Selasa, 08 Juli 2014

Dari Masjid Mengusir Kemiskinan

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Dari Masjid Memerangi Kemiskinan” kita telah membahas peran sosial-kemasyarakatan ruang masjid yang mendesak untuk kembali dihadirkan sebagai solusi atas masalah sosial-ekonomi yang tengah dirasakan masyarakat Muslim saat ini melalui pengadaan fasilitas dapur umum masjid untuk memenuhi kebutuhan gizi warga yang tak berpunya di sekitar lingkungan masjid, fasilitas asrama masjid untuk ‘merumahkan’ generasi muda umat Islam yang belum berkeluarga, tidak mampu, dan tidak memiliki tempat tinggal layak agar tumbuh kedekatan emosional dan kesejarahan dirinya dengan masjid, dan fasilitas pendidikan syariat dan keterampilan hidup sebagai upaya untuk tidak saja menegakkan tulang belakang umat Islam yang tak berpunya tapi juga memberinya bekal keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan yang terpenting memasukkan iman ke dalam qolbu-nya.

Pada fase ini hakikatnya kita sedang memerangi kemiskinan dari dalam tubuh masyarakat Muslim. Fase memperkenalkan gagasan dan tahap awal penerapannya. Dibutuhkan pendekatan persuasif untuk menyampaikan gagasan agar pihak masjid memahami dan menyetujui. Pada awal penerapannya pun dibutuhkan pendekatan persuasif untuk menyampaikannya kepada warga di sekitar lingkungan masjid. Siapa yang berhak mendapatkan fasilitas dan siapa yang berkenan menjadi donatur untuk keberlangsungan operasionalnya. Masih terjadi tarik menarik dan tegangan yang jika diulur tidak akan pernah dapat terealisasi tapi jika seketika ditarik sekencang-kencangnya pasti akan patah dan menimbulkan masalah baru. 

Setelah fase awal telah terealisasi, tak berarti perjuangan kemudian berhenti. Dalam fase berikutnya, setelah memerangi, kita harus mengusir kemiskinan dari dalam tubuh masyarakat Muslim. Kita usir sejauh-jauhnya hingga tak berdaya lagi kemiskinan mendatangi dan merongrong masyarakat Muslim yang dampaknya merembet pada aqidah umat. Tapi kita pun tak menginginkan membentuk mental masyarakat Muslim menjadi masyarakat yang senantiasa disuapi, masyarakat yang memiliki ketergantungan mutlak kepada makhluk. Kita menginginkan setiap diri umat Islam menjadi umat yang mandiri dan dengan kemandiriannya dapat berdiri kokoh merapatkan barisan hingga tanpa celah sehingga menjadi barisan masyarakat Muslim yang di atasnya hanyalah Allah. Tak ada yang mampu membendung gerak lajunya kecuali hanya Allah yang menghendakinya demikian.