Sabtu, 20 Desember 2014

Rumah; Meleburnya Kenangan dan Imajinasi


Alex Wyler yang diperankan oleh Keanu Reeves; seorang arsitek muda yang bekerja pada sebuah pengembang perumahan, dan Kate Foster yang diperankan oleh Sandra Bullock; seorang dokter yang pindah dari kota kecil untuk menjemput peluang karir yang lebih baik di rumah sakit kota metropolis. Keduanya menghuni sebuah ruang yang sama hanya terpisahkan waktu. Ruang yang dinamakan Rumah Danau (The Lake House).

Rumah Danau dirancang oleh ayah Alex bernama Simon Wyler pada masa karir awalnya sebagai arsitek. Simon Wyler diceritakan sebagai arsitek ternama yang memiliki hubungan personal dengan Le Corbusier dan Frank Lloyd Wright yang tak dipungkiri telah membentuk ‘mitos’ dirinya. Dalam suatu plot, Alex menceritakan kepada Henry Wyler; adiknya tentang keterperangkapan keduanya dalam kebesaran dan ‘mitos’ sang ayah yang menjadikan turut menapaki jejaknya sebagai arsitek. Berbincang tentang ruang, cahaya, dan kehadiran sebagai seorang ayah dan anak. Tapi sayangnya tak selalu hangat.


Dalam pandangan Heidegger, arsitektur dibuat oleh manusia untuk manusia sehingga yang dihasilkannya sarat dengan kepentingan manusia. Sebagaimana sebuah rumah di pinggir bibir danau yang ditegakkan dengan rangka baja ekspos dan diselimuti kulit kaca, tak sekedar karya awal Simon Wyler untuk mencurahkan kepentingan hasratnya dan kepentingan karirnya. Bahkan jauh lebih dalam, Rumah Danau adalah kepentingan cinta, hadiah darinya teruntuk Mary; kekasih dan ibu bagi kedua putranya. Rumah yang setiap garisnya adalah kerinduan, harapan, dan imajinasi akan masa depan. Rumah di mana Mary memilih untuk menghabiskan hari-harinya, mengandung dan membesarkan anak-anaknya, memberi dukungan suaminya yang mulai merangkak menapaki karir hingga didapatinya menjadi arsitek ternama.

Sampai suatu hari Mary memutuskan pergi sebab tak tahan lagi dengan kehidupan yang riuh. Keriuhan yang terus berdatangan seiring nama dan karya Simon dikenal. Keriuhan yang membuatnya tak dapat lagi beradaptasi lalu pergi begitu saja, tapi pergi bukan tanpa cinta. Alex bercerita bagaimana ibunya tak pernah belajar untuk berhenti mencintai ayahnya hingga jatuh sakit dan kemudian meninggal. Pemakaman sekaligus pertemuan terakhir yang tak dihadiri Simon.
“Dia sudah meninggal bagiku saat keluar dari rumah itu (Rumah Danau)”, jawab Simon kepada Alex.
Jawaban dan sikap yang menyakitkan bagi Alex yang masih terhitung remaja. Seorang ayah yang dikaguminya seketika saja dibenci, marah sudah tentu. Cahaya yang menghangatkan Rumah Danau seketika redup, sepi, dan kosong saat penghuninya memutuskan berpisah jalan dan menceburkan diri dalam hidupnya sendiri.

Rumah Danau yang sendirian mengarungi lintasan waktu hingga Alex memutuskan untuk (kembali) menghuninya. Tentu keputusannya mengundang banyak pertanyaan. Henry heran dengan kakaknya yang bisa saja merancang dan membangun rumah yang jauh lebih baik daripada tinggal dalam sebuah ruang rongsok lagi tak menarik di pinggir danau. Rekan kerjanya sesama arsitek pun tak habis pikir bagaimana bisa seseorang tinggal dalam sebuah rumah tanpa privasi yang dipenuhi bidang transparan kaca. Tapi tidak bagi Alex.

Bachelard mengatakan rumah merupakan ajang untuk mewujudkan kenangan yang membahagiakan di masa lalu. Dengan menghuni (kembali) Rumah Danau, Alex hendak memiliki dan hidup dalam kenangan bersama ibunya karena hanya ruang itu yang mengingatkannya pada ibu. Bagi Alex, Rumah Danau bukan sekedar ruang tempat dirinya dan ibu bersatu, tapi ruang yang hadir untuk dan karena ibu. Alex menjelaskan pada Henry, Rumah Danau adalah di mana keluarganya utuh, di mana ibu hadir untuknya dan keluarganya. Satu-satunya rumah yang dirancang ayahnya untuk seorang wanita yang ternyata hingga usia senjanya tak digantikannya dengan sosok wanita lain.
“Kenapa aku tidak mengetahuinya?” tanya Henry.
“Usiaku waktu itu masih 8 tahun dan kamu baru saja lahir” balas Alex.
Henry menjadi semakin ingin tahu, “Kamu ingat berada di sini bersama ibu?”
Sangat lama Alex terdiam untuk mengucapkan “Aku ingat ibu mencoba berada bersama kita, bersama ayah”.
Seiring kedewasaan diri, Alex ingin memaafkan ayahnya. Rasa marah dan benci perlahan mulai gugur melihat ayahnya yang telah berusia senja dan menderita sakit jantung. Dengan menghuni (kembali) Rumah Danau, Alex hendak memahami cinta ayahnya kepada ibunya sehingga dapat merelakan hati untuk memaafkan peristiwa masa lalu. Hanya Rumah Danau yang memungkinkannya menyatukan kenangan antara ayah dan ibu, walaupun sekedar kenangan yang tak dapat disentuh apalagi dihadirkan kembali pada masa kini, sebagaimana Alex menceritakan Rumah Danau kepada Henry,
“Ini, kamu berada di dalam sebuah kotak. Kotak kaca dengan pandangan ke seluruh arah di sekitarmu. Tapi kamu tak dapat menyentuhnya. Tidak ada interkoneksi antara kamu dan apa yang kamu lihat.”
Begitulah hakikat kenangan. Tapi kenangan sudah cukup bagi Alex untuk membuatnya bahagia, sebab menurut Bachelard sebuah rumah yang tersimpan nilai-nilai mendalam dapat menjadikan penghuninya bahagia. Dan sudah cukup baginya memiliki kenangan walaupun tak akan pernah lengkap.
“Rumah ini tentang kepemilikan, bukan hubungan. Maksudku, indah, seduktif, tapi tidak lengkap. Rumah ini, semuanya tentang ayah. Ayah tahu bagaimana membangun sebuah rumah (house), tapi tidak sebuah tempat tinggal (home).”
Ketidaklengkapan karena ketiadaan hubungan di dalamnya ketika ibu memutuskan untuk pergi (selamanya). Pantas jika Simon menganggap ia telah meninggal ketika pergi dari rumah. Bukan meninggal secara biologis-jasadiyah, tapi ruang itu tak lagi memiliki makna bagi Simon. Rumah Danau tak lagi memiliki tujuan atas eksitensinya, sebab satu-satunya alasan kehadirannya telah tiada, telah mencampakkannya. Dalam pandangan Heidegger, tujuan Simon sebagai Ada dalam ruang kehidupan (lebenswelt) telah lenyap karena tak lagi terjadi pergaulan praktis yang menjadikan ruang kehidupan dialami bersama. Rumah Danau sebagai tempat (place) bersisa menjadi ruang kosong (space) yang coba kembali dihidupi oleh Alex.


Bagaimanapun, Rumah Danau tak sekedar rumah berwujud fisik konkret bagi Alex. Rumah yang tidak hanya melindunginya secara fisik. Heidegger meyakini tempat manusia bermukim adalah ruang yang utama dikarenakan kehadiran manusia dalam ruang kehidupan dimulai dari tempatnya bermukim. Bagi Alex, Rumah Danau merupakan buaian awal baginya untuk siap memasuki dunia nyata dengan segala kerumitannya. Siapa pun yang sedikit saja memiliki ingatan atas kenangan akan tempatnya bermukim di masa lalu, pastilah memiliki ikatan emosional tidak saja dengan orang-orang tapi juga benda-benda yang mengelilinginya. Kira-kira begitulah yang dirasakan Alex hingga tak digubrisnya dan tetap menghuni (kembali) Rumah Danau yang berarti kembali pada tempat dirinya dihangatkan dan bertumbuh untuk menghadapi dunia.

*****

Rumah tidak hanya soal kenangan, kata Bachelard. Rumah juga soal impian-impian akan masa depan. Bachelard mengatakan, rumah adalah salah satu kekuatan utama yang dapat memadukan pikiran, kenangan, dan impian-impian. Lalu apa impian Alex hingga memutuskan untuk menghuni (kembali) Rumah Danau? Alex bercerita kepada adiknya,
“Kamu tahu? Kupikir ayah ingin kita melakukan yang tak dapat dilakukannya.”
Ialah merangkai hubungan dan membangun cinta. Tepat di sinilah Rumah Danau mempertemukan Alex Wyler yang hidup pada tahun 2004 dan Kate Foster yang hidup pada tahun 2006. Keduanya menghuni ruang yang sama hanya saja terpisahkan garis waktu. Setelah Alex memutuskan untuk meninggalkan (kembali) Rumah Danau, bergantilah Kate yang menghuninya hingga kemudian Kate memutuskan berpindah kota menjemput cita.



Sebuah kotak surat di depan Rumah Danau yang meniscayakan keduanya saling berkomunikasi untuk mengenal. Alex, melalui informasi yang diberikan Kate mencoba bertemu pada garis waktu tahun 2006. Dua peristiwa dialaminya bersama Kate, tapi tentu saja Kate tak mengenali Alex. Pertemuan yang direncanakan dan dikehendaki Alex menumbuhkan imajinasinya akan masa depan bertemu dengan Kate pada garis waktu yang sama. Imajinasi menuntut pengalaman kehadiran bersama untuk dapat tumbuh, dan Alex telah mengalaminya. Imajinasi yang ditanamnya di Rumah Danau, di atas pecahan kenangan-kenangan.

Pada tahun 2004, saat acara ulang tahun Kate keduanya bertemu setelah sebelumnya Alex hanya dapat sekilas melihat Kate di stasiun kereta. Alex mencoba menarik perhatian Kate dan memperkenalkan dirinya sebagai pemilik Rumah Danau. Entah bagaimana Rumah Danau yang mempersatukan perhatian keduanya. Sudah lama Kate ingin bermukim di sebuah rumah di pinggir danau, menyepi dari kehidupan kota yang menjenuhkan. Dan dibaliknya, ingin menjauh dari pasangan yang sebenarnya tak disayanginya. Berawal dari perkenalan itu, di kemudian waktu Kate menggantikan Alex menghuni Rumah Danau ketika memutuskan berpindah kota hidup bersama adiknya dan membangun impian bersama.

Alex menginginkan pertemuan yang lebih, pertemuan yang disadari dan dikehendaki keduanya. Pertemuan pada garis waktu yang tengah dijalani Kate. Keduanya berjanji untuk bertemu di sebuah restoran pada tahun 2006. 2 tahun waktu yang dibutuhkan Alex, tapi ia tak kunjung tiba. Kate putus asa dan tak lagi mengunjungi Rumah Danau sekedar meletakkan surat untuk Alex. Alex heran, bagaimana bisa dirinya tak hadir pada waktu yang sangat dinantinya, mewujudkan imajinasi. Kate menyerah dan memilih kembali merekatkan hubungan yang telah jauh bersama pasangannya yang lalu.
“Kamu tidak di sana. Kamu tidak datang.”

“Aku tidak mengerti. Sesuatu pasti telah terjadi. Maafkan aku. Aku sudah menunggu 2 tahun, Kate. Kita bisa mencobanya lagi.” Jawab Alex.

“Tidak Alex, sudah terlambat. Kita sudah mencobanya dan tidak berhasil.”

“Jangan menyerah padaku, Kate.”

“Bagaimana dengan Persuasion (sebuah buku yang disukai Alex dan Kate)? Kamu katakan padaku, mereka menunggu. Mereka bertemu lagi, mereka memiliki kesempatan lagi.”

“Kehidupan bukan sebuah buku, Alex, dan bisa berakhir kapanpun. Aku sedang makan siang dengan ibuku di Plaza Daley dan seorang pria meninggal tepat di depanku. Ia meninggal di tanganku. Dan aku pikir, tidak bisa berakhir seperti begitu saja pada hari Valentine. Aku berpikir tentang semua orang yang mencintainya, menunggunya di rumah, dan tak akan pernah menemuinya lagi. Dan lalu aku pikir, bagaimana jika tidak ada? Bagaimana jika kamu menjalani seluruh hidupmu dan tak ada yang menunggumu? Jadi aku pergi ke Rumah Danau dan mencari jawaban. Dan aku menemukanmu. Dan aku biarkan diriku tersesat. Tersesat dalam fantasi indah di mana waktu tidak bergerak. Tapi itu tidak real, Alex. Aku harus belajar menjalani hidup yang aku miliki, jadi jangan tulis apa pun lagi, jangan coba mencariku. Biarkan aku membiarkanmu pergi”. Tulis Kate pada surat terakhirnya untuk Alex. 



Setelahnya Alex tak lagi menjumpai surat dari Kate. Hari demi hari ia menunggu di depan kotak surat, bahkan ketika cuaca menjadi sangat dingin. Sampai suatu waktu Kate memutuskan bertemu seorang arsitek untuk merenovasi rumah yang baru dibelinya. Sebuah konsultan arsitektur bernama Vanguard Vision. Di ruang kerja kantor yang tak begitu luas, Kate melihat skesta Rumah Danau yang langsung saja mengingatkannya pada Alex. Tangannya meraba dan matanya tak ingin lepas dari sketsa itu, mencoba merasakan kenangan. 
“Siapa yang menggambar ini?”

“Kakakku”

“Siapa kakakmu?”

“Alex Wyler. Kamu mengenalnya?”

“Ya, aku mengenalnya. Kamu tahu bagaimana cara untuk menghubunginya?”

“Maaf, ia sudah meninggal dua tahun lalu. Hari ini tepatnya. Ia mendapatkan kecelakaan.”

“Di mana?”
Siapa sangka, Vanguard Vision adalah konsultan arsitektur yang telah sejak lama direncanakan Alex dan Henri sebagai upaya keduanya keluar dari ‘mitos’ sang ayah dan meretas jalannya sendiri, membangun ‘mitos’nya sendiri. Vanguard Vision adalah impian yang bersama dihidupi Alex dan adiknya dan karena itu Alex meninggalkan (kembali) Rumah Danau ketika pada satu titik ia tak lagi dapat hidup dalam kenangan tanpa impian. Dan siapa sangka, arsitek yang diminta Kate untuk membantunya merenovasi rumah adalah Henry Wyler; adik Alex. Pecahan peristiwa yang dipertemukan oleh sketsa Rumah Danau, goresan tangan Alex di mana kenangan dan imajinasinya tertanam. Dan siapa yang menyangka seorang pria yang didapati Kate meninggal di tangannya selepas mengalami kecelakaan di depan Plaza Daley adalah Alex.

Selepas mendengar penjelasan Henry, Kate berlari, terburu-buru, mengacuhkan orang-orang di sekitarnya, sambil menadah air mata langsung saja menuju Rumah Danau. Sesampainya di depan kotak surat, dengan tangan yang gemetar, isak, dan dinginnya musim ia menuliskan pesan untuk Alex,
“Alex,aku tahu kenapa kamu tidak datang malam itu. Itu kamu di Plaza Daley. Itu kamu. Tolong jangan pergi. Jangan mencariku, jangan coba untuk mencariku. Aku mencintaimu. Sudah selama ini aku menahan untuk mengatakannya, aku mencintaimu. Dan jika kamu masih peduli padaku, tunggu aku. Tunggu 2 tahun, Alex, di Rumah Danau, aku di sana.”
Alex setuju untuk menunggu dan memperpanjang penantiannya sambil terus mengulur imajinasi, memupuk impian, dan meneguk kenangan. 2008 keduanya bertemu di Rumah Danau pada garis waktu yang sama. Pertemuan dalam kesadaran yang bertujuan, pertemuan yang disadari, pertemuan yang dimaknai sebab lama menanti. 4 tahun waktu yang diarungi Alex untuk dapat bersama Kate dan menyatukan keduanya dalam Rumah Danau. 

Rumah Danau yang telah lama kosong kini kembali terisi, hangat, dan lengkap. Alex memilih untuk mulai melakukan sesuatu yang telah gagal dilakukan ayahnya. Di dalam ruang Rumah Danau, masa lalu, masa kini, dan masa depan saling bergumul dan melebur. Dahulu ruang ibu dari ayah, kini ruang Kate dari Alex. Bisa jadi benar perkataan Lincourt bahwa tujuan rumah adalah bagaimana penghuninya merasa aman, terlindungi, nyaman, dan selalu ingin cepat kembali pulang untuk mengenang masa-masa terdahulu yang memberi kenangan mendalam dan yang berhubungan dengan segala sesuatu yang membuat hati merasa bahagia. Keduanya telah (kembali) pulang dalam buaian Rumah Danau; rumah yang dihadirkan atas cinta dan menuntun kepada cinta.


Di sini panca indera tak lagi memadai.
Rasakan dan hayati.

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Safar 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar