Jumat, 02 Mei 2014

Kebermaknaan Rombong Sate

Pada tanggal 27 April 2014 saat memasuki waktu isya, di depan rumah dinas bapak di daerah Colomadu, Kartasura, lewat seorang pedagang sate dengan rombong yang dikayuh diiringi suara ‘kencrengannya’ yang khas. Kalau tidak salah menghitung, ini adalah pedagang sate ketiga yang lewat sejak memasuki waktu maghrib. Apa boleh buat karena perut pun tak lagi mau kompromi, sate ayam menjadi menu santapan malam kami.

Saat aku berjalan ke dapur sambil melihat ke arah pintu masuk terlihat rombong sate yang sekilas berbentuk seperti perahu. Tiba-tiba aku hentikan langkah, diam sejenak, bisa jadi karena rasa ingin tahu mengetuk disela rasa lapar untuk dicarikan jawabannya. Segera dan spontan saja aku berkenalan dengan mas pedagang sate dan berbagi cerita kira-kira selama 20 menit hingga seluruh sate yang kami pesan siap dihidangkan. Dari logatnya ia memang asli Madura, dan beberapa kali di antara Bahasa Jawa Timuran yang digunakannya terselip kosakata khas Madura.

Tak disangka ia –yang aku lupa tanyakan namanya- telah sejak lulus kelas 3 SD merantau ke Kartasura untuk berdagang sate, tepatnya tahun 2002 katanya sambil mengingat-ingat agar pasti. Alasan yang klise karena berasal dari keluarga tak mampu sehingga harus putus sekolah dan mencari penghidupan sendiri. Syukur-syukur kalau penghasilan yang didapatkan dapat membantu keluarga di kampung. Awalnya ia belajar berdagang sate dan meracik sate dari seorang sesepuh pedagang sate asli Madura di Kartasura pemilik nama Pak Hasan yang kini telah meninggal. Dari pembicaraan kami, ia sangat menyanjung Pak Hasan sebagai pribadi yang telah mendidiknya sekaligus membuka pintu bagi warga Madura lainnya untuk berkiprah berdagang sate di Kartasura. Paling tidak begitulah ia dengan semangatnya bercerita kepadaku mengenai sosok Pak Hasan yang diikuti dengan beberapa sosok pedagang sate asli Madura di Kartasura pada periode setelahnya yang telah menunai jerih payah dari usahanya berdagang. Dari nama-nama yang disebutkannya pun banyak yang telah bergelar Haji. Memang mereka telah menuai jerih payah usahanya setelah sebelumnya kita mengenal tukang bubur naik haji.

Lagi-lagi ia tak dapat mengingat pasti. Mungkin kira-kira sekitar tahun 1985 Pak Hasan mulai merintis usahanya berdagang sate di Kartasura. Di awali dengan memikul dagangannya, kemudian beralih dengan menggunakan gerobak dorong, dan terakhir menggunakan gerobak kayuh sebelum berdagang menetap membuka kedai sate yang kini diwarisi dan diteruskan oleh anak keturunan. Perkembangan di masa kekinian bagi pedagang sate keliling asli Madura di Kartasura yang belum mampu membuka kedai sate tapi memiliki pendapatan yang cukup baik mulai beralih menggunakan gerobak motor untuk menggantikan gerobak kayuh, sehingga jangkauan jarak untuk berdagang menjadi lebih jauh. Pada akhirnya keda sate adalah impian bagi semua pedagang sate asli Madura di Kartasura, dengan suara dan wajah yang sangat optimis ia bertutur kepadaku.

Rombong sate yang memiliki bentuk menyerupai kapal

Membincangkan gerobak sate yang bentuknya menyerupai kapal pun tak ia melepaskan dari peran Pak Hasan yang dikatakan olehnya sebagai orang pertama di Kartasura yang memperkenalkan bentuk gerobak kapal yang hingga kini tetap lestari dan menjadi penanda bagi identitas bagi pedagang sate keliling asli Madura di Kartasura. Identitas diperlukan untuk membedakan diri dan komunitas dari diri dan komunitas lainnya sekaligus untuk memupuk rasa solidaritas dan persatuan antar anggota komunitas, dalam hal ini identitas yang melekat pada rombong sate. Kaitan ini aku coba telusuri dari penuturan-penuturannya tentang kiprah pedagang sate asli Ponorogo dan asli Padang di Kartasura yang bersaing sengit dengan pedagang sate asli Madura dan ceritanya berakhir pada klimaks superioritas para pedagang sate asli Madura. Dengan kata lain, rombong sate berbentuk kapal merupakan identitas yang menyatukan pedagang sate keliling asli Madura di Kartasura untuk membedakannya dengan pedagang sate dari daerah lain. 

Diselingi dengan obrolan ‘resep rahasia’ bumbu sate asli Madura dan tradisi sate di Madura, aku mencoba mengarahkan kembali obrolan kami ke permasalahan bentuk rombong sate yang telah mengkristal dalam persepsinya sebagai penanda identitas diri. Kenapa bentuknya menyerupai kapal? Ada apa dengan bentuk itu? Kenapa bentuk itu dipilih? Adakah makna yang melekat pada bentuknya? Tampaknya memang harus sangat perlahan, terlebih mengejar jawaban hingga menembus empiri transedental pada waktu yang relatif singkat adalah sulit dilakukan. Karenanya pemaparan ini pun belum melalui triangulasi data untuk menjamin validitasnya, sehingga hanya sebatas hipotesis kerja dan premis-premis yang ditarik darinya adalah ‘bracketing’ di tengah keterbatasan data yang masih sangat pejal dan belum mencapai titik jenuh. 

“Nenek moyang kami adalah pelaut tangguh. Bukan saja pelaut, tapi nenek moyang kami juga pembuat kapal”, kira-kira begitu ia mengungkapkan dengan nada mantap. Dipilihnya bentuk rombong menyerupai kapal sangat terkait dengan identitas kediriannya sebagai orang Madura yang memiliki nenek moyang seorang pelaut sekaligus pembuat kapal yang handal. Bentuk yang menyimpan identitas di dalamnya, bukan hanya sekedar bentuk dengan petanda kosong atau sekedar makna konotasi yang asal sebatas permukaan. Sangat dalam, sangat menyentuh.

Dari penuturannya, bentuk rombong sate yang menyerupai kapal tidak saja mengingatkan dirinya akan identitas nenek moyang, tapi juga akan kampung halaman yang telah lama ditinggalkan demi meraih penghidupan yang lebih baik. Profesi yang ditekuninya, dengan penghasilan yang tak seberapa, hingga harus tinggal di rumah kos yang sangat sederhana katanya, menjadikannya tak dapat sesering waktu kembali ke tanah Madura sekedar untuk menyapa keluarga dan saudara. Ada kerinduan akan kampung halaman, akan keluarga, akan kawan-kawan yang tersirat dari rombong yang dibuatnya seorang diri dari hasil pendapatannya berdagang di terminal Kartasura pada masa awal. Bentuk rombong sate yang tidak sekedar menjadi tumpuan akan harapan kehidupan yang lebih baik.
“Selalu saya usahakan pulang ke Madura, paling tidak setahun sekali saat lebaran.”
“Sekarang ke Madura kan bisa lewat Suramadu mas, tidak perlu lagi naik kapal.”
“Iya mas, tapi bagi kami orang Madura, kapal tetap lebih penting daripada Suramadu. Sudah turun temurun nenek moyang orang Madura itu pelaut. Tapi ya memang sekarang kalau saya pulang ke Madura naik bus lewat Suramadu.”
Rombong yang sudah mulai lusuh, dengan penyok di beberapa bagiannya, dan karatan pada rangka sepeda di belakangnya, adalah sebuah ruang ingatan bagi pemiliknya. Betapa banyak pedagang sate asli Madura di Kartasura yang tetap menjaga rapi ingatan akan identitas diri dan komunitas, identitas nenek moyang, dan kampung kelahirannya dalam wujud rombong sate berbentuk kapal. Karena ingatan manusia memang terlampau lemah, sehingga memerlukan kaitan di luar dirinya untuk menguatkan dan menstabilkan strukturnya. Sebuah artefak yang bermakna, sebuah rombong sate. 

*****

Setelah menyantap menu hidangan sate ayam, aku merenungi kembali setiap penggal demi penggal perkataan mas pedagang sate tadi. Mundur ke belakang, tepat pada pagi hari sebelum bertemu dengan mas pedagang sate, aku sekeluarga mengunjungi Candi Borobudur. Apa hubungannya? Entahlah, tetiba saja aku teringat dengan Kapal Samudraraksa yang dipajang di salah satu museum di kompleks Candi Borobudur. Aku kira akan menemukan keterkaitan antara keduanya, paling tidak aku mencoba.

Samudraraksa, atau yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Guardian of Ocean, adalah sebuah kapal kayu berlayar ganda yang dilengkapi dengan cadik ganda. Awal mula kisah berawal dari seorang mantan Angkatan Laut Inggris bernama Philip Beale yang mengunjungi Candi Borobudur dan terkagum ketika melihat sebuah relief bergambar kapal di salah satu sisi candi. Apakah bangsa Indonesia pada masa lalu benar-benar seorang pelaut? Jika benar, seberapa tangguhnya mereka mengarungi lautan? Begitulah pertanyaan yang ingin ia cari jawabannya melalui berbagai literatur dan narasumber setelah kembali ke negaranya.

Hingga beberapa tahun kemudian ia sampai pada kesimpulan bangsa Indonesia pada masa ribuan tahun lalu telah mampu mengarungi samudra berbekal kapal kayu berlayar ganda untuk mengadakan perjalanan perdagangan kayu manis ke Madagaskar dan Afrika. Ia bertekad untuk mengulangi kembali kisah mengarungi samudra menggunakan replika kapal yang tergambarkan di relief Borobudur. Tentu naluri sebagai seorang pelaut yang membuatnya menggebu-gebu dan menguatkan tekad. Walaupun dirasa betapa sulit dan hampir tidak mungkin membangun sebuah perahu kayu tradisional dengan spesifikasi untuk mengarungi samudra hanya berbekal gambar relief candi. Mencoba realistis, ia mengajak rekan bernama Nick Burningham yang merupakan seorang arsitek kapal berkebangsaan Australia. Tapi siapa yang mampu membangun kapal kayu tradisional berlayar ganda di awal milenium baru ini?

Sampailah ia bertemu dengan seorang nelayan sekaligus pembuat kapal kayu tradisional bernama As’ad Abdullah. Coba tebak, ia adalah pria kelahiran Sumenep, Madura, yang telah turun temurun dari nenek moyangnya mewarisi kemampuan membuat kapal kayu tradisional yang mampu mengarungi ganasnya samudra. Sekilas profilnya mengingatkanku pada mas pedagang sate dengan bentuk gerobak satenya yang menyerupai kapal. Dan di sinilah hubungan antara keduanya; rombong sate berbentuk kapal dengan tradisi melaut dan membuat kapal di kalangan masyarakat asli Madura. Jelas saja citra tentang laut dan kapal telah mengkristal di benak mas pedagang sate yang tak tergantikan dan tak tergoyahkan dengan hebatnya citra Jembatan Suramadu yang lebih dibanggakan oleh bangsa Indonesia pada umumnya. Tapi tentu tidak bagi mas pedagang sate, dan aku kira tidak pula bagi As’ad Abdullah.

Kapal Samudraraksa terasa sangat besar bagiku untuk ukuran sebuah kapal kayu tradisional, sebagaimana yang dipajang di Museum Samudraraksa, Kompleks Candi Bodobudur. Sangat memukau, sangat besar, kokoh, dan berotot, walaupun berasal dari kualitas sekunder yang aku rasakan karena spesifikasi kualitas primernya tak mampu aku ingat ketika menuliskan artikel ini. Dan tentu tak dapat aku bandingkan dengan Perahu Pinisi karena belum pernah secara langsung melihat dan merasakan dalam skala sebenarnya, sehingga hingga saat menuliskan artikel ini Kapal Samudraraksa adalah kapal kayu tradisional terbesar yang pernah aku saksikan dan rasakan secara langsung.

Kapal Samudraraksa dibuat dengan menggunakan bahan dan teknik tradisional, tanpa menggunakan alat berat layaknya galangan kapal modern. Di ruang-ruang Museum Samudraraksa di kompleks Candi Borobudur ditunjukkan berbagai alat, bahan, dan teknik tradisional yang digunakan dalam pembuatan Kapal Samudraraksa berikut dengan tahapan-tahapan pembuatannya serta prosesi ritual yang dilakukan di sela-sela tahapan kerja yang dilalui. Tentu bagi Nick Burningham yang merupakan arsitek kapal modern, teknik sambungan dengan sistem pasak dan ikatan membuatnya ragu akan kekuatan Samudraraksa untuk mengarungi samudra. Terlebih untuk menentukan keseimbangan Samudraraksa dilakukan secara manual oleh As’ad Abdullah, tanpa bantunan teknologi canggih. Beginilah kekuatan tradisi orang asli Madura dalam membuat kapal yang tangguh untuk mengarungi samudra. Seakan cetak biru dan teknik desain perkapalan telah built-in tertanam dalam diri mereka. 

Kondisi ini tidak mudah bagi awak kapal yang banyak darinya adalah ‘orang metropolis’ yang telah terbiasa memanfaatkan teknologi terkini untuk mengatasi dan mengarungi alam. Keraguan di antara mereka tak berkurang dengan As’ad Abdullah sendiri sebagai kepala teknik sepanjang perjalanan mengarungi samudra menuju Madagaskar dan dilanjutkan ke Pantai Barat Afrika dan berakhir di Ghana yang dimulai pada tanggal 15 Agustus 2003 dan berakhir pada tanggal 23 Februari 2004, setelah sebelumnya diperlukan waktu hanya 6 bulan untuk membuat kapal sebesar Samudraraksa, yaitu dari tanggal 20 Januari 2003 hingga tanggal 26 Mei 2003.

Kapal Samudraraksa yang tengah mengarungi samudra

Keraguan dari awak kapal ditanggapi oleh As’ad Abdullah dengan perkataannya,
“Sebuah kapal memang dibuat tidak sempurnya. Kesempurnaan diraihnya ketika mengarungi lautan”.
Dengan kata lain bertaruh sepenuhnya kepada kemampuan para pembuat Kapal Samudraraksa yang telah mentradisi, menubuh, dan menjadi sistem budaya mereka. Tak berlebihan jika di antara keduanya memiliki kesamaan. Rombong sate berbentuk kapal yang baru pertama kalinya aku lihat sebagaimana Kapal Samudraraksa, memang dari segi teknisnya tak sempurna, bahkan terkesan reot. Kesempurnaan memang tidak terpancar dari bentuknya yang tentu saja dikarenakan keterbatasan dana yang dimiliki. Kesempurnaannya secara pragmatis dicapai melalui kehidupan ekonomi pemiliknya yang semakin membaik dan secara simbolis dicapai melalui terjaganya ingatan akan tanah kelahiran, tradisi, dan identitas akan komunitas dan nenek moyang.

*****

Berbincang dengan mas pedagang sate membuatku memahami betapa bermakna rombong sate yang dimiliki bagi dirinya, baik dari segi fungsional maupun formalnya. Ketika mengaitkannya dengan Kapal Samudraraksa, pihak pembuatnya, dan alur cerita yang melatabelakanginya, menjadikan makna itu pun seakan menubuh dalam diriku, seakan aku turut merasa memiliki. Aku yang awalnya adalah yang liyan, tetiba merasa sebagai orang dalam.

Bisa jadi rasa itu muncul semakin kuat karena efek bius sebuah lagu yang teringat dan aku nyanyikan berulang kali ketika menuliskan artikel ini. Sebuah lagu yang seringkali kami nyanyikan ketika TK dahulu, 

Nenek moyangku seorang pelaut,
Gemar mengarung luas samudra,
Mengejar ombak tidaklah takut,
Menembus badai sudah biasa.

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rajab 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar