Jumat, 06 Maret 2015

Masjid dan Pekuburan; Berpisah Jalan

Dahulu, setidaknya dapat kita lihat pada masjid-masjid di Jawa, ruang pekuburan berdampingan erat dengan ruang masjid yang hanya dipisahkan tembok masjid dan atau tembok pekuburan. Jasad yang berada dalam liang lahadnya pun bukan sembarang orang, terutama para ulama dan sanak kerabatnya. Di masjid-masjid yang lebih kecil yang hingga hari ini masih dapat kita saksikan terus tumbuh di daerah pedesaan walaupun dengan kecepatan yang semakin melambat bahkan hampir menghilang, tetap berdampingan erat dengan ruang pekuburan. Tidak saja diperuntukkan bagi jasad para tokoh umat Islam, tapi juga kaum Muslimin yang mengitarinya.

Banyak maksud dari berdampingannya ruang pekuburan dengan ruang masjid. Pertama, kedekatan jarak ruang memudahkan proses penguburan setelah jenazah dishalatkan di masjid serta kemudahan untuk menziarahinya sebelum maupun selepas beraktivitas di ruang masjid. Kedua, kejelasan identitas ruang. Ruang pekuburan yang berdampingan erat dengan ruang masjid mudah dipastikan merupakan pekuburan bagi umat Islam yang berarti ruang pekuburan tidak berdiri otonom, tapi merujuk dan bersandar pada ruang masjid untuk kejelasan identitasnya sehingga tidak diperlukan penegasan grafis visual bertuliskan ‘Pekuburan Islam’.

Ketiga, menandakan kedudukan dan identitas ke-Islam-an jasad yang dikuburkan. Ruang masjid memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi umat Islam; baik secara fungsional maupun simbolis. Relasi ruang pekuburan yang berdampingan erat dengannya menjadikannya diperuntukkan bagi jasad yang memiliki kedudukan istimewa di hati umat Islam. Jasad-jasad yang semasa hidupnya menegakkan kalimat ALLAH, menyiarkan rahmat bagi seluruh alam, memperjuangkan umat, memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai lentera penerang peradaban. Sementara bagi umat Islam yang kebanyakannya awam, dikuburkan jasadnya berdampingan dengan ruang masjid menyimpan harapan keselamatan dan kebaikan hidup di alam barzakh sebagaimana kebaikan hidup di alam dunia yang tidak dapat dilepaskan dari peran masjid dan merupakan gaung ikrar bahwa hidup dan matinya dalam keadaan Islam.

Keempat, simbolisasi kehidupan dunia dan akhirat yang berdampingan erat. Ruang masjid memanggul peran tidak saja mempersiapkan dan membimbing umat Islam untuk menegakkan urusannya di alam dunia tapi juga untuk mempersiapkannya kelak menjalani kehidupan di alam akhirat. Darinya dapat dimaknai ruang pekuburan yang berdampingan erat dengan ruang masjid bahwa manusia tidak hanya berurusan dengan kehidupan di alam dunia, tapi kelak akan menjalani kehidupan di alam barzakh sebelum memasuki alam akhirat. Bahwa dunia haruslah dihubungkan dengan akhirat sementara alam akhirat ialah tujuan final bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di alam dunia.

Aktivitas kehidupan umat Islam di alam dunia tidak dapat dilepaskan dari ruang masjid. Dengan berdampingannya kedua erat, mendatangi ruang masjid akan menyaksikan pula kehadiran ruang pekuburan. Semakin sering mendatangi ruang masjid maka semakin sering pula penyaksian yang dialaminya. Kini dirinya masih dapat tegak mendirikan shalat, sesaat lagi bisa jadi dishalatkan kemudian dikuburkan dalam ruang yang berdampingan. Kini dirinya masih dapat tegak mengurusi umat, sesaat lagi bisa jadi telah membujur dan diurusi oleh umat. Begitulah umat Islam yang menjadikan kehidupan di alam dunia hanya sekedar perjalanan untuk kembali pulang. Ruang masjid adalah pengingatnya untuk selalu mempersiapkan diri dan bekal sementara ruang pekuburan adalah pengingatnya untuk selalu ingat akan rumah. Begitulah keduanya sehingga dapat berdampingan erat.

*****

Kini, kita dapati berpisahnya ruang pekuburan dengan ruang masjid. Berapa banyak masjid baru yang dibangun dengan turut menghadirkan ruang pekuburan yang berdampingan erat dengannya? Atau paling tidak pembangunan masjid diiringi dengan kehadiran ruang pekuburan? Sangat sedikit sekali, terutama di kota-kota besar. Kehadiran ruang pekuburan bukanlah syarat sah dari kehadiran ruang masjid, tapi tentu berpisah jalan keduanya menandakan telah dan sedang terjadi perubahan tradisi di kalangan umat Islam. Tradisi keruangan sangat terkait dengan gagasan dan perilaku sehingga pergeseran tradisi memiliki keterkaitan dengan pergeseran gagasan dan perilaku umat Islam.

Tak ada asap jika tak ada api. Tak ada perpisahan antara ruang pekuburan dengan ruang masjid jika tak ada penyulutnya. Pertama, tingginya harga dan ketersediaan tanah di perkotaan yang menjadikan lebih diutamakannya fungsi ruang untuk kegiatan yang dipandang produktif. Konsekuensinya, ruang pekuburan yang tidak produktif dalam menggerakkan pembangunan perkotaan didudukkan sebagai ruang marginal. 

Kedua, masih berkaitan dengan poin pertama. Potensi dan daya wakaf umat diarahkan pada penghadiran ruang yang dipandang produktif bagi kehidupan umat di alam dunia, seperti masjid dan ruang pendidikan. Ruang dihadirkan tanpa didasari uji kelayakan dan perhitungan yang matang, hanya sekedar mengikuti anggapan-anggapan dan aliran trend sehingga terjadi ketimpangan jumlah dan kapasitas ruang yang dibutuhkan oleh umat. Ruang masjid tumbuh subur tapi sepi didatangi jama’ah sementara kematian terus mendatangi jiwa-jiwa tapi ruang pekuburan semakin menyempit.

Ketiga, penolakan terhadap tradisi terdahulu yang dianggap tidak sesuai dengan Islam. Sebagian kalangan umat Islam beranggapan berdampingannya ruang masjid dengan ruang pekuburan membuka pintu kesyirikan dan sarat dengan aktivitas yang dinilai bid’ah sehingga kedua ruang harus dijauhkan. Bahkan cenderung meniadakan ruang pekuburan yang dianggap sebagai sarang keburukan. Jadilah kehadiran ruang masjid tidak lagi diiringi dengan kehadiran ruang pekuburan atas nama pemurnian ajaran Islam. 

Keempat, meninggalkan tradisi masa lalu untuk menegaskan identitas sebagai manusia modern. Modernisme menghendaki pelenyapan simbol dan tradisi masa lalu atas dasar anggapan ketidakrelevannya dengan kehidupan masa kini sehingga tidak ada jalan lain selain membongkar tipologi relasi ruang masjid dan ruang pekuburan yang dimaknai tidak lagi sejalan dengan semangat zaman; jumud; kuno.

Kelima, terjerat dalam lubang materialisme yang merebak dikalangan sebagian umat Islam yang membuka diri seluas-luasnya terhadap nilai-nilai modernisme. Anggapan bahwa kehidupan hanyalah di sini kekinian diiringi dengan merendahkan bahkan penolakan terhadap kehidupan setelah di alam dunia, sehingga yang terpenting dan utama ialah pemenuhan terhadap kesenangan dan kebahagiaan hidup melalui akumulasi materi. Segala hal yang dianggap sebagai ancaman terhadap kebahagiaan dan kesenangan yang materialistik haruslah disingkirkan. Salah satunya ialah ruang pekuburan yang merupakan pengingat dan pemutus kesenangan duniawi.

Ruang pekuburan disingkirkan sementara ruang masjid didangkalkan sebatas permainan dan akrobatik arsitektural. Keindahan terletak pada wujud yang teraga tanpa kedalaman makna yang menyentuh dimensi spiritual. Hadirlah masjid dengan wujudnya yang mewah tak terkira di tengah kemiskinan sebagian besar umat Islam, hanya demi kesenangan visual bagi pemandangnya. Masjid sebagai ruang suci di bawah naungan rahmat ALLAH bagi pemakmurnya tak lagi dapat dipertahankan dan bergeser sebagai ruang wisata. Dikunjungi hanya untuk dikagumi, diabadikan dalam foto selfi. Dalam kehidupan yang sifatnya permukaan, keterkaitan eksistensi dan makna antara kedua ruang tak lagi menjadi penting apalagi dipikirkan.

*****

Tipologi relasi ruang masjid yang berdampingan erat dengan ruang pekuburan seakan tidak dapat lagi dipertahankan di tengah perkotaan, terutama disebabkan tingginya harga dan ketersediaan tanah. Memang sesekali masih dapat kita saksikan pertumbuhannya di daerah pinggiran dan pedesaan yang cenderung lebih kuat merengkuh tradisi di tengah tarikan ke arah arus modernisme yang menghendaki untuk dilakukannya pembongkaran segala bentuk tradisi dan simbol masa lalu. Tentu terdapat pihak yang pro dan kontra, pihak yang berkehendak mengajegkan tipologi masa lalu dan pihak yang menawarkan tipologi baru.

Kehidupan manusia memang dinamis, terus menerus mengalami perkembangan dan perubahan mengikuti putaran waktu, tapi bukan berarti harus melepas kesinambungan dan haram menoleh pada masa lalu sekedar mengambil hikmah dan pelajaran. Dalam konteks kekinian, ruang pekuburan haruslah didudukkan kembali berdasarkan tuntunan syariat, kebutuhan fungsional dan makna simbolisnya serta dirumuskan kembali relasinya dengan ruang masjid dan ruang-ruang lain. 

Kalaulah harus berpisah jalan dengan ruang masjid, tidak berarti dengan meniadakan ruang pekuburan. Apa yang telah dicontohkan pendahulu kita yang shalih hanyalah salah satu tipologi yang bisa jadi memang tidak lagi relevan diterapkan bulat-bulat pada masa kini. Generasi kita ditantang untuk menghormati dan mengambil pelajaran dari pendahulu sekaligus inovatif dan adaptif dengan kondisi kini. Bagaimana pun, hadirnya ruang pekuburan tetap dibutuhkan sebagai konsekuensi dari ketidakabadian manusia. Manusia butuh pulang, dan ruang pekuburan mengingatkannya akan rumah. Melalui ruang masjid, jalan kembali pulang memang tidak akan mudah tapi sudah pasti akan terarah.

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada penghujung Jumadil Awal 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar