Rabu, 12 Februari 2014

Ingatan Atas Ruang (Yang Hilang)

Meruang adalah pengalaman seseorang dalam ruang yang menuntut kesadaran terhadap ruang sekaligus kesadaran kehadiran diri dalam ruang yang melibatkan emosi sehingga membentuk sebuah ingatan yang bermakna atas ruang. Bisa jadi hanya duduk sambil menikmati aktor yang berkegiatan di dalam ruang atau berperan aktif dalam adegan yang sedang terjadi. Semakin jauh terlibat, semakin menyatu dalam ruang, dan semakin dalam melibatkan emosi, akan semakin kuat membentuk ingatan terhadap suatu peristiwa yang terjadi di dalam sebuah ruang. Dapat dikatakan, meruang adalah menumbuhkan rasa keterikatan terhadap ruang melalui ingatan pelakunya. 


Ingatan yang terbentuk dari pengalaman meruang tidak hanya disimpan dalam diri pelakunya tapi juga disimpan dalam ruang. Antara ingatan dan ruang terjadinya peristiwa saling mengait. Entah disebabkan tidak stabilnya ingatan manusia sehingga membutuhkan ruang sebagai tanda pengingat untuk menguatkannya, namun dapat dipahami mekanisme tersebut bertujuan untuk mempertahankan rasa keterikatan pelaku terhadap ruang. Sebagai contoh, mungkin kita akan sangat kesulitan mengingat tanggal pertama kali masuk sekolah TK atau SD, namun banyak diantara kita yang masih mengingat dengan baik di mana dan di ruang kelas yang mana serta berbagai perasaan yang dirasakan pada hari itu.

Semakin penting suatu peristiwa bagi pelakunya dan semakin kuat rasa keteritakannya terhadap ruang terjadinya peristiwa, maka semakin baik ia mampu mengingat dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi. Di sini antara ingatan dan sejarah berjalan beriringan, saling menguatkan dan saling melengkapi. Ingatan merujuk kepada ruang, sedangkan sejarah merujuk kepada peristiwa. Disebabkan kita hidup di dalam ruang dan berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya dalam rentangan waktu, maka akan membentuk ruang-ruang ingatan yang berbeda. Setiap ruang ingatan merujuk kepada sebuah ruang dalam realitas.

Kita semua pernah meruang, baik disadari sedang mengalami sebuah proses meruang atau tidak. Jawaban terakhir pasti dialami oleh kita semua saat masih kecil dahulu, sebagaimana aku alami yang hingga menuliskan artikel ini masih dapat mengingat masa-masa di ruang-ruang TK dan SD berikut dengan rentetan peristiwa di dalamnya dan berbagai perasaan yang terlibat. Dikarenakan ingatan bukanlah masa lalu, maka mudah dihadirkan kembali ke masa sekarang bahkan direproduksi yang sering kita sebut dengan nostalgia. Mengulang kembali pengalaman meruang dalam ruang yang sama dengan peristiwa dan dalam waktu yang berbeda.

Kali ini aku tak ingin bercerita tentang sejarah masa lalu
Namun tentang ingatan dari masa lalu. 

Foto udara tahun 2002 sebelum dilakukan relokasi

Tahun 1992, entah tanggal berapa tepatnya tak mampu aku ingat, adalah pertama kali aku bersekolah di jenjang TK nol kecil di TK Wipara Tuban. Masih aku ingat hari pertama sekolah diantar ibu dengan motor Astrea Grand 800 yang diparkir di halaman depan sekolah, tempat kami berolahraga senam bersama setiap hari Jum’at. Lantainya dari ubin, tiang bangunannya dari kayu yang dicat berwarna coklat, merah muda, kuning, dan biru, dinding-dindingnya dipenuhi gambar hewan dan dibeberapa bagiannya ditutupi batu alam. Di lorong depan kelas kami berbaris dan berdoa sebelum masuk ke ruang kelas, kemudian menaruh tas dan mengambil buku di loker di belakang kelas. Aku selalu duduk di samping jendela agar dapat melihat ibu, terkadang ibu menemani belajar di dalam kelas saat aku sedang rewel. Selama setahun penuh ibu menungguiku bersekolah, selalu berdiri melihatku dari jendela kelas yang sama.

Tahun 1993, naik kelas berarti pindah kelas dan waktunya bagi ibu tak lagi menungguiku bersekolah. Untuk beberapa lama aku merasa seorang diri di dalam ruang kelas, di dalam ruang sekolah, hingga waktu mengakrabkan. Perlahan tak hanya ruang kelas dan taman bermain, lapangan pasir di tengah sekolah menjadi tempat bermain favorit bagiku. Ada yang bermain perang-perangan, ada yang menggali pasir bagaikan di pantai, ada pula yang guling-gulingan. Masih kuat aku ingat, tak hanya ketika lelah bermain pasir, di tengah jam belajar pun aku sering pergi ke kantin untuk makan bakso. Di sekolah, hanya bakso yang mengingatkanku kepada ibu. Seringkali aku yang membolos di tengah jam belajar kepergok guru karena letak kantin yang bersebelahan dengan ruang guru. Digelandanglah aku kembali ke ruang kelas sambil tetap makan bakso yang dibungkus. Pak Ndut kalau tidak salah ingat nama penjual bakso di kantin sekolah TK-ku dahulu. 

Setahun berikutnya, tahun 1994, aku resmi menjadi murid SD. Walaupun antara sekolah TK dan SD-ku bersebelahan, tapi hari pertama sekolah tetap mengelisahkan. Takut, bahkan aku tidak mau berangkat sekolah sampai ibu mengantar dan menemaniku seperti saat TK nol kecil. Ruang kelasnya berbeda, untuk naik ke lorong kelas menaiki 4 anak tangga. Seluruh lantainya dari ubin, bangku dan mejanya berwarna coklat tidak seperti di TK yang berwarna-warni, dindingnya pun polos berwarna putih, tiangnya dari kayu kelapa yang dipernis. Masuk ke ruang kelas yang berbeda, dengan orang-orang berbeda yang sama sekali tak aku kenal satu pun merupakan pengalaman meruang yang tidak menyenangkan bagiku, dan sangat membosankan karena hanya tersedia kapur tulis berwarna putih. Pada fase ini ingatan baru mencari keterkaitan dengan ingatan lama, namun tidak menemukan keterkaitannya sehingga membentuk ruang ingatan baru. Pembentukan ruang ingatan baru menimbulkan rasa gelisah dan rasa ketidak-siapan memasuki ruang yang baru disebabkan harus mengkonstruksi ingatan dari dasar. 

Sekali lagi waktu mengakrabkan, tidak hanya dengan teman-teman baru, namun juga dengan ruang sekolah. Kelas ini milik kami. Dapat ditemui ukiran nama kami di berbagai pelosok ruangnya, di bangku, di dinding, dan di tiang-tiang bangunannya hanya untuk menegaskan kepemilikan kami terhadap ruang. Teman seangkatan berbeda kelas harus mengetuk pintu dan mengatakan permisi sebelum memasuki ruang kelas kami, dan begitu pula ketika kami memasuki ruang kelas mereka. Saat menuliskan artikel ini barulah aku memahami begitulah cara guru-guru kami menanamkan rasa keterikatan terhadap ruang kepada kami, walaupun kami harus mengotori kelas dengan coretan tak indah namun beliau-beliau memaklumi perilaku kami sebagai proses belajar. Belajar menumbuhkan kesadaran terhadap kepemilikan ruang dan menghormati klaim kepemilikan ruang oleh komunitas kelas lainnya. 

Kelas 4, tahun 1997, rasa keterikatanku dengan ruang sekolah semakin kuat karena terus terjadi peristiwa rutin yang melibatkan emosi yang sangat intens. Kami sekelas mulai dijangkiti virus sepak bola. Tidak hanya ketika pelajaran olahraga, hampir setiap hari kami bermain sepak bola. Bukan hanya sekedar bermain, tapi pertandingan antar kelas. Tidak ada piala bagi pemenangnya, hanya pengakuan superioritas sebagai kelas terbaik dan rasa hormat dari kelas lainnya. Kelas A melawan kelas B, dan dari kelas 4 hingga kelas 6 aku selalu berposisi sebagai kiper di tim kelas B. Di lapangan tanah kami bertanding, tanpa alas kaki karena sepatu kami ditumpuk menjadi batas gawang. Tak ingin kalah dengan pertandingan profesional, pertandingan kami pun diselenggarakan 2 babak. Babak pertama saat istirahat pertama kalau tidak salah ingat sekitar pukul 09.00 saat masuk pagi dan pukul 14.00 saat masuk siang, dan babak kedua saat istirahat kedua kalau tidak salah ingat sekitar pukul 11.00 saat masuk pagi dan pukul 15.30 saat masuk siang. 

Hingga kini masih teringat rasa perihnya kaki bermain sepak bola di atas tanah saat matahari berada di atas kepala. Terkadang kaki kami sampai melepuh, namun untuk sebuah pengakuan dan harga diri tak menyurutkan semangat kami untuk tetap bertanding sepak bola. Lapangan utama yang menjadi tempat kami bertanding menjadi lapangan ‘angker’ bagi adik-adik kelas, serentak mereka akan menyingkir ketika kami bersiap untuk bertanding. Pertandingan tanpa wasit, tak jarang di tengah pertandingan kami bertengkar dan sering kali pertengkaran antar kelas diselesaikan dengan cara pertandingan sepak bola. Sudah biasa bagi kami melanjutkan jam belajar dengan cucuran keringat, baju yang kotor, dan kaki yang cenat-cenut. 

Pada hari yang terlalu panas kami memindahkan pertandingan sepak bola di lapangan di belakang sekolah yang ditutupi rumput. Walaupun tidak nyaman bermain sepak bola di lapangan berumput, sekali lagi, demi pengakuan superioritas dan harga diri. Terlalu sering harus diadakan perpanjangan waktu pertandingan sambil menunggu guru masuk ke ruang kelas, tapi lebih sering lagi guru meneriaki kami untuk berhenti bermain dan segera masuk ke ruang kelas. Pertandingan sepak bola yang terpaksa berhenti dengan skor seri berlanjut pada jam pelajaran olahraga. Lari keliling kompleks sekolah menjadi menu wajib (garis hijau pada peta merupakan rute lari saat jam olahraga), sekaligus menjadi ajang pertandingan lari antar kelas sebagai kelanjutan dari pertandingan sepak bola yang belum diputuskan siapa pemenangnya. 

Kelas 5 dan berlanjut hingga kelas 6, kami sebagai senior mendapatkan fasilitas yang tidak dimiliki oleh adik-adik kelas, lapangan tanah di depan ruang kelas yang kami gunakan untuk tempat latihan sebelum pertandingan. Pengalaman meruang yang rutin dengan emosi yang intens membentuk ingatan yang saling menumpuk dan menguatkan, ingatan yang menubuh dalam diri karena tumbuh dari pengalaman empiris yang mengait pada ruang-ruang tempat peristiwa terjadi. Berbagai peristiwa yang aku alami semasa TK dan SD hanya berarti jika dikaitkan dengan ruang-ruang tempat terjadinya peristiwa. Karenanya antara ingatan-peristiwa-ruang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, menjadi kesatuan yang saling menguatkan. 

Ruang ingatanku terhadap ruang sekolah semakin meluas ketika kira-kira saat aku kelas 6 dibangun Masjid al-Ikhlas yang jaraknya berdekatan dengan sekolah. Hadirnya masjid di lingkungan sekolah merubah kegiatan rutin kami sebagai murid Muslim; Shalat Jum’at. Keterkaitan kegiatan sekolah dengan kegiatan shalat menjadikan antara ruang sekolah dan ruang masjid saling terkait menumbuhkan ingatan baru yang menumpuk dan menguatkan struktur ingatan lama, tidak melemahkan atau bahkan mendistorsinya. 

Foto udara tahun 2013 setelah mengalami relokasi untuk perluasan bandara

Ingatan yang telah mengendap lama dapat dengan mudah menjadi tidak stabil ketika ruang tempat dikaitkannya ingatan hilang atau dicabut dari konteksnya. Itulah yang aku alami. Ingatanku akan masa-masa TK dan SD menjadi kenangan masa lalu yang stabil sampai kira-kira tahun 2010 sekolahku dahulu dipindahkan untuk perluasan area Bandara Ngurah Rai. Ruang-ruang yang tercabut dari konteksnya seketika memanggil ingatan yang mengait dengannya. Ingatan yang sebelumnya ‘akrab’ menjadi ‘meneror’, yang sebelumnya hanya sebatas sebagai kenangan masa lalu yang indah kemudian menuntut banyak dariku; menghantuiku, kegelisahan, meminta kestabilannya. Bisa jadi ingatan manusia memang terlampau lemah sehingga membutuhkan hal lain diluar dirinya untuk tetap menjaga kestabilan strukturnya.

Dahulu di mana ingatan dan sejarah berjalan beriringan, dengan dicabutnya ruang sebagai petanda ingatan dari konteksnya menjadikan antara ingatan dan sejarah berpisah jalan. Ingatan menubuh dalam diri pelaku, tak mampu dirubah hanya mampu ‘digugah’ dari luar. Sedangkan sejarah hanya menempel di diri pelaku yang dengan mudahnya diarahkan oleh institusi-institusi dari luar. Celakanya, sejarah yang telah berpisah jalan berambisi untuk memanfaatkan ingatan, kalau perlu menghancurkannya kemudian mengkonstruksikan ingatan baru yang sesuai dengan kehendak arah laju sejarah. Dipindahkannya sekolah TK dan SD-ku dahulu berikut dengan bangunan, lingkungan, dan para guru pengajar yang baru setelah 10 tahun kelulusanku, menjadikannya tidak memiliki referensi dengan ingatanku sebelumnya tentang sekolah itu, namun laju sejarah memaksa untuk menjadikan perubahan sejarah sebagai ingatan baru menumpuk pada ingatan yang lalu. 

Dengan kata lain, pihak yang bertanggung jawab terhadap akselerasi alur sejarah yang mendadak, dalam kasus ini adalah pihak yang memindahkan sekolah kemudian mendirikannya kembali, berusaha untuk menguasai ingatanku dan ingatan kolektif seluruh alumni kedua sekolah tersebut; TK Wipara dan SDN 6 Tuban. Mereka sebagai the other berupaya mengkonstruksi sebuah narasi baru yang mampu diterima oleh ingatan lama dengan cara melakukan over simplifikasi dan over reduksi terhadap ingatan masa lalu yang karena dibentuk dalam rentang waktu yang panjang dan telah lama mengendap sehingga sangat kompleks melalui menghadirkan sebuah ruang 'lama' dalam wujudnya yang baru. 

Foto udara tahun 2002 (atas) sebelum relokasi, dan foto udara tahun 2013 (bawah) setelah relokasi untuk perluasan bandara Ngurah Rai

Mengingat dan melupakan bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang. Kehadiran ruang sekolah yang baru yang jauh lebih baik dari segi kuantitas maupun kualitas ruangnya, dengan bangunan yang kini bertingkat dilengkapi pendingin udara buatan dan spesifikasi bahan yang lebih bagus, memaksa untuk dijadikan ingatan baru di ruang ingatan yang lama. Sekolah dengan bangunan baru yang walaupun secara historis memiliki keterkaitan dengan sekolah lama, namun secara ingatan adalah berbeda. Ruang tempat dikaitkannya ingatan yang lama berbeda dengan ruang yang baru karenanya ingatan baru jika menumpuk di atas ingatan lama akan mengaburkan bahkan merusak ingatan lama. Ingatan lama kehilangan kaitan ruangnya, sedangkan ingatan baru mengait pada ruang yang baru sekaligus menumpuk ingatan lama dalam ruang ingatan yang sama. 

Sebagai sebuah potensi dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, ingatan lama memiliki kemampuan selektif terhadap ingatan baru yang akan menumpuknya untuk menghindari terjadinya kebingungan ingatan. Hingga saat ini, aku baru sebatas memarkir sepeda motorku di depan bangunan sekolah yang baru, tak mampu aku memasukinya seakan ingatan masa laluku tak menghendaki. Sekolah dengan bangunan baru yang kini menggunakan nama yang berbeda, hingga saat ini aku tak dapat mengingat nama baru kedua sekolah tersebut yang menandakan ingatan masa laluku menolak untuk mengingatnya dalam ruang ingatan yang sama. Ingatanku mengenali keterkaitan historis ruangnya walaupun menggunakan nama yang berbeda. Hubungan antara ingatan dan ruang sebagai petanda ingatan memang bersifat konstekstual dan parsial karenanya bersifat alamiah, tak dapat direkayasa, apalagi oleh the other. 

Ingatan lama mempengaruhi sikapku dan persepsiku terhadap ruang yang baru. Ia akan membolehkan ingatan baru menumpuk di ruang ingatan yang sama dengannya jika memiliki keterkaitan, namun ia akan menolaknya dan memaksa terbentuknya ruang ingatan yang baru jika tidak memiliki keterkaitan.

Ingatan yang terkadang pasif seketika menjadi aktif, terkadang fleksibel seketika dapat menjadi kaku. Ruang sebagai petanda ingatan bukanlah sekedar geometri Eucledian, namun sebagaimana yang diyakini kalangan penggiat atropologi-arsitektur, ruang adalah ‘the kingdom of memories’. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Rabiul Akhir 1435 Hijrah Nabi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar