Kamis, 14 Mei 2015

The Mute Orpheus; Sebuah Penafsiran Hermeneutis.

Sumber: frankieteardrop.tumblr.com

The Mute Orpheus lahir dari olah rasa Giorgio de Chirico pada tahun 1971 dalam suasana paska revolusi kebudayaan tahun 1968 di Paris dan terbilang merupakan salah satu karya terakhirnya sebelum meninggal pada tahun 1978. Sebagai sebuah penanda dari zaman baru, dan telah menjadi ciri khas de Chirico dalam kebanyakan karya-karya sebelumnya yang merupakan corong suara kritiknya terhadap modernisme, The Mute Orpheus adalah oposisi yang menarasikan kebobrokan modernisme secara artistik sekaligus kelam bagaikan gambaran mimpi buruk.

De Chirico menampilkan Orpheus sebagai tokoh tunggal. Dalam mitologi Yunani, Orpheus dikenal sebagai anak Dewa Sungai bernama Oiagros yang mahir melantunkan musik dan puisi. Dengan suaranya ia menyentuh dan meluluhkan tidak saja manusia, tapi juga binatang, tumbuhan, bahkan bebatuan. Orpheus yang demikian dibongkar oleh de Chirico dan mewnampilkannya sebagai Orpheus yang bukan dirinya. Pembongkaran yang dilakukannya bukan saja untuk menghasilkan karya yang memuat kritik, tapi pembongkaran itu sendiri adalah kritik terhadap modernisme dengan mengais kepingan masa lalu yang digunakan untuk kepentingan masa kini.

Dalam The Mute Orpheus, sosok Orpheus ditampilkan bukan dalam sosok imajinya yang sempurna sebagaimana tradisi mitologi Yunani, tapi ditampilkan dalam wujud manekin dengan beragam alat ukur di bagian badan dan latarnya serta garis ukur khas produk industri pada bagian pahanya. Modernisme sangat berhasrat pada keserbapastian yang dapat dijamin oleh angka melalui kuantifikasi segala hal. Kualitas-kualitas tak terukur dialihkan menjadi bilangan angka. Bentuk dibatasi sebatas geometri dengan perangkat instrumen ukurnya. Begitulah Orpheus ditampilkan sehingga menyiratkan kesan tak lebih sebagai produk industri yang serba terukur dengan cetakan terstandard.

Dalam perspektif kuantitatif, manusia bukanlah manusia dengan kompleksitasnya, manusia bukanlah makhluk yang memiliki dimensi spiritual dan fitrah untuk mengenal Tuhannya. Manusia dan kualitas kemanusiaannya direduksi dalam skala angka. Manusia tak dibedakan antar pribadi hingga semuanya adalah anonim. Manusia seluruhnya adalah sama, sekedar kumpulan dari penjumlahan materi dalam bilangan angka, sehingga dapat dieksploitasi tanpa canggung dan beban moral. Turut pula binatang, tumbuhan, dan alam mineral yang mendapatkan perlakuan serupa. Persis Orpehus yang ditampilkan tanpa wajah, tanpa mimik, yang menandakan telah hilang personalitasnya. Orpheus yang diseret ke dalam ruang publik antah berantah untuk dieksploitasi melalui penggambaran tirai yang tersingkap, sehingga kabur batas ruang kediriannya, ruang personalnya yang intim, ruang yang menjadi miliknya. 

Modernisme yang berhasrat pada keserbapastian menjadikannya hanya berkutat pada materi-materi fisik yang dapat diserap panca indera. Bahwa materi tersebut ada, keberadaannya dapat dibuktikan dan kualitasnya terukur yang memberi jaminan atas kepastian. Karenanya modernisme mereduksi dunia sebatas dunia materi yang sifatnya di sini kekinian serta teraga, dunia sebagai kumpulan materi-materi fisik, dunia yang materialistik. Dengan demikian, modernisme menafikan keberadaan segala entitas yang tidak teraga, entitas metafisik.

Orpehus dengan statusnya sebagai anak seorang dewa meniscayakannya dapat dengan bebas mengunjungi dunia atas maupun dunia bawah dalam mitologi Yunani. Sementara dalam The Mute Orpheus, sosoknya terperangkap dalam dunia materi modernisme. Disingkirkan statusnya begitu pula transedensinya. Ia tak lebih dari tulang dan daging berbalut kulit. Alunan suaranya tak lagi berkesan sebab personalitasnya telah hilang. Dalam dunia modernisme, suara tak lebih sekedar bunyi yang terukur dalam satuan desibel. Begitu pula dengan musik sebagai karya seni yang memiliki dimensi spiritual harus tunduk pada kaidah-kaidah materialistik semata. Musik direduksi sekedar rentetan bunyi yang teratur dan terstruktur. Alam materalistik modernisme yang memaksakan kehidupan yang mekanistik dan operasionalistik tak menyediakan ruang bagi pribadi-pribadi yang hendak tenggelam dalam dunia spiritualitas yang tak berujung dan terukur.

Oprheus yang telah direnggut personalitasnya, suaranya, dan senandung musiknya, ditampilkan dalam komposisi yang janggal, sepi, lagi mencekam. Berbeda jauh dengan Orpheus dalam mitologi Yunani yang kehadirannya diidentikkan dengan keceriaan dan suka cita. Pada puncak pembongkaran, alat musik lira yang menjadi simbol bagi Orpheus digambarkan terlepas dari genggamannya. Lengkaplah kini Orpheus yang bukan Orpheus. Tak lagi tersisa penanda yang menunjukkan dirinya adalah seorang Orpheus. Kalaulah sosok dalam The Mute Orpheus harus disebut dengan Orpheus, maka ia adalah Orpheus yang membisu. Orpheus yang diselimuti kesepian yang merupakan ketakutan bagi setiap manusia. 

Sifat modernisme memang paradoks. Di satu sisi tampil dalam wajah penuh borok, tapi di sisi lain secara de facto telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang banyak darinya telah meningkatkan kualitas kehidupan jasmani manusia. Sebagaimana Oprheus yang ditampilkan secara paradoksal dalam latar sebuah kota yang mati, tapi dengan pewarnaan yang cerah. Suasana kota khas Mediterania yang hangat menjadi dingin tanpa rasa.

The Mute Orpheus adalah pekikan pemberontakan seorang de Chirico terhadap hegemoni modernisme yang dirasakannya menjijikkan bagi seniman yang menghargai kedalaman estetis dan kegemilangan masa lalu. Melalui goresan tangannya di atas kanvas tersirat pesan agar manusia kembali mempertanyakan hakikat kemanusiaannya dan kehidupannya sehingga muncul kesadaran yang dapat membangunkannya setelah sekian lama dihanyutkan dalam mimpi akan utopia omong kosong.

Biarlah Orpheus menjadi tumbal modernisme, tapi jangan diri-diri manusia. Biarlah Orpheus membisu, tapi manusia harus terus bersuara.

Cukup Orpheus saja!

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Rajab 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar