Kamis, 16 Oktober 2014

7 Pilar Memahami Arsitektur Islam

Tulisan ini merupakan ulasan dari makalah dengan judul How to Grasp Islamic Architecture yang ditulis oleh Dr. Khaled Azab dalam publikasi Bibliotheca Alexandrina Issue No.12 July 2011 halaman 22-26.


*****

Khaled membuka bahasan makalahnya dengan sebuah pernyataan bahwa untuk memahami Arsitektur Islam masih dibutuhkan jalan yang panjang disebabkan pengkajian dan pemahaman terhadap Arsitektur Islam masih bersandarkan pada pendekatan yang digunakan oleh kalangan Orientalis, yaitu arsitektur sebagai sebuah wujud fisik semata, terkhusus wujud yang dipenuhi dengan ornamentasi. 

Menurut Khaled, esensi dari Arsitektur Islam bukanlah arsitektur sebagai wujud fisik tapi isi, pesan, makna di balik wujud fisiknya. Karenanya pendekatan keteknikan semata tidak dapat digunakan untuk memahami Arsitektur Islam yang merupakan hasil dari alam kesadaran Peradaban Barat yang mengkristal dalam paham materialisme. Dampaknya memunculkan dua masalah. Pertama, pemahaman Arsitektur Islam terbatas pada obyek masjid dan madrasah yang diyakini merupakan representasi paling tepat terhadap Islam, sedangkan fasilitas lainnya tidak dihiraukan dan bukan bagian dari Islam. Pemahaman tersebut dibangun di atas keyakinan bahwasanya Islam hanya sebatas ibadah ritual, sehingga sebagai konsekuensi logisnya Arsitektur Islam hanya mencakup fasilitas peribadatan. 

Kedua, pendekatan deskriptif semata untuk dapat menjelaskan wujud fisik arsitektur secara akurat tanpa mempersoalkan latar belakang, sebab, dan berbagai konteks terkait dengan wujudnya, sehingga menjadikan arsitek hanya sebagai imitator bentuk yang sangat miskin kreativitas dan inovasi. Terdapat dua keadaan berkaitan dengan masalah kedua ini. Keadaan pertama, menggunakan elemen-elemen dari masa lalu dengan tujuan untuk memberikan kesan Islami. Sebagai contoh, elemen masharbiya yang terbuat dari kayu dan diletakkan pada bukaan jendela pada awalnya memiliki fungsi utama untuk menghalangi pandangan orang asing ke dalam ruang privat selain agar udara segar tetap dapat masuk dan meminimalkan radiasi matahari, tapi kemudian pada masa kini digunakan hanya untuk memberikan citra Islami dan dilepaskan dari fungsi awalnya disebabkan tidak dipahami berbagai konteks yang melekat pada elemen masharbiya. 

Begitu pula dengan keadaan kedua, yaitu menggunakan elemen Arsitektur Barat Modern tanpa diiringi kesadaran terhadap gagasan dan nilai-nilai yang melekat padanya. Keadaan tersebut didasarkan keyakinan bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk dapat sejajar dan mengungguli perkembangan Arsitektur Barat adalah dengan cara menirunya bulat-bulat dan mengikuti jejak langkahnya selangkah demi selangkah. Secara tersirat keadaan kedua ini merupakan pengakuan umat Islam atas kekalahannya dari Barat dan sikap inferior berhadapan dengan Peradaban Barat sehingga tak mampu bersikap kritis. Perkataan Ibnu Khaldun, “Pihak yang kalah akan selalu menjadi imimator setia pihak yang menang”, menurut Khaled menemukan kebenarannya dalam keadaan kedua ini. 

Khaled menawarkan jalan keluar, solusi, dari masalah dan tantangan yang hingga abad 21 masih membelenggu umat Islam, tidak saja dalam ranah akademis tapi juga dalam praktik berarsitektur, untuk memahami Arsitektur Islam. Untuk menghadirkan arsitektur yang secara keseluruhannya mencerminkan Islam –wujud dan makna di balik wujud- sekaligus arsitektur yang kreatif dan inovatif, harus diawali dengan memahami Arsitektur Islam sebagaimana umat Islam memahami Islam yang dirumuskan Khaled ke dalam tujuh pilar memahami Arsitektur Islam.

*****

Pilar pertama, integrasi arsitektur dengan fikih; Khaled menggunakan istilah fikih Arsitektur Islam. Khaled Azab mencatat orang pertama yang menyusun sebuah buku mengenai fikih Arsitektur Islam ialah Ibnu Abdul Hakim, seorang ulama Mesir pada tahun 214 H/829 M. Menurut Ibnu Abdul Hakim, untuk merumuskan aturan dan memutuskan hukum berkaitan dengan arsitektur dibagi dalam empat bidang yaitu, (1) konstruksi yang hukumnya wajib ada bagi umat Islam mencakup masjid dan fasilitas pertahanan; (2) konstruksi yang mendapatkan perhatian dalam jumlah dan persebarannya mencakup minaret agar umat Islam di seluruh pelosok daerah dapat mendengar seruan adzan dan pasar agar seluruh warga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya; (3) konstruksi yang diperbolehkan mencakup rumah untuk memenuhi tujuan syariat Islam, yaitu melindungi agama, jiwa, harta, kehormatan, dan nasab setiap warga; dan (4) konstruksi yang dilarang keberadaannya mencakup fasilitas prostitusi, tempat produksi minuman keras, dan segala fasilitas yang diperuntukkan bagi aktivitas yang dilarang oleh syariat Islam.

Pilar kedua, arsitektur yang bertujuan untuk membentuk struktur masyarakat Islam yang kokoh. Gaya hidup individualis yang ditiru umat Islam dari Barat telah menjadikan arsitektur sebagai kebutuhan pribadi dan perlahan mulai hilang ruang-ruang bersama untuk berkomunikasi. Penggunaan elemen masharbiya yang pada masa lalu dimaksudkan untuk membatasi pandangan orang asing ke dalam ruang privat dan sebagai solusinya menyediakan ruang-ruang bersama untuk berkomunikasi, kini ditujukan untuk menutup sepenuhnya kesempatan berkomunikasi dengan tetangga disebabkan anggapan bahwa tetangga merupakan orang asing yang patut dicurigai keberadaannya. Alasan terhadap kebutuhan keamanan menjadi pembenaran untuk menghadirkan arsitektur yang sepenuhnya privat.

Ruang privat di lantai atas yang menggunakan elemen masharbiya dan ruang bersama yang terbuka di lantai bawah (Kairo pada akhir abad 19 M)
Sumber: Khaled Azab, 2011: 24

Menurut Khaled, hilangnya ruang-ruang bersama untuk dapat saling berkomunikasi turut melemahkan struktur masyarakat Islam karena tidak bersatu dan bercerai berai sebab sibuk dengan urusan pribadi masing-masing. Hubungan antar tetangga adalah unit terkecil dari masyarakat Islam setelah keluarga, sehingga jika kuat hubungan antar tetangga akan berpengaruh terhadap keseluruhan struktur masyarakat Islam yang kokoh bagaikan sebuah bangunan. Karenanya menurut Khaled, keberadaan ruang-ruang bersama untuk berkomunikasi adalah simbol dari solidaritas dan sikap saling menjaga di kalangan umat Islam.

Pilar ketiga, persebaran secara merata kepemilikan arsitektur untuk seluruh warga masyarakat dan kemudahan akses terhadap fasilitas bersama dengan cara menghidupkan institusi waqaf. Harta yang terkumpul selain digunakan untuk membangun rumah bagi masyarakat tidak mampu secara ekonomi juga untuk membangun sekolah dan fasilitas air bersih. Karenanya Arsitektur Islam tidak dapat dilepaskan dari Ekonomi Islam untuk dapat jalan beriringan membentuk masyarakat Islam yang sejahtera. 

Pilar keempat, Arsitektur Islam memiliki keterkaitan erat dengan Pendidikan Islam untuk membentuk kualitas umat Islam yang baik, sehingga antara arsitek dan pengguna serta pemilik ruang dapat saling bertukar gagasan dalam pembangunan arsitektur. Kebutuhan serta gagasan-gagasan yang dipertukarkan tidak akan keluar dari syariat Islam disebabkan kualitas pribadi umat Islam. Khaled ingin menyampaikan bahwa ketika arsitek telah dapat membangun arsitektur sesuai dengan kebutuhan dan karakter penggunanya, kemudian penggunanya dapat memfungsikan arsitektur tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam. Khaled menarik lingkup Arsitektur Islam tidak hanya dalam aspek pengkajian dan desain, tapi juga aspek pemanfaatannya oleh pengguna.

Pilar kelima, mempelajari, mengkaji, dan memahami khazanah Arsitektur Islam masa lalu dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitik, sehingga tidak saja deskripsi wujudnya dapat dikenali secara mendetail tapi juga berbagai konteks yang melekat pada wujud fisiknya. Diharapkan khazanah Arsitektur Islam masa lalu dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk berinovasi menghadirkan Arsitektur Islam pada masa kini yang memiliki benang merah dengan kesejarahan umat Islam pada masa lalu. Arsitektur yang menyejarah, sehingga umat Islam dapat mempelajari sejarahnya melalui arsitekturnya dengan tetap berpijak pada masa kini.

Pilar keenam, memahami Arsitektur Islam melalui kebahasaan dengan cara menggali dan memahami istilah-istilah dalam khazanah Islam yang berkaitan dengan arsitektur. Menurut Khaled, umat Islam memiliki berbagai istilah yang khusus berkaitan dengan arsitektur yang tidak dapat dilepaskan dari syariat Islam. Jika interpretasinya diulur sedemikian jauh, pilar keenam dimaksudkan untuk membentuk alam pikir dan pandangan dunia umat Islam dengan cara memahami makna yang melekat pada berbagai istilah berkaitan dengan arsitektur yang bersumberkan pada syariat Islam. 

Pilar ketujuh, tipologi arsitektur sepanjang sejarah Peradaban Islam. Tipologi yang disusun bertujuan untuk dapat memahami Arsitektur Islam dengan pendekatan kesejarahannya, sehingga tidak saja dapat diketahui perbedaan karakteristik antara Arsitektur Islam dengan arsitektur yang dilahirkan oleh peradaban lain tapi juga bermanfaat sebagai kosakata arsitektural yang dapat digunakan secara bijak oleh para arsitek pada masa kini. 

*****

Ikhtiar pemikiran Khaled Azab yang ditujukanya untuk memahami Arsitektur Islam sebagaimana umat Islam memahami Islam patut disambut dan diberi apresiasi, tapi tidak berarti telah sempurna dan menutup pintu pemikiran. Terdapat beberapa poin masukan untuk menyempurnakan pemikiran Khaled mengenai 7 pilar memahami Arsitektur Islam.

Pertama, Khaled mendasari pemikirannya pada fikih yang diakuinya sendiri dalam makalahnya. Keterkaitan esensi Arsitektur Islam yang dinyatakannya pada awal makalah dengan 7 pilar tersebut menyiratkan bahwa di balik wujud fisik arsitekturnya memancarkan isi, pesan, makna yang berkaitan dengan solidaritas sosial, keadilan sosial, kesejahteraan, dan kesejarahan. Isi, pesan, dan makna yang terpancar berdimensi sosio-hostoris sebagai keniscayaan dari pendekatan fikih dalam skala masyarakat yang digunakannya.

Esensi Arsitektur Islam yang menurut Khaled Azab ialah isi, pesan dan makna di balik wujud fisik arsitektur dapat dilengkapi dengan menggunakan pendekatan tasawuf, sehingga makna yang terpancar tidak saja berdimensi sosio-historis tapi juga berdimensi ruhaniyah. Fikih dan tasawuf adalah satu kesatuan, tak dapat dipisahkan, antara satu dengan lainnya saling melengkapi dan menopang. Jika fikih memancarkan makna berkaitan dengan dimensi lahiriah Islam, tasawuf memancarkan makna berkaitan dengan dimensi ruhaniyah Islam. Hal ini sesuai dengan Islam yang memiliki dimensi hablum min ALLAH dan hablum min an-naas yang antara keduanya tidak terpisahkan.

Kedua, dalam makalahnya, Khaled tidak menstrukturkan ketujuh pilar tersebut menjadi bangunan konsep sehingga tidak diketahui kait-hubung dengan jelas antar pilar dan kedudukan antar pilar serta pilar yang menjadi prioritas untuk memulai memahami Arsitektur Islam berdasarkan pemikirannya tersebut. Ketujuh pilar masih berdiri sendiri-sendiri, belum terangkai, sehingga pemikirannya belum dapat dipahami sebagai kesatuan konsep yang utuh.

Ketiga, Khaled tidak mengkaitkan 7 pilar pemikirannya dengan keadaan kedua dalam masalah kedua yang melatarbelakangi pemikirannya. Bagaimana 7 pilar tersebut memposisikan umat Islam dengan Arsitektur Barat Modern dalam konteks komunikasi antar peradaban belum lagi dijelaskan olehnya.

Berbagai ‘celah’ dalam pemikiran Khaled bisa jadi dimaksudkannya untuk membuka lebar pintu pemikiran bagi cendikiawan, ilmuwan, dan praktisi Muslim dibidang arsitektur untuk melengkapi dan menutup celah-celahnya sehingga menjadi sebuah bangunan konsep yang utuh dan kokoh untuk kemudian dapat dimanfaatkan sebagai panduan dalam kerja ilmiah dan praktik Arsitektur Islam. 

Memang jalan yang ditempuh masih jauh,
Kata Khaled,
Tapi telah tampak yang dituju.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Dzulhijjah 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar