Sabtu, 01 Maret 2014

Kota Yang (ke)Sepi(an)

Kota yang sepi. Kenapa?
Kota yang ditinggalkan masyarakatnya. Kemana?
Tak kemana. Ia hanya dicerai ruang terbuka.
Kota yang kesepian.

Sebab hal ihwal perceraian kota dengan ruang terbuka tak ingin aku ungkap di artikel ini toh bukan rahasia lagi bahkan banyak pihak saling tuding. Maksud ingin menghilangkan pilu, kota mencari pasangan baru. Mencoba menjalin hubungan dekat dengan Mall, awalnya berjalan baik tapi harus berakhir di tengah jalan karena keegoisannya menjadikan kota hanya sebatas obyek perasan. Kota yang tak ingin putus asa mencoba kembali menjalin hubungan mesra, kali ini dengan bangunan perkantoran yang menjulang tinggi hingga ke langit. Tapi lagi-lagi harus menahan pahitnya hinaan karena begitu sombongnya menjadikan kota direndahkan serendah-rendahnya. Kota yang kembali sendiri, tanpa hak asuh anak menjadikannya sepi. 

Dalam artikel ini aku ingin berbincang tentang ruang terbuka yang kini menjanda. Yang dari rahimnya lahir masyarakat yang memasyarakat, yang diasupinya dengan udara dan diajarinya menjalin rajutan pengalaman dalam ruang bersama. Ruang terbuka adalah ibu bagi masyarakat yang berkelanjutan, pasangan terbaik baik kota yang ingin tampak muda hingga seabad kedepan. Sungguh tah habis pikir berbagai konflik dan intrik yang dipaksakan untuk memisahkan keduanya kemudian merusak keharmonisan keluarga kota. Katanya demi kehidupan yang lebih baik, walaupun tahu tak ada perceraian membawa kebaikan. Karena itu dalam artikel ini pun aku ingin berbincang tentang kota yang (ke)sepi(an).

Setiap perceraian pasti menghadirkan korban; anak-anak hasil pernikahan yang harus mengalami trauma sepanjang angan. Masyarakat kota, korban dari perceraian kedua orang tua yang (tak) dikehendaki. Masyarakat yang dahulu memasyarakat kini tercerai berai menjadi (sekedar) orang-orang. Tak lagi dalam identitas keluarga. Di-panti asuhan-kan dalam penjagaan ibu asuh yang asing tapi melenakan. Tentu dalam artikel ini pun aku ingin berbincang tentang masyarakat kota yang mulai kehilangan ingatan atas ayah dan ibu kandungnya. Anak yang di-yatim-kan dan di-piatu-kan oleh pihak ketiga yang sedang (mulai) lupa akan usul dan asalnya. 

*****

Rustan Hakim, seorang ahli arsitektur landscape mengkategorisasikan ruang terbuka menjadi ruang terbuka pasif dan ruang terbuka aktif. Mudahnya, ruang terbuka pasif memiliki fungsi ekologis sedangkan ruang terbuka aktif memiliki fungsi sosial. Dampak tersingkirnya bahkan menghilangnya ruang terbuka pasif dalam suatu kota akibat tergerus pembangunan yang tak beradab menyebabkan munculnya berbagai bencana alam. Banjir salah satunya yang telah akrab dan rutin datang setiap tahun di musim penghujan karena tak tersedia ruang bagi air untuk kembali ke dalam tanah. Lalu masyarakat pun harus diungsikan. 

Kota yang awalnya riuh dengan berbagai aktivitas mendadak sunyi senyap ditinggal masyarakat yang mengungsi dan termenung sedih di tempat pengungsiannya. Kota yang kesepian, begitu pula masyarakatnya. 

Dampak yang lebih mengerikan dari tersingkirnya ruang terbuka pasif disaksikan langsung oleh Ibnu Khaldun –semoga Allah merahmatinya- di Kota Fez yang mewakili daerah maghrib dan Kota Mesir yang mewakili daerah masyriq pada abad 14 masehi. Hilangnya ruang terbuka pasif akibat pembangunan fisik yang pesat tak terkontrol menjadikan kota hidup tanpa kemampuan menghasilkan udara bersih. Kepadatan kota yang tinggi dengan berbagai wujud keangkuhan arsitekturnya tak dapat menjadi penolong masyarakatnya dari kualitas udara yang buruk sehingga mudah berkembang berbagai wabah penyakit yang berakhir dengan angka kematian yang tinggi. 

Aku kutipkan nasihat dari Ibnu Khaldun –semoga Allah merahmatinya- agar semoga dapat diambil pelajaran, 
“Angka kematian di kota-kota yang dipenuhi bangunan seperti Mesir di masyriq dan Fez di maghrib lebih banyak dibandingkan di tempat lainnya”. 
“Penyebab banyaknya bau busuk dan kelembaban yang membahayakan adalah banyaknya dan sempurnanya pembangunan”. 
“Berjangkitnya wabah biasanya disebabkan oleh rusaknya udara akibat banyaknya pembangunan yang membuat banyak hal bercampur, baik bau busuk maupun kelembaban yang berbahaya”. 
“Jelaslah hikmah pentingnya ruang terbuka dan gurun yang tak berair di antara bangunan-bangunan. Ini sebuah keharusan agar udara dapat leluasa silih berganti menghilangkan kerusakan dan kebusukan yang terdapat di udara sehingga dapat mendatangkan udara yang sehat”. 
Kematian warga yang serempak dan tak berkesudahan menjadikan kota semakin sepi dan akhirnya seorang diri. Kota (bagi orang) mati. 

Tak terhitung dampak ekologis akan muncul seiring rusaknya ruang terbuka pasif, pun tak sedikit dampak sosial akan muncul seiring menghilangnya ruang terbuka aktif. Ruang terbuka aktif adalah ruang bertemu bagi warga kota, ruang berjumpa, ruang bercengkerama bersama, ruang berbagi kasih dan pandangan, atau sekedar ruang untuk menikmati terbenamnya matahari di ufuk sambil menikmati segelas teh hangat ditemani sebuah buku. Bagaikan denyut nadi, ruang terbuka aktif memastikan jantung kota terus berdenyut. Memutus nadinya sama saja mengakhiri riwayatnya. 

Kita harus jujur kualitas dan kuantitas ruang terbuka aktif di berbagai kota memang semakin menyedihkan. Pembangunan fisik yang hanya bertujuan ekonomi menumbuh suburkan praktek komersialisasi ruang. Ruang-ruang tak bernilai rupiah pun harus menyingkir, kemudian dipetakkan sebagai obyek komoditas. Alasan tingginya harga lahan menjadi pembenaran untuk membangun semaksimal mungkin tanpa menyisakan sejengkal pun ruang terbuka atas nama untung rugi materi. Bagi developer perumahan tentu jauh lebih menggiurkan memaksimalkan pembangunan unit rumah yang dapat menghasilkan keuntungan materi dibandingkan menyediakan lahan ruang bersama bagi penghuninya. 
“Ini bisnis bung, bukan pergerakan sosial. Apalagi pergerakan melawan pasar!” 
Wabah penyakit akibat hilangnya ruang terbuka aktif telah mencemari udara bahkan tanpa disadari telah banyak korban berjatuhan. Wabah penyakit yang tak terdeteksi bahkan tak dirasakan gejalanya. 

Mark Slouka mencoba mendeteksi penyakit akibat hilangnya ruang terbuka aktif di tengah komunitas masyarakat kota yang disebutnya dengan penyakit ‘kembali ke rumah’. Realitas yang dianggap telah rusak dan tercemar di sisi lain teknologi yang menawarkan kemampuan mengkonstruksi realitas maya yang ideal menjadikan warga kota lebih memilih untuk berada di dalam ruang-ruang pribadinya; rumah. Ketiadaan ruang bersama untuk saling bertegur sapa dan bercanda tergantikan dengan aktivitas chatting di sosial media, menikmati tontonan televisi dengan berbagai program penjelajahan alamnya yang entah berada di planet mana, atau menghabiskan waktu mendengarkan lagu sambil mengingat-ingat kenangan berkumpul bersama di pojok taman kota yang kini menjadi alas apartemen kalangan berada. 

Yasraf Amir Piliang telah jauh-jauh hari mengingatkan agar berhati-hati dengan kehadiran teknologi cyber yang dianggap oleh pecandunya mampu menggantikan ruang terbuka aktif di alam fisik dan dipercaya mampu menghadirkan realitas yang sempurna tanpa cacat dan penyakit. Perlahan-lahan warga kota akan kehilangan rasa kepemilikan terhadap ruang bersama dalam alam fisik. Tak ada lagi rasa perhatian apalagi keterikatan, bahkan tak mau tahu akan keberadaannya karena telah menemukan alam yang lain. Alam yang baru kata Allucquere Rosanne Stone. 

Betapa jauh jarak antara pecandu dunia maya dengan realitas sebenarnya, kata Slouka, sehingga berbagai aktivitas bersama yang sederhana di ruang terbuka bagaikan aktivitas yang menjemukan milik masyarakat romantisme yang tidak lagi relevan di zaman teknologi digital saat ini atau aktivitas yang eksotis milik masyarakat tribal yang hanya dapat ditemui di pelosok dunia yang tak mampu dijangkau oleh citraan satelit. Pun sudah kita temui generasi baru yang begitu bergairahnya bermain sepak bola di depan layar monitor dibandingkan menendang bola di tengah lapang, karena memang kini lapang telah menjadi sempit dan tentu saja teknologi menawarkan solusi permainan sepak bola tanpa cedera, keringat, dan nafas yang tersenggal-senggal. Dan yang terpenting tanpa perlu tanah lapang. Munculnya fenomena tersebut memancing Gregory Stock untuk menggerutu, 
“Sudah tak mengherankan apabila keterkaitan emosional antara manusia dengan lingkungan alamiahnya kini semakin rapuh. Suatu bagian pengalaman manusia yang kini semakin berkembang malah terjadi di alam yang sama sekali berbeda (realitas maya -pen)” 
Paul Virilio mungkin akan tersenyum lebar seiring bermunculannya fakta-fakta yang menguatkan tesisnya bahwa arsitektur telah mati karena masyarakat tak lagi peduli dengan dimensi fisik ruang di alam realitas. Terhanyut di dalam ruang arsitektur maya. Kehidupan kota ‘di luar’ menjadi sepi karena ramainya berpindah ‘ke dalam’. 

Warga kota yang merasa nyaman berada di dalam ruang-ruang pribadinya menjadikan kota seketika sepi. Denyutnya sangat lemah. Sebab hilangnya warga kota bukan mengungsi karena bencana alam, bukan pula bergeletakan menjadi mayat karena wabah penyakit, tapi warganya tengah sibuk berada di dunia baru yang tanpa bencana alam dan tanpa wabah penyakit yang mematikan. Kota yang diacuhkan warganya memang kota yang (ke)sepi(an). 

***** 

Menggunakan logika berpikir Mark Slouka aku ingin mengatakan, adalah kewarasan yang sederhana bagi kita untuk terikat dengan realitas fisik. Sejauh mana kesadaran dan keterikatan kita terhadapnya, sejauh itu pula kepedulian kita untuk menjaga hubungan yang harmonis antara kota dan ruang terbuka. Kata banyak orang, hanya anak yang dapat menjaga kebersamaan kedua orang tuanya. Tentu hanya jika kita berkeinginan untuk menjaga keutuhan keluarga. Keluarga kota yang berkelanjutan. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Yogyakarta pada Jumadil Awal 1435 Hijrah Nabi

2 komentar:

  1. bang andika..ijin reBlog..dgn tetap menyertakan sumber dan pengarang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mas Adam, semoga bisa dipetik faidahnya :)

      Hapus