Jumat, 23 Januari 2015

Berlari Mencari Ruang Menyendiri

Harus diakui memang walau pahit kondisi umat Islam secara sosiologis terkhusus di Indonesia sangatlah rapuh. Tidak lagi cukup menyebut Islam tanpa menyebut komunitas tempatnya ber-Islam. Siapa pun dari umat Islam yang tidak menjadi bagian suatu komunitas Muslim, baik secara struktural maupun kultural, kehadirannya tak dipandang, suaranya tak didengar, aksinya tak dihirau, bahkan dikucilkan. Memang secara sosiologis tidak dapat dihindari keberagaman komunitas Muslim sebagai keniscayaan dari keberagaman pemahaman umat terhadap Islam dan keberagaman konteks ruang kehidupan. Tapi keberagaman tanpa hadirnya sikap saling memahami dan solidaritas sama saja menyimpan potensi konflik dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat saja menegang lalu meledak berhamburan.

Huru-hara sosial yang secara jelas dapat disaksikan dan ditonton bersama dari ruang masjid. Masjid yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai rumah umat Islam, ruang bersama bagi umat Islam merapat di bawah naungan rahmat ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran serta menebar kasih sayang, tak luput dari aksi saling klaim kepemilikan ruangnya antar komunitas Muslim. Bukan berita burung lagi saling sikut merebutkan pucuk kepemimpinan yayasan dan takmir masjid untuk mendominasi ruangnya. Hilanglah sudah esensi waqaf sebagai syarat sah ruang masjid.

Antar komunitas Muslim serasa tak nyaman berkumpul bersama, tak lapang dada saling menebar ilmu dan pemahaman. Berbagai upaya mempersatukan komunitas Muslim dalam sebuah ruang masjid tentu sudah dilakukan dan sudah sangat sering dilakukan, seperti berbagi jabatan kepengurusan masjid, saling gilir imam shalat shubuh saban hari, sinergi program rutin antar komunitas, atau berbagi ruang majelis. Upaya rekonsiliasi yang patut diapresiasi walaupun seringkali berujung ketegangan dan berakhir pada perpisahan lalu menyendiri.