Kamis, 15 Oktober 2015

Gerak-Diam; Renungan Pergantian Tahun

13 Oktober 2015 seiring tenggelamnya mentari yang menyebabkan meronanya wajah langit, umat Islam menyambut datangnya Tahun Baru Islam dengan berbagai cara yang tak lepas dari nuansa ke-Islam-an seperti pengajian, muhasabah, berdoa bersama. Sebagai sebuah penanda waktu, pergantian tahun memiliki manfaat yang sangat penting bagi manusia yakni menjaga kesadarannya akan waktu. Hilang kesadaran terhadap waktu menjadikan manusia hanyut dalam arus kehidupan hingga tiba-tiba ia mendapati waktunya di alam dunia telah berakhir tanpa sebelumnya memumpuk amal shalih apalagi merintis perjuangan. Selain manfaat eksistensialnya, penanda waktu pergantian tahun memiliki manfaat praktis memudahkan manusia menjalani kehidupannya dan mengatur berbagai urusannya serta manfaat ilmu pengetahuan yang memungkinkan lahirnya beragam bangunan ilmu terkait dengan bahasan waktu.

Manusia telah sejak lama –mungkin sejak Nabi Adam berada di muka bumi- membuat penanda-penanda waktu dengan berbagai pendekatan dan dasar penetapan. Hampir setiap peradaban dan keyakinan memiliki dasar yang berbeda-beda dalam menetapkan penanda waktu. Contoh saja dalam bilangan harian, umat Islam menetapkan penanda waktu berdasarkan waktu shalat sehingga seluruh geraknya sepanjang hari mengacu pada waktu shalat. Penetapan penanda waktu harian berdasarkan waktu shalat tidak saja bertujuan untuk mengatur berbagai urusan umat Islam sepanjang hari, tapi yang terpenting menjaga kesadaran umat Islam terhadap statusnya sebagai hamba ALLAH dan tujuan hidupnya untuk semata beribadah kepada ALLAH.

Jika dahulu umat Islam menjadikan waktu shalat sebagai penanda waktu harian, kini di masa kehidupan modern banyak kalangan umat Islam menetapkan penanda waktu berdasarkan aktivitasnya bekerja yakni mulai bekerja-jam istirahat-selesai bekerja atau masuk kantor-istirahat jam kantor-pulang kantor. Perubahan penanda waktu mempengaruhi kesadaran subjek terhadap waktu yang perlahan akan merubah pandangannya tentang waktu bahwa waktu adalah kerja, waktu adalah uang, waktu adalah keuntungan materi. Kesadaran demikian memunculkan amal mendahulukan kerja daripada ibadah yang seringkali tampak dari menunda waktu shalat bahkan meninggalkan shalat demi urusan kerja, uang dan keuntungan materi. Lamban laun kesadaran terhadap statusnya sebagai hamba ALLAH beralih pada kesadaran statusnya sebagai manusia pekerja. Lalu apa yang menyebabkan terjadinya perubahan penanda waktu? Persoalan tersebut sangat kompleks untuk dibahas dalam tulisan singkat ini sebab melibatkan begitu banyak faktor dan lagipula di luar pokok bahasan tulisan ini.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Mencari dan Menelusuri Akar; Mulai Menghijaukan Rumput Sendiri

Tulisan ini masih seputar perkara kebersihan sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Rumput Tetangga Kini Memang Lebih Hijau”. Dalam tulisan ini saya hendak mencari dan menelusuri akar masalah dari tak kunjung terwujudnya lingkungan yang bersih sejauh pengamatan dan pengalaman yang tentu saja tidak dapat digeneralisasi dan diabstrakkan menjadi sebuah ‘kerangka teori’, tapi semoga saja dapat menjadi titik berangkat untuk dikaji kembali secara lebih serius dan mendalam.

Akar pertama, tidak tepatnya solusi yang dirumuskan dan/atau direalisasikan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih. Berserakannya sampah di jalanan, taman, dan berbagai ruang lainnya dianggap karena kurangnya fasilitas kebersihan dan pekerja kebersihan. Menapa setelah direalisasikan hingga hari ini tak kunjung terwujud kebersihan yang diharapkan? Saya menduga berdasarkan pengalaman yang lalu, perumusan solusi tersebut hanya didasari anggapan-anggapan semata dan realisasinya lebih kuat didorong kepentingan mengeruk materi dari pengadaan fasilitas dan pekerja kebersihan.

Bisa jadi rumusan solusi tersebut adalah tepat, tapi jika dalam tahap realisasinya berorientasi proyek maka tak akan terwujud kebersihan sebagaimana diidamkan. Bisa jadi pula setelah dilakukan kajian ternyata akar masalahnya bukan pada jumlah fasilitas kebersihan atau jumlah pekerja kebersihan, tapi kemudahan akses menggunakan fasilitas atau desain fasilitas kebersihan yang tidak mudah dilihat dan dipahami fungsinya atau bisa jadi pekerja kebersihan itu sendiri yang kualitasnya harus ditingkatkan lebih cekatan, terampil dan peka. 

Kamis, 10 September 2015

Rumput Tetangga Kini Memang Lebih Hijau; Seruan Bersih-Bersih

Sumber: Akun Twitter Aa Gym pada 23 Agustus 2015

Setahun lalu pada 10 Juni 2014, situs online Kompas menaikkan berita tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hossein Askari, seorang guru besar di bidang politik dan bisnis internasional dari Universitas George Washington Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan Askari bertujuan untuk mengetahui negara yang paling banyak mengamalkan nilai-nilai Islam dengan melibatkan 208 negara. Penelitian yang menggunakan variabel ekonomi dan politik menghasilkan temuan yang mengagetkan sebab negara paling Islami ialah Irlandia disusul Denmark, Luksemburg, Selandia Baru, Swedia, Singapura, Finlandia, Norwedia dan Belgia yang notabene semuanya bukanlah negara mayoritas Muslim. Sementara negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim tak satupun yang menduduki peringkat 25 besar.

Baru-baru ini penelitian serupa akan dilakukan oleh Ma’arif Institute yang bertujuan untuk menyusun Indeks Kota Islami (IKI) berdasarkan 6 prinsip maqashid syariah yakni menjaga harga benda, kehidupan, akal, agama, keturunan, dan lingkungan dengan melibatkan 93 kota. Berdasarkan prinsip tersebut, tim peneliti Ma’arif Institute mentakrifkan Kota Islami sebagai kota yang aman, sejahtera dan bahagia. Direncanakan penelitian tersebut akan berlangsung selama 5 bulan ke depan.

Aku sendiri penasaran, secara apriori jangan-jangan hasil penelitian yang dilakukan Ma’arif Institute tidak akan jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hossein Askari. Kota yang mayoritas berpenduduk Muslim tidak menduduki puncak atau katakanlah 5 besar dalam daftar Indeks Kota Islami. Kontradiktif memang, negara dan kota yang dilabeli Islami bukanlah daerah mayoritas Muslim sementara daerah yang mayoritasnya dihuni oleh umat Islam justru terpuruk menduduki peringkat menengah hingga bawah.

Jumat, 24 Juli 2015

Tradisi dan Modernisme; Mengurai Benturan

Belakangan ini tradisi semakin sering dibincangkan seiring isu-isu terkait dengannya diangkat dan menarik perhatian banyak kalangan. Dalam perbincangan mengenai tradisi, paling tidak secara teoritik ilmu budaya terdapat dua kalangan yang mengambil posisi berseberangan, yaitu pihak pengusung tradisi dan pihak penentang tradisi. Sebenarnya yang dimaksud penentang tradisi secara harfiah, yaitu pihak yang mengambil sikap keluar dari tradisi dan menegaskan posisinya berada di luar tradisi hanya berada dalam ranah pemikiran saja. Sementara dalam realitas keseharian kita dapati pihak penentang tradisi mengambil sikap keluar dari wilayah suatu tradisi dan memasuki wilayah tradisi yang lain. Tidak bisa dibayangkan dan tidak ditemukan referensinya dalam realitas seorang manusia atau sekelompok manusia dapat hidup di luar tradisi atau dalam sebuah ruang hampa tradisi. 

Bagi pihak pengusung, tradisi memiliki peran yang sangat sentral berkaitan dengan identitas masyarakat dan perekat anggota masyarakatnya. Bisa dipahami jika segala bentuk penentangan terhadap tradisi tidak saja dianggap ancaman terhadap tradisi, tapi juga ancaman bagi seluruh masyarakat pengusungnya. Sementara bagi pihak yang berseberangan, tradisi yang tentu saja memiliki hubungan erat dengan masa lalu dianggap tidak lagi relevan dengan semangat zaman kini. Bagi kalangan ini untuk mencapai kondisi masyarakat yang berkemajuan, tradisi mutlak harus ditinggalkan dan digantikan dengan bentuk budaya baharu yang lepas dari nuansa masa lalu. Belum lagi jika perbincangan tradisi dikaitkan dengan Islam secara khusus, kebanyakannya langsung menolak tradisi secara apriori dengan anggapan segala bentuk tradisi adalah bid’ah, bagaikan penyakit dalam agama yang harus segera disingkirkan atas nama pemurnian maupun pembaharuan.

Senin, 13 Juli 2015

Menyoal (Kembali) Arsitektur Islami

Perihal peristilahan Arsitektur Islam ataukah Arsitektur Islami yang tepat digunakan saya tetap pada pendapat saya terdahulu. Saya tidak mempermasalahkan penggunaan kedua istilah tersebut dan saya tidak ingin meramaikan perdebatan di antara keduanya. Yang jauh lebih penting bagi saya ialah makna di balik istilah yang digunakan. Bukan saya meremehkan penggunaan suatu istilah dan menganggap peristilahan secara zhahir tidak memiliki nilai, tapi masih begitu banyak pasal yang lebih utama dan mendesak untuk dipikirkan bersama. Diantaranya ialah merumuskan makna yang benar di balik peristilahan yang digunakan yang memang harus diakui bukanlah merupakan perkara mudah.

Yang mendorong saya untuk kembali menuliskan perihal topik ini setelah sebelumnya telah saya tulis sekitar 2 tahun yang lalu dalam artikel berjudul “Menyoal Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami” ialah fenomena belakangan di mana saya dapati pemaknaan istilah Arsitektur Islami yang berkembang pesat, meluas, dan menguat di kalangan mahasiswa pada khususnya yang bagi saya perlu untuk dijabarkan dan ditelaah lebih mendalam. Terlebih dalam konteks wacana pemahaman tersebut perlu untuk ditanggapi agar tidak mengkristal menjadi sebuah doktrin yang diterima begitu saja tanpa bersikap kritis dan mengujinya dengan layak.

Bagi kalangan yang saya maksud di atas, istilah Arsitektur Islami dimaknainya sebagai penerapan nilai Islam dalam perwujudan objek arsitektur oleh kalangan non Muslim, baik penerapan tersebut dipahami atau tidak maupun disadari atau tidak oleh pelakunya. Pemaknaan tersebut dibangun di atas sebuah pemahaman bahwa nilai-nilai Islam adalah universal, sehingga nilai-nilainya teraplikasi secara luas melintasi batas keimanan di berbagai kalangan manusia. Perlu ditekankan yang dimaksud oleh kalangan ini sepengenalan dan sepemahaman saya tidaklah menyamakan derajat dan kedudukan seorang Muslim dengan non Muslim, antara seorang yang beriman dengan yang tidak beriman. Yang dimaksud ialah di dalam diri non Muslim teraktualisasi nilai Islam tanpa subyek tersebut beranggapan dan meyakininya demikian. Anggapan diterapkannya nilai Islam oleh kalangan non Muslim mencakup olah pikir, olah rasa, dan olah karya tidak lain dikarenakan pihak pengamatnya dari kalangan Muslim. Dapat dipastikan terjadi perbedaan anggapan jika pihak pengamatnya berasal dari kalangan Yahudi yang kecil sekali kemungkinan akan menyimpulkannya demikian untuk objek amatan yang sama. 

Selasa, 07 Juli 2015

Islam, Agama dan Kebudayaan Menurut Sidi Gazalba

Setelah pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Kebudayaan Dalam Pandangan Sidi Gazalba” yang memaparkan definisi dan makna kebudayaan menurut Sidi Gazalba dan “Islam, Agama dan Kebudayaan; Sebuah Kebingunan” yang memaparkan hubungan antara Islam dan kebudayaan dengan pendekatan evolusionisme serta berbagai konsekuensinya yang tidak dapat diterima, dalam tulisan ini akan dipaparkan hubungan antara Islam dan kebudayaan menurut Sidi Gazalba untuk mengetahui kedudukan di antara keduanya sebelum dapat dipaparkan definisi dan makna Kebudayaan Islam.

Mengawali bahasannya, Gazalba melontarkan pertanyaan yang sangat mendasar untuk mengetahui kedudukan Islam terhadap kebudayaan, “Apakah Islam adalah agama (religion)?” “Dengan demikian apakah penyebutan Agama Islam adalah tepat dan dapat dibenarkan?” Dari sudut pandang antropologi agama yang dipengaruhi oleh pandangan alam Barat, pertanyaan tersebut sangat problematis terkait dengan istilah agama (religion) yang secara definitif belum disepakati dan memunculkan beragam pendapat yang tidak sedikit saling berseberangan. Bahkan seorang ahli antropologi agama dan studi perbandingan agama, Wilfred Cantwell Smith, dengan sikap skeptisnya menyatakan definisi agama (religion) begitu membingungkan sehingga tidak dapat dipastikan kebenarannya, karenanya Smith menyimpulkan istilah agama (religion) tidak berguna dan harus dihapuskan dari kamus. Untuk menggantikan istilah agama (religion), Smith memperkenalkan istilah tradisi (tradition) yang menurutnya lebih dapat diandalkan.

Tidak sebagaimana Smith, Gazalba tidak terjebak pada sikap skeptis dalam mendefinisikan agama (religion). Terkesan ingin keluar dari perdebatan dan tidak ingin membahasnya panjang lebar, Gazalba berpegang pada definisi agama (religion) secara umum yaitu,
“Hubungan manusia dengan Jang Maha Kudus, dihajati sebagai hakikat bersifat gaib, hubungan mana menjatakan diri dalam bentuk kultus dan sikap-hidup berdasarkan doktrin tertentu” (1963, 161)

Kamis, 02 Juli 2015

Islam, Agama dan Kebudayaan; Sebuah Kebingungan

Ritus pemujaan matahari
Sumber: primbondonit.blogspot.com

Menyoal hubungan antara agama dan kebudayaan serta masing-masing kedudukannya tidak jarang memunculkan debat tiada berkesudahan. Dalam khazanah ilmu budaya yang sangat dipengaruhi pandangan alam Barat terdapat dua mazhab besar menyoal permasalahan ini. Mazhab pertama yang merupakan arus utama hingga kini menyatakan kebudayaan merupakan suatu sistem yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya. Konsekuensi logisnya agama merupakan salah satu unsur pembentuk sistem kebudayaan manusia di mana kedudukan dan perannya dalam sistem tersebut berbeda-beda antara masyarakat satu dengan lainnya. Sementara mazhab kedua menyatakan agama merupakan pembentuk kebudayaan manusia disebabkan nilai-nilai yang berasal dari agama menjadi sumber dan dasar bagi penciptaan kebudayaan. Konsekuensi logisnya, agama menempati kedudukan di atas kebudayaan manusia, agama ialah sumber nilai bagi manusia yang mencipta budaya. 

Mazhab kedua tidak mendapatkan penerimaan yang baik dalam khazanah ilmu budaya atau yang spesifik disebut antropologi agama. Tokoh besar mazhab ini ialah Wilhelm Schmidt yang merupakan seorang antropolog sekaligus pendeta Katolik. Statusnya sebagai pendeta yang tidak bisa dipungkiri mempengaruhi pandangannya terhadap agama dan kebudayaan, tidak jarang mendapatkan kecaman dan kritikan tajam dari kalangan yang memegang teguh (pseudo) objektivisme bahwa ilmu budaya sebagai kajian ilmiah harus objektif dan netral dari bias nilai dan pandangan agama walaupun sudah jelas akan bias nilai dan pandangan –isme-isme selain agama.

Minggu, 31 Mei 2015

Kebudayaan Dalam Pandangan Sidi Gazalba

Kalaulah kita mengkaji teori kebudayaan, atau paling tidak mempelajari buku-buku seputar pengantar dan filsafat kebudayaan yang ditulis oleh Roger M. Keesing, Koentjaraningrat, Budiono Kusumohamidjojo, Bakker; sekedar menyebut beberapa nama saja, di tengah perdebatan definisi ihwal kebudayaan yang dihadirkan terdapat benang merah mengenai kebudayaan bahwa kebudayaan ialah khas manusia yang meliputi seluruh kehidupannya. Hanya manusia yang memiliki kebudayaan yang menjadikannya berbeda dengan hewan apalagi tumbuhan.

Begitu pula dengan Sidi Gazalba yang turut menguatkan premis di atas dalam bukunya yang berjudul Kebudajaan Sebagai Ilmu yang ditulisnya sebanyak 8 seri, terutama dalam seri pertama yang merupakan pengantar dari seri-seri berikutnya yang memuat pemikiran filosofisnya mengenai kebudayaan. Yang membedakannya dengan banyak ahli kebudayaan, paling tidak yang telah saya sebutkan di atas, Sidi Gazalba menegaskan posisinya sebagai Muslim yang tidak bisa melepaskan ke-Islam-annya dalam memandang dan membahas kebudayaan, sehingga pandangan dan pendapatnya sarat dengan nuansa Islam. 

Posisi dan pandangan Sidi Gazalba menjadikan karyanya penting untuk dipelajari oleh umat Islam walaupun sudah terbilang lawas sejak terbitnya pertama kali tahun 1961. Menurut Gazalba adalah penting bagi umat Islam mempelajari kebudayaan untuk dapat memahami hukum, kaidah, dan masalah kebudayaan, sehingga dengannya dapat memahami kondisi kehidupan umat Islam dan kebudayaannya pada masa kini serta merumuskan pedoman dan kebijakan untuk mengadakan perbaikan kondisi kebudayaan umat Islam.

Kamis, 14 Mei 2015

The Mute Orpheus; Sebuah Penafsiran Hermeneutis.

Sumber: frankieteardrop.tumblr.com

The Mute Orpheus lahir dari olah rasa Giorgio de Chirico pada tahun 1971 dalam suasana paska revolusi kebudayaan tahun 1968 di Paris dan terbilang merupakan salah satu karya terakhirnya sebelum meninggal pada tahun 1978. Sebagai sebuah penanda dari zaman baru, dan telah menjadi ciri khas de Chirico dalam kebanyakan karya-karya sebelumnya yang merupakan corong suara kritiknya terhadap modernisme, The Mute Orpheus adalah oposisi yang menarasikan kebobrokan modernisme secara artistik sekaligus kelam bagaikan gambaran mimpi buruk.

De Chirico menampilkan Orpheus sebagai tokoh tunggal. Dalam mitologi Yunani, Orpheus dikenal sebagai anak Dewa Sungai bernama Oiagros yang mahir melantunkan musik dan puisi. Dengan suaranya ia menyentuh dan meluluhkan tidak saja manusia, tapi juga binatang, tumbuhan, bahkan bebatuan. Orpheus yang demikian dibongkar oleh de Chirico dan mewnampilkannya sebagai Orpheus yang bukan dirinya. Pembongkaran yang dilakukannya bukan saja untuk menghasilkan karya yang memuat kritik, tapi pembongkaran itu sendiri adalah kritik terhadap modernisme dengan mengais kepingan masa lalu yang digunakan untuk kepentingan masa kini.

Dalam The Mute Orpheus, sosok Orpheus ditampilkan bukan dalam sosok imajinya yang sempurna sebagaimana tradisi mitologi Yunani, tapi ditampilkan dalam wujud manekin dengan beragam alat ukur di bagian badan dan latarnya serta garis ukur khas produk industri pada bagian pahanya. Modernisme sangat berhasrat pada keserbapastian yang dapat dijamin oleh angka melalui kuantifikasi segala hal. Kualitas-kualitas tak terukur dialihkan menjadi bilangan angka. Bentuk dibatasi sebatas geometri dengan perangkat instrumen ukurnya. Begitulah Orpheus ditampilkan sehingga menyiratkan kesan tak lebih sebagai produk industri yang serba terukur dengan cetakan terstandard.

Minggu, 03 Mei 2015

Sikat Gigi Tanpa Nalar

Sederhana saja pada awalnya aku ingin membeli sikat gigi di suatu supermarket, tapi kemudian bingung setelah sampai di depan rak yang menggantung beragam merk sikat gigi dengan berbagai warna, bentuk, dan teknologi. Tujuan awal yang sederhana sekedar membeli satu pucuk sikat gigi menjadi sebuah pilihan yang sulit dan kompleks untuk menentukan sikat gigi mana yang pantas dibeli, bukan lagi yang butuh dibeli. Kebutuhan akan fungsi sikat gigi bergeser pada kebutuhan akan sikat gigi itu sendiri. Bukan aku saja yang bingung berdiam kaku di depan rak itu. Begitu pula dengan orang-orang di sebelahku yang tampak serius membaca keterangan satu persatu produk sikat gigi dan saling membanding-bandingkannya.

Bayangkan, betapa besar SDM, SDA, waktu, dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penelitian sikat gigi sehingga kini kita dihujani berpuluh jenis produk sikat gigi. Sekitar seabad lalu, sebut saja generasi nenekku yang pernah menceritakan bagaimana beliau dahulu menyikat giginya dengan jari telunjuk yang diolesi abu gosok atau tumbukan batu bata atau tanah, kini telah beralih pada sebuah alat. Perubahan secara cepat tersebut tidak berarti buruk selama memang pada batasnya, yaitu sikat gigi sebatas alat yang dibeli dan digunakan berdasarkan nilai gunanya. Kebutuhan kita pada sikat gigi karena sebab kegunaannya. Kehadirannya menggantikan jari telunjuk tidak lain semata untuk memberikan rasa nyaman dan aman.

Ceritanya lain ketika sikat gigi mewujud sebagai komoditas yang tujuannya hanya untuk mengeruk laba semata. Diferensiasi produk sikat gigi tidak lagi dapat dihindari untuk meluaskan pasar demi keuntungan berlipat-lipat. Dari sikat gigi yang dilabeli klasik hingga modern dan kontemporer, dari yang bergagang lurus hingga meliuk-liuk, dari yang berbahan plastik hingga komposit dan berlapis karet agar nyaman digenggam, dari yang berbulu rata hingga zig-zag dengan bulu-bulu halus pada bagian ujungnya, dari yang berbulu monokrom hingga berwarna-warni, dari yang hanya diperuntukkan untuk menyikat gigi hingga menyikat lidah, dari yang manual hingga digerakkan tenaga listrik. Belum lagi diferensiasi sikat gigi berdasarkan penggunanya semisal sikat gigi khusus keluarga cemara, remaja aktif, anak-anak, pengusaha muda sukses, penderita gigi sensitif, dan sebagainya. Penanaman nilai tanda merupakan konsekuensi dari diferensiasi produk sikat gigi yang menggeser nilai gunanya. Itulah mengapa aku mengalami kebingungan ketika berada di depan rak yang dipenuhi sikat gigi, mungkin begitu pula dengan banyak orang lainnya, sebab nilai tanda sikat gigi telah menjadi fokus dominan dan menutupi nilai gunanya. 

Jumat, 06 Maret 2015

Masjid dan Pekuburan; Berpisah Jalan

Dahulu, setidaknya dapat kita lihat pada masjid-masjid di Jawa, ruang pekuburan berdampingan erat dengan ruang masjid yang hanya dipisahkan tembok masjid dan atau tembok pekuburan. Jasad yang berada dalam liang lahadnya pun bukan sembarang orang, terutama para ulama dan sanak kerabatnya. Di masjid-masjid yang lebih kecil yang hingga hari ini masih dapat kita saksikan terus tumbuh di daerah pedesaan walaupun dengan kecepatan yang semakin melambat bahkan hampir menghilang, tetap berdampingan erat dengan ruang pekuburan. Tidak saja diperuntukkan bagi jasad para tokoh umat Islam, tapi juga kaum Muslimin yang mengitarinya.

Banyak maksud dari berdampingannya ruang pekuburan dengan ruang masjid. Pertama, kedekatan jarak ruang memudahkan proses penguburan setelah jenazah dishalatkan di masjid serta kemudahan untuk menziarahinya sebelum maupun selepas beraktivitas di ruang masjid. Kedua, kejelasan identitas ruang. Ruang pekuburan yang berdampingan erat dengan ruang masjid mudah dipastikan merupakan pekuburan bagi umat Islam yang berarti ruang pekuburan tidak berdiri otonom, tapi merujuk dan bersandar pada ruang masjid untuk kejelasan identitasnya sehingga tidak diperlukan penegasan grafis visual bertuliskan ‘Pekuburan Islam’.

Ketiga, menandakan kedudukan dan identitas ke-Islam-an jasad yang dikuburkan. Ruang masjid memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi umat Islam; baik secara fungsional maupun simbolis. Relasi ruang pekuburan yang berdampingan erat dengannya menjadikannya diperuntukkan bagi jasad yang memiliki kedudukan istimewa di hati umat Islam. Jasad-jasad yang semasa hidupnya menegakkan kalimat ALLAH, menyiarkan rahmat bagi seluruh alam, memperjuangkan umat, memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai lentera penerang peradaban. Sementara bagi umat Islam yang kebanyakannya awam, dikuburkan jasadnya berdampingan dengan ruang masjid menyimpan harapan keselamatan dan kebaikan hidup di alam barzakh sebagaimana kebaikan hidup di alam dunia yang tidak dapat dilepaskan dari peran masjid dan merupakan gaung ikrar bahwa hidup dan matinya dalam keadaan Islam.

Kamis, 19 Februari 2015

Manifesto Liang Lahad

Kapitalisme ialah paham berikut dengan sistem yang dikenal sangat lihai dan memiliki kemampuan adaptif yang pejal. Berpuluh tahun lalu Marxisme meramalkan Kapitalisme akan runtuh melalui perlawanan penuh letupan amarah kaum buruh sedunia. Nyatanya hanya tinggal ramalan karena dalam masa-masa kritisnya Kapitalisme mampu melakukan kritik internal untuk dapat bertahan bahkan semakin berkembang dan liar, beringas, melumat segalanya. Ironisnya, banyak yang merasa tengah bergelut sengit mengalahkan kekuatan kapital, pada kenyataannya tanpa disadari malah menjadi bagian darinya, menyokong keberlangsungan hidupnya, memperpanjang nafasnya. Fenomena yang sehari-hari kita tonton dalam atraksi budaya populer.

Dalam artikel yang berjudul “Ruang (Untuk) Ingat Kembali Pulang”, Kapitalisme memposisikan ruang sebagai mesin akumulator keuntungan materi sehingga menghadirkan ruang sebagai pekuburan bagi jasad tak bernyawa tidaklah rasional berdasarkan hitungan ekonomi. Ruang hanya untuk manusia, bukan untuk jasad tak bernyawa; kita sebut saja ini diktum keruangan pertama Kapitalisme. Lebih spesifik lagi manusia yang mampu turut serta memutar roda ekonomi untuk mengkonsumsi, sementara kaum fakir dan miskin hanyalah residu peradaban yang harus dimaklumi keberadaannya dalam gerak pembangunan yang terus bergerak ke depan. Kapitalisme telah dan tengah mereduksi kebutuhan manusia sebatas kepuasan jasadiyah yang tak kenal lelah.

Sebagai sebuah paham sekaligus sistem yang dinamis, meniscayakan Kapitalisme untuk terus bergerak. Hari ini kita disuguhi akrobat para kapital menjadikan ruang pekuburan sebagai mesin akumulator modal. Kalaulah harus ruang pekuburan, sudah dipastikan harus bernilai ekonomi; kita sebut saja ini diktum keruangan kedua Kapitalisme. Mudah saja, Kapitalisme memanfaatkan kebutuhan dan tuntutan akan kemudahan dan kenyamanan serta ikatan emosional dan kenangan terhadap jasad yang dikuburkan. Pengelola (atau mungkin sekaligus pemilik?; entah bagaimana tanggapan para ulama terhadap ruang pekuburan yang dimiliki oleh perseorangan atau suatu badan usaha swasta) menyediakan area pekuburan bagi seluruh umat beragama di atas tanah puluhan hingga raturan hektar karena semakin luas cakupan pasar yang dapat dilayani dan semakin besar daya tampung berarti semakin besar potensi dan semakin cepat akselerasi mendulang keuntungan materi.

Kamis, 12 Februari 2015

Ruang Untuk (Ingat) Kembali Pulang


Ruang pekuburan merupakan konsekuensi dari ketidakabadian manusia di alam dunia. Pekuburan yang dikonsentrasikan dalam sebuah ruang komunal menjadi penanda hadirnya orang-orang terdahulu sebelum hadirnya kita, penanda dari gerak waktu yang berarti pula gerak jasad kita yang semakin dekat menuju liang lahat. Penanda bahwa dalam kesementaraannya, dunia hanyalah ruang singgah sementara.

Di alam dunia, manusia bagaikan seorang pejalan yang keluar dari rumah dan hendak kembali pulang ke rumah. Ruang pekuburan mengingatkannya akan rumah di sana, sedangkan liat lahat adalah pintu untuk memasukinya. Penanda sebagai pengingat bagi manusia untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan pulang, menyiapan bekal dan kendaraan. Pulang sebagai orang yang dirindui dan diridhai. Tapi tidak semuanya begitu.

Manusia cenderung menjarakkan antara dirinya dan ruang pekuburan karena ingin terus berjalan sampai-sampai tak ingat dan tak ingin kembali pulang. Baginya, ruang pekuburan hanyalah teruntuk jasad-jasad yang bergelimpangan dan tengah berurusan dengan Tuhannya sementara kini dirinya tengah bergumul dan berurusan dengan dunianya; jasadiyahnya. Penjarakkan dilakukan baik secara keruangan dengan meminggirkan ruang pekuburan di pojok lagi jauh atau menyembunyikannya secara visual hingga menjadi samar bagi pengelihatan. Akses yang susah lagi sempit, kondisi yang tidak terawat, penataan yang semrawut, hanya menunggu pemodal datang menukarnya dengan uang. Diktum sederhananya, ruang hanya untuk manusia bukan untuk jasad tak bernyawa. Maupun penjarakkan secara kultural melalui mitos angkernya ruang pekuburan atau anggapan pekuburan sebagai ruang kotor sehingga harus dijauhkan dari ruang-ruang keseharian manusia. Ruang diposisikan secara dikotomis antara ruang bagi yang masih hidup dan ruang bagi yang telah meninggal dengan yang terakhir menempati posisi subordinat.

Jumat, 23 Januari 2015

Berlari Mencari Ruang Menyendiri

Harus diakui memang walau pahit kondisi umat Islam secara sosiologis terkhusus di Indonesia sangatlah rapuh. Tidak lagi cukup menyebut Islam tanpa menyebut komunitas tempatnya ber-Islam. Siapa pun dari umat Islam yang tidak menjadi bagian suatu komunitas Muslim, baik secara struktural maupun kultural, kehadirannya tak dipandang, suaranya tak didengar, aksinya tak dihirau, bahkan dikucilkan. Memang secara sosiologis tidak dapat dihindari keberagaman komunitas Muslim sebagai keniscayaan dari keberagaman pemahaman umat terhadap Islam dan keberagaman konteks ruang kehidupan. Tapi keberagaman tanpa hadirnya sikap saling memahami dan solidaritas sama saja menyimpan potensi konflik dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat saja menegang lalu meledak berhamburan.

Huru-hara sosial yang secara jelas dapat disaksikan dan ditonton bersama dari ruang masjid. Masjid yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai rumah umat Islam, ruang bersama bagi umat Islam merapat di bawah naungan rahmat ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran serta menebar kasih sayang, tak luput dari aksi saling klaim kepemilikan ruangnya antar komunitas Muslim. Bukan berita burung lagi saling sikut merebutkan pucuk kepemimpinan yayasan dan takmir masjid untuk mendominasi ruangnya. Hilanglah sudah esensi waqaf sebagai syarat sah ruang masjid.

Antar komunitas Muslim serasa tak nyaman berkumpul bersama, tak lapang dada saling menebar ilmu dan pemahaman. Berbagai upaya mempersatukan komunitas Muslim dalam sebuah ruang masjid tentu sudah dilakukan dan sudah sangat sering dilakukan, seperti berbagi jabatan kepengurusan masjid, saling gilir imam shalat shubuh saban hari, sinergi program rutin antar komunitas, atau berbagi ruang majelis. Upaya rekonsiliasi yang patut diapresiasi walaupun seringkali berujung ketegangan dan berakhir pada perpisahan lalu menyendiri.