal mampu memiliki beberapa rumah di berbagai kota di tengah lingkungan yang masih asri jauh dari polusi industri, sedangkan masyarakat tak bermodal harus menyingkir ke sebuah daerah yang dikatakan oleh sistem ahli arsitektur sebagai daerah kumuh, atau permukiman liar yang menyalahi tata guna lahan perkotaan. Golongan masyarakat yang telah kehilangan tradisi arsitektur masa lalunya sambil terus diiming-imingi gemerlapnya visual arsitektur modern dari kejauhan.

Alih-alih mendukung masyarakat tak bermodal, sistem ahli arsitektur menyodorkan opsi merumahkan paksa di rusun atau perumahan BTN bergaya modern demi wujud fisik kota yang estetis, bersih, higienis, aman. Kota khas impian para modernis. Kota tanpa penyakit. Paling tidak untuk sementara waktu masyarakat tak bermodal dapat menikmati identitas barunya sebagai masyarakat modern yang sah dengan kepemilikan arsitekturnya yang walaupun berwujud modern namun berbeda kualitas dan fasilitas dengan arsitektur modern yang dimiliki masyarakat bermodal. Semuanya tentang modal. Hanya golongan bermodal yang mampu membiayai hasrat formalis sistem ahli arsitektur yang hanya tertarik berbicara tentang wujud fisik yang mencitrakan kemajuan zamannya. 

Sayangnya penderitaan baru saja dimulai karena kapitalisme terus tumbuh dan berkembang dalam skala global yang menandai munculnya tahap masyarakat massa yang turut mendorong perubahan arsitektur. Arsitektur yang pada tingkatan masyarakat hirarkis dipandang berdasarkan nilai tukarnya, kini dipandang berdasarkan nilai simbolisnya. Pada tingkatan masyarakat massa, nilai guna dan nilai tukar telah dikalahlah oleh nilai simbolis sebuah obyek. Masyarakat membeli obyek komoditas bukan lagi dikarenakan kegunaannya maupun harganya, namun untuk mengkonsumsi tanda-tanda yang melekat pada obyek yang dibelinya. 

Institusi kapitalis semakin erat bergandengan tangan dengan institusi industri yang menurut Baudrillard kedua institusi tersebut telah menjadi penguasa negara mengalahkan bahkan mengontrol institusi birokrasi dan institusi keamanan yang pada tingkatan masyarakat sebelumnya identik dengan penguasa negara. Jika awalnya institusi kapitalis hanya sebagai penyedia modal bagi institusi industri untuk memproduksi obyek komoditas yang universal, pada tingkatan masyarakat massa institusi kapitalis telah menguasai institusi industri sehingga dapat menentukan arah produksi sesuai dengan tujuannya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Institusi kapitalis yang telah menguasai institusi industri, bahkan institusi birokrasi dan keamanan merubah fokus produksi menjadi konsumsi sehingga tingkatan masyarakat massa disebut juga dengan masyarakat konsumsi oleh Baudrillard. Arsitektur mulai dijajakan secara luas lintas kelas masyarakat dengan tanda-tanda yang melekat padanya. 

Produk yang seragam tidak mampu menghasilkan keuntungan finansial secara terus menerus disebabkan kejenuhan konsumen sehingga langkah diferensiasi produk dilakukan. Semakin banyak variasi bentuk arsitektur untuk sebuah tipe fungsi arsitektur akan semakin menarik minat konsumen untuk membeli yang berarti semakin besar keuntungan bagi institusi kapitalis. Untuk itu institusi kapitalis memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai media marketing yang disebut Baudrillard dengan strategi marketing bujuk rayu (seduction). Berbagai developer sebagai perwakilan institusi kapitalis memasarkan produk arsitekturnya; apartemen, perumahan, ruko, ruang sewa mall, secara rutin melalui berbagai program di televisi, surat kabar, majalah-majalah, di berbagai seminar dan pusat perbelanjaan, bahkan penulis mendapati di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sebuah developer membuka gerai di area terminal kedatangan. 

Berbagai jargon dilancarkan untuk menarik minat konsumen, mulai dari “bangunan bergaya minimalis” terkadang ditambahi “bangunan bergaya minimalis kontemporer” atau “bangunan bergaya minimalis tropis”, dan baru-baru ini muncul jargon “bangunan bergaya neo-klasik” atau “bangunan bergaya mediteranian”. Jargon perumahan “One gate system” pun lazim didengungkan yang konon katanya anti maling, anti bencana alam, dan anti patologi sosial. Bagi developer penjaja ruang bisnis dan ekonomis selalu menekankan jargon “Lokasi, lokasi, dan lokasi” atau yang baru-baru ini muncul jargon “Lokasi di segitiga emas”. Tak tanggung-tanggung, institusi kapitalis pun merangkul sistem ahli arsitektur untuk melariskan produknya. Apartemen yang dirancang oleh arsitek kelas dunia yang memiliki track record dan portfolio mengagumkan sudah pasti akan semakin membuat air liur para konsumen menetes. 

Dengan manajemen marketing canggih yang memanfaatkan teknologi informasi, produk arsitektur yang ditawarkan mampu menjangkau dan menggoda seluruh lapisan masyarakat. Benarlah perkataan Guy Debord bahwa masyarakat massa adalah masyarakat tontonan (society of spectacle), masyarakat yang disuguhi berbagai tontonan visual yang membangkitkan hasratnya untuk mengkonsumsi. Di tahap inilah uang mengalami pemaknaan ulang yang pada tingkatan masyarakat sebelumnya hanya berfungsi sebagai alat tukar yang sah, kini uang adalah tujuan untuk dapat mengkonsumsi obyek yang menampilkan citra yang diinginkannya. 

Excremental culture kata Baudrillard, budaya yang motif utamanya adalah uang. Para developer tidak segan-segan saling gontok untuk menjatuhkan lawannya terlebih untuk menguasai pasar dan melakukan monopoli, para arsitek pun tak segan-segan saling sikut untuk berebut proyek, dan bukan rahasia lagi langkanya kontraktor yang jujur. Demi uang etika ditanggalkan, katanya untuk menghidupi keluarga. Masyarakat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dari obyek komoditas. Anything goes. 

Konsumen bermodal yang termakan bujuk rayu institusi kapitalis menyerbu berbagai produk arsitektur yang ditawarkan, apalagi dengan ancaman harga akan naik esok hari. Rumah mewah di tengah lingkungan gated community yang dibanderol lebih dari 10 miliyar laris manis seperti kacang rebus. Rumah tidak lagi dinilai berdasarkan fungsi dan nilai tukarnya, namun berdasarkan citra yang ditampilkannya; kehormatan, prestise, strata sosial. Berbagai ruang bisnis dan ekonomi di pusat kota pun secepat kilat diborong untuk menampilkan citra pengusaha profesional bagi pemiliknya. 

Lalu bagaimana dengan masyarakat tak cukup modal untuk memiliki arsitektur ala developer kelas atas? 

Nampaknya virus ‘minimalis’ memang lebih banyak menjangkiti masyarakat menengah perkotaan saking kepincutnya dengan embel-embel yang dilontarkan marketing. Rumah BTN yang dimiliki tak luput dari aksi renovasi tambal sulam untuk menampilkan ciri bentuk ‘minimalis’. Kanopi beton dan warna monokrom menjadi menu wajib. Dipercaya bentuk rumah ‘minimalis’ walaupun di lingkungan BTN di atas tanah kurang dari 1 are merepresentasikan pemiliknya sebagai masyarakat kota bergaya hidup modern dan pegawai yang berhasil dalam karirnya. 

Masyarakat di kota-kota kecil pun tak ketinggalan aksi. Penulis seringkali mendapati ketika menelusuri kota-kota kecil semisal Banyuwangi, Jember, Probolinggo, Lumajang, dan Turen, berjejer di pinggir jalan penjaja kolom bergaya Dorik, Ionic, dan Corintian, bahkan begitu banyak rumah yang memaksakan mengunakan elemen Pediment khas arsitektur klasik Yunani agar serasi dengan bentuk kolom yang digunakan. Sekali lagi, bentuk arsitektur demikian dipercaya merepresentasikan kesejahteraan hidup pemiliknya. 

Sekarang mari kita tengok di pinggiran kali dan kolong-kolong jembatan. Entah bagaimana pertentangan batin dirasakan masyarakat tak bermodal yang telah putus asa tak mampu membeli arsitektur yang dijajakan institusi kapitalis, sedangkan di sisi lain belum digusur agar dapat bermukim di rusun atau mendapatkan keringanan untuk memiliki rumah BTN. Golongan masyarakat tanpa arsitektur kata sistem ahli. Kardus bekas produk-produk modern masih setia menjadi alas tidur dan selimut sambil memandangi gemerlapnya bangunan tinggi di malam hari. Inilah suasana kota modern yang hanya mampu mereka nikmati dari sebuah tempat yang dikatakan kumuh dan ilegal. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Akhir 1435 Hijrah Nabi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar