Senin, 19 Mei 2014

Rumah Sebagai Tubuh Kedua

Rumah bisa dikatakan sebuah perwujudan arsitektur yang sangat pejal untuk ditafsirkan sekaligus menjadikannya sangat mudah untuk ditafsirkan secara semena-mena. Bagi sebagian manusia, rumah adalah kebutuhan mendasar yang mendesak untuk dapat dipenuhinya. Bagi sebagian yang lain rumah adalah citraan bagi statusnya, monumen bagi pencapaian hidupnya, monumen perayaan kemenangan dalam medan peperangan hidup yang setiap waktu menjadi pengingat akan siapa dirinya, bahkan pengingat bagi generasi keturunannya.


Sebagian yang lain jika ditanya apa itu rumah hanya gelengan kepala menjadi jawaban. “Entah apa itu rumah, kami tak pernah merasa benar-benar di rumah. Kalaulah tempat kami berdiam beratap jalan layang dapat disebut rumah, hanya inilah yang kami sebut rumah.”

Membincangkan rumah menjadikan kita harus membincangkan manusia. Kenapa? Mudahnya karena ‘ada’nya rumah adalah konsekuensi dari ‘ada’nya manusia sehingga ‘ada’nya manusia mendahului ‘ada’nya rumah. Teka-teki yang lebih mudah dinalar daripada ‘ada’nya ayam dan telur. Manusia membutuhkan rumah sebagai konsekuensi atas eksistensi dirinya yang bertubuh materi. Suka atau tidak suka, selama menjajaki kehidupan dunia manusia akan senantiasa ‘ada’ sebagai makhluk dwitunggal dengan ruh dan tubuh, bagaikan sekeping mata uang logam.

Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi tidak sekedar ‘ada’ sebagaimana ‘ada’nya hewan dan tumbuhan. Manusia dilengkapi kemampuan oleh Allah untuk ‘mengada’ yaitu menjadikan dunia kehidupannya (lebenswelt) bermakna, baik bagi dirinya maupun bagi komunitasnya. ‘Mengada’nya manusia dimungkinkan karena manusia adalah makhluk berkesadaran. Melalui kesadarannya manusia dapat menetapkan tujuan, tujuan atas pikiran, wicara, perilaku, hingga tujuan atas hidupnya. Dengan kata lain kesadaran yang bertujuan.

*****

Intensionalitas atau kesadaran yang bertujuan memiliki tahapan-tahapan yang dilalui manusia dalam prosesnya ‘mengada’. Untuk memudahkannya, dalam artikel ini kita hanya membincangkan intensionalitas terkait dengan ‘ada’nya rumah dalam pengertian primordial sebagai konsekuensi dari ‘ada’nya manusia. Tentu dalam kehidupan realitas kita tidak dapat mengidentifikasi tahapan-tahapan intensionalitas yang dilalui oleh manusia secara ketat, bahwa manusia melalui satu tahap untuk dapat melalui tahap yang lebih tinggi. Seringkali ditemukan manusia melalui 2 tahap intensionalitas dalam 1 waktu bersamaan. Fenomena ini menandakan kompleksitas kehidupan manusia, bahkan sangat cair dan cenderung tanpa bentuk (amorf). Tahapan intensionalitas yang kita gunakan hanya berfungsi untuk memberinya struktur agar memudahkan dalam mempelajari dan memahami fenomena yang terjadi, fenomena manusia dan rumahnya.

Pada tahap awal manusia melalui tahap kesadaran objektivikasi, yaitu sadar akan eksistensi dirinya yang bertubuh materi. Tidak hanya sadar akan eksistensi dirinya, manusia juga sadar akan eksistensinya dalam suatu ruang hidup yang dikelilingi oleh ‘ada’-‘ada’ yang lainnya. Manusia sadar tengah berada dalam dunia kehidupan yang berwujud materi.

Setelah sadar akan dirinya yang bertubuh materi di tengah rimba ‘ada’-‘ada’ yang lainnya di dalam ruang kehidupan, manusia melalui tahap kesadaran identifikasi. Manusia mencari kepastian akan dirinya, akan tubuhnya, dan akan ‘ada’-‘ada’ lain yang mengelilingi hidup dirinya. Muncul kesadaran bahwa dirinya tidak saja ‘ada’ tapi juga berbeda dengan ‘ada’-‘ada’ yang lain. Sadar akan dirinya sebagai manusia yang berbeda dengan tanaman, hewan, apalagi bebatuan dan hamparan alam sekitarnya. Terkait dengan rumah dalam pengertian primordialnya, manusia mencari kepastian akan tubuhnya, “Dari apa tubuhku? Seberapa kuat? Seberapa jauh aku dapat mengandalkan tubuh materi ini?”

Setelah mengetahui dan memahami akan dirinya sebagai ‘ada’ yang dikelilingi oleh ‘ada’-‘ada’ yang lain dalam suatu ruang kehidupan, manusia beranjak pada tahap kesadaran relasi. Manusia membuat jalinan hubungan-hubungan antara dirinya dengan ‘ada’-‘ada’ lain di sekitar dirinya. Hubungan yang dijalin atas asas kemanfaatan dan determinasi bagi hidup dan kehidupan dirinya, bagi eksistensinya, dari ranah fungsional pragmatis hingga transedental, sehingga tercipta sebuah setting kehidupan yang dipenuhi dengan struktur jalinan relasi antara manusia sebagai ‘ada’ dengan ‘ada’-‘ada’ lain yang mengelilingi dirinya.

Tahap kesadaran identifikasi dan relasi yang menjadikan manusia memiliki pengetahuan dan pemahaman akan diri dan ‘ada’-‘ada’ lain yang mengelilingi dirinya menandakan bahwa manusia sebagai ‘ada’ yang berwujud materi tidak dapat dipisahkan dari ‘ada’-‘ada’ lainnya. Manusia memahami diri dan eksistensinya melalui ‘ada’-‘ada’ lain yang mengelilinginya, melalui ayat-ayat Kauniyah. 

Manusia mencapai pengetahuan dan pemahaman bahwa ternyata tubuhnya memiliki keterbatasan. Tubuh biologis yang menjadikannya ‘ada’ secara eksistensial tak dapat bertahan dari kondisi alam yang terus berganti, dari hujan deras menjadi panas terik, dari berangin kencang menjadi kering. Superioritas tubuh manusia dibatasi oleh alam, dibatasi oleh lingkungan hidupnya sendiri. Begitulah cara Allah sebagai pencipta seluruh alam menyentak kesadaran manusia bahwa dirinya sangat lemah. Tubuh yang dibanggakannya begitu lemah bahkan untuk sekedar berhadapan dengan hujan yang dapat menyuburkan lingkungan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, dan menyediakan keberlangsungan air bersih yang manfaatnya sangat vital bagi keberlangsungan hidup manusia, ternyata dalam batas-batas tertentu merapuhkan tubuh manusia.

Manusia yang sadar akan keterbatasan tubuhnya memunculkan kebutuhan akan tubuh kedua di luar tubuh biologisnya sebagai pelindung bagi tubuhnya yang lemah dan rapuh. Dalam perbincangan kita kali ini, tubuh kedua yang aku maksud adalah rumah sebagai tempatnya berlindung manusia dari alam, selain pakaian yang juga berfungsi sebagai tubuh kedua bagi manusia. Manusia sadar akan determinasi alam terhadap dirinya, terhadap tubuh biologisnya. Di sisi lain manusia memiliki kemampuan untuk belajar dari ‘ada’-‘ada’ lain yang mengelilingi dirinya sebagai keniscayaan atas kesadaran identifikasi dan relasi yang telah dilalui. Manusia memperhatikan ‘ada’-‘ada’ lain di sekitarnya, mencari inspirasi darinya, mencari kemanfaatan darinya melalui berbagai macam percobaan dari yang hanya sekedar coba-coba sebagaimana dilalui oleh nenek moyang terdahulu hingga pada taraf yang kompleks di dalam ruangan laboratorium dengan seperangkat mesin dan komputer yang canggih. “Apa gunanya pohon bagiku untuk menjadikan tubuh keduaku berwujud?” 

Sampailah manusia pada tahap kesadaran puncak, yaitu kreasi, sehingga manusia secara eksistensial menyandang status sebagai a crating creature, yaitu makhluk yang diciptakan sekaligus yang memiliki kemampuan untuk mencipta, dalam pengertian manusia memiliki kemampuan untuk berkreasi. Dalam khazanah ilmu kebudayaan Barat, manusia disebut sebagai homo faber dikarenakan kemampuannya mencipta benda-benda yang dibutuhkannya untuk mengatasi, mengorganisasi, dan memanfaatkan alam demi keberlangsungan eksistensinya. Kreasi tidak hanya dapat diartikan dalam mencipta benda-benda yang berwujud fisik, namun memiliki rentang yang lebih luas mencakup gagasan, bahasa, dan perilaku.

Dengan kemampuan kreasi yang dimilikinya, manusia memiliki potensi untuk mewujudkan tubuh kedua yang telah eksis dalam alam idenya ke alam realitas, sehingga eksistensi gagasan tentang rumah mendahului eksistensi wujud rumah itu sendiri. Manusia berkreasi dengan memanfaatkan ‘ada’-‘ada’ lain di sekitarnya sehingga suatu keniscayaan hadirnya wujud rumah yang berbeda-beda di setiap tempat yang sangat ditentukan oleh keberadaan ‘ada-ada’ yang lain dan kemampuan manusia untuk mengidentifikasi, merelasi, hingga akhirnya berkreasi menggunakan ‘ada’-‘ada’ yang lain tersebut sebagai sumber daya yang disediakan Allah untuk keberlangsungan eksistensi manusia di muka bumi. 

Rumah iglo hasil kreasi bangsa Eskimo

Bangsa Eskimo memiliki tantangan hidup di tengah lingkungan bersuhu sangat dingin, bahkan seringkali di bawah nol derajat celcius, yang mengancam eksistensi dirinya. Tubuh biologis manusia memiliki batas kemampuan untuk dapat hidup dalam jangka waktu lama dalam kondisi tersebut, dalam lingkungan yang ekstrim. Di sisi lain, ‘ada’-‘ada’ lain di sekitar dirinya hanyalah bongkahan-bongkahan es yang notabene menjadi ancaman bagi tubuh biologisnya. Berbekal kesadaran bertujuan yang telah dialaminya, bangsa Eskimo menghadirkan wujud rumah iglo sebagai tubuh kedua bagi tubuh biologisnya. Rumah yang hadir dengan memanfaatkan bongkahan-bongkahan es ternyata dengan wujud tertentu justru dapat memberikan suhu yang lebih hangat di ruang dalamnya. Tak dapat dibayangkan bongkahan es yang memberikan ancaman dapat dimanfaatkan manusia sebagai pelindung bagi tubuh biologisnya. Tentu dalam mewujudkan rumah iglo, bangsa Eskimo membutuhkan rentang waktu yang tidak sebentar. Dilakukannya percobaan demi percobaan hingga menemukan model rumah ideal yang dapat memberikan perlindungan maksimal bagi tubuh biologisnya di tengah lingkungan hidup bersuhu sangat rendah. 

*****

Rumah dalam pengertian primordialnya adalah tubuh kedua bagi manusia untuk melindungi tubuh biologisnya dari ‘ada’-‘ada’ yang lain di dalam ruang hidupnya. Rumah menggambarkan betapa manusia mencurahkan begitu besar potensi yang dimilikinya untuk melawan determinasi alam terhadap tubuh biologisnya. Manusia memanfaatkan alam untuk menghadirkan tubuh keduanya tidak lain untuk menghadapi alam itu sendiri. Karenanya dapat dikatakan kreasi manusia untuk menghadirkan rumah adalah upaya manusia memanipulasi alam.

Terjalin hubungan yang paradoksal antara manusia dengan alam dalam konteks hadirnya rumah, bahwa manusia ingin menghindari kondisi alam yang berdampak bagi tubuh biologisnya namun manusia pun memerlukan alam sebagai sumber daya untuk mewujudkan idenya tentang rumah. Relasi yang paradoks ini menyentak kesadaran manusia bahwa dirinya tak mampu memanipulasi peristiwa alam itu sendiri. Manusia tidak mampu meniadakan sinar matahari, hujan badai, angin kencang, apalagi gempa. Yang mampu dilakukan manusia adalah memanipulasi alam sebagai sumber daya dengan menjaga kelestariannya untuk tetap dapat memanfaatkannya sebagai sumber bahan, inspirasi, dan perenungan-perenungan sambil terus mengasah kemampuannya berkreasi untuk menghadirkan rumah yang ideal sebagaimana gagasannya akan rumah di alam ide.

Rumah sebagai ‘ada’ adalah konsekuensi akan ‘ada’nya manusia yang tengah ‘mengada’ di dalam dunia kehidupan yang dikelilingi oleh ‘ada’-‘ada’ lainnya menjadikan rumah sebagai sebuah fenomena spasial-temporal yang memiliki banyak wujud dan tak dapat diseragamkan. Bisa jadi dalam pengertian primordialnya, ide akan rumah adalah universal yaitu rumah sebagai tubuh kedua manusia, namun ketika dihadirkan di alam realitas akan mewujud dalam beraneka ragam rupa. Sebuah kebodohan memaksakan bangsa Eskimo untuk menghadirkan wujud rumahnya menggunakan kayu atau tanah lempung. Begitu pula adalah kebodohan memaksakan bangsa yang hidup di lingkungan beriklim tropis untuk menghadirkan wujud rumahnya menggunakan bongkahan-bongkahan es. Mudahnya bangsa Eskimo tak mengalami kesadaran identifikasi dan relasi mengenai kayu sehingga tak memiliki kemampuan kreasi memanfaatkan kayu untuk menghadirkan wujud.

Dapat ditarik kesimpulan sementara perihal perbincangan kita dalam artikel ini bahwa rumah sebagai tubuh kedua manusia adalah layaknya sarang sebagaimana hewan membuat sarang untuk melindungi tubuh biologisnya, walaupun tentu antara sarang manusia dengan sarang hewan memiliki perbedaan mendasar, yang akan kita bincangkan lebih panjang lebar pada artikel mendatang, semoga Allah mengizinkan. Rumah bagi manusia tidak sekedar benda hasil kreasi, tapi menyangkut eksistensi dirinya sekaligus sebagai tanda akan keberadaan manusia dalam prosesnya ‘mengada’, bukan benda tanpa asal usul.

Lalu jika dikaitkan dengan kutipan di awal artikel ini tentang seseorang yang bermukim di bawah jalan layang, apakah ruang yang dihuninya dapat dikatakan sebagai rumah? Dalam pengertian primordial rumah, haruslah diajukan pertanyaan, sejauh mana ia sebagai penghuni dapat mengandalkan ruang tersebut sebagai tubuh kedua yang melindungi tubuh biologisnya? Tentu saja rumah tidak hanya sekedar tubuh kedua layaknya baju yang dikenakan manusia. Fenomena rumah jauh lebih kompleks, sehingga berbagai penafsiran atasnya dibuka lebar-lebar, dan berbagai usaha menguarainya seakan tiada mencapai dasar. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rajab 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar