Jumat, 24 Juli 2015

Tradisi dan Modernisme; Mengurai Benturan

Belakangan ini tradisi semakin sering dibincangkan seiring isu-isu terkait dengannya diangkat dan menarik perhatian banyak kalangan. Dalam perbincangan mengenai tradisi, paling tidak secara teoritik ilmu budaya terdapat dua kalangan yang mengambil posisi berseberangan, yaitu pihak pengusung tradisi dan pihak penentang tradisi. Sebenarnya yang dimaksud penentang tradisi secara harfiah, yaitu pihak yang mengambil sikap keluar dari tradisi dan menegaskan posisinya berada di luar tradisi hanya berada dalam ranah pemikiran saja. Sementara dalam realitas keseharian kita dapati pihak penentang tradisi mengambil sikap keluar dari wilayah suatu tradisi dan memasuki wilayah tradisi yang lain. Tidak bisa dibayangkan dan tidak ditemukan referensinya dalam realitas seorang manusia atau sekelompok manusia dapat hidup di luar tradisi atau dalam sebuah ruang hampa tradisi. 

Bagi pihak pengusung, tradisi memiliki peran yang sangat sentral berkaitan dengan identitas masyarakat dan perekat anggota masyarakatnya. Bisa dipahami jika segala bentuk penentangan terhadap tradisi tidak saja dianggap ancaman terhadap tradisi, tapi juga ancaman bagi seluruh masyarakat pengusungnya. Sementara bagi pihak yang berseberangan, tradisi yang tentu saja memiliki hubungan erat dengan masa lalu dianggap tidak lagi relevan dengan semangat zaman kini. Bagi kalangan ini untuk mencapai kondisi masyarakat yang berkemajuan, tradisi mutlak harus ditinggalkan dan digantikan dengan bentuk budaya baharu yang lepas dari nuansa masa lalu. Belum lagi jika perbincangan tradisi dikaitkan dengan Islam secara khusus, kebanyakannya langsung menolak tradisi secara apriori dengan anggapan segala bentuk tradisi adalah bid’ah, bagaikan penyakit dalam agama yang harus segera disingkirkan atas nama pemurnian maupun pembaharuan.

Senin, 13 Juli 2015

Menyoal (Kembali) Arsitektur Islami

Perihal peristilahan Arsitektur Islam ataukah Arsitektur Islami yang tepat digunakan saya tetap pada pendapat saya terdahulu. Saya tidak mempermasalahkan penggunaan kedua istilah tersebut dan saya tidak ingin meramaikan perdebatan di antara keduanya. Yang jauh lebih penting bagi saya ialah makna di balik istilah yang digunakan. Bukan saya meremehkan penggunaan suatu istilah dan menganggap peristilahan secara zhahir tidak memiliki nilai, tapi masih begitu banyak pasal yang lebih utama dan mendesak untuk dipikirkan bersama. Diantaranya ialah merumuskan makna yang benar di balik peristilahan yang digunakan yang memang harus diakui bukanlah merupakan perkara mudah.

Yang mendorong saya untuk kembali menuliskan perihal topik ini setelah sebelumnya telah saya tulis sekitar 2 tahun yang lalu dalam artikel berjudul “Menyoal Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami” ialah fenomena belakangan di mana saya dapati pemaknaan istilah Arsitektur Islami yang berkembang pesat, meluas, dan menguat di kalangan mahasiswa pada khususnya yang bagi saya perlu untuk dijabarkan dan ditelaah lebih mendalam. Terlebih dalam konteks wacana pemahaman tersebut perlu untuk ditanggapi agar tidak mengkristal menjadi sebuah doktrin yang diterima begitu saja tanpa bersikap kritis dan mengujinya dengan layak.

Bagi kalangan yang saya maksud di atas, istilah Arsitektur Islami dimaknainya sebagai penerapan nilai Islam dalam perwujudan objek arsitektur oleh kalangan non Muslim, baik penerapan tersebut dipahami atau tidak maupun disadari atau tidak oleh pelakunya. Pemaknaan tersebut dibangun di atas sebuah pemahaman bahwa nilai-nilai Islam adalah universal, sehingga nilai-nilainya teraplikasi secara luas melintasi batas keimanan di berbagai kalangan manusia. Perlu ditekankan yang dimaksud oleh kalangan ini sepengenalan dan sepemahaman saya tidaklah menyamakan derajat dan kedudukan seorang Muslim dengan non Muslim, antara seorang yang beriman dengan yang tidak beriman. Yang dimaksud ialah di dalam diri non Muslim teraktualisasi nilai Islam tanpa subyek tersebut beranggapan dan meyakininya demikian. Anggapan diterapkannya nilai Islam oleh kalangan non Muslim mencakup olah pikir, olah rasa, dan olah karya tidak lain dikarenakan pihak pengamatnya dari kalangan Muslim. Dapat dipastikan terjadi perbedaan anggapan jika pihak pengamatnya berasal dari kalangan Yahudi yang kecil sekali kemungkinan akan menyimpulkannya demikian untuk objek amatan yang sama. 

Selasa, 07 Juli 2015

Islam, Agama dan Kebudayaan Menurut Sidi Gazalba

Setelah pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Kebudayaan Dalam Pandangan Sidi Gazalba” yang memaparkan definisi dan makna kebudayaan menurut Sidi Gazalba dan “Islam, Agama dan Kebudayaan; Sebuah Kebingunan” yang memaparkan hubungan antara Islam dan kebudayaan dengan pendekatan evolusionisme serta berbagai konsekuensinya yang tidak dapat diterima, dalam tulisan ini akan dipaparkan hubungan antara Islam dan kebudayaan menurut Sidi Gazalba untuk mengetahui kedudukan di antara keduanya sebelum dapat dipaparkan definisi dan makna Kebudayaan Islam.

Mengawali bahasannya, Gazalba melontarkan pertanyaan yang sangat mendasar untuk mengetahui kedudukan Islam terhadap kebudayaan, “Apakah Islam adalah agama (religion)?” “Dengan demikian apakah penyebutan Agama Islam adalah tepat dan dapat dibenarkan?” Dari sudut pandang antropologi agama yang dipengaruhi oleh pandangan alam Barat, pertanyaan tersebut sangat problematis terkait dengan istilah agama (religion) yang secara definitif belum disepakati dan memunculkan beragam pendapat yang tidak sedikit saling berseberangan. Bahkan seorang ahli antropologi agama dan studi perbandingan agama, Wilfred Cantwell Smith, dengan sikap skeptisnya menyatakan definisi agama (religion) begitu membingungkan sehingga tidak dapat dipastikan kebenarannya, karenanya Smith menyimpulkan istilah agama (religion) tidak berguna dan harus dihapuskan dari kamus. Untuk menggantikan istilah agama (religion), Smith memperkenalkan istilah tradisi (tradition) yang menurutnya lebih dapat diandalkan.

Tidak sebagaimana Smith, Gazalba tidak terjebak pada sikap skeptis dalam mendefinisikan agama (religion). Terkesan ingin keluar dari perdebatan dan tidak ingin membahasnya panjang lebar, Gazalba berpegang pada definisi agama (religion) secara umum yaitu,
“Hubungan manusia dengan Jang Maha Kudus, dihajati sebagai hakikat bersifat gaib, hubungan mana menjatakan diri dalam bentuk kultus dan sikap-hidup berdasarkan doktrin tertentu” (1963, 161)

Kamis, 02 Juli 2015

Islam, Agama dan Kebudayaan; Sebuah Kebingungan

Ritus pemujaan matahari
Sumber: primbondonit.blogspot.com

Menyoal hubungan antara agama dan kebudayaan serta masing-masing kedudukannya tidak jarang memunculkan debat tiada berkesudahan. Dalam khazanah ilmu budaya yang sangat dipengaruhi pandangan alam Barat terdapat dua mazhab besar menyoal permasalahan ini. Mazhab pertama yang merupakan arus utama hingga kini menyatakan kebudayaan merupakan suatu sistem yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya. Konsekuensi logisnya agama merupakan salah satu unsur pembentuk sistem kebudayaan manusia di mana kedudukan dan perannya dalam sistem tersebut berbeda-beda antara masyarakat satu dengan lainnya. Sementara mazhab kedua menyatakan agama merupakan pembentuk kebudayaan manusia disebabkan nilai-nilai yang berasal dari agama menjadi sumber dan dasar bagi penciptaan kebudayaan. Konsekuensi logisnya, agama menempati kedudukan di atas kebudayaan manusia, agama ialah sumber nilai bagi manusia yang mencipta budaya. 

Mazhab kedua tidak mendapatkan penerimaan yang baik dalam khazanah ilmu budaya atau yang spesifik disebut antropologi agama. Tokoh besar mazhab ini ialah Wilhelm Schmidt yang merupakan seorang antropolog sekaligus pendeta Katolik. Statusnya sebagai pendeta yang tidak bisa dipungkiri mempengaruhi pandangannya terhadap agama dan kebudayaan, tidak jarang mendapatkan kecaman dan kritikan tajam dari kalangan yang memegang teguh (pseudo) objektivisme bahwa ilmu budaya sebagai kajian ilmiah harus objektif dan netral dari bias nilai dan pandangan agama walaupun sudah jelas akan bias nilai dan pandangan –isme-isme selain agama.