Minggu, 16 Februari 2014

Digitalisasi Ruang; Ingatan Harus Mengalah

“Manusia hidup di dalam ruang dan waktu dengan berbagai realitas sosialnya. Ruang yang memiliki dimensi fisik dan terindera. Ruang di alam realitas” 

Ruang dan ingatan bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan ketika berbicara tentang meruang. Kehadiran ruang tak akan bermakna tanpa ingatan pelakunya, dan ingatan membutuhkan ruang sebagai petanda ingatannya untuk menjaga kestabilan struktur rekaman peristiwa yang terjadi. Ingatan yang mampu melintasi waktu namun tak mampu lepas dari ruang. 

Dalam meruang, manusia seringkali -kalau tidak dikatakan selalu- memanfaatkan teknologi untuk memudahkan aktivitasnya di dalam ruang yang berarti mempengaruhi pengalaman meruang yang dialaminya. Ketika menulis, manusia pada masa lalu menggunakan pena yang seiring zaman berganti dengan mesin ketik dan sekarang kita mendapati komputer yang menjadikan aktivitas menulis begitu mudah dan efisien. Begitu pula ketika menulis pada malam hari, manusia memanfaatkan lilin untuk menerangi ruang yang seiring zaman tergantikan dengan lampu yang terus mengalami penyempurnaan dari sisi teknologinya hingga masa kini. Kita yang hidup pada masa kini yang sehari-hari terbiasa menulis dengan komputer dan dengan pencahayaan ruang yang cukup sepanjang hari, ketika suatu waktu beralih menggunakan pena model lawas dan ditemani lilin untuk menerangi ruang tentu antara keduanya akan menimbulkan kesan meruang yang berbeda di dalam ruang yang sama. 

Keberadaan teknologi hakikatnya untuk memudahkan aktivitas manusia di dalam ruang. Menurut Marshall McLuhan, pada masa modern yang diawali dengan rentetan revolusi industri sebagai penanda lahirnya kapitalisme, teknologi lahir dalam wujudnya yang mekanis sebagai perpanjangan tubuh manusia –sebagaimana contoh di atas-. Setelahnya teknologi terus mengalami perkembangan yang seakan tak ingin berhenti walau sejenak.

Pada tahun 1960-an yang menandai masa dimulainya kapitalisme-lanjut, teknologi mekanis tergantikan oleh teknologi informasi. Teknologi tidak lagi sebagai perpanjangan tubuh manusia untuk memudahkan aktivitasnya di dalam ruang, namun telah berkembang menjadi perpanjangan sistem saraf manusia di dalam ruang dan waktu. Global village dalam terminologi yang ditawarkan McLuhan; manusia di dalam sebuah ruang –bahkan desa- yang dapat mengakses berbagai informasi dari berbagai ruang di seluruh belahan dunia dari lintasan waktu yang berbeda secara real time. 

Abad ini teknologi informasi telah tergantikan dengan teknologi digital yang menurut Baudrillard tidak lagi sekedar perpanjangan sistem saraf manusia dalam ruang realitas namun sebuah teknologi yang mampu memanipulasi realitas itu sendiri bahkan mereproduksinya. Jika pada masa sebelumnya teknologi hanya pemberi kesan meruang yang berbeda, pada masa teknologi digital, teknologi mampu memanipulasi aktivitas meruang. 

Kembali pada ruang dan meruang. Ruang-ruang di sebuah kota bagi banyak warganya sangat bermakna karena ingatan tentang peristiwa penuh emosi yang pernah dialaminya di ruang tersebut –baik personal maupun kolektif-. Setiap kali memasuki kembali ruang tersebut, ingatannya dari masa lalu seketika kembali muncul dan menggugah hati. Maka tak aneh kita dapati seseorang akan menangis bahkan melawan ketika rumah tempat kelahiran dan tumbuh besarnya akan digusur oleh pemilik modal untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Ruang memang the kingdom of memories. Lalu bagaimana jika ruang yang merupakan petanda ingatan lenyap atau tercabut dari konteksnya? 

Era digital menghadirkan solusi dengan berbagai artefak terknologi yang mampu mereproduksi ruang realitas dalam bentuk citraan-citraan, baik dalam format video dan gambar atau sebuah ruang cyber yang dipercaya oleh para digerati (ahli kajian cyber-space) mampu menyamai bahkan melampaui kualitas ruang realitas. Dengan kata lain, ruang masa lalu dapat kembali dihadirkan ke masa kini dengan teknologi digital. Perkembangan teknologi saat ini dimungkinkan dilakukan rekonstruksi ruang melalui pemodelan 4 dimensi hanya berbekal sebuah komputer. Tidak hanya melihat gambar atau video yang merupakan representasi visual dalam wujud ruang 2 atau 3 dimensi, namun dengan pemodelan 4 dimensi manusia dapat masuk ke dalam representasi itu sendiri. Mark Slouka yang gusar berucap, komputer tak lagi sebuah mesin pengolah informasi namun telah berkembang menjadi mesin peniru realitas, atau dunia yang dilipat kata Yasraf Amir Piliang. Tapi apakah ruang dalam wujud citraan dapat menggantikan ruang dalam wujud fisik di alam realitas? 

Tercabutnya ruang sekolah TK dan SD-ku dahulu dari konteksnya berdampak pada ingatanku atas ruang-ruangnya yang seketika menjadi tidak stabil dan 'meneror'. Teknologi digital menghadirkan solusi program Google Earth yang dapat menampilkan kondisi lingkungan sekolahku dahulu sebelum mengalami relokasi melalui citraan satelit. Dari program tersebut aku dapat mengamati perubahan lingkungan sekolahku dari tahun 2002 hingga 2013. Pertanyaannya, apakah kemudian ingatanku dapat mengait pada ruang sekolah hasil rekaan teknologi digital untuk kembali menstabilkan strukturnya? 

Kondisi lingkungan sekolahku pada tahun 2002 (atas) dan setelah relokasi dengan kondisi terkini tahun 2010 (bawah) 

Meruang dalam ruang yang memiliki dimensi fisik dengan ruang hasil rekayasa teknologi digital jelas berbeda. Yang pertama, jika kita memasuki sebuah ruang secara alamiah akan melibatkan ingatan yang terkait dengan ruang tersebut. Berbeda dengan yang kedua di mana ruang dalam bentuk citraan hanya merupakan media rangsangan bagi ingatan untuk melakukan rekonstruksi ruang secara imajinatif karena pada hakikatnya ruang dalam media citraan adalah ruang virtual yang semu, ruang yang a-historis dan tidak memilki konteks dengan ingatan. Ruang simulasi kata Baudrillard. Celakanya, ingatan yang tidak stabil akan terus mengalami distorsi sehingga imajinasi terhadap ruang melalui media citraan pun semakin berat dilakukan. “Ah aku lupa, aku tak ingat!”.

Ingatan tentang bermain dan berebut ayunan di taman ayun dengan teman-teman selepas pulang sekolah sambil menunggu jemputan, atau berlatih pramuka di taman gunung, atau ketika malas berlatih pramuka kami terpaksa bersembunyi di rumah Manik untuk menghindari patroli para kakak pembina, atau pertandingan sepak bola antar tim yang kami bentuk di Lapangan Mokmer pada hari ahad tak dapat hadir dalam wujud ingatan yang lengkap melalui media citraan hasil rekayasa teknologi digital. “Sudah kubilang, aku lupa!”

Menggunakan logika berpikir Mark Slouka, meruang di alam realitas yang kemudian menumbuhkan ingatan memiliki bandwidth yang lebar dikarenakan meruang berikut berbagai konteks ruang yang melingkupinya beserta perasaan, preferensi sensori, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan percakapan yang terjadi merupakan informasi yang sangat besar. Sedangkan media citraan hasil teknologi digital, secanggih apa pun teknologinya memiliki bandwith sempit yang tidak akan mampu menyamai bahkan melampui meruang dalam dunia realitas dikarenakan akan selalu tergantung pada ingatan artifisial (RAM) dan layar komputer. Berdasarkan logika Mark Slouka tersebut, ingatan hanya terkait dengan ruang di alam realitas dengan wujud fisiknya bukan ruang semu hasil rekayasa teknologi. 

Ingatan manusia memang lemah karenanya membutuhkan ruang sebagai tanda ingatan. Di sini teknologi digital berupaya mengambil alih ingatan manusia dan menggantikannya dengan ingatan artifisial komputer yang mampu secara real time mereproduksi realitas dan menampilkannya. Realitas hanya dibutuhkan sebatas obyek untuk membentuk citraan oleh teknologi setelahnya tak lagi dibutuhkan. Tak perlu susah-susah mengingat, biarkan teknologi yang mengambil alih. Tinggal foto dan rekam kemudian simpan di dalam komputer. Mediascape kata Baudrillard yaitu sebuah kondisi di mana media teknologi digital perlahan-lahan mendominasi dan menghegemoni kehidupan (ingatan) manusia. 

Teknologi digital yang (di)mampu(kan) mereproduksi realitas ke dalam bentuk citraan-citraan jika dibiarkan terus berkembang secara liar akan menjadikan ruang fisik tidak lagi dibutuhkan dan dianggap penting oleh manusia tergantikan dengan ruang virtual. Sekarang telah kita rasakan efek negatif perkembangan teknologi digital. Banyak kasus kita temui dengan mudahnya ruang-ruang yang dipenuhi dengan memori kolektif dan terkait dengan peristiwa penting dalam perjalanan sejarah umat Islam dirobohkan atau dicabut dari konteksnya tanpa menyisakan bekas apa pun atas nama perkembangan fungsi dan kebutuhan ruang. Tak ada rasa gelisah apalagi bersalah sebab seluruh dokumentasi terkait dengan ruang tersebut telah disimpan dalam ingatan komputer. Inilah simulasi orde ketiga menurut Baudrillard di mana teknologi digital meniru realitas kemudian realitas dihilangkan sehingga citraan-citraan hasil teknologi tidak lagi memiliki representasi di alam realitas. Ingatan pun (dipaksa) harus mengalah. Muncullah penyakit amnesia massal di kalangan umat Islam. 

Aku kutipkan sebuah retorika kegelisahan dari Mark Slouka, 
“Ruang virtual (citraan 2D dan 3D adalah bentuk sederhana darinya-pen) bersifat sangat agresif dan destruktif. Ia ‘menyerang’ apa saja yang kita miliki (ingatan kita-pen), ia ‘membunuh’ apa saja dari diri kita yang sangat berharga (ingatan kita-pen). Identitas kita, pribadi kita, ruang tempat kita hidup, dunia anak-anak kita, komunitas tempat kita bercengkerama, kota-kota tempat tinggal kita, gelanggang-gelanggang tempat kita berkumpul, taman-taman kota tempat kita bercanda, pasar-pasar tempat kita berbelanja”. 
Kota tanpa ingatan katanya adalah kota yang gila, bayangkan saja manusia tanpa ingatannya. Namun bagaimana jika ruang-ruang di alam realitas yang memiliki dimensi fisik ditransfer ke dalam wujud media citraan yang berdampak pada distorsi ingatan, apakah kita (rela) sedang digiring menjadi orang gila?(!) Atau artikel ini dan artikel sebelumnya yang berjudul Ingatan Atas Ruang (Yang Hilang) hanya bentuk dari kegelisahanku semata yang terlampau serius menanggapi isu ini? Sebagai penutup aku hanya ingin mengucapkan bahwa kita patut curiga oleh apa pun dan siapa pun yang hendak merusak ingatan kita melalui ‘pengerusakan’ ruang di alam realitas, bahkan atas nama kemajuan yang tak terhindarkan. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Akhir 1435 Hijrah Nabi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar