Senin, 24 November 2014

Bangun Runtuh dan Perebutan ‘Ruang’ SPBU

Dalam pandangan Henri Lafebvre, praktik sosial merupakan praktik spasial dalam arti praktik sosial disadari atau tidak merupakan aktivitas produksi ruang. Mudahnya begini, hadirnya ruang SPBU secara fisik merupakan konsekuensi dari praktik sosial untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat. Praktik sosial untuk memenuhi kebutuhan BBM didahului atas kesadaran terhadap ruang dan kebutuhan ruang untuk dilangsungkannya praktik sosial yang dinamakan dengan ruang Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU). Dari kesadaran tersebut terbentuk konsepsi ruang SPBU, sehingga dapat dipahami kehadiran ruang SPBU didahului kesadaran dan konsepsi ruang sebagai tuntutan dari praktik sosial.

Di ruang SPBU, praktik sosial antara masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan BBM dengan pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan BBM tidak terjadi secara langsung tatap muka karena pemerintah mewakilkan kehadirannya kepada pengelola ruang SPBU dengan seperangkat legitimasi seperti seragam dan logo Pertamina, sehingga praktik sosial yang berlangsung di ruang SPBU tidak dapat diartikan antara masyarakat dengan pengelola SPBU sebab simbol-simbol yang dikenakan dan ditampakkan.
Ketika melangsungkan praktik sosial dalam sebuah ruang, berawal dari mempersepsi ruang kemudian manusia memaknai ruang; menanamkan makna dalam ruang yang menjadikan ruang tidak lagi netral dan tidak lagi kosong. Ruang berisi oleh makna. Yang awalnya ruang SPBU merupakan ruang fisik-konkret menjadi ruang-persepsi kemudian ruang-makna dan terabstraksi menjadi ruang-simbolik.

Berlangsungnya praktik sosial di mana masyarakat terpenuhi kebutuhannya akan BBM dan pemerintah dapat menyediakan BBM dengan pelayanan yang disetujui oleh masyarakat –termasuk menyoal harga dan kelancaran distribusi- maka dari perspektif masyarakat ruang SPBU merupakan simbol pemerintah pelayan masyarakat. Walaupun begitu, kuasa dominan ruang tidak berada di tangan masyarakat atau di tangan pemilik ruang SPBU yang dapat saja dimiliki perseorangan, tapi berada sepenuhnya di tangan pemerintah. Masyarakat tidak mempersoalkan dominasi kuasa ruang SPBU oleh pemerintah selama dapat menjamin keberlangsungan praktik sosial sebagaimana dikehendaki masyarakat, bahkan dominasi kuasa ruang SPBU oleh pemerintah merupakan amanah dari masyarakat melalui UUD sekaligus menjadi pondasi struktur ruang-simbolik SPBU yang dikonstruksi masyarakat.

Jumat, 14 November 2014

Seni Dalam Pandangan Alija Ali Izetbegovic

Alija Ali Izetbegovic adalah presiden pertama Republik Bosnia dan Herzegovina yang menjabat dari 20 Desember 1990 hingga 14 Maret 1996. Memang tak ramai yang mengetahui sosoknya sebagai seorang presiden sekaligus ahli hukum, filosof, dan penulis, apalagi sebagai seorang aktivis Islam yang dicap fundamentalis sebagai ujung dari deklarasinya pada tahun 1970 mengenai relasi antara Islam, negara, dan masyarakat. Alija Ali lahir pada 8 Agustus 1925 di Bosanski Samac dan kembali kepada ALLAH pada usia 78 tahun tepat pada 19 Oktober 2003 di Sarajevo.

Alija Ali Izetbegovic
Unduh dari Wikipedia, hasil foto Helene C. Stikkel; Departemen Pertahanan Amerika

Selain The Islamic Declaration, Alija Ali menulis sebuah buku berjudul Islam Between East and West yang langsung saja menjadi magnum-opusnya dan telah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Membangun Jalan Tengah: Islam antara Timur dan Barat oleh Mizan pada tahun 1992.

Tulisan singkat ini merupakan kutipan dan abstraksi mengenai seni dalam pandangan Alija Ali yang dituangkannya dalam buku yang disebut terakhir. Bukan karena sosoknya sebagai seorang presiden, tapi sebab penghayatannya akan dunia seni yang dalam dan penuh misteri untuk menggambarkan surga di alam sana.