Sabtu, 22 Maret 2014

Bangunan Yang (Bukan) Arsitektur

Sejak awal memasuki dunia perkuliahan mahasiswa diberikan pemahaman bahwa arsitektur adalah bangunan tapi tidak semua bangunan adalah arsitektur. Apa yang membedakan antara bangunan dan arsitektur? Pada umumnya digunakan elemen arsitektur oleh Marcus Vitruvius Pollio untuk menjelaskannya dan menjadikan elemen venustas yang kemudian dipahami dengan kebahagiaan, kesenangan, gairah yang belakangan direduksi menjadi estetika sebagai pembeda di antara keduanya. Bangunan walaupun memenuhi elemen utilitas yang dipahami dengan fungsi, kegunaan dan elemen firminitas yang dipahami dengan materialitas, soliditas, kekuatan, namun jauh dari kesan indah, tak dapat menimbulkan kesan kesenangan, apalagi memicu gairah karenanya dikategorikan sebagai civil building. Dalam arti lain hanya sebatas bangunan bentukan manusia yang tak memiliki nilai estetis. Jadi memang tak aneh jika pada fase-fase awal perkuliahan mahasiswa ditekankan untuk mempelajari estetika bentuk.


Seiring pembahasan, elemen arsitektur oleh Vitrivius yang kemudian dipahami dalam kerangka arsitektur modern yang rasional digunakan untuk menilai bangunan tradisional yang bertujuan untuk mensubordinasikannya sehingga menjadikan bangunan modern sebagai satu-satunya arsitektur yang sah. Bangunan tradisional banyak dinilai oleh kalangan modernis tak memiliki standarisasi untuk mewadahi suatu fungsi, tak memiliki kekuatan, apalagi keindahan estetis yang terpancar dari keteraturan susunan formalnya. Tentu saja kalangan tradisionalis pun tak berpangku tangan dan tak ketinggalan untuk memahami elemen arsitektur oleh Vitrivius dengan pendekatan yang berbeda. Jadilah konsep tersebut bebas tafsir dan diperebutkan untuk mengukuhkan eksistensi ideologi masing-masing pihak.

Dapat dipahami kategorisasi ketat antara arsitektur dan sekedar bangunan yang terus disampaikan kepada mahasiswa bagaikan sebuah dogma dikarenakan hingga saat ini pendidikan arsitektur dan keprofesian arsitektur kita masih berkiblat pada modernisme yang mengagung-agungkan rasionalitas. Kemampuan rasio selalu mencari pola dan identifikasi yang kemudian dikategorisasikan dalam berbagai tipe-tipe maupun dalam klasifikasi. Di sisi lain rasio selalu berkeinginan mencari kejelasan dan kepastian terhadap realitas karenanya kategorisasi dan klasifikasi dirumuskan sedemikian ketat dengan kriteria yang rigid tak lain untuk menjamin kepastian dan kejelasannya. Berbagai ciri khas rasio tersebut bertujuan untuk merekayasa realitas. Dengan dilakukannya kategorisasi ketat, arsitektur modern ingin pengaruhnya mengglobal yang akhirnya hanya akan disepakati satu bahasa arsitektur yang sah dan agar arsitektur modern menjadi elit dan satu-satunya simbol kemajuan sehingga subordinasi terhadap ‘arsitektur’ lainnya menjadi sah pula dilakukan. 

John A. Walker yang seorang ahli sejarah dan kritikus desain asal Inggris menyatakan kategorisasi kualitatif untuk membedakan antara arsitektur dengan bukan arsitektur sebenarnya menyiratkan hanya golongan terdidik formal dan para profesional yang diakui dapat menghasilkan sebuah karya arsitektur, karya seni yang agung, sedangkan bangunan yang hanya sekedar bangunan kebanyakannya adalah anonim di mana identitas perancangnya tidak lagi diketahui atau amatiran. Pada akhirnya yang menentukan sebuah karya digolongkan sebagai arsitektur atau bukan arsitektur adalah ‘tanda tangan’ dari perancangnya yang jauh lebih berharga dari hasil karyanya itu sendiri. 

Perancang menjadi sangat sentral dalam arsitektur modern kalau tidak dikatakan sebagai penentu kategorisasi yang memiliki kaitan erat dengan tujuan universalitas modernisme. Logika arsitektur yang universal dapat dicapai dengan cara pandang modernisme terhadap realitas melalui relasi subyek-obyek. Para profesional arsitektur adalah subyek, satu-satunya pihak yang otoritatif dalam bidang arsitektur. Belakangan hari Charles Jencks menyebut kedudukan arsitek dalam arsitektur modern bagaikan seorang nabi yang supra otoritatif. Sedangkan pihak lainnya tidak memiliki otoritas, sehingga profesional dapat memutuskan sebuah obyek dikategorikan sebagai arsitektur maupun bukan arsitektur dengan berbagai pakem-pakem arsitektur modern yang dikembangkannya yang kemudian dijunjung tinggi dan dibela habis-habisan melebihi wahyu. 

Seiring bergulirnya waktu, seiring tumbuhnya sikap kritis terhadap modernitas tumbuhlah pergerakan post-modernis yang berpihak pada kaum tradisionalis. Upaya mendobrak monologi modernisme dilakukan sesuai arahan Jean-Francois Lyotard. Pertama, melakukan diskonsensus terhadap universalitas modernisme yang dikatakannya merupakan grand naration yang bersifat otoriter sehingga konsensus yang terbangun pun digugat dan dipertanyakan kembali keabsahanya dari berbagai arah. Kedua, konsekuensi dari diskonsensus terhadap grand naration adalah paradigma berpikir paralogi bahwa setiap arsitektur dari beragam budaya memiliki logika berpikirnya sendiri-sendiri yang khas sehingga tak mungkin dapat disatukan dalam satu logika universal. 

Tak hanya bangunan tradisional, tapi elemen arsitektur oleh Vitruvius pun diakrabkan untuk mengakui kearsitekturan bangunan-bangunan di lingkungan kumuh, di pinggiran sungai, atau di daerah pedalaman yang tak terjangkau transportasi massa. Di sini cara pandang yang digunakan tidak lagi subyek-obyek, namun antara subyek dan obyek telah membaur dalam sebuah realitas yang kompleks, pejal, dan paradoks sehingga yang paling otoritatif untuk menilai sebuah bangunan untuk dikategorikan sebagai arsitektur atau hanya sekedar bangunan adalah pihak perancang dan penggunanya sendiri, bukan pihak luar. Para profesional hanya berperan sebatas mensistematikan kemudian mengejar abstraksi agar pakem-pakem arsitektur dari kaum yang dimarginalkan oleh modernisme dapat diangkat ke dalam tingkat ilmiah secara metodis berikut dengan teknik validasi yang digunakan untuk menjamin ‘kebenaran’ labelisasi yang diberikan. Jadilah pemahaman terhadap elemen arsitektur oleh Vitruvius bersifat relatif, serelatif definisi arsitektur itu sendiri yang selalu diredefenisikan sesuai pandangan-pandangan yang beragam dari berbagai budaya. 

Muncullah arsitektur-arsitektur lokal sebagai narasi-narasi menggantikan grand naration sehingga kategorisasi ketat yang dilakukan modernisme seketika runtuh. Dengan kata lain semua bangunan adalah arsitektur berdasarkan sudut pandang subyek perancang dan penggunanya. Tentu sebuah keadaan tanpa kategori adalah suatu absurditas yang akan menimbulkan kekacauan dan kebingungan karena bagaimana mungkin suatu karya anomin disamakan dengan karya sekelas maestro. Muncullah sintesa yang ingin mempertahankan kategorisasi namun mengakui pula beragam logika arsitektur yang saling berbeda yang kemudian mewujud dalam kategori arsitektur oleh profesional dan arsitektur oleh masyarakat sebagai jalan tengah untuk mendamaikan kedua kubu. 

Tentu saja para modernis yang telah bertransformasi tidak tinggal diam untuk tetap meng-ajeg-kan penafsiran elemen arsitektur oleh Vitruvius sesuai dengan alam modernitas dengan tujuan universalitas namun kali ini dengan cara-cara yang lebih santun. Paling mudahnya dengan slogan “think globally act locally”, tujuannya memang untuk tetap melakukan kategorisasi ketat antara arsitektur dan bukan arsitektur atas nama kemajuan bersama dengan cara melakukan kompromi pengakuan terhadap lokalitas namun dileburkan dan ditampilkan dalam wujud modernitas. Contoh yang mudah dapat ditemui pada Tower 101 di mana inspirasi akan lokalitas pagoda diakui namun dalam tipe, teknologi, dan wujud yang sesuai dengan tuntutan modernitas. Ide pagoda diabstraksikan hingga seakan hanya tinggal ide di alam ide-ide karena tak mewujud tegas dalam bentuknya. 

Oleh sebab tantangan dari modernisme-lanjut mendorong para post-modernis untuk tak hanya mengakui kearsitekturan yang diakui oleh modernis hanya sebatas bangunan, namun juga untuk memperkenalkannya ke tingkat global dan mendapatkan pengakuan luas. Slogannya yang sering terdengar adalah “think locally act globally”. Yang lokal tidak lagi puas dengan kelokalan dan keunikannya sebelum diakui oleh masyarakat global. Jadilah arsitektur tradisional yang dahulunya tak perlu pengakuan pihak luar terhadap label kearsitekturannya kini diperkenalkan ke seluruh belahan bumi agar keunikannya diketahui, diakui, dan kemudian sah menjadi arsitektur khas yang tak ditemui di belahan bumi lainnya. Begitu pula dengan arsitektur-arsitektur lokal lainnya. Alih-alih sibuk mengkaji, meresapi dan merenungi nilai-nilai yang unik, pada kenyataannya sibuk mencari pengakuan. 

***** 

Sering aku dapati pertanyaan, “Apakah Masjid Nabawi yang dibangun oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang berdinding tanah, bertiang pohon kurma, dan beratap pelepah kurma adalah sebuah arsitektur atau hanya sekedar bangunan?” Dari pertanyaan tersebut kemudian akan meniscayaan terjadinya perebutan penafsiran elemen arsitektur oleh Vitruvius dari kalangan penggiat Arsitektur Islam. Bangunan konsepnya didekonstruksi untuk dikaitkan dengan eksistensi Allah agar tak ateistik kemudian setiap elemennya ditafsirkan agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tujuannya tak lain untuk melegitimasi kearsitekturan Masjid Nabawi dan berbagai karya ‘arsitektur’ pada awal masa Peradaban Islam yang jelas-jelas bagi kalangan modernis hanya sekedar bangunan tanpa nilai lebih. 

Sebenarnya yang jauh lebih aku khawatirkan adalah kita mengikuti jalan para post-modernis yang ingin mendapatkan pengakuan global atas keunikan logika arsitektur yang dimiliki oleh tradisi Islam. Problematisnya walaupun logika unik yang bersumber dari tradisi Islam kemudian akan diakui dan memang telah diakui oleh banyak kalangan orientalis, namun dalam Arsitektur Islam memiliki dimensi keimanan yang tak semua pihak mampu dan ingin menjangkaunya kemudian menerimanya. 

Sebelum menyentuh pembahasan arsitektural Masjid Nabawi yang dibangun oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam terlebih dahulu haruslah ditetapkan status dan kedudukan pihak pembangunnnya apakah diimani sebagai seorang utusan Allah sekaligus manusia paripurna lagi maksum atau hanya sebatas manusia biasa yang memiliki konteks budaya, ruang, dan waktu tersendiri. Tentu saja penetapan status dan kedudukan pembangunan yang berbeda akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda dan pada akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan yang berbeda pula. 

Jika menetapkan status pembangunnya sebagaimana Islam menetapkannya tentu kesederhanaan dan keterbatasan tampilan fisik bangunan Masjid Nabawi pada masa awal dibangunnya menjadi penanda akan berbagai hikmah yang terdapat di baliknya sehingga akan memiliki korelasi antara mempelajari arsitektur Masjid Nabawi dengan peningkatan keimanan. Sedangkan penetapan status pembangunnnya tak lebih sebagai manusia yang ada dan mengada dalam dunia kehidupan, walaupun kemudian dapat dikejar makna-makna di balik wujud fisiknya namun menjadikannya hanya sekedar pengetahuan tanpa dimensi iman. Pada banyak kasusnya hanya akan mereduksi ‘arsitektur’ itu sendiri sebatas sebagai sebuah obyek karya buatan manusia yang beridentitas Muslim dan berada di wilayah pemerintahan Islam. 

Dalam iklim globalisasi yang kita sedang berada di dalamnya saat ini tentu tak dapat mencegah pihak luar yang liyan untuk mempelajari logika ‘arsitektur’ dalam tradisi Islam. Terlepas dari sudut pandang yang digunakan memang berbagai kajian tersebut telah menghasilkan banyak manfaat bagi kaum Muslimin. Namun penting pula untuk membentuk sudut pandang bagi peneliti dari kalangan Muslim agar berbagai pengetahuan yang dihasilkan dari pengkajiannya terhadap arsitektur sepanjang Peradaban Islam dibangun di atas iman sehingga mempelajarinya akan memiliki korelasi dengan peningkatan keimanan. 

Memang harus dipahami dengan diakuinya keberadaan narasi-narasi arsitektur yang berbeda akan menjadi masalah jika menggunakan sebuah kerangka teori maupun konsep yang sifatnya general untuk melegitimasi kearsitekturannya dibandingkan dengan merumuskan teori dan konsep yang bersifat ideografis berdasarkan keunikan logika yang dimiliki oleh masing-masing narasi. Sebelum beranjak pada kerja teoritis untuk menghasilkan sebuah bangunan teori yang kreatif dan orinisal tersebut, fenomenologi menawarkan sebuah solusi sekaligus permasalahan yang fundamental dan esensial untuk diselesaikan terlebih dahulu dengan kembali mempertanyakan “Apa itu arsitektur?”. Dalam kasus Masjid Nabawi di atas pertanyaan fundamen lainnya pun tak terelakkan, “Apa itu arsitektur dalam Peradaban Islam?” “Apa hubungan antara arsitektur, Islam, dan kaum Muslimin?” “Untuk apa arsitektur bagi kaum Muslimin dan perannya dalam skala peradaban?” 

Pertanyaan yang terkesan remeh untuk ditanggapi apalagi dipikirkan secara mendalam, namun tanpa pondasi filosofis yang kuat untuk merumuskan kerangka teoritik akan menjadikan berbagai konsep dan teoritis yang dibangun di atasnya akan rapuh dan tak stabil yang pada akhirnya akan berujung pada keabsahan legitimasi ke’arsitektur’an itu sendiri. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Jumadil Awal 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar