Minggu, 31 Mei 2015

Kebudayaan Dalam Pandangan Sidi Gazalba

Kalaulah kita mengkaji teori kebudayaan, atau paling tidak mempelajari buku-buku seputar pengantar dan filsafat kebudayaan yang ditulis oleh Roger M. Keesing, Koentjaraningrat, Budiono Kusumohamidjojo, Bakker; sekedar menyebut beberapa nama saja, di tengah perdebatan definisi ihwal kebudayaan yang dihadirkan terdapat benang merah mengenai kebudayaan bahwa kebudayaan ialah khas manusia yang meliputi seluruh kehidupannya. Hanya manusia yang memiliki kebudayaan yang menjadikannya berbeda dengan hewan apalagi tumbuhan.

Begitu pula dengan Sidi Gazalba yang turut menguatkan premis di atas dalam bukunya yang berjudul Kebudajaan Sebagai Ilmu yang ditulisnya sebanyak 8 seri, terutama dalam seri pertama yang merupakan pengantar dari seri-seri berikutnya yang memuat pemikiran filosofisnya mengenai kebudayaan. Yang membedakannya dengan banyak ahli kebudayaan, paling tidak yang telah saya sebutkan di atas, Sidi Gazalba menegaskan posisinya sebagai Muslim yang tidak bisa melepaskan ke-Islam-annya dalam memandang dan membahas kebudayaan, sehingga pandangan dan pendapatnya sarat dengan nuansa Islam. 

Posisi dan pandangan Sidi Gazalba menjadikan karyanya penting untuk dipelajari oleh umat Islam walaupun sudah terbilang lawas sejak terbitnya pertama kali tahun 1961. Menurut Gazalba adalah penting bagi umat Islam mempelajari kebudayaan untuk dapat memahami hukum, kaidah, dan masalah kebudayaan, sehingga dengannya dapat memahami kondisi kehidupan umat Islam dan kebudayaannya pada masa kini serta merumuskan pedoman dan kebijakan untuk mengadakan perbaikan kondisi kebudayaan umat Islam.

Mengawali pandangannya terhadap kebudayaan, Sidi Gazalba berangkat dari premis yang sama bahwa kebudayaan ialah khas manusia yang meliputi seluruh kehidupannya. Kebudayaan ialah ciptaan manusia. Dengan kata lain, hanya manusia yang memiliki kebudayaan. Dari sini akan muncul pertanyaan, mengapa hanya manusia? Sebab menurut Gazalba, hanya manusia yang memiliki jiwa sementara hewan hanya memiliki pernafasan, rasa indera, dan naluri. Jiwa ialah sumber dari kebudayaan. Sayangnya Sidi Gazalba tidak menjelaskan lebih jauh dan lebih spesifik perihal apa yang disebutnya dengan jiwa dan mengapa jiwa yang menjadi sumber kebudayaan, walaupun interpretasi terbuka untuk menebaknya dari berbagai pendapat yang diutarakan Gazalba sebagaimana yang akan penulis lakukan.

Selanjutnya Sidi Gazalba mengambil jalan yang dihindari oleh banyak ahli kebudayaan. Mengaitkan kebudayaan dengan jiwa berarti Gazalba mengaitkan kebudayaan yang khas manusia dengan dimensi metafisik yang bersifat spiritual, sedangkan banyak ahli kebudayaan menetapkan kebudayaan sebatas fenomena kemanusiaan semata dengan manusia sebagai pusat dari semesta. Menetapkan manusia sebagai pusat semesta berarti tidak ada apa pun di luar manusia selain hasil konstruksi dirinya. Kalaulah dimensi metafisik diyakini keberadaannya maka hanyalah hasil dari konstruksi manusia, begitu pula dengan Tuhan maupun agama sebatas hasil olah spiritual manusia yang meyakini adanya sesuatu Yang Maha di luar dirinya. Dengan manusia sebagai pusat semesta, kebudayaan hanyalah menyoal kebutuhan manusia untuk mempertahankan keberadaannya di tengah daya-daya alam dan kekuatan lain di luar dirinya.

Untuk menerima atau paling tidak memahami pandangan Gazalba, bahwa jiwa merupakan sumber kebudayaan, mensyaratkan untuk mengakui bahwa adanya jiwa mendahului adanya kebudayaan yang berarti adanya dimensi metafisik mendahului adanya dimensi fisik yang menjadi ladang garapan manusia. Jiwa yang merupakan sumber kebudayaan mensyarakatkan untuk mengakui kedudukan jiwa yang lebih tinggi daripada kebudayaan yang berarti mendudukkan kebudayaan di bawah dimensi metafisik, disebabkan sumber selalu menempati kedudukan yang lebih tinggi daripada yang dihasilkannya. 

Diakuinya dimensi metafisik di atas kebudayaan oleh Gazalba menjadikan tujuan manusia melahirkan kebudayaan tidak sekedar untuk kebutuhan hidupnya di dunia yang sifatnya fisikal-jasmani semata, tapi juga secara spiritual untuk berhubungan dengan Tuhannya dengan meniru perilaku-Nya. Bagi Gazalba, manusia mencipta kebudayaan untuk meniru Tuhan yang mencipta alam. Tentu makna mencipta antara keduanya tidaklah sama sebab Khaliq dengan makhluk adalah mutlak berbeda. Yang pertama ialah pencipta sedangkan yang kedua ialah ciptaan. Dengan menjelaskan hubungan antara Tuhan yang mencipta makhluk dengan manusia yang mencipta kebudayaan, Gazalba semakin menampakkan perbedaan jalannya dengan kebanyakan ahli kebudayaan dengan menempatkan Tuhan sebagai pusat semesta sementara manusia sebagai pencipta kebudayaan adalah ciptaan Tuhan yang tidak dapat dipisahkan dari penciptanya.

Tuhan mencipta dari yang tiada, sementara manusia mencipta dari segala yang telah diadakan oleh Tuhan. Istilah mencipta bagi Tuhan berarti mengadakan alam di mana manusia pun bagian dari alam tersebut, sementara istilah mencipta bagi manusia berarti mengubah alam. Dengan demikian, menurut Gazalba, kebudayaan dicipta oleh manusia dengan cara mengubah alam. Dikaitkan dengan jiwa sebagai sumber kebudayaan, dari dalam jiwa manusia muncul kesadaran dan kemauan untuk mengubah alam yang mendorong terjadinya proses berpikir dan merasa. Dari dalam jiwa pula kemudian muncul cita dan laku perbuatan konkrit manusia mengubah alam hingga menghadirkan kebudayaan. Tampak Gazalba menekankan peranan jiwa sebagai sumber kebudayaan yang bisa saja diinterpretasikan bahwa hakikat manusia menurut Gazalba ialah jiwanya walaupun jiwa tidak dapat dilepaskan dari kemampuan tubuh untuk menghadirkan kebudayaan.

Dengan menetapkan jiwa sebagai sumber kebudayaan, bagi Gazalba kebudayaan berkaitan dengan kondisi kejiwaan manusia. Oleh Gazalba beragamnya kebudayaan manusia pun dikaitkan dengan jiwa, yaitu beragamnya kondisi kejiwaan manusia. Perbedaan kondisi jiwa menyebabkan perbedaan dalam kesadaran dan kemauan, selanjutnya perbedaan dalam cara berpikir dan merasa, dan akhirnya perbedaan dalam cita dan laku perbuatan. Perbedaan jiwa manusia terjadi dalam skala individu maupun komunal, tapi dalam konteks mencipta kebudayaan, perbedaan jiwa yang dimaksud oleh Gazalba ialah dalam skala komunal masyarakat dikarenakan menurut Gazalba kebudayaan hanya lahir dan tumbuh dalam masyarakat. Terbentuknya masyarakat menurut Gazalba disebabkan adanya kesamaan kondisi jiwa antara individu yang mengikatnya menjadi kesatuan komunitas. Sekali lagi Gazalba tidak merinci pendapatnya perihal apakah kesamaan kondisi jiwa adalah fitrah ataukah kondisi yang pada awalnya tidak dimiliki manusia kemudian diupayakannya, begitupula dengan perbedaan kondisi jiwa manusia.

Berangkat dari kebudayaan ialah khas manusia yang bersumber dari jiwanya, Gazalba menganalogikan antara manusia sebagai pencipta kebudayaan dengan kebudayaan yang dilahirkannya. Bagi Gazalba, manusia memiliki aspek jiwa yang bersifat metafisik dan tubuh yang bersifat fisik, begitu pula dengan kebudayaan yang memiliki aspek jiwa dan tubuh. Jiwa kebudayaan bersifat abstrak yang melahirkan penjelmaannya yang bersifat konkrit dan dapat ditangkap panca indera. Kesamaan kondisi jiwa antar individu yang meniscayakan terbentuknya komunitas masyarakat melahirkan jiwa kebudayaan yang dimiliki masyarakat tersebut. Jiwa kebudayaan mencakup cara berpikir dan merasa suatu masyarakat sementara cita dan tingkah laku masyarakat mewujudkan kebudayaannya yang khas. Dengan demikian dalam pandangan Sidi Gazalba, kebudayaan merupakan manifestasi dari jiwa manusia dalam skala komunal yang meliputi seluruh aspek kehidupannya.

Dengan membagi kebudayaan menjadi jiwa kebudayaan yang bersifat abstrak dan penjelmaan kebudayaan yang bersifat konkrit-fisikal, Gazalba telah membebaskan dirinya dari perdebatan di kalangan kebanyakan ahli kebudayaan yang belum mencapai kata sepakat tentang maksud budaya dan kebudayaan, sekaligus menunjukkan sisi kreatif pemikirannya yang dapat membahasan dengan cara lain perihal aspek kebudayaan dengan menganalogikan antara manusia dengan kebudayaan yang oleh kebanyakan ahli kebudayaan dibedakan menjadi 3 aspek mencakup (1) gagasan; (2) perilaku; dan (3) artefak. 

Dari pemaparannya mengenai kebudayaan, Gazalba sampai pada kesimpulan definitif kebudayaan yaitu cara berpikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh aspek kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu. Sebagai penutup, kebudayaan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, bagi Gazalba berarti tiap cita yang dihasilkan, tidak laku yang diperbuat, tiap benda yang dicipta oleh manusia ialah merupakan kebudayaan.

Lalu bagaimana pandangan dan pemikiran filosofis Sidi Gazalba mengenai Kebudayaan Islam? Insya ALLAH akan disajikan dalam tulisan mendatang –semoga ALLAH memberi kemudahan dan bimbingan-.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rajab 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar