Rabu, 06 Agustus 2014

Masjid Sepanjang Perlintasan Mudik

Mudik menyambut datangnya hari lebaran merupakan tradisi bagi kebanyakan umat Islam di Indonesia. Bagi diriku yang penikmat arsitektur, mudik tak sekedar tradisi tapi juga pengalaman meruang memasuki ruang kota demi ruang kota, menghirup suasananya, menikmati arsitekturnya, memperhatikan kegiatan dan tak jarang berbincang dengan warganya. Begitu pula pengalamanku mudik tahun ini dari Denpasar menuju Lumajang dan dari Lumajang menuju Surakarta.


Puluhan kali menempuh perjalanan mudik, satu fenomena yang serasa wajib harus selalu hadir adalah penggalangan dana pembangunan masjid, khususnya di kota-kota kecil dan pedesaan, yang hingga meluber ke tengah jalan sehingga kendaraan bermotor terpaksa harus menurunkan kecepatannya tak lebih dari 10-20 km perjam. Suasana yang sangat meriah, hanya malam takbiran yang mengalahkan riuhnya. Seorang atau lebih akan berbicara melalui pengeras suara meminta bantuan dana, sedikit cerita tentang pembangunan masjid di lingkungannya, dan doa-doa yang dilantunkan teruntuk pemberi dana agar sampai di tujuan dengan selamat dan sebagian harta yang disumbangkan mendapatkan balasan berlipat-lipat dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Sedangkan warga lainnya berjejer di sepanjang tepi dan tengah jalan menengadahkan ember menyambut bantuan dana dari pemudik yang lewat. 

Di beberapa daerah tampak sangat terorganisir dan terlihat rapi. Warga yang turut membantu penggalangan dana mengenakan baju yang bersih, rapi, dan menutup aurat. Menghampiri pemudik yang lewat pun dengan santun, senyum, dan salam yang hangat. Tidak sedikit pula di beberapa daerah tampak tidak terorganisir, cenderung sporadis, dan berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Warga yang turut membantu penggalangan dana terlihat tampil apa adanya mengenakan baju yang lusuh, jauh dari kesan rapi, bahkan banyak yang tidak menutup aurat dengan sempurna. Tak jarang menghampiri pemudik dengan sikap yang tidak santun seperti mengetuk keras kaca jendela kendaraan, berteriak “Woi woi”, atau mengejar kendaraan pemudik yang tidak memberikan bantuan dana.

Penggalangan dana diselenggarakan berkali-kali musim mudik disebabkan masjid yang dibangun bukanlah skala masjid lingkungan permukiman, tapi masjid dengan kapasitas ribuan jama’ah, menjulang tinggi di tengah sky-line bangunan sekitar yang rendah, dengan wujud yang megah di tengah lingkungan yang teramat sederhana bahkan di beberapa daerah di tengah lingkungan yang jauh dari layak huni. Aku tak terkejut lagi setiap kali musim mudik mendapati penggalangan dana pembangunan masjid di tempat yang sama. Yang pada tahun lalu masih dalam tahap pengerjaan struktur bangunannya, tahun ini sudah terlihat wujud bangunannya, dan tampaknya tahun depan akan melangkah pada tahap penyelesaian akhir. Tidak jarang pula tumbuh titik-titik baru penggalangan dana pembangunan masjid di sepanjang jalur mudik yang rutin aku lewati yang berarti pembangunan masjid baru. 

Banyak hal yang dapat direfleksikan dari fenomena tersebut di atas. Di satu sisi tentu sebagai umat Islam kita turut bahagia dengan semakin giatnya pembangunan masjid hingga ke daerah desa-desa yang masih dapat dikatakan sangat lambat pertumbuhan fisiknya. Sebagai tanda pula besarnya perhatian dan semangat umat Islam setempat terhadap keberadaan masjid di lingkungan permukimannya, terlepas dari manajemen, aktivitas, dan kuantitas serta kualitas jama’ah yang akan memakmurkan. Bahkan di sepanjang jalur mudik yang aku lalui antara masjid berjarak tidak sampai bilangan 1-2 km dengan kapasitas ribuan jama’ah hingga seakan-akan terjadi perlombaan pembangunan masjid antar permukiman. 

Wujud masjid yang monumental di tengah sky-line kota yang rendah memang harus diakui memudahkan bagi diriku sebagai musafir menemukan masjid dari kejauhan, seperti di kota Banyuwangi, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto, Madiun. Menara atau kubah masjid yang menjulang hingga puluhan meter dengan mudah terlihat dari kejauhan. Tapi kemudian rasa sedih muncul karena begitu banyak masjid dengan daya tampung ribuan jama’ah senantiasa sepi seakan tak memiliki basis sosial dari warga di sekitar lingkungan masjid. Terlebih pada waktu ibadah shalat shubuh seringkalinya terjadi fenomena dagang sate, yang adzan si A, yang iqomat si A, dan yang menjadi imam pun si A. 

Dua tahun lalu saat mudik, aku berbincang dengan seorang kawan yang berprofesi sebagai sopir kendaraan angkutan barang. Penasaran aku bertanya karena setiap kali aku ajak shalat selalu saja menghindar, 
“Mas, di kampung njenengan hampir setiap tahun dibangun masjid baru, tapi kenapa jama’ahnya sedikit dan kebanyakannya yang sudah sepuh?” 
“Sudah tradisi di kampung saya mas. Di sini masyarakatnya menggunakan masa muda untuk bekerja keras mencari nafkah. Tidak kenal waktu bekerja, dari pagi ke pagi lagi, yang terpenting kebutuhan keluarga bisa tercukupi, jadi kadang tidak sempat untuk sembahyang. Ada yang bertani, berdagang, pekerja bangunan, atau seperti saya ini sopir angkutan barang bisa berhari-hari di jalan.” 
“Terus kenapa harus membangun masjid baru mas kalau tidak dibutuhkan?” 
“Nah begini ceritanya mas. Nanti kalau yang muda-muda seperti saya ini sudah tua, sudah sepuh, kita akan bergotong-royong membangun masjid. Ya ibaratnya kita bertaubat dengan membangun masjid, semoga bisa mengganti masa lalu kita yang jarang sembahyang. Masa tua memang masa untuk beribadah.” 
“Karena tradisi itu hanya warga yang sudah sepuh yang datang ke masjid ya mas?” 
“Iya mas karena sudah sepuh, sudah tidak kuat lagi bekerja jadi waktunya nganggur bisa maksimal untuk sembahyang dan ngurus masjid.” 
Perbincanganku dengan seorang kawan sebagaimana aku kutip di atas memang tidak bisa dan tidak tepat digunakan untuk menggambarkan realitas sosial keagamaan umat Islam secara keseluruhan menyangkut fenomena yang kita bincangkan dalam artikel ini karena hanya berasal dari seorang narasumber. Dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan meluas dengan melibatkan narasumber yang lebih banyak dan heterogen untuk dapat menggambarkan secara jelas permasalahan tersebut. 

Kesedihan kian menumpuk ketika mengamati lingkungan permukiman di beberapa masjid yang sempat aku singgahi dalam perjalanan mudik. Masjid yang begitu megah aku taksir pembangunannya membutuhkan biaya ratusan juta hingga tembus milyaran rupiah tampak berbalik punggung dengan lingkungan permukiman sekitarnya yang sangat sederhana bahkan kumuh tak layak huni. Banyak sekali hunian warga di sekitar lingkungan masjid yang ingin rubuh, bahan bangunannya telah rusak dimakan usia. Kondisi lingkungan hunian yang sangat kontras jika dibandingkan dengan masjid di lingkungan permukiman tersebut yang senantiasa dijaga kebersihan dan kelayakannya. 

Kondisi yang lebih menyedihkan aku dapati. Tidak saja lingkungan permukiman di sekitar masjid yang tidak layak huni, tapi masjidnya yang tampak megah tidak dirawat dengan baik. Lantainya yang kotor, karpet masjidnya yang lembab dan lusuh, pengeras suaranya yang sumbang, hingga manajemen masjidnya yang kacau balau dapat dilihat dari kualitas imam yang memimpin shalat wajib para jama’ahnya. Seakan setelah masjid berdiri kemudian tak lagi diperhatikan. 

Seorang kawan mahasiswa yang kampung halamannya aku lintasi setiap perjalanan mudik, empat tahun lalu bercerita padaku setelah aku tanyakan kenapa banyak masjid di kampung halamannya tampak megah dan mewah tapi begitu banyak rumah tinggal warga di sekitar lingkungan masjid tak layak huni bahkan lantainya pun masih menggunakan tanah dipadatkan. Ia katakan bahwa masyarakatnya mendahulukan kepentingan masjid dibandingkan kepentingan pribadi dan keluarga sehingga seluruh daya upaya dicurahkan untuk memperbagus tampilan masjid di lingkungan permukimannya, baik dana maupun tenaga. Lagi pula terdapat kepercayaan di kalangan masyarakatnya bahwa dianggap tabu memiliki rumah yang tampilan serta kemewahannya menyamai atau melebihi masjid. 

Sekali lagi harus aku tekankan, tentu tidak bisa dan tidak tepat perbincanganku dengan seorang kawan digunakan untuk menggambarkan permasalahan tersebut secara jelas. Paling tidak dari penuturannya aku memiliki ‘gambaran kasar’ dan tentu menuntut dilakukannya penelitian yang lebih mendalam dan meluas mengenai fenomena tersebut yang berarti adalah pekerjaan rumah bagi kalangan yang diberi Allah amanah ilmu. 

Dapat ditangkap maksud dan niat baik masyarakat Muslim pembangun masjid sebagaimana pernyataan kedua kawanku yang menjadikan pembangunan serta tampilan masjid sebagai prioritas dan pembangunannya sebagai wujud pertaubatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Tapi tentu tidak sesuai jika ditimbang dengan syariat Islam. Hal ini menandakan ketiadaan ilmu dalam masyarakatnya, terkhusus mengenai masjid baik dalam aspek tujuan pembangunannya, fungsinya, manajemennya, dan persepsi masyarakatnya terhadap masjid itu sendiri. Sehingga keberadaan masjid di lingkungan permukiman masyarakat tersebut tidak memberikan manfaat maksimal bagi umat Islam yang merupakan basis sosial masjid, bahkan justru memberatkan masyarakatnya untuk membangun masjid yang besar, mewah, dan megah dengan mengorbankan kualitas huniannya. 

Jumlah pertumbuhan masjid tidak berbanding lurus dengan perbaikan kehidupan masyarakatnya, baik dalam aspek ibadah maghdah, penguasaan akan ilmu, kehidupan ekonomi, budaya, maupun kehidupan sosial kemasyarakatan. Semangat pembangunan masjid tidak diiringi pemahaman akan ilmu sehingga setelah hadir akan segera menjadi monumen yang lebih banyaknya adalah diam. Keberadaan masjid kontras dengan lingkungan sekitarnya seakan menggambarkan Islam tak beranjak ke luar masjid, bahkan kujumpai Islam itu sendiri tak berada dalam masjid yang dibiarkan kumuh, lusuh, tak bersinar. 

Di satu sisi tersenyum bahagia, di sisi lain mengelus dada. Simpul senyum yang menyimpan kesedihan, kegelisahan, sekaligus keprihatinan. Entah kapan Ramadhan akan menjadi bulan pendidikan dan Syawal menjadi bulan kemenangan karena jika menengok pada beberapa masjid yang aku singgahi di sepanjang perjalanan mudik tahun ini rasanya masih jauh panggang daripada api. Mau tak mau satu lagi tambahan pekerjaan rumah, menghidupkan kembali derum masjid sebagai generator peradaban. 

Ditulis oleh Andika Saputra 

Bertempat di Surakarta pada Ramadhan 1435 Hijrah Nabi 
Disempurnakan di Yogyakarta pada Syawal 1435 Hijrah Nabi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar