Sabtu, 05 April 2014

Dunia Yang (Tak) Sempurna

Dunia yang tengah kita mukimi kini telah menjadi tua dan akan terus menua hingga pada akhirnya mati. Berbagai penyakit masa tua telah mendatangi dan menggerogoti jasadnya; kerusakan alam, peperangan demi peperangan yang tak kunjung tampak klimaksnya, hingga kemiskinan dan kebodohan dalam skala global. Pendek kata dunia kita tengah sakit parah yang menjadikan jasadnya ringkih. Sakit yang tak hanya karena usia, tapi bagaikan orang tua lanjut usia melihat anak-anak yang diharapkan akan merawatnya di masa tua ternyata menelantarkan sambil terus menghamburkan harta hasil kerja keras di masa mudanya. Dunia yang semakin cepat menua oleh sebab kelakuan penghuninya.


Manusia tentu mengambil sikap. Kemana lagi harus bermukim karena hingga kini tak kunjung jelas kesiapan membangun peradaban baru di Mars atau paling dekat di bulan. Mau tak mau manusia tetap akan berada di bumi mendiami lingkungan yang tengah dalam proses kematiannya, paling tidak untuk beberapa waktu ke depan. Sebagian golongan manusia optimis menyelamatkan dunia dari kerusakan dan bergegas menyadarkan khalayak agar turut turun tangan menghijaukan lingkungan, mengurangi tingkat polusi, mengkonsumsi SDA dengan bijak, menggunakan energi ramah lingkungan, pengentasan kemiskinan dan kebodohan, mengajak kepada jalan Allah, dan sederet pemikiran serta aksi lainnya yang pada intinya berupaya menjadikan dunia sebagai tempat hidup dan berkehidupan yang kembali aman, nyaman dan sehat. Tentu banyak pula manusia yang acuh tak acuh semasih perut terisi dan rokok mengepul. Dan banyaknya manusia yang tidak mendapatkan pendidikan layak maupun informasi memadai sehingga ketidaktahuan menjadikannya tanpa aksi.

Kali ini kita tak akan membicarakan mereka karena sudah terlampau banyak pembahasan tentangnya. Yang menjadi perhatianku adalah segolongan manusia lainnya yang dengan penuh percaya diri dan intelektualitas menyodorkan solusi untuk mengkonstruksi dunia alternatif, dunia yang baru, dunia yang sehat tanpa penyakit, dunia yang berlimpah akan kesenangan. Dunia ini, realitas ini, tidak hanya sakit tapi juga memuakkan dan kontradiktif bagi mereka, karenanya tak dapat ditawar lagi kehadiran dunia yang jauh lebih baik. Dunia yang sempurna di mana tak lagi dijumpai gerombolan pengendara motor berpakaian hijau lengkap dengan surban dan peci dan membawa bendera bergambarkan Ka’bah tapi memacetkan jalan dengan suara raungan knalpotnya sambil meneriaki para pengendara lain agar memberi jalan bak seorang raja. 

Sekilas kita akan menilai mereka sedang bercanda atau sekedar orasi menumpahkan segala bentuk kekecewaan terpendam. Tapi sayangnya kita salah mengira, Mark Slouka pun pernah salah mengira, karena mereka yang mayoritasnya adalah para maniak teknologi canggih sekaligus para ilmuwan tidak sedang berucap omong kosong. Mereka tengah berupaya mewujudkan nyata celotehannya dengan dukungan dari berbagai instansi yang menyediakan laboratorium kelas wahid serta kucuran modal tanpa batas. Kita bisa jadi mengatakan mereka adalah sekelompok ilmuwan gila, atau anak-anak yang terlampau imajinatif, tapi suka tidak suka perlahan-lahan apa yang diimpikan mereka pun mulai hadir di depan mata kita, paling tidak untuk saat ini melalui sebuah pancaran sinar monitor. Dunia virtual.

Di tengah berbagai cercaan seakan-akan mereka tak peduli sambil terus bereksperimen tanpa henti. Mereka yang disebut oleh Mark Slouka sebagai technoevangelis yang bagaikan seorang pendeta membawa kabar keselamatan kepada umat manusia atau yang dikatakan oleh Mazlish sebagai manusia yang ingin berperan bagaikan malaikat jika bukan Tuhan atau yang dikatakan oleh Yasraf Amir Piliang sebagai net-religionist yaitu mereka yang telah menjadikan teknologi virtual sebagai agama dan mengimaninya sehingga berkeyakinan bahwa teknologi adalah satu-satunya solusi bagi manusia untuk dapat menyelamatkan eksistensinya serta keluar dari berbagai permasalahan hidup yang pelik dan memuakkan. Masa depan umat manusia bukanlah di dunia realitas yang tengah sakit, melainkan di dalam dunia virtual.

*****

Menulis artikel ini mengingatkanku pada sebuah film yang disutradarai oleh Joseph Kosinski berjudul Tron: Legacy yang dirilis tahun 2010 silam sebagai kelanjutan seri pertamanya yang berjudul Tron pada tahun 1982. Dialurkan seorang ayah bernama Kevin Flynn yang sedang bercerita menjelang tidur kepada anaknya bernama Sam Flynn akan dunia virtual yang sedang dikonstruksikannya. Kevin Flynn yang seorang perancang video game terkemuka dan pemilik perusahaan game Encom menduplikasi dirinya sendiri dalam wujud program digital yang dinamakannya Clu dan Tron untuk mengkonstruksi sebuah dunia dengan sistem yang sempurna tanpa cacat dan celah.

Tron: Legacy, sebuah impian akan dunia yang sempurna

Tiba-tiba keesokan harinya Sam Flynn tak lagi bertemu dengan ayahnya hingga 20 tahun ke depan. Ayahnya yang pada malam sebelumnya masih hadir dalam ruang kamarnya di dunia realitas mendadak hilang lenyap tanpa ada yang mengetahui keberadaannya. Kemana gerangan?

Hingga suatu hari seorang sahabat ayah Sam bernama Alan Bardley sekaligus yang mengasuhnya sejak hari kehilangan itu mengabarkan telah menerima sebuah pesan dari ayahnya. Alan pun bercerita kepada Sam bahwa sebelum ayahnya menghilang, ia berkata “aku telah berhasil meretas”. Entah apa yang diretasnya tak dijelaskan pada alur cerita film tapi bisa dikira-kira ketika Alan meminta Sam untuk mengunjungi tempat ayahnya dahulu bekerja. Singkat cerita Sam menemukan ruang rahasia tempat ayahnya bekerja yang dipenuhi dengan perangkat komputer canggih yang telah berdebu tapi masih aktif yang kemudian membawanya memasuki dunia virtual hasil rancangan sang ayah. Bisa jadi yang dimaksud oleh Kevin ‘berhasil meretas’ adalah meretas batas antara dunia realitas dengan dunia virtual yang hingga masa kini masih menjadi PR bagi para ilmuwan digerati. 

Dunia virtual yang dirancang oleh Kevin Flynn tentu melebihi bayangan Jean Baudrillard yang pada masanya dinikmati melalui layar monitor, dan hingga hari ini pun masih dalam tahap ini. Dunia alternatif yang tidak lagi dinikmati melalui layar televisi, monitor komputer, atau proyektor, tapi pengguna (user) dapat memasuki ruang virtual secara harfiah melalui seperangkat teknologi. Keniscayaan yang terbuka karena perkembangan ilmu pengetahuan ilmiah tidak didasarkan pada “apa yang patut” tapi “apa yang mungkin”. Kemungkinan itu yang coba didobrak oleh Kevin Flynn. Sebuah dunia virtual dengan tatanan masyarakat cyber yang tampak aman, sejahtera, dan modis.

Konstruksi dunia virtual yang super realis

Tron: Legacy adalah sebuah film yang sangat pelik karena menghadirkan Kevin dan Sam di antah berantah hutan program. Berkali-kali Sam mengatakan “Aku bukan program, aku manusia”. Dunia di mana realitas dan ilusi, antara yang nyata dan yang maya bercampur baur dan saling berkelindan. Dunia simulai yang hiper realitas kata Jean Baudrillard, dunia yang selalu ingin menjadi lebih real dibandingkan realitas itu sendiri, dunia super realitas. “Untuk apa dunia seperti ini, ayah?” Dengan tampak bijak Kevin yang telah bertemu kembali dengan Sam di dunia virtual mengatakan, “Inilah dunia yang penuh harapan. Dengan eksisnya dunia ini (dunia virtual) kita harus mempertanyakan kembali filosofi, agama, ilmu pengetahuan, dan keberadaan kita.

Sam setelah memasuki dunia virtual kemudian tertangkap oleh tentara Clu dan diharuskan menjalani pertarungan sebagai hukuman memasuki dunia virtual tanpa identitas. Sampailah pada babak pertarungan lightcycle yang memaksanya berhadapan dengan Rizler, yaitu Tron sebagai duplikasi Kevin yang telah diprogram ulang oleh Clu. Program yang mampu memprogram ulang program lainnya. Hingga tiba-tiba sesosok program yang tak dikenal memasuki arena pertarungan dan menyelamatkan Sam. Quorra namanya adalah program rancangan Kevin yang memiliki wujud seorang wanita yang pada pandangan pertama tentu menarik bagi Sam. Di sinilah yang ingin dimaksudkan oleh Kevin bahwa keberadaan manusia harus kembali dipertanyakan karena pada alur adegannya diceritakan seorang manusia yang hidupnya hampir saja terenggut oleh program tapi diselamatkan pula oleh program. Di mana kemudian posisi manusia di tengah program-program? Manusia mengkonstruksi program kemudian program menguasai hidup manusia.

Sam yang ingin hidup bersama dengan ayahnya di dunia realitas terus mendesak untuk keluar dari dunia yang ilusif. Sayangnya pintu masuk bukanlah pintu keluar, hanya sebuah portal jauh di sana yang dapat mengeluarkan mereka. Adegan demi adegan hingga film berakhir menceritakan perjuangan Kevin, Sam, dan Quorra menuju portal sambil terus menghindari kejaran Clu dan para tentaranya. Mulai tampak penyesalan di wajah Kevin bahwa dunia yang ingin diciptakannya sesempurna mungkin ternyata sangat tidak stabil bagi manusia. Dunia yang begitu rapuh melebihi rapuhnya dunia realitas. Terungkap dari dialognya dengan Clu,
“Bukankah engkau yang memerintahkanku untuk menciptakan sistem yang sempurna?!”
“Ya, tapi kini aku baru memahami bahwa kelemahan dari sistem yang sempurna adalah tidak dapat dikontrol”.
Kevin pun memilih untuk mengorbankan diri agar anaknya dapat kembali ke dunia realitas sekalipun harus meluluh lantakkan dunia virtual yang diimpikannya. Pengorbanan sang ayah. Di akhir film seperti tak ingin berhenti memberikan kejutan, Quorra yang ikut bersama Sam memasuki portal dapat mewujud menjadi manusia di dunia realitas. Kurang canggih apa lagi yang dihadirkan film ini, dari manusia yang mampu berpindah antar ruang dunia hingga sebuah program yang dapat memasuki dunia realitas dan mewujud manusia. Tentu seakan-akan tampak konyol dan menggelitik, begitu pula Mark Slouka menduga pada awalnya wacana sinting seperti ini hingga kemudian ia menyadari betapa seriusnya para technoevangelis mewujudkan nyata dagelan sinting tak dapat dinalar layaknya Tron: Legacy.

*****

Quorra tampak senang dan takjub hadir di dunia realitas. Sambil dibonceng oleh Sam di atas sepeda motor Ducati milik ayahnya mereka melintasi jalanan sambil menikmati terpaan sinar matahari pagi dan hamparan pepohonan hijau yang tersapu ditiup angin. Hal-hal yang sering dianggap remeh temeh sehingga jarang kita sadari kebermaknaannya bagi kehidupan, tapi hanya akan kita jumpai di dunia realitas. Karena manusia begitu cepat lupa dan selalu ingin lupa, hingga kita pun lupa mengingat Allah melalui ciptaan-Nya di saat kita berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. 
Sam Flyyn dan Quorra di dunia virtual (atas) dan di dunia realitas (bawah)

Bahkan merasakan sinar matahari pagi menyapu kulit pun tak lagi kita maknai sebagai nikmat dari Allah, hanya sekedar fenomena alam yang telah menjadi laten. Dunia yang kita diami ini memang bukanlah dunia yang sempurna karena pada hakikatnya hanyalah dunia cobaan bagi manusia; hendak menuju kemana dirinya. Tentu tanpa kesulitan bagi Allah akan dapat menjadikan dunia realitas ini sebagai dunia yang sempurna, tapi cobaan tentu membutuhkan tingkat kesulitan dan kadang kebingungan. Sebuah kewajaran yang harus dimaklumi hidup di dunia yang tak sempurna dan kontradiktif karena hanya di dunia tak sempurna seperti inilah baru akan dipahami makna keberadaan manusia sebagai hamba Allah sekaligus wakil Allah.

Semoga ketidaksempurnaan dunia ini dan ketidaksempurnaan manusia sebagai makhluq tak menjadikan kita menutup mata, menyumpal telinga, dan membungkam mulut atas kesempurnaan syariat Allah yang diturunkan-Nya sebagai jalan untuk menuju-Nya. Sebuah jalan yang disediakan-Nya untuk menuju kesempurnaan. Hanya Dia-lah Yang Maha Sempurna dan pemilik segala kesempurnaan.
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Jumadil Akhir 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar