Senin, 21 April 2014

'Berhalaisasi' Slide Presentasi

Perkembangan teknologi digital turut menyentuh bahkan menggedor dunia pendidikan hingga hal-hal terkecilnya harus tersentuh peran teknologi terkini guna mencitrakan visi pendidikan yang jauh ke depan, sehingga perlahan media pembelajaran manual harus angkat kaki. Saking dianggap pentingnya peran teknologi, bukan lagi substansi pendidikan yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak, tapi seperangkat teknologi yang dijadikan sebagai topeng agar tampak memukau, karenanya tak aneh jika dibanyak brosur institusi pendidikan lebih menonjolkan fasilitas teknologi yang dimiliki; wi-fi dengan kecepatan cahaya, lcd proyektor, absen sidik jari, bahkan e-learning yang katanya antara guru dan murid dapat saling berinteraksi dalam ruang dan waktu yang terpisah selama proses pembelajaran tanpa mengurangi makna pembelajaran yang didapat.


Bukan berarti aku seorang penganut Ludisme, anti perkembangan teknologi dan terjebak nostalgia akan zaman kapak batu. Tapi memang ada beberapa aspek dalam pendidikan yang tak patut dan tak dapat digantikan dengan teknologi digital yang pada akhirnya turut berkontribusi melahirkan lulusan yang tak mampu runut dalam nalar dan berpikir kontemplatif-kritis. Dari sekian banyaknya aku hanya hendak membincangkan bagian kecil saja darinya yang seakan sudah dianggap lumrah bahkan wajib.

Sejak beberapa tahun lalu masih deras arus gelombang gerakan semesta mengganti media manual dengan slide presentasi. Tak peduli apakah murid atau guru, apakah murid tingkat awal atau tingkat akhir, apakah guru yang telah berpuluh-puluh tahun atau guru yang baru beberapa hari mengabdikan diri di dunia pendidikan, tak terdapat pengecualian harus menggunakan dan menguasai media slide presentasi dalam proses pembelajaran. Guru yang tak mampu menggunakan media slide presentasi yang diklaim merepresentasikan semangat zaman teknologi digital secara serampangan dicap tak layak mengajar karena telah tertinggal dalam gerakan zaman yang telah lalu. Begitu pula ketidakmampuan murid menguasainya berakhir pada tuduhan ketidakmampuan guru memberi contoh, seperti kata peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Tetiba terjadilah gegar teknologi dalam proses pembelajaran akibat harus menerima dan menguasai teknologi digital dalam waktu cepat, sehingga tanpa waktu untuk merenung dan mensinergikannya dengan ‘cara lama’ yang telah mentradisi. Perlahan-lahan papan tulis tersingkir dan kehadirannya di kelas hanya sebatas formalitas sebagai penegas fungsi ruang. Fungsi pragmatisnya tergantikan menjadi fungsi simbolis. Tak lagi digunakan dan lebih sering papan tulis dalam penampakan yang bersih mengkilat, bahkan hingga akhir sesi pembelajaran selama semester.

*****

Pada puncaknya gegar teknologi dalam proses pembelajaran memunculkan fenomena ‘berhalaisasi’ slide presentasi. Slide presentasi dianggap lebih dari sekedar media oleh pemujanya, ia adalah memori artifisial yang perlahan menggerogoti ruang memori organis. ‘Cara lama’ berbekal papan tulis dan spidol yang sangat tergantung dengan ingatan guru setiap kalinya materi disampaikan tergantikan dengan slide presentasi yang mampu menyimpan dan menduplikasi materi hingga tak terbatas. Tak ada lagi kerja payah menghafal dan menjaga ingatan karena telah tergantikan dengan memori artifisial yang dimiliki slide presentasi, hingga manusia sekedar berperan sebagai desainer slide dan juru ‘klik’ papan keyboard untuk merubah tampilan dari satu slide ke slide berikutnya. 

‘Cara lama’ menjadikan sosok guru sebagai vocal point dalam proses pembelajaran. Murid dituntut untuk memperhatikan guru, kemana pun guru bergerak murid akan menyesuaikan fokus perhatiannya. Media papan tulis dan spidol yang digunakan pada hakikatnya tidak memiliki kuasa untuk mengambil alih peran guru karena media baru berarti dan berfungsi jika hadir sosok guru yang mampu memanfaatkannya. Sedangkan ‘berhalaisasi’ slide presentasi menggantikan sosok guru sebagai vocal point. Pada hakikatnya ketika slide presentasi ditayangkan ia bersifat otonom karena menampilkan materi dari ingatan artifisialnya, lepas dari ingatan guru, sehingga perhatian murid tidak lagi pada sosok guru tapi pada layar proyektor karena yang dibutuhkan murid adalah tampilan materi dan di sisi lain manusia tak dapat memfokuskan perhatiannya pada dua hal yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Murid harus memilih untuk memfokuskan perhatiannya pada slide presentasi atau guru, dan ironisnya tampilan slide presentasi yang dirancang semenarik mungkin dan ‘habis-habisan’ menjadikan murid lebih memilih untuk mencurahkan perhatiannya pada slide presentasi.

Dari sisi guru, ‘diberhalakannya’ slide presentasi menjadikan guru tak dapat melepaskan perhatiannya dari layar proyektor karena tergantung sepenuhnya dengan memori artifisial slide untuk menyampaikan materi. Tak jarang muncul perilaku guru hanya membaca materi yang ditayangkan pada slide presentasi. Suasana pembelajaran yang dingin karena tergantikannya kehangatan peran manusia dengan slide presentasi menjadikan proses pembelajaran terasa membosankan bagi kebanyakan murid. Murid tergoda untuk lebih memilih sibuk dengan urusan pribadinya dikarenakan tak ada lagi perhatian dan kontak mata yang intens dari guru yang tengah sibuk menatap ke arah layar proyektor dan berbincang sendiri dengan slide presentasi. Jadilah proses pembelajaran hanya prosesi formal memenuhi 75 persen kehadiran.

*****

‘Berhalaisasi’ slide presentasi turut pula menjadikan murid tidak memiliki kepekaan nalar dan akhirnya tidak mampu menalar dengan runut dan ketat. Guru yang menggunakan ‘cara lama’ dengan corat-coret berbekal papan tulis dan spidol sebenarnya tidak saja menyampaikan materi, namun juga menyampaikan proses penalaran yang digunakannya dalam memahami materi tersebut. Coretan demi coretan materi adalah langkah demi langkah penalaran yang digunakan oleh guru.

Dengan menggunakan ‘cara lama’, sebuah materi dengan langkah penalaran yang sama selalu ditampilkan secara berbeda setiap kali disampaikan. Tidak ada sajian yang sama persis, selalu dinamis, karena ‘cara lama’ selain menuntut penguasaan dan pemahaman akan materi juga selalu membuka ruang improvisasi untuk menyampaikan materi. Sebuah drama yang memiliki beragam alur cerita, open end, sangat hangat dan misterius. Tentu berbeda dengan ‘berhalaisasi’ slide presentasi yang menjadikan ruang improvisasi tertutup rapat karena slide presentasi menyajikan sebuah drama yang dingin, closed end, dengan kata lain drama yang dirasionalisasi hingga awal dan akhir telah ditentukan dengan ketat. Slide presentasi telah menentukan alur ceritanya sendiri, tanpa alur cerita alternatif.

Dengan slide presentasi, disadari maupun tidak, tengah terjadi reduksi peran guru sekaligus duplikasi sosok guruk yang reduktif. Dengan teknologi transfer data, sebuah slide presentasi dapat ditayangkan di berbagai tempat yang berbeda dalam waktu yang berbeda oleh orang yang berbeda. Yang diperlukan hanya kemampuan membaca agar dapat menyampaikan materi yang ditayangkan slide presentasi atau berperan hanya sebatas mode suara bagi slide presentasi. Bandingkan dengan ‘cara lama’ yang sangat menekankan kualitas pemahaman seseorang ketika akan menduplikasi materi untuk disampaikan di tempat dan waktu yang berbeda. 

Sekilas terlihat kelemahan ‘cara lama’ jika membandingkannya dengan kemampuan teknologis slide presentasi. Proses pembelajaran yang menggunakan ‘cara lama’ sebagai media untuk menyampaikan materi menjadikannya tidak secepat slide presentasi menayangkan materi secara kuantitatif dalam sebuah sesi pembelajaran. Dengan menggunakan ‘cara lama’ bisa jadi dalam satu sesi pembelajaran hanya mampu menyampaikan 1-2 poin pembahasan, sedangkan slide presentasi dengan memori artifisial dan tampilannya yang telah siap saji mampu menghadirkan berpuluh-puluh materi.

Keunggulan memori artifisial slide presentasi menggoda guru untuk menyimpan ingatannya akan materi pada slide sehingga aspek kuantitas slide tanpa disadar menjadi terus bertambah tanpa mempertimbangkan kemampuan murid untuk menyimak, memahami, dan merenungi materi slide presentasi yang ditampilkan dalam satu sesi pembelajaran. Hal inilah yang menjadikan ‘cara lama’ tidak dapat menggungguli bahkan menyamai kemampuan teknologi slide presentasi untuk menampilkan materi secara kuantitas dalam satu sesi pembelajaran. Namun, kelemahan kuantitas ‘cara lama’ ditutupinya dengan kelebihan kualitas materi yang disampaikan, sedangkan slide presentasi sebagai media otonom hanya menghadirkan materi sebatas permukaan tanpa kedalaman. Sebagai contoh seorang guru fenomenologi, Bapak Prof. Sudaryono, seringkali dalam 2 jam pembelajaran di kelas hanya dapat menjelaskan 1-2 poin pembahasan melalui diagram sederhana yang disajikannya melalui corat-coret di papan tulis. Setiap coretan beliau sampaikan dan terangkan secara perlahan, kemudian dilanjutkan dengan coretan berikutnya hingga menjadi sebuah diagram penuh. Tidak saja memahami materi, namun kami pun dituntun untuk memahami alur berpikir beliau melalui tahapan coretan-coretan hingga menjadi sebuah diagram penuh. Bagi banyak murid mungkin ‘cara lama’ seperti yang beliau gunakan sangat menjemukan dan lambat sebab telah terbiasa disuapi oleh slide presentasi hingga penuh bahkan muntah karena terlalu banyaknya materi yang diberikan dalam sekali waktu sesi pembelajaran. 

*****

Darimana aku memulainya? Aku mulai memikirkan dan merenungi fenomena ini sejak tahun 2009 silam setelah bertemu seorang guru yang seketika merubah pola pikirku walaupun belum merubah pola tindakku ketika itu. Beliau bernama Bapak I Nyoman Warnata. Pengajaran pertama yang aku dapatkan dari beliau adalah mempelajari buku Wastu Citra karya Y.B. Mangunwijaya dalam mata kuliah Apresiasi Arsitektur dan di kemudian semester beliau bersedia menjadi dosen pembimbingku dalam proses menyelesaikan tugas akhir. Hingga kini aku tetap mengambil ilmu dan terus mendulang inspirasi dari materi pengajaran yang beliau sampaikan.

Dengan percaya diri melawan arus, beliau tetap mengandalkan buku cetak, papan tulis, dan spidol dalam proses pembelajaran di kelas. Beliau meminta kami untuk bergantian menyampaikan setiap bab dari buku Wastu Citra, setelahnya mengajak kami berbincang bahkan diskusi alot. Beliau mencoba menuntun dan mengulur nalar kami melalui corat-coretnya di papan tulis seraya berkata “bagaimana jika begini?” “bagaimana jika tidak begini?” Ya seperti kebanyakan murid yang telah biasa dilayani teknologi digital tentu pada awalnya aku merasa canggung dengan metode yang beliau gunakan. Kami presentasi menggunakan slide presentasi, sedangkan beliau mondar mandir maju mundur di dalam kelas hanya bertemankan spidol papan. Pertarungan yang tak adil, tapi di kemudian hari aku merenungkan itulah momen di mana teknologi yang kami kuasai berhadapan dengan kemanusiaan yang sepenuhnya tergantung dengan ingatan organis. 

Mudah sekali metode pembelajaran yang beliau gunakan. Bahkan jika listrik padam sehingga artefak teknologi yang membutuhkan sumber daya memilih untuk menyerah dan padam, kelas yang beliau ampu akan tetap berjalan. Saat pembelajaran di dalam kelas, beliau akan membuat sebuah coretan kemudian meminta tanggapan kami. Setelahnya beliau akan melengkapi coretan tersebut atau membuat coretan lainnya yang berbeda dan kembali menanyakan tanggapan kami. Proses yang sama pun aku dapati ketika diskusi dengan beliau di luar kelas. Coretan demi coretan beliau sajikan sambil diterangkan dan didiskusikan. Disitulah aku mulai memahami setiap langkah corat-coret yang beliau lakukan menuntunku pada suatu penalaran, pada suatu permasalahan, pada suatu misteri. Ketika beliau mencorat-coret seakan pikiranku ikut memikirkan apa yang beliau coretkan, kemana arah penalaran yang di tuju. Semuanya, kesan itu, tak kudapati dan kurasakan melalui media slide presentasi yang berkesan dingin dan datar.

Semakin sering diskusi dengan beliau, semakin aku memahami media corat coret manual sebagai pemantik dan pengarah nalar untuk menjangkau level berpikir yang lebih tinggi. Hingga di suatu waktu beliau merubah metodenya dengan mengajakku mencorat coret di atas kertas yang sama. Corat-coretan kami saling tumpang tindih, tumpuk menumpuk. Saling kritik, saling melengkapi, saling terbuka dengan gagasan kami masing-masing untuk dapat saling dipahami. Metode pembelajaran yang sangat imajinatif, sehingga begitu sering diskusi yang kami lakukan berakhir dengan kesimpulan, “nah itu dia pertanyaannya!”.

Beberapa catatan diskusi dengan Bapak I Nyoman Warnata

*****

Kalaulah layak dan tidak layaknya seorang guru mengajar diukur dari kemampuannya menggunakan dan menguasai media digital, maka akan banyak guru hebat yang seketika dicap tidak layak mengajar. Sebagaimana Bapak I Nyoman Warnata yang tidak pernah mengajar menggunakan media slide presentasi. Di tengah kemajuan teknologi di saat manusia tengah sibuk mempersiapkan kepergiannya ke Mars, beliau tetap setia dengan papan tulis, spidol, kertas kosong, dan bolpoin.

Sekali lagi, bukanku anti slide presentasi dan bukan pula aku sepenuhnya berpihak dengan ‘cara-cara lama’, tapi antara keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Aku meyakini dan merasakan ‘cara lama’ masih tak dapat digantikan dengan teknologi digital, paling tidak untuk sepenuhnya, karena tak menutup mata kemajuan teknologi digital sangat membantu proses pembelajaran jika dapat digunakan dengan tepat, seperti untuk menampilkan data, gambar, foto, dan video. Di zaman ini sinergi keduanya adalah yang terbaik, terlebih dalam pendidikan arsitektur yang sangat membutuhkan penampilan visual, sehingga proses pembelajaran yang disajikan tidak saja merangsang daya nalar namun juga estetis. Hingga sebenarnya dengan mensinergikan antara kemampuan manusia dengan kemajuan teknologi, kita sebagai manusia dapat mengukuhkan dan mengokohkan posisi kemanusiaan kita di tengah rimba teknologi yang tengah kita ciptakan sendiri untuk menyelami kedalaman dan meninggalkan permukaan teknologis yang tanpa rasa dan ekspresi. 

Jika menafsir menggunakan gagasan Don Ihde dalam post-fenomenologi atau yang dikenal juga dengan fenomenologi instrumental, slide presentasi sebagai artefak teknologi digital tak layak diposisikan sebagai teknologi yang menubuh dalam diri manusia (embodied) yang kemudian memunculkan fenomena ‘berhalaisasi’ slide presentasi di mana teknologi mempengaruhi kemampuan manusia untuk eksis di ruang realitas. Tak ada slide presentasi berarti tak ada proses pembelajaran. Slide presentasi adalah teknologi yang liyan (the other), tidak secara otonom mempengaruhi proses pembelajaran. Slide presentasi hanya sekedar media yang suatu waktu dibutuhkan dan suatu waktu lainnya pun tidak dibutuhkan. Manusia-lah yang memutuskan keberadaannya, bukan sebaliknya sebagaimana fenomena ‘berhalaisasi’ slide presentasi.

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Kartosuro pada Jumadil Akhir 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar