Kamis, 12 Februari 2015

Ruang Untuk (Ingat) Kembali Pulang


Ruang pekuburan merupakan konsekuensi dari ketidakabadian manusia di alam dunia. Pekuburan yang dikonsentrasikan dalam sebuah ruang komunal menjadi penanda hadirnya orang-orang terdahulu sebelum hadirnya kita, penanda dari gerak waktu yang berarti pula gerak jasad kita yang semakin dekat menuju liang lahat. Penanda bahwa dalam kesementaraannya, dunia hanyalah ruang singgah sementara.

Di alam dunia, manusia bagaikan seorang pejalan yang keluar dari rumah dan hendak kembali pulang ke rumah. Ruang pekuburan mengingatkannya akan rumah di sana, sedangkan liat lahat adalah pintu untuk memasukinya. Penanda sebagai pengingat bagi manusia untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan pulang, menyiapan bekal dan kendaraan. Pulang sebagai orang yang dirindui dan diridhai. Tapi tidak semuanya begitu.

Manusia cenderung menjarakkan antara dirinya dan ruang pekuburan karena ingin terus berjalan sampai-sampai tak ingat dan tak ingin kembali pulang. Baginya, ruang pekuburan hanyalah teruntuk jasad-jasad yang bergelimpangan dan tengah berurusan dengan Tuhannya sementara kini dirinya tengah bergumul dan berurusan dengan dunianya; jasadiyahnya. Penjarakkan dilakukan baik secara keruangan dengan meminggirkan ruang pekuburan di pojok lagi jauh atau menyembunyikannya secara visual hingga menjadi samar bagi pengelihatan. Akses yang susah lagi sempit, kondisi yang tidak terawat, penataan yang semrawut, hanya menunggu pemodal datang menukarnya dengan uang. Diktum sederhananya, ruang hanya untuk manusia bukan untuk jasad tak bernyawa. Maupun penjarakkan secara kultural melalui mitos angkernya ruang pekuburan atau anggapan pekuburan sebagai ruang kotor sehingga harus dijauhkan dari ruang-ruang keseharian manusia. Ruang diposisikan secara dikotomis antara ruang bagi yang masih hidup dan ruang bagi yang telah meninggal dengan yang terakhir menempati posisi subordinat.

Tidak berarti ruang pekuburan akan dengan mudah hilang dikalahkan kekuatan kapital. Terdapat tiga penghalang antara ruang pekuburan dengan pemodal. Pertama, ikatan emosional personal terhadap seseorang yang telah mendahului dan meninggalkan. Pekuburan tak sekedar ruang kosong makna, tapi tempat terjalinnya kenangan dan hubungan emosional bagi keluarga, kerabat, dan kawan terhadap sosok yang jasadnya telah terkubur. Tak jadi soal wujud jasad yang telah kembali menjadi tanah, siapa pun yang berkeinginan mengalihfungsikan ruang pekuburan tersebut akan mendapatkan perlawanan yang keras. Begitupula jalinan kenangan dan emosional yang dimiliki masyarakat luas terhadap seorang tokoh. Pekuburan menjadi penanda akan kebenaran keberadaan, kiprah, dan jasa tokoh tersebut. Sementara penghalang ketiga melibatkan massa yang lebih luas bahkan bersifat trans-geografis, yaitu pecinta lingkungan hidup. Bagi mereka ruang pekuburan merupakan daerah resapan air di tengah pembangunan fisik yang terus menggerus ruang terbuka, sehingga menjaga keberadaannya merupakan langkah konkrit untuk menyelamatkan lingkungan dan menjamin kehidupan generasi mendatang.

Menginsafi bahwa ruang pekuburan dibutuhkan bagi jasad yang telah terpisah dari ruhnya maupun bagi kita yang masih menubuh dalam wadak, semestinya ruang pekuburan tidak lagi diposisikan sebagai ruang marginal, tapi ruang yang secara fungsional dibutuhkan kehadirannya dan diberikan perhatian serta perlakuan yang layak, baik dari aspek kapasitas, perletakan dan penataan ruangnya.

*****

Terpinggirkan dan tersingkirkannya ruang pekuburan tak lepas dari logika kapitalisme di mana keberlangsungan dan pemanfaatan ruang didasarkan potensinya menghasilkan keuntungan materi. Ruang adalah mesin bagi pemodal menumpuk keuntungan materi, bagaimanapun caranya.

Aku dapati, banyak kampung atau permukiman yang telah hadir beberapa generasi lalu memiliki ruang pekuburannya sendiri. Di kampung nenek dari ibuku, untuk menuju ke sawah dan ladang mau tak mau melewati ruang pekuburan. Di kampung sebelahnya, ruang pekuburan berada di area paling depan tepat setelah memasuki gapura kampung. Tidak ada mitos angker, ruang pekuburan dianggap penting secara fungsional sebagaimana ruang-ruang lainnya. Jauh dari wacana penggusuran ruang pekuburan apalagi keinginan mengalihfungsikannya menjadi ladang atau ruang perdagangan yang secara hitungan ekonomi tentu lebih produktif dan menguntungkan.

Kondisi yang berbeda kita dapati kini. Tidak sedikit ruang pekuburan beralihfungsi menjadi hotel, mall, perkantoran. Dalam logika kapitalisme, keberadaan ruang pekuburan tidak penting sebab tidak produktif secara ekonomi, walaupun belakangan ini kapitalisme menemukan cara menjadikan ruang pekuburan sebagai mesin penghasil keuntungan materi, tapi kita tunda dahulu pembahasan yang terakhir ini. Bagi kapitalisme, manusia adalah binatang ekonomi alias homo economicus. Manusia bernilai jika mampu aktif dalam memutar roda perekonomian yang pada akhirnya ditujukan untuk kegiatan konsumsi, sehingga secara mutlak manusia yang tidak lagi bernyawa tidaklah bernilai dan pemanfaatan ruang oleh yang tak bernilai merupakan ancaman dan kesia-siaan.

Kita menyaksikan tumbuh suburnya perumahan yang diklaim modern dan simbol dari manusia urban; manusia beradab; manusia tercerahkan, tapi tak menyediakan ruang pekuburan. Berapa banyak kita dapati perumahan yang diklaim modern menyediakan fasilitas pekuburan di dalam lingkungannya? Berapa banyak calon penghuni mencari lingkungan perumahan yang memiliki fasilitas ruang pekuburan? Berapa banyak penghuni yang menginginkan dan membutuhkan hadirnya ruang pekuburan di lingkungan perumahannya? Dan berapa banyak kita melihat dalam brosur dan media marketing properti lainnya yang menunjukkan posisi dan jarak ruang pekuburan terdekat dari lingkungan perumahan yang ditawarkan selain jaraknya ke sekolah, fasilitas perbelanjaan, fasilitas rekreasi, perkantoran, dan bandara?

Perumahan yang diklaim modern tidak sekedar menjual unit hunian. Mereka juga menjual gaya hidup materialis dengan beragam fasilitas lingkungan yang dihadirkan. Rumus marketingnya sederhana, semakin banyak fasilitas dihadirkan yang ditujukan untuk kepuasan dan kesenangan bagi jasad, semakin menarik bagi calon konsumen, semakin mahal pula harga unit hunian yang ditawarkan, dan pada akhirnya semakin mendatangkan keuntungan materi bagi pengembang; baik dari penjualan unit hunian maupun dari pengelolaan fasilitas perumahan. Sebut saja fasilitas keamanan one-gate system dengan penjagaan super ketat oleh petugas keamanan terlatih dan seperangkat teknologi canggih sehingga pengelola lingkungan dengan mudah menetapkan tarif ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk keamanan lingkungan setiap bulannya; fasilitas olahraga seperti kolam renang, gym, joging track, lapangan golf; fasilitas perbelanjaan seperti deretan puluhan ruko, supermarket, hingga mall; fasilitas rekreasi dari taman bertemakan Eropa hingga water park.

Baik pihak pengembang maupun konsumen bukannya tidak tahu bahwa kelak manusia akan kembali pulang dan konsekuensinya membutuhkan kehadiran ruang pekuburan, hanya saja tidak terpikirkan dan memang tidak ingin memikirkan. Memikirkan ketidakabadian manusia merupakan kengerian bagi yang telah mabuk oleh materi, merupakan penghambat bagi kerja ekonomi, merupakan pemutus dari kenikmatan dan kepuasan jasadiyah, apalagi jika harus menghadirkan penandanya. Yang utama adalah kehidupan yang sifatnya di sini kekinian. Manusia hidup dalam ruang yang terus saja menyoal untung rugi, materi, riuh, bising. Tak disediakan ruang refleksi dan waktu jeda untuk mengingat tempatnya berasal dan akan kembali. Manusia yang sedang lupa, kita yang terus menerus dipaksa untuk lupa.

Ironisnya, ketika kelak manusia yang sedang lupa tak lagi bernyawa, ketika jasad yang selama ini dipuaskannya diambil kembali oleh pemiliknya, hendak kemana dikuburkan jika terus saja ruang-ruangnya dialihfungsikan, disingkirkan, tak diperhatikan (!?) Pada akhirnya kita akan kembali pulang, ingat atau sedang lupa, siap atau sedang lalai, ada atau tiadanya ruang pekuburan.

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Jimbaran pada Rabiul Akhir 1436 Hijrah Nabi
Disempurnakan di Yogyakarta pada Rabiul Akhir 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar