Kamis, 16 Oktober 2014

7 Pilar Memahami Arsitektur Islam

Tulisan ini merupakan ulasan dari makalah dengan judul How to Grasp Islamic Architecture yang ditulis oleh Dr. Khaled Azab dalam publikasi Bibliotheca Alexandrina Issue No.12 July 2011 halaman 22-26.


*****

Khaled membuka bahasan makalahnya dengan sebuah pernyataan bahwa untuk memahami Arsitektur Islam masih dibutuhkan jalan yang panjang disebabkan pengkajian dan pemahaman terhadap Arsitektur Islam masih bersandarkan pada pendekatan yang digunakan oleh kalangan Orientalis, yaitu arsitektur sebagai sebuah wujud fisik semata, terkhusus wujud yang dipenuhi dengan ornamentasi. 

Rabu, 08 Oktober 2014

Arsitektur Kini Untuk Kehidupan Esok

Arsitektur yang tak sesingkat namanya memiliki spektrum fungsi yang luas. Dikaitkan dengan kebutuhan primordial manusia, arsitektur adalah baju kedua bagi manusia untuk melindungi tubuh biologisnya yang rapuh. Dikaitkan dengan fungsi pragmatisnya, arsitektur adalah wadah bagi aktivitas manusia. Dikaitkan dengan ekonomi, arsitektur bernilai investasi bagi pemiliknya. Dikaitkan dengan kehidupan sosial, arsitektur –baik wujud fisik maupun ruang- merupakan media penyampai pesan bagi suatu komunitas atau masyarakat akan identitasnya. Dikaitkan dengan keagamaan, arsitektur memuat simbol-simbol bermakna spiritual hingga ungkapan pengalaman spiritual yang telah atau hendak dicapai. Dan itu belum semua tentang arsitektur.

Singkatnya, arsitektur sangat erat dengan manusia, dengan aktivitasnya, bahkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Begitu pula arsitektur sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia semakin mengukuhkan kehadiran arsitektur sebagai konsekuensi dari kehadiran manusia di alam budaya. Pernyataan ini dapat ditelusur dari pelajaran yang disampaikan Imam Ghazali –semoga ALLAH merahmati dan meridhai beliau-, bahwa sementara manusia berada di dunia terdapat dua hal yang perlu baginya. Pertama, perlindungan dan pemeliharaan jiwanya. Kedua, perawatan dan pemeliharaan jasadnya. Terkait dengan perawatan dan pemeliharaan jasadnya, manusia memiliki kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Yang terakhir dari kebutuhan jasadiyah manusia tersebut merujuk pada arsitektur.

Kalaulah begitu eratnya hubungan manusia dengan arsitektur, hingga batas apa arsitektur dapat bermanfaat bagi manusia, bagi kehidupannya kini di sini di alam dunia dan kelak di sana di alam akhirat? Untuk itu arsitektur butuh ditempatkan pada posisinya yang tepat sesuai dengan kedudukan segala sesuatu yang telah ALLAH tentukan dan kehendaki sebagai Sang Pencipta. Salah memahami dan menempatkan arsitektur dalam relasinya dengan ALLAH-manusia-alam merupakan tindak kezhaliman, sehingga arsitektur yang oleh Imam Ghazali dibutuhkan manusia untuk merawat dan memelihara jasadnya justru menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi dan mengancam eksistensi manusia dan alam. Karena dampak yang diakibatkan perilaku zhalim, ALLAH tidak menyukai pelakunya –innahu laa yuhibbu al-zhoolimiina- dan ALLAH tidak memberi petunjuk kepadanya –innallaha laa yahdii al-qauma al-zhoolimiina.