Senin, 29 September 2014

Kita Yang Baru Saja Terbangun

Ilmu pengetahuan semasa (present-day knowledge) yang menjadi arus utama dalam alam dunia modern dan menjadi satu-satunya rujukan ke-ilmiah-an bagi ilmu pengetahuan selainnya, termasuk dalam bidang arsitektur, kini tengah mengalami krisis. Ilmu pengetahuan semasa yang oleh pemujanya merupakan satu-satunya jalan yang sah bagi manusia untuk mencapai puncak peradaban, kini harus berhadapan dengan berbagai dampat negatif berupa kerusakan alam manusia, alam hewan, alam tumbuhan, dan alam mineral. Pembangunan dalam skala besar dan singkat yang membuta tuli ditempuh melalui mekanisasi manusia, eksploitasi sumber daya alam, pengerusakan lingkungan hidup disebabkan materialisme sebagai asas pembangunan yang menjadi agenda utamanya memandang manusia, alam, hewan, dan tumbuhan hanya sebatas materi dan jasad dan relasi di antaranya hanya didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan.

Ilmu pengetahuan semasa yang bersandarkan pada rasio dan pancaindera meniscayakan manusia mencapai teknik rekayasa hingga batas-batas terjauhnya. Gurun tandus menjadi hamparan padang rumput, gedung-gedung melebihi tinggi gunung-gunung, bahkan menghadirkan daratan di tengah lautan lepas dan seketika menyulapnya menjadi kota penuh gemerlap lampu-lampu neon. Tapi kini dipaksa berhadapan dengan keterbatasannya bahwa ternyata pembangunan yang didasarkan ilmu pengetahuan semasa tak mampu menyentuh dimensi ruhaniyah yang merupakan esensi manusia akibat penolakannya terhadap spiritualitas melalui legitimasi ketidak-ilmiahan wahyu dan intuisi atas nama kebenaran obyektif. Epistemologi sedemikian menghasilkan teori yang kering dan gersang yang berarti tidak manusiawi. Konsekuensi logisnya, tingkat pembangunan fisik tidak beriringan dengan tingkat pembangunan ruhani sedangkan spiritualitas yang ditolaknya adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menemukan makna diri, tujuan hidup, dan nilai-nilai abadi. Ilmu pengetahuan semasa yang lahir dari rahim humanisme dengan menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan ukuran kebenaran kini berhadapan dengan kemanusiaan dan kehidupan.

Ilmu pengetahuan semasa yang menafikan dimensi spiritual, pembangunan fisik yang tak diiringi pembangunan ruhaniyah, dan berbagai dampak negatif yang diakibatkannya menumbuh suburkan gerakan integrasi ilmu pengetahuan semasa dengan aspek spiritual maupun gerakan re-humanisasi. Pun demikian dikalangan cendikiawan, ilmuwan, dan praktisi Muslim, termasuk di bidang arsitektur, tengah terjadi gerakan kembali kepada Islam yang secara pesat menumbuh suburkan ghirah ke-Islam-an yang oleh Ahmad M. Saefuddin disebut dengan upaya menyongsong masa kejayaan kedua Islam melalui jalan islamisasi ilmu pengetahuan semasa. Dalam ranah keilmuan dan praktik arsitektur, islamisasi ilmu pengetahuan semasa kemudian memunculkan istilah Arsitektur Islam.

*****

Islamisasi ilmu pengetahuan semasa dapat dianalogikan sebagaimana kita yang seketika terbangun ketika lantunan adzan shubuh berkumandang di tengah lelapnya tidur. Suara Ilahi itu memanggil dan menyentuh qalbu sebagian hamba-Nya dan sebagian yang lain memilih untuk tetap terlelap di atas ranjangnya.

Sebagian yang menyambut seruan adzan shubuh dan seketika terbangun dari lelapnya tidur, terdapat beberapa kondisi. Ada yang matanya telah terbuka tapi jasadnya masih enggan beranjak. Dalam kesadarannya berniat kuat untuk bangun, mengambil wudhu, mendatangi masjid, dan shalat, tapi ruh-nya belum sepenuhnya mampu menundukkan jasad-nya. Kondisi ini adalah analogi dari kajian Arsitektur Islam yang memandang arsitektur dari dalam dirinya sendiri dan kemudian dilepaskan dari konteks ruang dan waktu untuk diangkat ke dalam tataran generalisasi konseptual. Kajian yang dilakukan pada umumnya menggunakan pendekatan kesejarahan maupun tipologi, yaitu beragam elemen arsitektur sepanjang Peradaban Islam dan hampir didapati di seluruh Dunia Islam dilegitimasi sebagai Arsitektur Islam, seperti elemen kubah, minaret, mihrab, hypostyle, muqarnas, intricate, arabesque, dan lain sebagainya. Atau bentuk kubus dengan justifikasi bentuk Ka’bah yang hanya dimiliki oleh Islam sehingga merupakan representasi paling tepat dari Arsitektur Islam.

Dalam bidang ilmu lain pun terjadi kondisi yang sama. Sebut saja Thibbun Nabawi, atau sebagian lainnya menggunakan istilah Pengobatan Nabi atau Kedokteran Islam atau Farmasi Islam yang dengan pendekatan kesejarahan dan tipologi melegitimasi praktik bekam (al-Hijamah) sebagai satu-satunya praktik yang sah dalam Pengobatan Islam. Dalam batasan tertentu pendekatan ini menjadi kontra-produktif dikarenakan pendekatan tipologi yang menuntut kategorisasi ketat dengan memandang arsitektur maupun kedokteran dari dalam dirinya sendiri bersifat hitam-putih, ini Islam dan itu bukan Islam. Masjid berkubah adalah Islam sedangkan masjid beratap tumpang bukanlah Islam. Tahnik kurma adalah Islam sedangkan vaksin sebagaimana lumrah dilakukan pada masa kini bukanlah Islam. Dengan kata lain islamisasi ilmu pengetahuan semasa yang dilakukan berkutat dalam tataran obyek-obyek, benda-benda, produk-produk. 

Ada pula yang dengan kuatnya niat telah mampu membuka mata dan menggerakkan jasadnya untuk bangkit dari atas ranjang, mengambil wudhu, dan berjalan ke masjid, walaupun tampak lesu, lamban, ogah-ogahan. Sedang terjadi tarik menarik antara kehendak ruhaniyah dan jasadiyah-nya. Kondisi ini adalah analogi dari kajian Arsitektur Islam yang telah masuk ke dalam ranah filosofis. Kerusakan yang diakibatkan oleh ilmu pengetahuan semasa bukanlah disebabkan oleh aspek ontologi maupun epistemologinya yang secara de facto telah menghasilkan berbagai khazanah teoritik dan teknologi arsitektur yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam kondisi kehidupan masa kini, termasuk bagi kalangan umat Islam. Tapi aspek aksiologi yang dipisahkan dan tidak bersumber dari nilai-nilai Islam-lah yang menjadi penyebab segala kerusakan yang diakibatkan oleh pengamalan ilmu pengetahuan semasa. Hasil kajiannya adalah nilai-nilai Islam sebagai panduan dalam pengamalan dan kebermanfaatan ilmu dan praktik arsitektur.

Ada pula yang kuatnya niat diiringi dengan amal. Seketika terbangun ketika baru saja adzan shubuh mulai berkumandang, seketika pula bangkit dari ranjangnya, mengambil wudhu, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian, dan dengan langkah yang tegap lagi khidmat menuju ke masjid. Nuur ALLAH yang bersemayam di dalam qalbu menjadikan jasadnya tunduk patuh. Kondisi ini adalah analogi dari kajian Arsitektur Islam secara menyeluruh yang tidak saja membongkar ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu pengetahuan semasa untuk meng-Islam-kannya dengan cara membuang konsep-konsep yang tidak dapat sejalan dengan Islam, menafsir ulang berbagai khazanahnya agar sejalan dengan Islam, dan memasukkan konsep-konsep Islam, hingga merumuskan khazanah keilmuan yang orisinil dan kreatif bersumberkan dari al-Qur’an dan Sunnah yang dikaitkan dengan konteks zaman kekinian dan kondisi umat Islam. Hasilnya adalah sebuah paradigma baru dalam khazanah ilmu pengetahuan semasa, bangunan keilmuan dan praktik arsitektur yang keseluruhannya memancarkan nilai-nilai Islam.

Kondisi terakhir ini merupakan idealitas yang diinginkan dan dikehendaki oleh penggiat Arsitektur Islam, tapi tidak seketika dapat dicapai mengingat kesadaran seketika dari berbagai kerusakan yang diakibatkan ilmu pengetahuan semasa menjadikan penggiatnya menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Dimulai dari ketidak-siapan dari segi kualitas keilmuan yang dituntut untuk menguasai tidak saja Barat beserta khazanah peradabannya yang terkait dengan arsitektur tapi juga Islam beserta khazanah peradabannya, maupun secara kuantitas sebagaimana kita dapati masih banyak, kalau tidak ingin dikatakan mayoritas cendikiawan, ilmuwan, dan praktisi arsitektur dari kalangan umat Islam yang bersikap apatis dan pesimis dengan wacana Arsitektur Islam. Hingga jurang lebar antara ilmu fardhu ain dan arsitektur yang merupakan ilmu fardhu kifayah. Belum lagi disintegrasi antara ulama di bidang ilmu qauliyah dengan para ulama di bidang arsitektur.

Sebagian yang memilih untuk tetap melanjutkan tidurnya disebabkan keyakinan bahwasanya ilmu pengetahuan semasa adalah bebas nilai sehingga dapat diyakini, digunakan, dan diamalkan, oleh seluruh kalangan di seluruh tempat dan sepanjang waktu. Seketika saja Arsitektur Islam dari segi penamaannya mengundang kontroversi dan perbedatan tak kunjung usai. Kontroversi berawal dari arsitektur sebagai obyek materi dengan obyek formal teknik sehingga menitikberatkan pada aspek rekayasa. Arsitektur dipandang semata sebagai sebuah produk rekayasa manusia melalui kerja teknik. Sebagai sebuah produk rekayasa manusia, arsitektur diyakini bebas nilai, sebagaimana teknik yang menghadirkannya. Sistem struktur dan perhitungannya, pengetahuan bahan bangunan, kebutuhan penghawaan dan pencahayaan, hingga standar-standar dalam menentukan luasan ruang adalah berlaku universal. Tidak ada yang disebut dengan Teknik Islam, sehingga tidak pula Arsitektur Islam. 

Selain keyakinan bebas nilai terhadap ilmu pengetahuan semasa, penolakan Arsitektur Islam juga disebabkan tidak dipahaminya latar belakang dan konteks kemunculannya. Penamaan Arsitektur Islam secara praktis bermaksud sebagai identitas untuk membedakannya dengan arsitektur arus utama. Begitu pula dengan penamaan lainnya yang baru ditemui dalam konteks kekinian setelah terjadinya gelombang islamisasi ilmu pengetahuan semasa semisal Psikologi Islam, Ekonomi Islam, Ilmu Sosial Profetik, dan sebagainya. Dalam pertarungan wacana ilmiah semacam ini identitas dibutuhkan untuk menjadi pembeda dengan pihak lain berdasarkan paradigma ilmu yang mendasarinya sekaligus menandakan Arsitektur Islam dibalik penamaannya memiliki dimensi filosofis yang mendalam terkait dengan ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmunya.

Kritik dan upaya ‘meluruskan’ ilmu pengetahuan semasa dalam bidang arsitektur akibat berbagai dampak negatif yang dihadirkannya, jika dicermati, tidak saja dilakukan oleh kalangan umat Islam dengan mengusung wacana Arsitektur Islam. Tercatat di Indonesia, Romo Mangunwijaya dalam bukunya yang berjudul Wastu Citra secara halus dan sastrawi menggugat ontologi dan epistemologi archi-tecton dengan menghadirkan vasthu. Yang pertama materialistik-argumentatif, sedangkan yang kedua spiritualistik-reflektif. Atau Eko Budihardjo dan Abidin Kusno yang dalam banyak karya tulis beliau menggugat aksiologi arsitektur arus utama yang menjadi perpanjangan tangan bagi kepentingan kalangan elit dan pemilik modal. Romo Mangunwijaya, Eko Budihardjo, dan Abidin Kusno telah menunjukkan bahwa arsitektur tidaklah bebas nilai jika dipandang dari perspektif yang seluas-luasnya. Karenanya kemunculan Arsitektur Islam adalah logis dan dapat diterima di tengah kondisi penuh kerusakan yang diakibatkan oleh ilmu pengetahuan semasa dan adalah logis bagi penggiatnya yang telah tunduk patuh kepada ALLAH untuk memandang masalah dan menemukan solusinya di dalam Islam.

Tapi ternyata tak semudah berucap untuk menghadirkan ‘pertarungan’ ilmiah yang elegan, santun, dan bermartabat. Bagi pemuja ilmu pengetahuan semasa, baik yang sama sekali tak ingin mendengar suara adzan shubuh maupun yang mendengar tapi memilih untuk tetap terlelap, imbuhan Islam di belakang Arsitektur adalah kontradiktif yang dikatakannya hanya merupakan sentimen keagamaan oleh para penggiatnya yang tentu saja tidak ilmiah jika timbangannya adalah ilmu pengetahuan semasa yang berasaskan Sekularisme dan Materialisme. Jadi Arsitektur Islam tidaklah ilmiah dan tidak berada di dalam lingkup wacana ilmiah. Bertambah pula tantangan dan hambatan yang mesti dihadapi penggiat Arsitektur Islam.

Arsitektur Islam sebagai salah satu alternatif paradigma arsitektur sebagai upaya koreksi dan ‘meluruskan’ ilmu pengetahuan semasa, dan merupakan satu-satunya paradigma yang mutlak benar bagi para penggiatnya yang berjalan di atas Tauhid, adalah wajar jika terjadi perdebatan ilmiah tentangnya. Tapi yang patut disesalkan dan sebenarnya tak perlu terjadi adalah perdebatan ilmiah yang teramat sengit yang memunculkan sentimen personal dan berujung pada permusuhan dan perpecahan di kalangan umat Islam.

*****

Jika islamisasi ilmu pengetahuan semasa adalah bentuk dakwah untuk mengembalikan ilmu ke dalam pangkuan Islam, maka penggiatnya adalah para pendakwah Islam. Berbagai kondisi yang dialami cendikiawan, ilmuwan, dan praktisi Muslim, termasuk di bidang arsitektur, ketika mendengar adzan shubuh sehingga sebagiannya memilih untuk bangun dan sebagian yang lainnya memilih untuk melanjutkan tidur pada hakikatnya adalah hidayah dari ALLAH. Yang pertama telah ALLAH beri hidayah, sedangkan yang kedua belum lagi mendapatkan hidayah itu. Sedangkan perbedaan antara berbagai kondisi dalam memenuhi seruan ALLAH pada hakikatnya adalah kadar hidayah yang ALLAH berikan, tingkat ketakwaan, dan derajat ilmu yang bersemayam di dalam qalbu dan meneranginya. Sehingga konsolodasi dan toleransi di kalangan umat Islam harus diutamakan daripada konfrontasi dan sentimen personal berbalut jubah wacana dan perdebatan ilmiah.

Dakwah adalah saling menasihati dengan dengan cara-cara yang ihsan sehingga lebih mudah untuk dapat saling memahami satu dengan lainnya. Bagi yang baru mampu sebatas kajian Arsitektur Islam dengan pendekatan kesejarahan dan tipologi harus terus diarahkan, begitu pula bagi penggiat Arsitektur Islam yang baru mampu fokus pada aspek aksiologi harus terus didukung. Berbagai pendekatan yang dilakukan akan saling melengkapi, bukan menegasikan, dan pada satu titik akan tiba pada jalan yang sama jika saja dirangkai dalam rencana kerja bersama. 

Arsitektur Islam relatif baru dibandingkan bidang lainnya seperti Ekonomi Islam dan Psikologi Islam. Adalah angan-angan semata jika proyek Arsitektur Islam dapat diselesaikan dalam waktu beberapa tahun atau satu generasi, belum lagi ditambah waktu yang terbuang percuma untuk perdebatan tak substansial dan menjurus pada sentimen personal. Ingatlah ilmu pengetahuan semasa yang kini menghegemoni tidaklah dibangun dalam semalam dan tidaklah dikerjakan oleh satu dan segelintir orang.

Ukhuwah di antara penggiat islamisasi ilmu pengetahuan semasa, termasuk Arsitektur Islam, harus dijalin erat. Antara penggiat keilmuan dan praktik arsitektur yang selama ini terkesan dikotomis harus dimonokotomikan, begitu pula dengan kajian arsitektur dan praktik arsitektur yang seakan hubungan keduanya bagaikan saudara tiri yang penuh kebencian satu dengan lainnya. Jangan sampai Arsitektur Islam yang lahir dari kesadaran terhadap kerusakan yang diakibatkan ilmu pengetahuan semasa, malah menyebabkan kerusakan ukhuwah di kalangan penggiatnya. Menghindari kerusakan tapi masuk ke dalam lubang kerusakan yang lain. Tentu akan memalukan dan menjadi bahan ejeken bagi sebagian yang memilih untuk melanjutkan tidurnya. Lebih baik tidur tapi memperkuat ukhuwah, daripada bangun tapi menimbulkan keributan, pikirnya.

Akhirnya, wallahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Dzulhijjah 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar