Minggu, 03 Mei 2015

Sikat Gigi Tanpa Nalar

Sederhana saja pada awalnya aku ingin membeli sikat gigi di suatu supermarket, tapi kemudian bingung setelah sampai di depan rak yang menggantung beragam merk sikat gigi dengan berbagai warna, bentuk, dan teknologi. Tujuan awal yang sederhana sekedar membeli satu pucuk sikat gigi menjadi sebuah pilihan yang sulit dan kompleks untuk menentukan sikat gigi mana yang pantas dibeli, bukan lagi yang butuh dibeli. Kebutuhan akan fungsi sikat gigi bergeser pada kebutuhan akan sikat gigi itu sendiri. Bukan aku saja yang bingung berdiam kaku di depan rak itu. Begitu pula dengan orang-orang di sebelahku yang tampak serius membaca keterangan satu persatu produk sikat gigi dan saling membanding-bandingkannya.

Bayangkan, betapa besar SDM, SDA, waktu, dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penelitian sikat gigi sehingga kini kita dihujani berpuluh jenis produk sikat gigi. Sekitar seabad lalu, sebut saja generasi nenekku yang pernah menceritakan bagaimana beliau dahulu menyikat giginya dengan jari telunjuk yang diolesi abu gosok atau tumbukan batu bata atau tanah, kini telah beralih pada sebuah alat. Perubahan secara cepat tersebut tidak berarti buruk selama memang pada batasnya, yaitu sikat gigi sebatas alat yang dibeli dan digunakan berdasarkan nilai gunanya. Kebutuhan kita pada sikat gigi karena sebab kegunaannya. Kehadirannya menggantikan jari telunjuk tidak lain semata untuk memberikan rasa nyaman dan aman.

Ceritanya lain ketika sikat gigi mewujud sebagai komoditas yang tujuannya hanya untuk mengeruk laba semata. Diferensiasi produk sikat gigi tidak lagi dapat dihindari untuk meluaskan pasar demi keuntungan berlipat-lipat. Dari sikat gigi yang dilabeli klasik hingga modern dan kontemporer, dari yang bergagang lurus hingga meliuk-liuk, dari yang berbahan plastik hingga komposit dan berlapis karet agar nyaman digenggam, dari yang berbulu rata hingga zig-zag dengan bulu-bulu halus pada bagian ujungnya, dari yang berbulu monokrom hingga berwarna-warni, dari yang hanya diperuntukkan untuk menyikat gigi hingga menyikat lidah, dari yang manual hingga digerakkan tenaga listrik. Belum lagi diferensiasi sikat gigi berdasarkan penggunanya semisal sikat gigi khusus keluarga cemara, remaja aktif, anak-anak, pengusaha muda sukses, penderita gigi sensitif, dan sebagainya. Penanaman nilai tanda merupakan konsekuensi dari diferensiasi produk sikat gigi yang menggeser nilai gunanya. Itulah mengapa aku mengalami kebingungan ketika berada di depan rak yang dipenuhi sikat gigi, mungkin begitu pula dengan banyak orang lainnya, sebab nilai tanda sikat gigi telah menjadi fokus dominan dan menutupi nilai gunanya. 

Tentu sebagai manusia yang selalu memiliki pilihan dan memiliki kebebasan untuk memilih, bisa saja kita kembali menggunakan jari telunjuk untuk menggosok gigi sembari masa bodoh dengan produk sikat gigi yang diiklankan di berbagai media dan direkomendasikan oleh berbagai ahli kesehatan gigi, tapi alam budaya modernisme tidak akan mengizinkan kita berputar arah dan kembali mengakrabi tradisi masa lalu kalau tidak ingin dikatakan primitif. Jika pada masa lalu berlaku relasi tubuh ---) tubuh, pada alam budaya modern yang memaksakan penggunaan sikat gigi telah merubah relasi awal menjadi tubuh ---) alat ---) tubuh. Tak boleh lagi jari telunjuk menyentuh gigi atas dasar kesehatan. Jari kita penuh kuman, tidak steril, sehingga beresiko menyebabkan sekian penyakit pada mulut. Karena sebab itulah sikat gigi mendapatkan legitimasi penciptaannya. Dan sekali lagi, perubahan relasi tersebut tidaklah buruk selama berlaku pada batas-batasnya.

Relasi tubuh---) alat ---) tubuh atau dalam topik ini tangan ---) sikat gigi ---) gigi dapat keluar batas jika menjadikan diagram relasi sebagai realitas itu sendiri yang oleh van Peursen disebutnya dengan fenomena operasionalisme. Yang terpenting bukan lagi menggosok gigi tapi sikat gigi itu sendiri. Tidak dapat disebut menggosok gigi tanpa sikat gigi. Sikat gigi menjadi syarat mutlak bagi berlangsungnya aktivitas menggosok gigi. Kita belum lagi beranjak pada pertanyaan sikat gigi yang bagaimana? Di sinilah kita akan menyaksikan perang antar produsen sikat gigi yang menjual produknya melalui legitimasi sederet ahli kesehatan atau logo-logo yang tercetak di bungkus produk sikat gigi. Seakan semakin banyak rekomendasi dari ahli dan semakin banyak logo tercantum, maka semakin baiklah kualitas produknya.

Entah bagaimana kita bisa begitu serius hanya untuk sikat gigi. Wright Mills menamakan fenomena ini dengan rasio tanpa nalar (ratio without reason) di mana rasio manusia hanya digunakan untuk mencipta produk hingga tak lagi bersentuhan dengan hal-hal yang esensial dan mendasar bagi kehidupan manusia. Sikat gigi dicipta dan kemudian dibeli, tapi tak lagi kita memikirkan “Untuk apa menyikat gigi?” “Untuk apa sikat gigi?” “Adakah itu semua mempengaruhi keberadaan kita di sini?”

Manusia yang melepaskan rasionya dari nalar tak ubahnya anak kecil yang akan begitu kagum dengan mainan, dengan alat-alat yang diciptanya. Manusia yang tidak lagi berfokus pada tujuan, tapi pada alat untuk mencapai tujuan. Bagaikan anak kecil yang beranggapan mainan itu sendiri adalah tujuan yang menentukan kebahagiaannya. Begitulah modernisme yang di satu sisi memberikan kita alat untuk kenyamanan dan keamanan hidup, tapi di sisi lain memaksa kita menggunakan alat melalui mekanisme oposisi biner. Dan modernisme yang liar hingga keluar batas akan memunculkan operasionalisme dengan menjadikan alat itu sendiri sebagai tujuan. Modernisme yang pada awalnya ingin membebaskan manusia dari mitos malah menghilangkan kebebasan dan memasukkan manusia pada ruang mitos yang lain. Rupanya harapan Kant bahwa manusia telah mencapai taraf kedewasaannya paska Aufklarung tinggallah cerita masa lalu. Manusia kini tengah digiring kembali pada masa kanak-kanaknya.

Kalaulah kita terus hanyut dalam rasio tanpa nalar, bisa jadi pada masa yang tidak lama lagi kita akan memiliki teknologi sikat gigi yang digerakkan tenaga surya. Kelak urusan membeli sikat gigi akan jauh lebih rumit, kompleks, dan membingungkan dibandingkan hari ini. Sialnya alam budaya modernisme tidak saja menyediakan sikat gigi. Masih begitu banyak alat yang menjadikan kita terus berputar-putar pada persoalan remeh temeh yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan keberadaan kita dan tujuan hidup kita sebagai manusia. Jika begitu, bukan saja rasio kita yang tanpa nalar, tapi sikat gigi yang terus dicipta tanpa mengenal batas pun adalah produk tanpa nalar. 

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rajab 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar