Senin, 09 Juni 2014

Arsitektur Yang Ditinggalkan

Aku selalu diyakinkan oleh para guru bahwasanya Islam bukanlah sekedar agama, Islam tidak hanya mencakup aspek ritual. Islam adalah jalan hidup yang melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia, Islam adalah sistem yang dengannya manusia dapat mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat. Karenanya lebih tepat disebut dan diyakini Islam adalah diin, bukan a-gama.

Hingga suatu hari seorang kawan bercerita padaku jika dirinya diharuskan meyakini bahwasanya Islam dan arsitektur tidaklah memiliki keterkaitan. Islam adalah urusan akhirat, sedangkan arsitektur adalah urusan duniawi, suatu sikap merendahkan Islam jika Islam diyakini berurusan pada hal-hal duniawi yang remeh temeh layaknya arsitektur. Ya, saat itu untuk kesekian kalinya aku harus mengelus dada karena sebab yang sama. Sudah sering kali aku dapati, saksikan sendiri, dan alami secara langsung upaya menjauhkan generasi muda umat Islam dari ilmu-ilmu yang dikatakan urusan duniawi. Tak sedikit yang awalnya bersemangat mempelajari ilmu arsitektur, kimia, fisika, biologi, dan lainnya, tetiba memilih untuk berhenti kuliah atau paling tidak tak lagi memiliki semangat belajar ilmu yang ditekuninya sehingga terpaksa asal lulus karena tuntutan orang tua. Aku tanya, “Kenapa dengan dirimu?” Dijawabnya, “Kata ustadz fulan, ilmu itu tak bermanfaat, hanya membuang-buang waktuku di dunia, sedangkan tujuan kita adalah akhirat”. Seketika dadaku terasa sesak setiap kalinya mendengar jawaban seperti itu. Sambil menengadah aku seringkali berkata dalam hati, “Ya Allah beginikah Islam yang engkau maksudkan sebagai petunjuk bagi seluruh alam? Ataukah kami sedang tersesat jalan?”

Pada hari-hari yang lain aku seringkali membaca atau diceritakan sebuah fatwa bahwasanya dalam kondisi darurat umat Islam diperbolehkan berobat kepada dokter non Muslim, para wanita Muslimah diperbolehkan untuk memeriksakan kandungannya kepada dokter pria. Karena alasan darurat pula umat Islam diperbolehkan meminum obat-obatan yang tak kunjung pasti kehalalannya oleh sebab kita tak memiliki ahli perobatan yang berkhidmat untuk kepentingan umat Islam. Jika begini kondisi yang sedang kita hadapi bersama sedangkan di satu sisi generasi muda umat Islam diyakinkan dengan segala cara untuk menjauhi ilmu-ilmu yang dikatakan duniawi, entah sampai kapan status darurat dalam berbagai bidang kehidupan umat Islam akan berakhir?

Aku selalu diberi pengajaran dari para guru, masuklah ke dalam Islam secara kaffah, bersikap Islam-lah di seluruh aktivitasmu, tunjukkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jangan hanya menampakkan Islam ketika di masjid, tapi tunjukkan cahaya Islam di pasar, di kantor, di sekolah, dan dimulai dari rumah. Kalaulah Islam hanya mengurusi perkara akhirat, apakah ketika menggosok gigi Islam tak peduli kepada kita? Apakah ketika menandatangani suatu kontrak kerja Islam tak berhak campur tangan mengurusi hal ihwal pekerjaan kita? Apakah ketika seorang mahasiswa arsitektur mencurahkan tenaga, waktu, dan biaya untuk serius belajar agar kelak ia dapat berkhidmad untuk kepentingan umat Islam, ia tak sedang berjalan mendekat kepada Allah? Ya Allah semoga saja kami yang sedang tersesat jalan.

Kawan-kawan yang sebenarnya teramat ingin untuk berhenti kuliah tapi tak kunjung direstui orang tua dan hanya ingin berfokus mempelajari ilmu syariat, tak kalah membuatku bersedih. Mereka yang meyakini bahwasanya Islam hanya berurusan pada perkara akhirat menjadikan diri mereka memasuki lubang kebingungan yang lain. Jika kawanku yang pertama ia sadar sedang dalam kebingungan, sedangkan kawanku yang kedua ia tak sadarkan diri sedang dalam kebingungan. Begitu rajin ia menghadiri kajian ilmu syariat, hafalannya begitu kuat, bacaan al-Qur’an-nya pun sangat merdu dan melunakkan hati yang mendengar, tapi ketika sedang berbicara ilmu yang dikatakannya duniawi ia dengan percaya diri dan penuh keyakinan menjabarkan teori-teori yang asumsi dasarnya atheistik atau pantheistik dan menyatakannya sebagai kebenaran. Begitu pula seorang kawan yang sangat bersemangat menambah dan menjaga hafalan al-Qur’an, ketika berbicara biologi sangat lantang mengatakan kebenaran teori evolusi Darwinisme. Ia tengah tak sadarkan diri bahwa Islam telah ditanggalkannya ketika berbicara teori ilmu yang dikatakan duniawi. Ya Allah memang kami yang sedang tersesat jalan. 

Masih ingat dengan seorang kawan yang aku ceritakan pada bagian awal artikel ini? Aku hanya bisa berbaik sangka dengan permasalahan yang sedang dihadapinya. Kalaulah yang dimaksud Islam tak memiliki keterkaitan dengan arsitektur adalah bahwa Islam bukanlah ilmu arsitektur dan al-Qur’an bukanlah kitab standar arsitektur, aku sepakat sepenuhnya tanpa sedikit pun keraguan bahwa Islam tak memiliki keterkaitan dengan arsitektur. Kalaulah yang dimaksud Islam tak berhubungan dengan arsitektur adalah bahwa Islam bukanlah salah satu penggayaan arsitektur, sekali lagi aku tegaskan aku sepakat sepenuhnya tanpa sedikit pun keraguan bahwa Islam tak memiliki keterkaitan dengan arsitektur. Tapi, kalaulah yang dimaksud Islam tak memiliki keterkaitan dengan arsitektur bagaikan dua perkara di dalam kamar yang berbeda sehingga antara keduanya tak mungkin saling mengenal, maka aku menolak sepenuhnya tanpa sedikit pun keraguan.

Akan sangat memalukan bagi umat Islam jika harus diajari tentang membangun pondok pesantren oleh non Muslim, jika harus diajari tentang membangun masjid oleh pihak yang tak pernah mendirikan shalat. Dan umat Islam tengah dipermalukan ketika di rumahnya, ruang pribadinya, para wanita dengan leluasa dapat dilihat oleh para pria asing ketika beraktivitas di dapur maupun ruang cuci hanya karena ketidakpahaman kita terhadap organisasi ruang rumah yang sebenarnya menjadi urusan dan kewajiban bagi uamt Islam yang mempelajari ilmu arsitektur. Apakah umat yang mulia ini harus terhina di dunia? Karena kita begitu mudahnya dihinakan, maka Islam pun begitu mudahnya direndahkan, dicemooh, dan diremehkan karena ketakberdayaan kita menunjukkan diri sebagai umat yang terhormat lagi kuat. Umat yang mampu menyangga tegak tubuhnya sendiri. 

Aku selalu diingatkan oleh para guru bahwasanya Islam adalah keyakinan dalam hati, pengakuan dalam lisan, dan realisasi dalam amal. Kehidupan manusia di alam dunia tak terlepas sedetik pun dari kondisi hati, lisan, dan perbuatan, karenanya seluruh rentetan perjalanan kehidupan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam di dalam ruang dan waktu dunia adalah beliau sebagai seorang hamba dan Rasul Allah. Begitu pula ketika beliau turut kerja membangun Masjid Quba dan Masjid Nabi dengan tangan beliau sendiri, beliau tetap sebagai hamba dan Rasul Allah dan sedetik pun tak menanggalkan statusnya tersebut. Celakanya, hanya kalangan orientalis yang meyakini bahwa ketika Muhammad Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah berhijrah ke Madinah, beliau tengah terhanyut dalam kehidupan duniawi karena tersibukkan dengan urusan sosial kemasyarakatan, kenegaraan, dan peperangan. Hendakkah kita pada permasalahan ini berada pada ruang keyakinan yang sama dengan para orientalis?

Ya Allah berilah kami penunjuk. Tak ada yang salah dengan Islam yang Engkau wahyukan kepada kekasih-Mu Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Beliau telah Engkau jadikan sebagai manusia paripurna dan uswah hasanah bagi kami dalam seluruh aspek kehidupan kami di ruang dan waktu dunia. Tak sedetikpun beliau tak ber-Islam, sebagaimana penuturan Ibunda Aisyah bahwa akhlaq Rasulullah adalah al-Qur’an. 

Umat Islam tentu sepakat bahwasanya ilmu syariat adalah ilmu yang paling utama, ilmu yang paling bermanfaat, ilmu yang paling dapat mendekatkan diri-diri kita kepada Allah. Tapi tidak berarti ilmu selainnya adalah hina dan tak bernilai sedikitpun. Ilmu arsitektur memiliki manfaat dan umat membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia, mengingat bahwa manusia hidup di dalam ruang dan ketika bersentuhan dengan permasalahan ruang adalah menjadi wilayah obyek ilmu arsitektur, walaupun harus ditegaskan bahwa ilmu syariat memiliki derajat yang lebih tinggi daripada ilmu arsitektur. Kalaulah kita semua berlepas diri dari ilmu yang bermanfaat bagi umat Islam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia, kepada siapa umat ini akan menyandarkan kebutuhannya?

Jauhnya kita dari menguasai ilmu-ilmu yang dikatakan duniawi menjadikan kita begitu mudahnya dibodoh-bodohi, ditipu seakan-akan diberi keuntungan dan kemudahan. Kita tengah memikul nama baik Islam di setiap pundak kita, mau tak mau suka tak suka. Non Muslim melihat bagaimana Islam dari bagaimana kita mengamalkannya. Jika kita tak mengambil peran dalam kehidupan dunia, memisahkan Islam dari perbuatan kita untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia, maka begitu mudahnya batang tenggorokan kita akan diinjak kemudian mati dan tinggal nama. 

Ya Allah, tunjukilah kami jalan sebagaimana jalan yang dilalui Rasul-Mu dan generasi terbaik dari umat Islam.

Teruntukmu kawan, semoga Allah memberimu petunjuk untuk memperjuangkan umat Islam dan mensejahterakan manusia melalui ilmu arsitektur. Ambillah peran ini. Seriuslah, karena ilmu dan amal tak didapatkan dengan jiwa dan raga yang lalai. Ada tauhid dalam berarsitektur, hayatilah. Mari melalui ilmu arsitektur kita raih keridhaan dan kecintaan Allah. Dan itu dimulai dengan meridhai bahwasanya Islam adalah diin yang melingkupi seluruh aspek kehidupan kita, kemudian mencintai jalan Islam dan mencintai Allah pada puncaknya. In syaa Allah. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Sya’ban 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar