Rabu, 08 Oktober 2014

Arsitektur Kini Untuk Kehidupan Esok

Arsitektur yang tak sesingkat namanya memiliki spektrum fungsi yang luas. Dikaitkan dengan kebutuhan primordial manusia, arsitektur adalah baju kedua bagi manusia untuk melindungi tubuh biologisnya yang rapuh. Dikaitkan dengan fungsi pragmatisnya, arsitektur adalah wadah bagi aktivitas manusia. Dikaitkan dengan ekonomi, arsitektur bernilai investasi bagi pemiliknya. Dikaitkan dengan kehidupan sosial, arsitektur –baik wujud fisik maupun ruang- merupakan media penyampai pesan bagi suatu komunitas atau masyarakat akan identitasnya. Dikaitkan dengan keagamaan, arsitektur memuat simbol-simbol bermakna spiritual hingga ungkapan pengalaman spiritual yang telah atau hendak dicapai. Dan itu belum semua tentang arsitektur.

Singkatnya, arsitektur sangat erat dengan manusia, dengan aktivitasnya, bahkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Begitu pula arsitektur sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia semakin mengukuhkan kehadiran arsitektur sebagai konsekuensi dari kehadiran manusia di alam budaya. Pernyataan ini dapat ditelusur dari pelajaran yang disampaikan Imam Ghazali –semoga ALLAH merahmati dan meridhai beliau-, bahwa sementara manusia berada di dunia terdapat dua hal yang perlu baginya. Pertama, perlindungan dan pemeliharaan jiwanya. Kedua, perawatan dan pemeliharaan jasadnya. Terkait dengan perawatan dan pemeliharaan jasadnya, manusia memiliki kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Yang terakhir dari kebutuhan jasadiyah manusia tersebut merujuk pada arsitektur.

Kalaulah begitu eratnya hubungan manusia dengan arsitektur, hingga batas apa arsitektur dapat bermanfaat bagi manusia, bagi kehidupannya kini di sini di alam dunia dan kelak di sana di alam akhirat? Untuk itu arsitektur butuh ditempatkan pada posisinya yang tepat sesuai dengan kedudukan segala sesuatu yang telah ALLAH tentukan dan kehendaki sebagai Sang Pencipta. Salah memahami dan menempatkan arsitektur dalam relasinya dengan ALLAH-manusia-alam merupakan tindak kezhaliman, sehingga arsitektur yang oleh Imam Ghazali dibutuhkan manusia untuk merawat dan memelihara jasadnya justru menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi dan mengancam eksistensi manusia dan alam. Karena dampak yang diakibatkan perilaku zhalim, ALLAH tidak menyukai pelakunya –innahu laa yuhibbu al-zhoolimiina- dan ALLAH tidak memberi petunjuk kepadanya –innallaha laa yahdii al-qauma al-zhoolimiina.

Salah satu perilaku zhalim dalam berarsitektur adalah sikap berlebih-lebihan dalam pembangunan arsitektur. Di tengah lingkungan krisis listrik, membangun mall yang membutuhkan daya listrik besar hampir sepanjang hari. Di tengah lingkungan krisis air bersih, membangun area rekreasi water park. Di tengah masyarakat yang mayoritasnya belum memiliki rumah layak huni, membangun apartemen dan hotel mewah bagi segelintir kalangan berduit. Di tengah masyarakat yang tak terbilang sedikit masih terpaksa bermalam di emper toko, di kolong jembatan dan jalan layang, tak terbilang sedikit pula yang memiliki rumah tinggal mewah beberapa buah hingga seakan satu rumah tak cukup baginya. Di tengah masyarakat yang masih menggantungkan kehidupan ekonominya dari ruang pasar tradisional, membangun ruang perbelanjaan ‘modern’ yang hanya dapat dimiliki dan dikuasai oleh saudagar dari kota sebelah. Di tengah berlimpahnya bahan alam, membangun arsitektur dengan bahan dan tukang dari negeri antah berantah. Arsitektur hadir dalam wajahnya yang tebal kosmetik nan penuh tipu daya sebagai perusak tatanan manusia dan alam. Karenanya ALLAH melarang manusia untuk berlebih-lebihan, dan ALLAH membenci pelakunya –wa laa tusrifuu, innahu laa yuhibbu al-musrifiina.

ALLAH menciptakan manusia dari tanah, dan manusia menghadirkan dan mengkreasikan arsitektur dari tanah pula. Karena dzat yang menyusunnya, manusia tidaklah kekal begitu pula dengan arsitektur. Tidak ada manusia yang hidup merintangi zaman, dan tidak ada arsitektur yang keberadaannya akan kekal sepanjang zaman. Keduanya akan berakhir kembali menjadi tanah dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana yang telah ALLAH tentukan berdasarkan kehendak-Nya. Ketidak-kekalan manusia dan arsitektur haruslah dihubungkan kepada ALLAH sebagai Dzat yang Maha Kekal, Dzat Yang Awal dan tidak diawali dengan sesuatu apa pun, Dzat Yang Akhir dan tidak diakhiri dengan sesuatu apa pun, agar ketidak-kekalannya berbuah manfaat yang dipenuhi dengan keridhaan dan kecintaan-Nya.

Menghubungkan arsitektur yang tidak kekal hanya dengan manusia atau alam yang tidak kekal akan berbuah kerusakan, kesemena-menaan, hingga kebingungan menempatkan arsitektur pada posisinya yang tepat karena ketidak-kekalan berarti dalam keadaan ‘terus menjadi’, berproses, berubah-ubah. Di masa klasik Barat, arsitektur mengikuti kehendak institusi agama dengan penekanannya sebagai karya seni yang diselubungi aura religius. Di masa modern Barat, arsitektur mengikuti kehendak logika mesin dengan penekanannya sebagai karya industri yang terstandar lagi dingin. Di masa post-modern Barat, arsitektur mengikuti kehendak hasrat manusia dengan penekanannya sebagai karya teks bebas tafsir semau manusia. Arsitektur yang tidak dihubungkan dengan Dzat Yang Maha Kekal hanya sekedar materi hasil rekayasa manusia, tak memiliki pancaran cahaya Ilahiah, sehingga kehadirannya hanya sekedar pemuas nafsu jasadiyah manusia yang kemudian akan membelenggunya.

Bagi Imam Ghazali, nafsu-nafsu jasadiyah yang tertanam di dalam diri manusia dan keinginan untuk memenuhinya –salah satunya menimbulkan sikap berlebih-lebihan dalam berarsitektur- cenderung untuk memberontak melawan nalar, sehingga perlu dikekang dan dikendalikan dengan hukum-hukum ALLAH. Nafsu di dalam diri manusia tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat diarahkan, dikekang dan dikendalikan menuju perkara yang diridhai dan dicintai ALLAH. Fitrahnya, manusia menyukai perkara yang tampak indah di mata, terdengar merdu di telinga, berbau wangi semerbak di hidung, dan terasa menggairahkan di telapak tangan. Tapi apakah kesenangan tersebut hanya sekedar untuk memuaskan nafsu jasadiyahnya semata, ataukah dijadikannya sebagai pintu untuk memasuki tingkat kesadaran yang lebih tinggi bahkan Tertinggi. Karenanya bagi Imam Ghazali, jasad –dan arsitektur sebagai pemelihara jasad manusia- adalah hewan tunggangan yang agar patuh kepada ALLAH haruslah ditunggangi oleh jiwa manusia yang telah dipenuhi dengan pengetahuan dan kecintaan akan ALLAH.

Arsitektur sekedar materi hasil rekayasa manusia yang tujuan dihadirkannya semata untuk memuaskan nafsu jasadiyahnya akan melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya dan menjadikannya sibuk dengan perkara duniawi tak ubahnya seorang peziarah yang hendak menuju Baitullah tapi sibuk menghiasi kendaraannya sepanjang perjalanan kemudian ia dapati dirinya tertinggal dari rombongan dan seorang diri di tengah gurun pasir yang terik dan tak bersahabat. Manusia yang bersikap berlebih-lebihan dalam berarsitektur tidak dapat menjadikan jasadnya sebagai kendaraan yang layak bagi jiwanya dalam perjalanan menuju kehidupan setelah alam dunia. Manusia yang mengerahkan seluruh potensinya hanya untuk memuaskan nafsu jasadiyahnya dengan menghadirkan arsitektur yang abadi, arsitektur yang ‘paling’, arsitektur yang gemerlap, tengah memandang dunia ini sebagai kehidupan yang abadi, tiada kehidupan setelah kehidupan dunia. Dirinya telah tertipu dua hal, nafsu jasadiyahnya dan dunia.

Manusia kini hidup di alam budaya post-modern yang bagaikan sebuah mesin bahan bakarnya ialah hasrat. Hasrat manusia yang terus dipompa tiada henti tak akan pernah mencapai titik puas. Manusia yang dikuasai oleh hasratnya, nafsu jasadiyahnya, hanya mampu mencapai satu titik puas kemudian ingin mencapai titik puas yang lebih jauh lagi, terus begitu hingga jasadnya kembali menjadi tanah tak juga dicapai titik puas paling ujung. Hasrat berarsitektur manusia yang dipompa terus menerus tanpa jeda menimbulkan ajang perlombaan menghadirkan arsitektur tertinggi, hingga batas apa dan hingga berapa lantai barulah manusia mencapai titik puasnya? Atau akrobat kalangan formalis yang oleh Eko Budihardjo disebutnya sebagai manusia studio menghadirkan arsitektur yang menyerap sumber daya alam dan ekonomi tak terkira hanya untuk kesenangan visual, hingga batas apa dan hingga di mana manusia barulah mencapai titik puasnya menghadirkan arsitektur yang ‘paling’? Arsitektur sedemikian adalah buah dari hasrat manusia akan kesenangan duniawi yang mengumbarkan dirinya tanpa batas. Jiwanya condong dan tamak akan materi, pada pencapaian-pencapaian arsitektur itself. Hingga ketika ALLAH memanggil jiwanya untuk kembali akan terasa berat baginya meninggalkan dunia yang dicintainya dan akan terasa sangat pedih baginya akibat nafsu-nafsu duniawi yang belum lagi terpuaskan.

Hasan al-Bashri seorang alim yang memiliki kedudukan tinggi dan terpandang – semoga ALLAH merahmati dan meridhai beliau- suatu ketika dihadapkan dengan perilaku berarsitektur yang berlebih-lebihan. Seorang bangsawan di Bashrah baru saja selesai membangun rumah tinggalnya kemudian mengundang para tokoh termasuk diantaranya ialah Hasan al-Bashri untuk menikmati keindahannya. Hasan al-Bashri tampak begitu kagum pada detail-detail kemewahan arsitektur rumah bangsawan tersebut hingga bolak balik keluar dan masuk untuk menikmati keindahan arsitekturnya. Arsitektur yang dibangun menurut Hasan al-Bashri seolah penghuninya akan hidup selamanya. Beliau heran dan resah,
“Kenapa orang ini tidak membangun akhiratnya seperti ia membangun demi dunianya ini?”
Beliau pun segera menyampaikan nasihat kepada pemiliknya,
“Rumah sejatimu kau biarkan roboh dan kau malah sibuk membangun rumah orang lain. Sesuatu yang di atas bumi sungguh-sungguh akan memperdayamu, sementara yang di langit akan membencimu. Engkau injak bumi dengan telapak kakimu, padahal sebentar lagi ia akan menjadi kuburmu. Semenjak terlahir dari rahim ibumu, engkau masih saja menyia-nyiakan usiamu.”
Kita tidak dapat membayangkan nasihat yang akan disampaikan Hasan al-Bashri jika saja beliau hari ini melihat dan mendapati perilaku berarsitektur yang berlebih-lebihan, melampaui batas syariat, dan hanya bertujuan untuk memuaskan nafsu dan hasrat jasadiyah manusia. Sebuah perumahan mewah membelakangi gubug-gubug reot, masjid-masjid dengan kubah dan minaretnya yang menunjuk pada langit ditujukan agar tak dapat menjangkau masyarakat di sekelilingnya, atau sekedar makam istri yang disayangi hadir dalam wujud bak istana dengan parasnya yang putih dan berkilau.

Lalu bagaimana hendaknya berarsitektur yang berserah diri?

Imam Ghazali menyampaikan nasihat, bahwa dunia bagaikan sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti. Di atas mejanya tersedia piring-piring emas dan perak, makanan, dan parfum yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sebanyak yang ia butuhkan, menghirup parfum, mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah lalu pergi. Sebaliknya, tamu yang bodoh mencoba untuk membawa beberapa piring emas dan perak yang tak dibutuhkannya untuk melanjutkan perjalanan. Tak pula ia berterima kasih kepada tuan rumah. Sehingga menurut Imam Ghazali, manusia yang bijaksana menggunakan dunia sekedarnya untuk membantunya mencapai dunia yang akan datang, tidak berlebih-lebihan hingga menjadikannya lalai dan tertipu. Segala perkara duniawi –termasuk arsitektur- yang menjadikan manusia mencintai dunia, setia kepadanya, dan ceroboh terhadap kehidupan selanjutnya adalah benar-benar kejahatan. Karenanya arsitektur yang melampaui batas syariat ALLAH adalah arsitektur yang dipenuhi kejahatan dan tak berujung kepada ridha dan kecintaan ALLAH.

Berkaca dari nasihat Imam Ghazali, manusia tidaklah cukup hanya memelihara dan merawat jasadnya tapi lebih penting lagi untuk merawat dan memelihara jiwanya dengan cara mengenal dan mencintai ALLAH. Karena jasad adalah kendaraan bagi jiwa dalam mengarungi kehidupan dunia. Dan arsitektur pada hakikatnya adalah baju bagi jasad selama mengarungi hidup di alam dunia. Arsitektur yang tak ditujukan demikian hanya akan menghadirkan arsitektur yang liar dan melenakan.

Arsitektur yang kehadirannya terkait dengan hadirnya manusia, haruslah dimulai dari mendidik jiwa manusia, tidak sekedar mendidik kognisi dan psikomotoris, untuk dapat dihadirkan arsitektur yang beradab sebagai pemelihara jasad manusia. Arsitektur yang layak bagi seluruh manusia, bukan hanya untuk segelintir kalangan penguasa dan pemodal. Arsitektur yang menyampaikan pesan-pesan bijaksana, bukan pesan-pesan erotis, penuh keangkuhan, dan tamak. Arsitektur yang memuat nilai-nilai spiritual sehingga meruang di dalamnya menjadikan jasad melebur mencapai pengalaman yang mencerahkan.

Arsitektur yang berjiwa hanya oleh jiwa
Arsitektur yang oleh jiwa ditempatkan pada tempatnya
Arsitektur yang mengantarkan jiwa pada asalnya
Arsitektur yang kini untuk kehidupan esok.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Jimbaran pada Dzulhijjah 1435 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar