Senin, 23 Juni 2014

Dari Masjid Memerangi Kemiskinan

Masyarakat Muslim tengah menghadapi berbagai masalah kehidupan baik yang datangnya dari luar (eksternal) maupun dari dalam tubuh masyarakat Muslim sendiri (internal). Di antara masalah tersebut adalah masalah sosial-ekonomi yang akut hingga merembet pada bidang aqidah. Lumrah yang kemudian sepertinya telah dimaklumi bersama, kita dapati betapa banyaknya saudara Muslim mengemis di pintu-pintu masjid, di pinggir jalan, di sekitar lampu lalu lintas, dan diberbagai ruang publik. Di lain waktu kita disuguhi tawaran sebagian saudara Muslim yang memiliki kelebihan harta berkeinginan untuk membangun masjid bagaikan istana, bahkan dengan mantapnya berkeinginan mendirikan hotel berbintang dan memiliki maskapai penerbangan yang dikatakannya untuk kepentingan umat Islam. Umat Islam yang mana? Ya, di tengah kondisi masih kita dapati dan kita maklumi bersama di mana pada hari ini di saat artikel ini dituliskan masih banyak saudara Muslim yang terpaksa harus menahan lapar. Masih banyak bayi-bayi kaum Muslimin mengalami kekurangan gizi dan meregang nyawa karena bapak dan ibunya tak memiliki kecukupan harta bahkan sepeser pun, kemudian bunuh diri dirasa menjadi satu-satunya jalan keluar yang instan di tengah sempitnya himpitan hidup.

Masih banyak para suami yang terpaksa harus berurusan dengan rentenir untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya setiap bulan. Gali lubang tutup lubang. Selain karena tak memiliki keterampilan yang mumpuni juga tak tersedia lapangan kerja. Keinginan untuk berdagang sebagai sunnah Rasul yang selalu didengung-dengungkan para da’i pun tak dapat terwujud bagi mereka karena tak tersedianya modal. Sebagaimana bersama kita ketahui modal tak jatuh dari langit bagaikan air hujan, dan sebagaimana kita ketahui juga kecenderungan para pengusaha Muslim yang lebih tertarik bermain dengan bisnis bermodal besar yang menjanjikan keuntungan besar. Dalam kondisi hidup bersama yang sedang carut marut kita sebagai unsur masyarakat Muslim memang harus menekan ego pribadi, dan bukankah Islam mengajarkan untuk menekan ego pribadi demi kemaslahatan hidup bersama? Itu pun jika kita konsisten dengan tujuan sebuah tatanan masyarakat Muslim yang pondasinya adalah tauhid dan diikat erat dengan ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah mengisyaratkan umat Islam untuk hidup sebagai satu kesatuan sosial yang kuat dengan barisan yang rapi dan rapat. Tak ada celah diantaranya. Yang kuat menopang yang lemah, yang lemah bersandar kepada saudaranya dan mencintainya karena Allah sambil senantiasa mendoakan saudaranya. Tapi kini kita disibukkan dengan mengeluh dan seringkalinya memaki. Sebut saja tentang pertumbuhan pengemis, maraknya ancaman konversi agama, hingga patologi sosial lainnya yang dipicu masalah perut kosong. Faktanya perut kosong menjadi penghalang bagi para da’i mengajak saudara Muslim yang masih berpikir keras memenuhi kebutuhannya hari ini untuk mengkaji dan menghayati tauhid, begitu pula untuk mengajak shalat wajib di masjid dengan imbalan surga dan neraka. Nasihat yang seringkali disampaikan, “Umat Islam harus kuat, kuat jasad dan imannya, jika diberi cobaan kesempitan hidup maka bersabarlah dan bersabar itu baik”, dirasakan tak memberi solusi karena begitu mudahnya diucapkan dan dihayati bagi mereka yang perutnya terisi paling tidak 2 kali setiap hari, sedangkan tidak bagi mereka yang lambungnya tengah meradang. Dan karena perut kosong, banyak kita jumpai saudara Muslim yang lebih memilih sekardus mie instan untuk menyambung hidup walaupun harus meninggalkan Islam. Sampai di sini kita akan ribut kembali masalah jumlah kaum Muslimin yang terus merosot. Tak ada omong-omong solusi, selalu hanya ribut tanpa arah yang membuat masalah semakin tampak ruwet. Kalaulah diibaratkan dengan sebuah bangunan, kondisi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Muslim saat ini bagaikan bangunan yang siap runtuh karena besarnya tujuan sebagai atap tak didukung oleh kokohnya pilar dan pondasi.

Tak ambil peduli kepada saudara Muslim yang sehari-hari mengemis di jalanan paling tidak dikarenakan tiga hal. Pertama, berbagai peristiwa yang menunjukkan terorganisirnya para pengemis oleh para pengusaha besar atau preman sehingga mengusik keberadaan mereka akan berdampak pada keamaan diri. Kedua, berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa pengemis bukanlah orang yang tidak memiliki harta, bahkan sebagian dari mereka telah memiliki mata pencaharian tetap dan mengemis hanya sekedar untuk mencari tambahan harta saja. Sebab pertama dan kedua memang fakta adanya, tapi generalisasi membabi buta juga tak tepat dilakukan seakan semua pengemis begitu adanya, apalagi tanpa dilakukan pencarian informasi kasus perkasus. Hal tersebut menunjukkan pula sikap malas dan oportunis serta merendahkan saudara Muslim yang sehari-harinya mengemis, memulung, atau mengamen. Sampai puncaknya pada sebab ketiga, yaitu anggapan bahwa mereka adalah penyakit masyarakat, biang kerusakan, sumber keributan dan kekumuhan, sehingga di berbagai perumahan mewah dengan harga milyaran rupiah yang faktanya banyak pula dihuni oleh para da’i disiagakan satpam untuk menghalau masuknya pihak-pihak yang dianggap sebagai penyakit masyarakat. Mudah ditebak, lalu terciptalah jarak yang sangat jauh antara umat Islam yang berpunya dengan saudaranya yang tak berpunya. 

*****

Allah tak membiarkan manusia hidup di muka bumi tanpa panduan. Allah telah mengutus Rasul-Nya dan Allah telah menurunkan kitab-Nya. Allah pun telah memilihkan bagi manusia seorang figur dari kalangannya sendiri untuk dapat dijadikannya sebagai suri tauladan. Kalau saja sejenak kita menelaah sejarah dan mengambil hikmah dari perjuangan dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, insya Allah akan kita dapati pelajaran berharga dan solusi untuk mengeluarkan masyarakat Muslim dari lingkaran kemiskinan setelah terlebih dahulu disesuaikan dengan kondisi kekinian.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam perjuangan dakwahnya di tanah Madinah berupaya untuk mewujudkan masyarakat madani. Mengentaskan kemiskinan yang dialami oleh umatnya dikala itu oleh sebab hijrah mengharuskan mereka meninggalkan kampung halaman tanpa membawa harta benda menjadi agenda dalam dakwah beliau. Beliau bahkan khawatir terhadap kemiskinan hidup yang diderita umatnya karena kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran. Berbagai upaya beliau lakukan mulai dari mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshar, memotivasi sahabat untuk kembali giat berekonomi di pasar kemudian keuntungan yang didapatkan sebagiannya digunakan untuk membantu saudara Muslim yang belum mampu memenuhi kebutuhannya, dan membangun masjid sebagai ruang bersama bagi umat yang memiliki peran sosial kemasyarakatan yang di masa kini telah dilupakan oleh kebanyakan umat Islam karena dianggap merupakan upaya de-sakralisasi masjid sebagai ruang ibadah.

DR. Huri Yasin Husain dengan indah menceritakan dimensi sosial kemasyarakatan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Masjid Nabawi memiliki sebuah ruang yang disebut al-shuffah yang diperuntukkan bagi umat Islam yang tidak memiliki tempat tinggal dan harta benda. Untuk memenuhi kebutuhan pangan para ashabul shuffah, di dalam Masjid Nabi disediakan sekeranjang kurma di mana para sahabat yang memiliki kelebihan harta berlomba-lomba untuk mengisinya selain juga diperuntukkan untuk umat Islam yang tengah mengalami kekurangan pangan maupun para musafir. Kita pun telah mengetahui betapa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sangat mencintai ashabul shuffah sehingga beliau sangat memperhatikan kebutuhan para sahabatnya tersebut, termasuk dalam hal pangan. Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mendapatkan hadiah makanan atau susu, beliau selalu mengundang para sahabatnya untuk ikut bersantap bersama. Tidak lain beliau ingin mengajarkan kepada umatnya untuk saling berbagi, saling memberikan harapan hidup, saling menguatkan.

Kita dapati pada masa kini banyak masjid tidak lagi mengemban fungsinya sebagai ruang sosial kemasyarakatan bagi umat Islam, kalau tidak ingin dikatakan sebagian besar masjid. Kalau pun ada hanya merupakan program temporal selama bulan Romadhon, hari raya, dan hari-hari perayaan lainnya. Masjid sekedar menjadi penanda identitas keberadaan masyarakat Muslim dalam suatu wilayah. Dengan bentuknya yang besar dan mewah tidak sekedar ingin menunjukkan keberadaan masyarakat Muslim, namun kekuatan masyarakat Muslim yang pada kenyataannya tengah dalam kondisinya yang lemah. Ingin menunjukkan ketangguhan ekonomi masyarakat Muslim yang pada kenyataannya hanya dimiliki segelintir keluarga Muslim.

Masalah sosial-ekonomi yang kini sedang menjangkiti masyarakat Muslim menjadikan sudah saatnya masjid sebagai ruang umat kembali mengemban peran sosial-kemasyarakatan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh kekasih kita, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Tentu mengarahkan kembali ruang masjid pada jalan yang dirintis oleh generasi terbaik umat ini tidak serta merta dapat dilakukan secara langsung dan serentak. Paling tidak butuh model untuk memulainya agar dapat menjadi standar, diadaptasi, dikaji, dan dikembangkan. Mengingat pula pada masa kini banyaknya masjid yang dibangun dan dikelola oleh organisasi maupun institusi sehingga dibutuhkan waktu yang tidak pendek untuk merealisasikannya.

Pertama, masjid memiliki dapur umum yang difungsikan rutin 2 kali sehari untuk memenuhi kebutuhan pangan warga yang tidak mampu di sekitar lingkungan masjid. Di sini perlu dipertanyakan apakah masjid sudah memiliki data kondisi kehidupan warga di sekitarnya? Apa saja pekerjaan para warga dan berapa jumlah pendapatannya perbulan? Paling tidak data tersebut berguna untuk menentukan jumlah porsi makanan yang kira-kira harus disediakan setiap harinya dan potensi untuk memperoleh donasi. Operasional dapur umum masjid dapat mengikutsertakan umat Islam di sekitar lingkungan masjid, terutama warga yang tidak mampu lagi tidak memiliki pekerjaan. Jika dimungkinkan, beri mereka amanah sebagai pegawai masjid yang bertanggung jawab untuk mengurusi operasional daput umum masjid sehari-hari.

Kedua, menghadirkan kembali ruang al-shuffah yang disesuaikan dengan kondisi kekinian yang fungsinya difokuskan untuk merumahkan generasi muda umat Islam yang belum berkeluarga, tidak mampu, dan tidak memiliki tempat tinggal layak yang setiap harinya kita dapati di pinggir jalan, tidur di bawah jembatan, di depan pertokoan, memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengemis. Kita sebut saja dengan asrama masjid. Rumahkan mereka di masjid, dekatkan mereka dengan suasana lingkungan masjid, tumbuhkan emosi dan kesejarahan hidupnya agar terikat dengan masjid.

Andaikan saja setiap masjid memiliki dua buah ruang yang setiap ruangnya dapat mewadahi 10 orang dengan 5 buah tempat tidur tingkat berikut dengan lemari dan meja. Sebuah ruang diperuntukkan untuk pria dan sebuah ruang lainnya untuk wanita. Setiap masjid memiliki peran memberdayakan 20 orang umat Islam di sekitar lingkungannya. Bayangkan jika setiap kelurahan memiliki 3-5 masjid dan setiap masjid memiliki fasilitas dapur umum dan ruang asrama, akan sangat besar peran nyata masjid dalam memberdayakan masyarakat Muslim. Masjid secara nyata berfungsi sebagai generator perbaikan masyarakat Muslim dalam berbagai aspek kehidupannya.

Ketiga, masjid difungsikan sebagai ruang pendidikan bagi umat Islam. Yang dimaksud bukan saja pendidikan syariat yang alhamdulillah hingga masa kini tetap berlangsung dan dapat bertahan selama puluhan abad dari awal mula dirintis oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, namun juga pendidikan keterampilan untuk mewujudkan masyarakat Muslim yang bertakwa dan mandiri. Tidak saja mengisi perut umat, masjid juga berperan untuk mengisi kalbu dengan iman dan otak dengan pengetahuan, sehingga tegaknya tulang belakang umat Islam memiliki makna yang lebih luas untuk perubahan dirinya sendiri dalam aspek jasmaniyah terlebih lagi ruhaniyah. 

Umat Islam yang memiliki kesempitan ekonomi di sekitar lingkungan masjid dan umat Islam yang dirumahkan di masjid tidak saja diberikan pendidikan untuk mengenal Islam namun juga pelatihan keterampilan seperti menjahit, membuat olahan makanan, kerajinan tangan, beternak, berkebun, dan keterampilan lainnya untuk mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang kreatif, produktif, dan mandiri. Bagi umat Islam yang dirumahkan di masjid jika dimungkinkan beri mereka amanah sebagai pegawai masjid yang bertanggung jawab dalam kebersihan, perawatan, dan keamanan masjid.

Lalu hingga kapan umat Islam yang tidak mampu dalam segi ekonomi akan terus disuapi dan dirumahkan di masjid? Langkah apa selanjutnya yang harus dilakukan ketika mereka telah memiliki pemahaman akan Islam dan keterampilan hidup? Untuk pembahasan topik ini akan kita bahas lebih lanjut pada artikel mendatang, insya Allah, karena sudah terlampau panjang bahasan kita pada artikel ini.

Sebagai penutup akan kita bahas sekilas sumber pendanaan operasional dapur umum dan asrama masjid. Bersama-sama dapat kita saksikan suatu masjid memperoleh infaq Jum’at sebesar lebih dari 5 juta rupiah. Untuk masjid yang memiliki kapasitas tampung lebih besar memperoleh infaq yang jauh lebih banyak lagi yang jumlahnya bisa mendekati angka 20 juta rupiah bahkan lebih. Anggap saja setiap masjid diamanahkan oleh umat rata-rata sebesar 20-80 juta rupiah perbulan hanya dari infaq Ibadah Jum’at. Seringkali aku bertanya-tanya sendiri kemana saja mengalirnya dana umat sebanyak itu selama ini? Berapa banyak masjid yang transparan dalam pengelolaan keuangannya? Apakah setiap jama’ah di masjid tersebut mengetahui dengan pasti kemana saja infaq mereka digunakan dan disalurkan? Suatu waktu ketika Ibadah Jum’at di suatu masjid aku mendengarkan seorang takmir masjid menyampaikan pengumuman kas masjid yang disimpan di beberapa bank. Untuk apa dana umat disimpan di bank sedangkan umat di sekitar lingungan masjid jauh lebih membutuhkan? Betapa besarnya dana umat jika digunakan untuk memberdayakan umat di sekitar lingkungan masjid daripada untuk dibelikan pesawat apalagi membangun hotel. 

Fakta lain yang dapat kita temui bersama betapa pun kebutuhan biaya untuk membangun masjid, bahkan jika angkanya menembus bilangan puluhan milyar rupiah, selalu dapat dipenuhi melalui program donasi. Tak perlu jauh-jauh, seringkali aku temui suatu masjid yang sedang direnovasi memiliki donatur yang membantu pembiayaan renovasi masjid sebesar ratusan juta rupiah per keluarga. Hal ini menandakan bahwa umat Islam yang memiliki kelebihan harta masih memiliki ghirah mengeluarkan kelebihan hartanya untuk kepentingan masjid. Betapa besar potensi ghirah umat tersebut jika diarahkan untuk program donasi pemberdayaan umat Islam. Dan kita masih memiliki banyak sekali badan amil zakat yang sudah saatnya merapat dan bekerja bersama dalam program nyata yang berkelanjutan dengan memfungsikan kembali ruang masjid sebagai pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat Muslim.

*****

Sebelum memulai ketiga program di atas; dapur umum masjid, asrama masjid, pendidikan syariat yang diintegrasikan dengan pendidikan keterampilan, terlebih dahulu kita bersama harus merubah persepsi perihal ruang masjid. Masjid tidak saja mengemban tugas sebagai ruang ibadah maghdah sebagaimana shalat dan i’tikaf. Masjid bukanlah ruang sakral yang kemudian haram bagi aktivitas yang dikatakan keduniawian dilakukan di dalamnya. Masjid memiliki dimensi sosiol-ekonomi untuk mempersatukan umat Islam dalam ikatan ukhuwah Islamiyah dan memberdayakan masyarakat Muslim melalui kerja kolektif.

Pada masa kini tidak mendesak bagi kita memiliki masjid yang dilengkapi dengan taman yang luas dengan berbagai bunga, pepohonan dan air mancur yang luasnya bahkan jauh melebihi luasan ruang utama masjid. Juga tidak mendesak bagi kita memiliki masjid bersepuh emas, berbahan import dari negeri di benua seberang. Jauh lebih mendesak bagi kita untuk memiliki masjid yang mengambil peran sebagai ruang sosial kemasyarakatan berikut dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk menjalankan perannya tersebut.

Dalam dimensi ekonomi, masjid sebagai ruang pemberdayaan umat menjadi ruang bagi umat Islam yang memiliki kelebihan harta untuk membantu saudaranya yang tidak mampu. Untuk membantu saudaranya agar tetap dapat mengisi perutnya hari ini, menegakkan tulang belakangnya agar tetap dapat beribadah kepada Allah. Untuk membantu saudaranya berdiri di atas kaki mereka sendiri dan kemudian dapat mandiri memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Dalam dimensi sosiol, masjid menjadi ruang bagi umat Islam untuk saling bertemu dan saling bantu membantu dalam kebaikan. Umat Islam yang memiliki kelebihan harta dapat menjalin hubungan dekat dengan saudaranya yang tidak mampu, dapat memberikannya perhatian. Begitu pula bagi umat Islam yang tidak memiliki harta akan merasakan dirinya diperhatikan oleh saudara Muslimnya yang memiliki kelebihan harta, bahwa dirinya adalah berharga, bahwa dirinya telah dirangkul di dalam komunitas Muslim yang mencintainya karena Allah semata. Hingga kemudian ia tak akan lagi tertarik untuk menggadaikan iman demi sekardus mie instan.

Gagasan sederhana untuk memerangi kemiskinan dari ruang masjid tentu harus dikaji kembali lebih mendalam dan mendetail oleh saudara Muslim yang menguasai ekonomi, manajemen, dan ilmu-ilmu yang terkait dengan gagasan ini yang setelah dikaji sangat dimungkinkan penerapannya untuk setiap masjid akan berbeda-beda, namun tanpa merubah gagasan pokoknya. Gagasan pokoknya adalah dengan mengisi perut saudara Muslim yang tidak berpunya, mengajarinya keterampilan, serta pemahaman akan Islam, kita telah selangkah menuju kebangkitan kembali Peradaban Islam. Karena peradaban ilmu yang besar kemudian berjaya di seluruh penjuru negeri tidak dibangun di atas perut kosong para pengusungnya. 

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Sya’ban 1435 Hijrah Nabi
Disempurnakan di Jimbaran pada penghujung Sya’ban 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar