Rabu, 21 Mei 2014

Masjid Yang Pondasinya Adalah Taqwa

Hari-hari belakangan adalah hari yang tak biasa bagi penduduk Yatsrib. Sedari pagi mereka telah keluar dari rumah dan berbondong-bondong berkumpul untuk menyambut kedatangan seorang Rasul Allah yang sangat dinantinya, tiada lain ialah Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam. Mereka yang kebanyakannya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, belum pernah melihat senyum beliau, menyentuh telapak tangan beliau, tapi bukan penghalang bagi tumbuhnya rasa iman, cinta, dan rindu di hati mereka.

Rasa cinta bercampur penasaran seperti apa sosok utusan Allah itu yang beritanya telah menyebar ke seluruh pelosok Yatsrib, menjadikan mereka begitu antusias menanti. Menaiki bukit dan bebatuan untuk melihat lebih jauh lagi, sambil terus rasa itu seakan ingin mendobrak dan menghancurkan relung-relung dada mereka. Hingga terik meninggi mereka terpaksa kembali memasuki bilik-bilik rumah karena tak tahan sengatannya. Hari berganti hari, masih tak dilihatnya dari arah kejauhan bayangan di hamparan pasir. Kekasih belum juga datang hari itu, mungkin esok.

Hari itu, hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke-14 kenabian yang kelak ditetapkan sebagai tahun pertama hijriah, ketika hari beranjak siang, seorang lelaki Yahudi berteriak lantang, “Wahai orang-orang Arab, inilah orang yang tengah kalian tunggu-tunggu”. Serentak kaum Muslimin membuka pintu rumahnya, berhamburan keluar tak hirau akan panasnya siang. Hari itu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memasuki Quba yang kira-kira berjarak 5 km dari Yatsrib dan bermukim di dalamnya selama 4 hari. Tinggal sepenggal lagi tiba di Darul Hijrah.

Ya, kekasih telah datang. Rasa bahagia, cinta, dan rindu itu telah menemukan tambatannya. Tak ada arak-arakan, tak ada ajudan, tak ada protokoler, seorang Rasul Allah dari kalangan manusia yang tetap merasakan paparan teriknya mentari siang hari hingga kemudian Abu Bakar –yang diridhai Allah- bangkit dan menaungi beliau dengan sorbannya. Tibanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam disambut dengan teriakan takbir yang membahana dan salam yang saling bersautan. Tak ingin didahului, mereka saling berebut mengucapkan salam dan melempar senyum kepada beliau. Kekasih yang semalam masih sekedar berita di kalangan mereka, kini telah berada di tengah-tengah mereka. Allah cinta kepada mereka yang menyambut kedatangan kekasih-Nya. Allah cinta kepada mereka yang menyambut seruan dakwahnya.

Di hamparan tanah Quba, di sebuah tanah kosong milik Kaltsum ibnul Hadm, dengan tangan beliau sendiri serta tangan-tangan kaum Muslimin yang telah berikrar di Aqabah hadir masjid pertama yang pondasinya adalah taqwa dalam fase kenabian beliau shalallahu alaihi wa sallam. Masjid yang hadir dari tangan-tangan hamba yang senantiasa membersihkan diri. Allah begitu mencitai mereka, karenanya Allah mengabadikan mereka dan masjidnya dalam sebuah ayat al-Qur’an agar seluruh umat manusia hingga kiamat kelak masih dapat belajar dari mereka sehingga turut mencintainya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memang tak membawa buah tangan teruntuk umatnya yang telah menunggu kedatangannya selama berhari-hari lalu, tapi beliau meninggalkan sebuah jejak yang dengannya mereka menjadi perbincangan di antara penduduk langit. Buah tangan apa lagi yang lebih baik daripada itu? 

Siapa yang dicintai Allah, maka seluruh penduduk langit pun akan mencintainya. Bukan, itu bukan sekedar masjid yang fisiknya hanya sekedar tumpukan batu beratap pelepah kurma yang ditopang batang-batang kurma tua. Jangan bayangkan wujud masjid yang megah, besar, dan berkilau. Bahkan jauh lebih bersinar daripada itu, masjid yang menyilaukan hati-hati kaum Muslimin hingga hari ini. Masjid yang beritanya menggelegar hingga ke pelosok langit. Masjid yang hadir karena tak kuasa lagi hati manusia menahan rasa ketundukan dan kecintaannya kepada Allah. Manusia yang ingin segera bersujud di rumah-Nya. Menempelkan kening di atas lantainya. Rumah yang selalu terbuka bagi seorang hamba, tak ada jam berkunjung, tak ada pagar merintangi. Masuklah, sucikan dirimu, dan agungkanlah Allah di dalamnya. Masuklah. 

Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sebagai utusan Allah yang sangat dicintai umatnya, para sahabatnya, tentulah tiada keberatan bagi mereka jika beliau tak turut serta membangun masjid, hanya sekedar memberi perintah. Siapa yang tega hati melihat kekasihnya, orang yang paling dicintai melebihi ayah ibu, saudara, bahkan dirinya sendiri, berpanas-panasan di bawah terik, mengucurkan keringat, mengotori baju dan tubuhnya, untuk bekerja bersama-sama di tengah mereka. Hati mana yang tak tersentuh. Kalaupun bisa meminta, mereka akan meminta agar Rasulullah tak turut serta bergumul dengan pekerjaan duniawi, pekerjaan yang kasar. Engkau adalah utusan Allah wahai Rasulullah. Tak pantas bagimu merendahkan diri, mengotori tangan.

Tetapi tidak. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tak berpangku tangan. Beliau hendak mengajarkan umatnya. Umat yang masih terlalu muda dalam Islam. Umat yang perlu dididik, ditempa, diajarkan, ditunjukkan contoh. Rasulullah memang tengah mengemban tugas dari langit untuk seluruh alam, tapi diri beliau, kaki beliau tetap berpijak di atas tanah. Tanah yang sama dengan tanah yang dipijak oleh umatnya kala itu. Seorang utusan Allah yang kakinya pun dipenuhi debu, sebagaimana kaki-kaki umatnya.

Beliau ingin mengajarkan bahwa menjadi pemimpin adalah menjadi tauladan. Menjadi pemimpin adalah berkerja di tengah orang-orang yang dipimpinnya, bukan di atas singgasana apalagi di sebuah ruang khusus yang dijaga berlapis-lapis keamanan. Pemimpin yang menyatukan hati umatnya dengan turut bekerja. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan tangannya sendiri meletakkan batu pertama pembangunan masjid di arah kiblat dan kemudian diikuti oleh Abu Bakar –yang diridhai Allah- yang meletakkan batu yang dibawanya di samping batu yang diletakkan kekasihnya, setelahnya disambut dengan kerja penuh semangat dari para sahabatnya. 

Tapi siapa yang hatinya tak menjerit, menangis. Begitu pula yang dirasakan seorang muslimah, Syamusy binti Nu’man –yang diridhai Allah-, yang karena tak tahan melihat Rasulullah memikul batu yang besar hingga kepayahan, dirinya memutuskan untuk turut serta bekerja di tengah-tengah para lelaki. Wanita yang dikatakan lemah lembut, tak mampu bekerja berat apalagi kasar, hanya karena kecintaannya kepada Rasulullah menjadikannya tak lagi hirau dan memilih dengan tangannya turut mengangkat batu membangun masjid. Apalah dirinya dihadapan Allah jika membiarkan utusan Allah bekerja hingga bajunya penuh dengan debu sedangkan baju yang dikenakannya tak terjamah debu sedikitpun. 

Tak juga bagi seorang sahabat yang berusaha mengambil batu dari tangan beliau dan mengatakan,
“Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku, berhentilah melakukan pekerjaan ini.”
Sambil tersenyum, beliau shalallahu alaihi wa sallam menjawab,
“Tidak. Ambil dan angkutlah batu yang lain.”
Entah apa yang terbesit di benak kita saat ini jika membayangkan masa itu. Apakah tetap berpendirian kerja tukang adalah kerja kasar lagi rendah? Lihatlah sekumpulan manusia yang telah dijamin surga atas mereka dan telah diridhai-Nya tengah menjadikan kerja tukang sebagai jalannya menuju Allah. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ingin mengajarkan pada umatnya bahwa sebaik-baik pekerjaan adalah yang membawamu dekat dan lebih dekat lagi dengan Allah. Getarkan langit dengan kerjamu.

Sebuah masjid tidaklah hanya wujud fisiknya jika pada hari ini kita meyakininya demikian. Masjid yang menjadi pembicaraan di kalangan penduduk langit, masjid yang dicintai Allah, adalah masjid yang dibangun oleh hamba-hamba yang mencintai-Nya, yang selalu rindu untuk merendahkan diri di hadapan-Nya, bersujud. Masjid yang bukan karena gemerlap ornamennya, apalagi sepuhan emasnya, tapi masjid yang karena kilauan takwa dalam hati pembangunnya. Masjid yang darinya terpancang sinar hingga menembus langit yang tujuh. Masjid yang menyinari hati para hamba.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pun hingga wafatnya selalu rindu untuk kembali ke Masjid Quba. Dikunjunginya setiap sabtu. Kadang dengan berkendara, kadang beliau shalallahu alaihi wa sallam berjalan kaki. Dan ditegakkannya shalat 2 ra’kaat di dalamnya. Begitu pula dengan Umar ibnul Khaththab –yang diridhai Allah- yang setiap Senin dan Kamis mengunjungi Masjid Quba. Betapa besar kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan betapa dirinya mencintai Masjid Quba sebagaimana kecintaan Allah dan Rasul-Nya kepada Masjid Quba dan para pembangunnya.

Hingga Amirul Mu’minin bergelar al-Faruq tersebut pada suatu hari kunjungannya berkata setelah bersumpah atas nama Allah,
“Sekiranya masjid ini terletak di ujung negeri sekalipun, maka aku akan tetap mengunjunginya.”
Kita bukan generasi yang berpanas-panasan di bawah terik di hamparan padang pasir menunggu tibanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, kita bukan pula generasi yang melayani beliau di persinggahannya selama 4 hari, kita pun bukan generasi yang turut bekerja di tengah beliau mengangkat batu, meletakkannya setumpuk demi setumpuk, berpeluh keringat, tangan yang mengasar, baju yang tak tampak lagi warna asalnya. Tapi karena keberkahan dari Allah, hingga hari ini kita tetap dapat mengambil pelajaran dari Masjid Quba, dari para hamba-hamba Allah yang membangunnya. Bahkan hingga hari ini kita tetap dapat merasakan rasa cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta yang karena begitu besarnya hingga menyesakkan dada. Cinta yang ingin dikeluarkan, cinta yang ketika belum berucap takbiratul ihram dari lisan telah didahului derasnya air mata. Cinta yang ketika bersujud tak ingin kembali menegakkan kepalanya. 

Masjid yang hadir sebab cinta dan taqwa.
Lalu, masihkah masjid hanya sekedar fisiknya?

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rajab 1435 Hijrah Nabi

Bahan bacaan

Hanafi Muhallawi. 2006. Tempat-Tempat Bersejarah Dalam Kehidupan Rasulullah. Terjemah dari Amaakin Masyhuurah fi Hayaati Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Gema Insani.

DR. Huri Yasin Husain. 2011. Fikih Masjid. Terjemah. Pustaka al-Kautsar.

Prof. DR. Mahdi Rizqullah Ahmad. 2012. Sirah Nabawiyah. Terjemah dari As-Sirah An-Nabawiyah fii Dhaui Al-Mashadir Al-Asliyyah. Perisai Qur’an.

Tim Riset Dan Studi Islam Mesir. 2013. Ensiklopedia Sejarah Islam. Terjemah. Pustaka al-Kautsar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar