Jumat, 06 Juni 2014

Rumah Yang Hati Rasulullah Terpaut Kepadanya

Perjalanan hidup dan bahkan perjuangan dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tak dapat dilepaskan dari keberadaan rumah ibunda Khadijah –yang diridhai Allah-. Rumah yang hati beliau shalallahu alaihi wa sallam terpaut kepadanya karena keberadaan seorang kekasih yang turut meruang bersama. Ialah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay.

Bagaimana bisa beliau shalallahu alaihi wa sallam tak teramat sangat mencintai ibunda Khadijah. Disaat banyak orang mendustai dirinya, ibunda Khadijah membenarkan kenabian dan kerasulannya. Disaat banyak orang menjauhi dan memboikot dirinya, ibunda Khadijah menyerahkan seluruh harta benda yang dimilikinya untuk dakwah Islam. Disaat banyak orang berperilaku kasar, menghujat, dan mencemooh dirinya, ibunda Khadijah senantiasa mencurahkan kasih sayang dan kelembutan. Cinta yang terus tumbuh di atas dasar yang kokoh karena Allah. Cinta 3 kekasih. 

Di rumah itu pertama kali Muhammad bin Abdullah shalallahu alaihi wa sallam bertemu dengan ibunda Khadijah. Para sejarahwan sepakat, sebelum menikah terhitung dua kali beliau shalallahu alaihi wa sallam berkunjung ke rumah ibunda Khadijah. Persiapan keberangkatan berdagang ke Syam menjadi pertemuan pertama antara keduanya. Hingga di sini para sejarahwan berbeda pendapat kronologis pertemuan keduanya. Hanafi Muhallawi berkeyakinan bahwasanya kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ke rumah ibunda Khadijah ditemani oleh Abu Thalib atas inisiatif dirinya sendiri, sedangkan Ibnu Ishaq meyakini bahwasanya ibunda Khadijah yang berinisiatif mengundang beliau shalallahu alaihi wa sallam ke rumah untuk membantunya berdagang sebab dikenalnya beliau sebagai pemuda yang terpercaya di tengah kaumnya.

DR. Aisyah Abdurrahman menceritakan betapa seringnya ibunda Khadijah berdiam diri di depan pintu rumahnya dengan dilingkupi rasa rindu yang bercampur akan rasa gelisah menanti kedatangan seorang pemuda gagah lagi terpercaya yang ditugasinya berdagang ke negeri Syam yang kemudian menjadi pertemuan kedua bagi keduanya di rumah itu pula. Bagaimana ibunda Khadijah bisa tak merindukan sesosok pria yang mulia dan terhormat yang kelak diangkat derajatnya sebagai seorang Rasul oleh Allah jika sebatang pohon kurma pun menangis hingga kiamat sebab rindu akan kedekatan dengan diri Rasulullah. Hingga akhirnya tampak dari kejauhan kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersama Maisarah. Mengembang senyum di bibir ibunda Khadijah, dengan suara lembut menyambut kedatangan lalu mempersilahkan beliau memasuki rumahnya. Bagaimana ibunda Khadijah bisa tak menyambut kedatangan beliau jika malaikat penjaga pintu ketujuh langit pun menampakkan kegembiaraan atas kedatangan kekasih-Nya, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, sembari mengatakan “Sebaik-baiknya kedatangan adalah kedatanganmu”.

Rumah yang niscaya kita katakan terlampau sederhana di masa kini bahkan tak layak. Tapi dari ruang-ruangnya yang sederhana tumbuh cinta yang akarnya tertanam kuat hingga nanti beliau shalallahu alaihi wa sallam terpaksa meninggalkan rumah itu sebab hijrah ke tanah Madinah demi tegaknya dan kemenangan dakwah Islam. Rumah yang nyaman, aman, dan dipenuhi kelembutan serta kasih sayang yang dikehendaki oleh Allah untuk mempersiapkan diri hamba-Nya mengemban risalah kenabian. Dipersiapkannya diri Rasul-Nya di tengah keluarga yang bahagia sebelum menjalankan tugas yang teramat berat yang niscaya gunung pun akan luluh lantah andai saja memikulnya. 

Rumah sederhana yang menjadi saksi kebahagiaan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersama kekasih di tengah putra dan putrinya. Rumah sederhana yang menjadi saksi pula atas menikahnya putri-putri beliau, Zainab, Ruqayyah, dan Ummi Kultsum. Rumah yang dipenuhi barokah cinta di setiap sudut ruangnya. Rumah yang hangat. Kehangatan yang dicari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ketika derap langkahnya tergesa-gesa diiringi rasa ketakutan dan hati yang bergetar. “Selimuti aku! Selimuti aku!” kata beliau kepada ibunda Khadijah. Hari itu tanggal 27 Ramadhan bertepatan pada hari Kamis tanggal 16 Agustus 610 masehi telah turun wahyu kepada beliau shalallahu alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril yang seketika menyentak kesadaran di tengah keheningan dirinya ber-tahannuts. Hanya jalan ke rumah yang diingat beliau ketika itu. Karena di sanalah letak kehangat dan kedamaian berada.

Di lingkungan Kota Mekah pada masanya, rumah itu adalah rumah yang terbilang mewah. Rumah yang menjadikan diri beliau shalallahu alaihi wa sallam senantiasa dekat dengan Ka’bah. DR Ahmad Syalabi menuturkan rumah yang dihuni oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersama ibunda Khadijah dan putra putrinya dilengkapi dengan sepetak halaman, kandang unta dan kambing, serta gudang untuk menyimpan barang dagangan. Rumah sederhana yang hanya memiliki 4 kamar. Sebuah ditempati oleh beliau dan ibunda Khadijah, sebuah ditempati oleh putra putri beliau, sebuah digunakan oleh beliau untuk beribadah, dan sebuah lagi yang terpisah dari bangunan utama dan memiliki pintu masuk tersendiri digunakan oleh beliau untuk menerima dan melayani tamu-tamunya.

Tampak dari atas rumah yang dimukimi Rasulullah

Ruang tidur Rasulullah bersama ibunda Khadijah

Ruang Rasulullah beribadah di dalam rumah

Rumah sederhana yang merekam kesedihan beliau ketika meninggalnya Qasim dan Ibrahim. Kesedihan yang semakin dalam karena tak kuasa melihat kesedihan kekasihnya ditinggal pergi putra-putra terkasih. Andai saja dinding-dinding rumah itu tetap berdiri tegak seperti sedia kala hingga saat ini akan kita dapati rekam jejak kesedihan beliau. Air mata yang menetes pada lantainya. Betapa masa-masa itu dipenuhi air mata. Kesedihan yang belum lagi hilang disusul kesedihan yang lebih dalam di hari meninggalnya Abu Thalib dan ibunda Khadijah. Seakan langit runtuh di atas hati beliau. Masa kesedihan teramat sangat karena kehilangan paman yang melindungi dan kekasih yang menghangatkan. Masa yang disebut tahun kesedihan.

Rumah yang perlahan kosong ditinggalkan penghuninya. Penghuni terbaik yang pernah dikenal sepanjang keberadaan manusia. Rumah yang seketika sendiri, dingin, tak ada lagi kehangatan di dalamnya. Rumah yang oleh Hanafi Muhallawi kemudian beralih kepemilikan kepada Uqail bin Abu Thalib sejak beliau shalallahu alaihi wa sallam berhijrah hingga beralih kepemilikan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan pada hari yang lebih kemudian. Hari itu telah tengah hari ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam meninggalkan rumah kekasihnya beranjak ke rumah kekasihnya yang lain, Abu Bakar ash-shidiq, untuk mempersiapkan hijrah ke tanah yang dijanjikan Allah setelah sebelumnya beliau menyampaikan wasiat kepada Ali bin Abu Thalib. Wasiat seorang kekasih kepada kekasih,
“Ali, tidurlah di kasurku dan selimutilah dirimu dengan selimutku. Tidurlah dengan tenang karena tak akan ada sesuatu yang buruk yang akan menimpamu dari perbuatan orang-orang kafir”
Malam itu adalah malam kesepian. Manusia tebaik di muka bumi tak lagi berada di atas ranjangnya, tak lagi memenuhi ruang-ruang rumahnya. Kenangan yang dibawanya pergi dan disimpannya dalam tiap ruang dengan rapi. Rumah yang menyimpan kerinduan.

Kerinduan yang baru dapat dijemput Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam setelah 8 tahun meninggalkan kota kelahiran, kota tempat cintanya bersemi. Kerinduan yang dibalut dengan suatu peristiwa kemenangan besar. Dahulu beliau shalallahu alaihi wa sallam menundukkan kepalanya ketika mendatangi rumah ibunda Khadijah sepulang dari negeri Syam, begitu pula pada hari itu beliau menundukkan kepalanya ketika memasuki kembali tanah kelahiran sebagai seorang yang meraih kemenangan. Tak ada yang berubah dari beliau, tetap lembut lagi gagah, dan tak ada yang berubah pula dari kerinduan beliau akan rumahnya.

Hari kemenangan besar yang terselip rindu. Andai saja hari itu ibunda Khadijah berada di depan pintu rumahnya seperti masa yang telah lalu, menyambut kembali kedatangan beliau shalallahu alaihi wa sallam. Tapi rindu itu tertahan sebab beliau shalallahu alaihi wa sallam selama kurang lebih 15 hari di Kota Mekah terpaksa mendirikan tenda di Jabal Hind. Rumah yang tak lagi dimilikinya, hanya sebatas dalam ingatan dan kenangan.

Kalaulah kita ditanya, dimanakah rumah terbaik berada? Adakah kita akan menjawab sekedar ciri tampilan fisiknya? Atau kualitas bahannya? Atau barangkali gemerlap ornamentasinya? Ataukah kita teringat akan kisah hidup Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersama ibunda Khadijah di dalam ruang-ruang rumahnya yang teramat sederhana? Jika begitu, lalu, apa itu rumah?

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Sya’ban 1435 Hijrah Nabi

2 komentar:

  1. rumah adalah tempat berlindung,berteduh, berbagi kasih dan sayang kepada keluarga untuk memuja dan memuji allah, dan memohon ridhonya, itulah rumah menurut fersi saya

    BalasHapus
  2. indahnya rumah rasul bersama ibunda khadijah, ingin rasanya menciptakan suasana rumahku seperti suasana rumah rasul

    BalasHapus