Kamis, 19 Februari 2015

Manifesto Liang Lahad

Kapitalisme ialah paham berikut dengan sistem yang dikenal sangat lihai dan memiliki kemampuan adaptif yang pejal. Berpuluh tahun lalu Marxisme meramalkan Kapitalisme akan runtuh melalui perlawanan penuh letupan amarah kaum buruh sedunia. Nyatanya hanya tinggal ramalan karena dalam masa-masa kritisnya Kapitalisme mampu melakukan kritik internal untuk dapat bertahan bahkan semakin berkembang dan liar, beringas, melumat segalanya. Ironisnya, banyak yang merasa tengah bergelut sengit mengalahkan kekuatan kapital, pada kenyataannya tanpa disadari malah menjadi bagian darinya, menyokong keberlangsungan hidupnya, memperpanjang nafasnya. Fenomena yang sehari-hari kita tonton dalam atraksi budaya populer.

Dalam artikel yang berjudul “Ruang (Untuk) Ingat Kembali Pulang”, Kapitalisme memposisikan ruang sebagai mesin akumulator keuntungan materi sehingga menghadirkan ruang sebagai pekuburan bagi jasad tak bernyawa tidaklah rasional berdasarkan hitungan ekonomi. Ruang hanya untuk manusia, bukan untuk jasad tak bernyawa; kita sebut saja ini diktum keruangan pertama Kapitalisme. Lebih spesifik lagi manusia yang mampu turut serta memutar roda ekonomi untuk mengkonsumsi, sementara kaum fakir dan miskin hanyalah residu peradaban yang harus dimaklumi keberadaannya dalam gerak pembangunan yang terus bergerak ke depan. Kapitalisme telah dan tengah mereduksi kebutuhan manusia sebatas kepuasan jasadiyah yang tak kenal lelah.

Sebagai sebuah paham sekaligus sistem yang dinamis, meniscayakan Kapitalisme untuk terus bergerak. Hari ini kita disuguhi akrobat para kapital menjadikan ruang pekuburan sebagai mesin akumulator modal. Kalaulah harus ruang pekuburan, sudah dipastikan harus bernilai ekonomi; kita sebut saja ini diktum keruangan kedua Kapitalisme. Mudah saja, Kapitalisme memanfaatkan kebutuhan dan tuntutan akan kemudahan dan kenyamanan serta ikatan emosional dan kenangan terhadap jasad yang dikuburkan. Pengelola (atau mungkin sekaligus pemilik?; entah bagaimana tanggapan para ulama terhadap ruang pekuburan yang dimiliki oleh perseorangan atau suatu badan usaha swasta) menyediakan area pekuburan bagi seluruh umat beragama di atas tanah puluhan hingga raturan hektar karena semakin luas cakupan pasar yang dapat dilayani dan semakin besar daya tampung berarti semakin besar potensi dan semakin cepat akselerasi mendulang keuntungan materi.

Kamis, 12 Februari 2015

Ruang Untuk (Ingat) Kembali Pulang


Ruang pekuburan merupakan konsekuensi dari ketidakabadian manusia di alam dunia. Pekuburan yang dikonsentrasikan dalam sebuah ruang komunal menjadi penanda hadirnya orang-orang terdahulu sebelum hadirnya kita, penanda dari gerak waktu yang berarti pula gerak jasad kita yang semakin dekat menuju liang lahat. Penanda bahwa dalam kesementaraannya, dunia hanyalah ruang singgah sementara.

Di alam dunia, manusia bagaikan seorang pejalan yang keluar dari rumah dan hendak kembali pulang ke rumah. Ruang pekuburan mengingatkannya akan rumah di sana, sedangkan liat lahat adalah pintu untuk memasukinya. Penanda sebagai pengingat bagi manusia untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan pulang, menyiapan bekal dan kendaraan. Pulang sebagai orang yang dirindui dan diridhai. Tapi tidak semuanya begitu.

Manusia cenderung menjarakkan antara dirinya dan ruang pekuburan karena ingin terus berjalan sampai-sampai tak ingat dan tak ingin kembali pulang. Baginya, ruang pekuburan hanyalah teruntuk jasad-jasad yang bergelimpangan dan tengah berurusan dengan Tuhannya sementara kini dirinya tengah bergumul dan berurusan dengan dunianya; jasadiyahnya. Penjarakkan dilakukan baik secara keruangan dengan meminggirkan ruang pekuburan di pojok lagi jauh atau menyembunyikannya secara visual hingga menjadi samar bagi pengelihatan. Akses yang susah lagi sempit, kondisi yang tidak terawat, penataan yang semrawut, hanya menunggu pemodal datang menukarnya dengan uang. Diktum sederhananya, ruang hanya untuk manusia bukan untuk jasad tak bernyawa. Maupun penjarakkan secara kultural melalui mitos angkernya ruang pekuburan atau anggapan pekuburan sebagai ruang kotor sehingga harus dijauhkan dari ruang-ruang keseharian manusia. Ruang diposisikan secara dikotomis antara ruang bagi yang masih hidup dan ruang bagi yang telah meninggal dengan yang terakhir menempati posisi subordinat.