Jumat, 14 November 2014

Seni Dalam Pandangan Alija Ali Izetbegovic

Alija Ali Izetbegovic adalah presiden pertama Republik Bosnia dan Herzegovina yang menjabat dari 20 Desember 1990 hingga 14 Maret 1996. Memang tak ramai yang mengetahui sosoknya sebagai seorang presiden sekaligus ahli hukum, filosof, dan penulis, apalagi sebagai seorang aktivis Islam yang dicap fundamentalis sebagai ujung dari deklarasinya pada tahun 1970 mengenai relasi antara Islam, negara, dan masyarakat. Alija Ali lahir pada 8 Agustus 1925 di Bosanski Samac dan kembali kepada ALLAH pada usia 78 tahun tepat pada 19 Oktober 2003 di Sarajevo.

Alija Ali Izetbegovic
Unduh dari Wikipedia, hasil foto Helene C. Stikkel; Departemen Pertahanan Amerika

Selain The Islamic Declaration, Alija Ali menulis sebuah buku berjudul Islam Between East and West yang langsung saja menjadi magnum-opusnya dan telah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Membangun Jalan Tengah: Islam antara Timur dan Barat oleh Mizan pada tahun 1992.

Tulisan singkat ini merupakan kutipan dan abstraksi mengenai seni dalam pandangan Alija Ali yang dituangkannya dalam buku yang disebut terakhir. Bukan karena sosoknya sebagai seorang presiden, tapi sebab penghayatannya akan dunia seni yang dalam dan penuh misteri untuk menggambarkan surga di alam sana.

*****

Alija Ali menarik garis tegas antara seni dan karya seni walaupun keduanya memiliki kaitan erat. Bagi Alija Ali, sebuah seni, setiap seni, adalah sebuah penciptaan yang datangnya dari realitas batin dan diekspresikan dalam wujud karya seni. Karya seni adalah simbol dari seni itu sendiri ‘yang tak pernah selesai’. Seni, walaupun mewujud dalam karya seni, bukanlah karya seni itu sendiri. Seni itu sendiri hanya hidup di dalam batin penciptanya dan lengkap dalam setiap penciptaannya, sementara perwujudannya di luar tak akan pernah lengkap, sehingga sebagai sebuah simbol, karya seni tak sepenuhnya merepresentasikan seni itu sendiri. Dengan kata lain, sebuah karya seni sangat mungkin tidak memadai untuk ‘menggambarkan’ seni yang dialami oleh penciptanya, tapi tak dapat dipungkiri karya seni merupakan satu-satunya media materi yang tersedia untuk mengekspresikan seni yang immateri.
“Sebuah karya seni adalah hasil dari api yang pernah membakar jiwa, tapi bukan api itu sendiri. Melainkan sebuah kesaksian atau jejak yang ditinggalkan sesudahnya.”
Alija Ali menganalogikan seni sebagai api yang membakar jiwa, sedangkan karya seni adalah jejak-jejak hasil bakaran api tersebut. Api membakar jiwa sang seniman dan karya seni lahir sebagai bekas bakarannya, sementara panas efek bakarannya turut ingin dirasa penikmatnya. Seni secara terus menerus diciptakan oleh seniman yang terbakar dan penikmatnya, sehingga karya seni pun tak pernah selesai diciptakan; dimaknai terus menerus, walaupun secara materi telah selesai. Sebagai konsekuensi pula dari karya seni yang tak dapat sepenuhnya merepresentasikan seni yang dirasa penciptanya, sehingga tersisa ruang bagi penikmat untuk turut serta menjadi bagian dari karya seni itu, menjadi bagian yang turut meninggalkan jejak-jejak bakaran.

Proses melukis dan berbagai dorongan yang dirasa seniman ialah seni, sedangkan lukisan sebagai hasil akhir ialah karya seni. Karya seni sebab materinya dapat bertahan dari rintangan waktu walaupun tak akan pernah abadi. Dari generasi ke generasi, lukisan yang sama terus dinikmati, dimaknai, untuk turut merasakan panasnya api yang dahulu membakar jiwa penciptanya, untuk menangkap seni itu sendiri yang terperangkap di dalam wadah materi. Alija Ali tak menyinggung model pembacaan karya seni oleh penikmatnya untuk mencapai makna dari seni, karena yang penting baginya dan terkait dengan topik bahasan dalam bukunya ialah pengalaman dalam merasakan seni itu sendiri,
“Baik seniman maupun audiensnya selalu mengalami karya seni dengan cara yang baru.”
Keterbatasan media karya seni untuk menyampaikan seni, menjadi pintu masuk bagi penikmatnya untuk meraih dan merasakan ekstase seni yang dahulu memabukkan penciptanya, walaupun tidak akan pernah sama sebagaimana seni dirasakan oleh penciptanya, dan tak akan pernah sama dari waktu ke waktu walaupun dialami oleh pribadi penikmat yang sama. Setiap pengalaman seni tidaklah sama. Setiap kali kelahirannya, seni adalah sesuatu yang selalu baru, selalu berbeda, unik, tak dapat diduplikasi. Karenanya seni bersifat personal.

Disebabkan sifatnya yang personal bagi pencipta dan penikmatnya, seni bagi Alija Ali, jauh lebih nyata daripada realitas objektif yang merupakan ilusi bagi seni karena tanpa makna dan impersonal, sekedar peristiwa-peristiwa. Seni berupaya menjadikan segala sesuatu dalam realitas objektif memiliki sifat personal sehingga berkesan emosional. Tak ada manusia yang sama antara satu pribadi dengan pribadi lainnya. Bukan orang-orang, tapi seni melihat jiwa-jiwa. Seni memandang manusia bukan sekedar daging dan tulang, bukan sekedar materi yang hadir. Seseorang yang kita cintai bukanlah sekedar seseorang sebagaimana orang-orang lain, bukanlah sekedar orang itu, ia berbeda, ia unik. Perbedaan, keunikan, dan bukan sekedar itulah yang ingin ditangkap seni. Seni memandang manusia sebagai makhluk dalam sebuah garis yang tak terbatas. Sudah jelas, seni anti-generalisasi dan sebagai konsekuensinya sebuah karya seni begitu kompleks. Tanpa sifat personal, sebuah objek tidaklah dikatakan sebagai karya seni, sekedar karya teknik. Sebagaimana perkataan Reiner Maria Rilke yang dikutip oleh Alija Ali,
“Bagi kakek-kakek kita, rumah, air mancur umum, menara terkenal, dan bahkan pakaian serta jas mereka, adalah jauh lebih penting, jauh lebih otentik; hampir setiap objek mempunyai sesuatu yang personal di dalamnya, sesuatu yang manusiawi terlindung di dalamnya. Dewasa ini barang-barang datang dari Amerika dan menumpuk, sia-sia dan menjadi objek yang tidak penting yang menciptakan ilusi kehidupan. Sebuah rumah bergaya Amerika, dan apel atau anggur Amerika tidak memiliki kesamaan dengan rumah, buah, atau seikat anggur yang menggenggam harapan dan pikiran nenek moyang kita.”

Lalu darimana datangnya seni itu? Darimana datangnya sumber api itu?


Bagi Alija Ali, sumber dari segala seni ialah agama sehingga keduanya saling berkaitan erat. Seni tak dapat dilepaskan dari agama. Agama menjamin seni untuk berkelanjutan karena hanya agama yang mampu mengukir kedalaman batin dan menyediakan inspirasi tiada habis, sehingga karya seni dapat dipandang sebagai pelunasan hutang seni kepada agama. Berbagai tarian, lukisan, puisi, dalam sejarahnya mengabdi kepada agama. Tanpa agama, sebuah karya lahir tanpa seni, sehingga tak ada seni yang tak religius.

Agama berkaitan dengan jiwa manusia untuk memaknai realitas yang melingkupinya, sedangkan seni berupaya meraihnya dan menghadirkannya di hadapan kita dalam wujud materi kasat mata. Karya seni kemudian tidak lagi sekedar objek imanen, tapi menyimpan gelora transeden di dalam wujud materinya. Gelora yang ingin dihadang hingga menyentak jiwa penikmatnya.

Seni tak dapat menghindari agama, tegas Alija Ali. Seni selalu mengarah pada agama sebagai sumbernya. Seni mengarahkan pencariannya ke dalam batin manusia, sudut-sudutnya yang tersembunyi, rahasia-rahasianya, dan kemudian menjadi pencarian akan Tuhan. Karenanya seni dipenuhi dengan misteri dan rahasia, begitu pula dengan karya seni. Penghayatan dan pemaknaan karya seni oleh penikmatnya tidak lagi adalah upaya membuka pintu-pintu rahasia dan menyibak kabut-kabut misteri di balik wujud materinya.

Seni yang bersumberkan pada agama dan bersifat personal menjadikannya selalu berhubungan dengan kualitas-kualitas, bukan kuantitas. Kualitas yang terdapat dalam seni bukan merupakan penjumlahan dari kuantitasnya; kualitas yang kuantitatif, tapi oleh sebab esensinya yang merupakan ‘sentuhan pribadi’ sang seniman. Dengan begitu karya seni hasil duplikasi tidaklah bernilai sama sekali, bukan sebab aspek kuantitatifnya sebagai penggandaan dari karya seni yang asli, tapi sebab tidak memiliki ‘sentuhan’ tersebut. Sebuah karya tanpa ‘sentuhan pribadi’ tak dapat disebut sebagai karya seni, sekedar obyek hasil produksi.

Kualitas seni juga bukan semata soal keindahan. Seni yang lahir dari agama menjadikan seni tidak saja mewakili sebuah perasaan yang personal, tapi juga mengandung sebuah kebenaran, dengan kata lain indah jika benar. Kualitas seni merupakan pancaran dari kebenaran yang dikandungnya, kualitas transedensi. Jika tidak ada kebenaran religius, maka kebenaran artistik juga tidak akan ada, tegas Alija Ali. Karenanya Ateisme tidak akan pernah memahami hakikat seni. Ateisme menolak seni.

Dalam pandangan Alija Ali, seni bukanlah untuk seni itu sendiri yang menjadikannya keluar dari deret kalangan Romantisme. Bagi Alija Ali, seni yang mengandung kebenaran agama merupakan pencerahan bagi manusia dan karya seni menjadi pintu kepada kebenaran. Seni yang mengabdi kepada agama menjadi penerang bagi jiwa manusia. Begitu keras Alija Ali menolak seni sebagai pelayan bagi kepentingan politik sebagaimana disaksikannya dalam rezim Komunis Uni Soviet yang menjadikan karya seni sebagai corong propaganda politik. Tak ada sumber inspirasi karena agama adalah candu, tak ada kreativitas karena tak ada jiwa manusia di sana. Tersingkirnya agama dan dipendamnya jiwa menjadikan seni tak mungkin hadir. Jelas sudah, Alija Ali pun menolak idiom seni untuk kepentingan praktis masyarakat.

*****

Bagaimana pun juga, seni membutuhkan realitas objektif sebagai sumbu yang dipantik oleh agama kemudian membakar jiwa. Seni tidak saja membutuhkan panca indera untuk mengalami realitas, juga melibatkan intuisi untuk meneranginya. Bagi Alija Ali, seni ialah pengalaman bukan anggapan-anggapan, sehingga yang dimaksud seni sebagai penciptaan tidak saja bermaksud penciptaan materi dalam wujud karya seni, tapi yang terpenting ialah penciptaan pengalaman seni untuk pencerahan bagi jiwa manusia yang merupakan esensi seni.

Seni yang membutuhkan realitas objektif bisa jadi menyangkut kehidupan politik, tapi seni itu sendiri tidak boleh menjadi hamba bagi kepentingan politik, tegas Alija Ali. Semata agar seni selalu hadir mencerahkan jiwa-jiwa dan membakarnya hingga terang benderang, menerangi jalan menuju Tuhan. 

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Muharram 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar