Minggu, 31 Mei 2015

Kebudayaan Dalam Pandangan Sidi Gazalba

Kalaulah kita mengkaji teori kebudayaan, atau paling tidak mempelajari buku-buku seputar pengantar dan filsafat kebudayaan yang ditulis oleh Roger M. Keesing, Koentjaraningrat, Budiono Kusumohamidjojo, Bakker; sekedar menyebut beberapa nama saja, di tengah perdebatan definisi ihwal kebudayaan yang dihadirkan terdapat benang merah mengenai kebudayaan bahwa kebudayaan ialah khas manusia yang meliputi seluruh kehidupannya. Hanya manusia yang memiliki kebudayaan yang menjadikannya berbeda dengan hewan apalagi tumbuhan.

Begitu pula dengan Sidi Gazalba yang turut menguatkan premis di atas dalam bukunya yang berjudul Kebudajaan Sebagai Ilmu yang ditulisnya sebanyak 8 seri, terutama dalam seri pertama yang merupakan pengantar dari seri-seri berikutnya yang memuat pemikiran filosofisnya mengenai kebudayaan. Yang membedakannya dengan banyak ahli kebudayaan, paling tidak yang telah saya sebutkan di atas, Sidi Gazalba menegaskan posisinya sebagai Muslim yang tidak bisa melepaskan ke-Islam-annya dalam memandang dan membahas kebudayaan, sehingga pandangan dan pendapatnya sarat dengan nuansa Islam. 

Posisi dan pandangan Sidi Gazalba menjadikan karyanya penting untuk dipelajari oleh umat Islam walaupun sudah terbilang lawas sejak terbitnya pertama kali tahun 1961. Menurut Gazalba adalah penting bagi umat Islam mempelajari kebudayaan untuk dapat memahami hukum, kaidah, dan masalah kebudayaan, sehingga dengannya dapat memahami kondisi kehidupan umat Islam dan kebudayaannya pada masa kini serta merumuskan pedoman dan kebijakan untuk mengadakan perbaikan kondisi kebudayaan umat Islam.

Kamis, 14 Mei 2015

The Mute Orpheus; Sebuah Penafsiran Hermeneutis.

Sumber: frankieteardrop.tumblr.com

The Mute Orpheus lahir dari olah rasa Giorgio de Chirico pada tahun 1971 dalam suasana paska revolusi kebudayaan tahun 1968 di Paris dan terbilang merupakan salah satu karya terakhirnya sebelum meninggal pada tahun 1978. Sebagai sebuah penanda dari zaman baru, dan telah menjadi ciri khas de Chirico dalam kebanyakan karya-karya sebelumnya yang merupakan corong suara kritiknya terhadap modernisme, The Mute Orpheus adalah oposisi yang menarasikan kebobrokan modernisme secara artistik sekaligus kelam bagaikan gambaran mimpi buruk.

De Chirico menampilkan Orpheus sebagai tokoh tunggal. Dalam mitologi Yunani, Orpheus dikenal sebagai anak Dewa Sungai bernama Oiagros yang mahir melantunkan musik dan puisi. Dengan suaranya ia menyentuh dan meluluhkan tidak saja manusia, tapi juga binatang, tumbuhan, bahkan bebatuan. Orpheus yang demikian dibongkar oleh de Chirico dan mewnampilkannya sebagai Orpheus yang bukan dirinya. Pembongkaran yang dilakukannya bukan saja untuk menghasilkan karya yang memuat kritik, tapi pembongkaran itu sendiri adalah kritik terhadap modernisme dengan mengais kepingan masa lalu yang digunakan untuk kepentingan masa kini.

Dalam The Mute Orpheus, sosok Orpheus ditampilkan bukan dalam sosok imajinya yang sempurna sebagaimana tradisi mitologi Yunani, tapi ditampilkan dalam wujud manekin dengan beragam alat ukur di bagian badan dan latarnya serta garis ukur khas produk industri pada bagian pahanya. Modernisme sangat berhasrat pada keserbapastian yang dapat dijamin oleh angka melalui kuantifikasi segala hal. Kualitas-kualitas tak terukur dialihkan menjadi bilangan angka. Bentuk dibatasi sebatas geometri dengan perangkat instrumen ukurnya. Begitulah Orpheus ditampilkan sehingga menyiratkan kesan tak lebih sebagai produk industri yang serba terukur dengan cetakan terstandard.

Minggu, 03 Mei 2015

Sikat Gigi Tanpa Nalar

Sederhana saja pada awalnya aku ingin membeli sikat gigi di suatu supermarket, tapi kemudian bingung setelah sampai di depan rak yang menggantung beragam merk sikat gigi dengan berbagai warna, bentuk, dan teknologi. Tujuan awal yang sederhana sekedar membeli satu pucuk sikat gigi menjadi sebuah pilihan yang sulit dan kompleks untuk menentukan sikat gigi mana yang pantas dibeli, bukan lagi yang butuh dibeli. Kebutuhan akan fungsi sikat gigi bergeser pada kebutuhan akan sikat gigi itu sendiri. Bukan aku saja yang bingung berdiam kaku di depan rak itu. Begitu pula dengan orang-orang di sebelahku yang tampak serius membaca keterangan satu persatu produk sikat gigi dan saling membanding-bandingkannya.

Bayangkan, betapa besar SDM, SDA, waktu, dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penelitian sikat gigi sehingga kini kita dihujani berpuluh jenis produk sikat gigi. Sekitar seabad lalu, sebut saja generasi nenekku yang pernah menceritakan bagaimana beliau dahulu menyikat giginya dengan jari telunjuk yang diolesi abu gosok atau tumbukan batu bata atau tanah, kini telah beralih pada sebuah alat. Perubahan secara cepat tersebut tidak berarti buruk selama memang pada batasnya, yaitu sikat gigi sebatas alat yang dibeli dan digunakan berdasarkan nilai gunanya. Kebutuhan kita pada sikat gigi karena sebab kegunaannya. Kehadirannya menggantikan jari telunjuk tidak lain semata untuk memberikan rasa nyaman dan aman.

Ceritanya lain ketika sikat gigi mewujud sebagai komoditas yang tujuannya hanya untuk mengeruk laba semata. Diferensiasi produk sikat gigi tidak lagi dapat dihindari untuk meluaskan pasar demi keuntungan berlipat-lipat. Dari sikat gigi yang dilabeli klasik hingga modern dan kontemporer, dari yang bergagang lurus hingga meliuk-liuk, dari yang berbahan plastik hingga komposit dan berlapis karet agar nyaman digenggam, dari yang berbulu rata hingga zig-zag dengan bulu-bulu halus pada bagian ujungnya, dari yang berbulu monokrom hingga berwarna-warni, dari yang hanya diperuntukkan untuk menyikat gigi hingga menyikat lidah, dari yang manual hingga digerakkan tenaga listrik. Belum lagi diferensiasi sikat gigi berdasarkan penggunanya semisal sikat gigi khusus keluarga cemara, remaja aktif, anak-anak, pengusaha muda sukses, penderita gigi sensitif, dan sebagainya. Penanaman nilai tanda merupakan konsekuensi dari diferensiasi produk sikat gigi yang menggeser nilai gunanya. Itulah mengapa aku mengalami kebingungan ketika berada di depan rak yang dipenuhi sikat gigi, mungkin begitu pula dengan banyak orang lainnya, sebab nilai tanda sikat gigi telah menjadi fokus dominan dan menutupi nilai gunanya.