Selasa, 07 Juli 2015

Islam, Agama dan Kebudayaan Menurut Sidi Gazalba

Setelah pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Kebudayaan Dalam Pandangan Sidi Gazalba” yang memaparkan definisi dan makna kebudayaan menurut Sidi Gazalba dan “Islam, Agama dan Kebudayaan; Sebuah Kebingunan” yang memaparkan hubungan antara Islam dan kebudayaan dengan pendekatan evolusionisme serta berbagai konsekuensinya yang tidak dapat diterima, dalam tulisan ini akan dipaparkan hubungan antara Islam dan kebudayaan menurut Sidi Gazalba untuk mengetahui kedudukan di antara keduanya sebelum dapat dipaparkan definisi dan makna Kebudayaan Islam.

Mengawali bahasannya, Gazalba melontarkan pertanyaan yang sangat mendasar untuk mengetahui kedudukan Islam terhadap kebudayaan, “Apakah Islam adalah agama (religion)?” “Dengan demikian apakah penyebutan Agama Islam adalah tepat dan dapat dibenarkan?” Dari sudut pandang antropologi agama yang dipengaruhi oleh pandangan alam Barat, pertanyaan tersebut sangat problematis terkait dengan istilah agama (religion) yang secara definitif belum disepakati dan memunculkan beragam pendapat yang tidak sedikit saling berseberangan. Bahkan seorang ahli antropologi agama dan studi perbandingan agama, Wilfred Cantwell Smith, dengan sikap skeptisnya menyatakan definisi agama (religion) begitu membingungkan sehingga tidak dapat dipastikan kebenarannya, karenanya Smith menyimpulkan istilah agama (religion) tidak berguna dan harus dihapuskan dari kamus. Untuk menggantikan istilah agama (religion), Smith memperkenalkan istilah tradisi (tradition) yang menurutnya lebih dapat diandalkan.

Tidak sebagaimana Smith, Gazalba tidak terjebak pada sikap skeptis dalam mendefinisikan agama (religion). Terkesan ingin keluar dari perdebatan dan tidak ingin membahasnya panjang lebar, Gazalba berpegang pada definisi agama (religion) secara umum yaitu,
“Hubungan manusia dengan Jang Maha Kudus, dihajati sebagai hakikat bersifat gaib, hubungan mana menjatakan diri dalam bentuk kultus dan sikap-hidup berdasarkan doktrin tertentu” (1963, 161)
Definisi agama (religion) yang dipegang oleh Gazalba hanya memandang realitas agama secara empiris, yaitu apa yang tampak dalam perilaku penganut dan ritus, yang memang sangat dipengaruhi oleh cara pandang Barat terhadap agama (religon). Dari definisi agama (religion) yang dipegangnya, Gazalba menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah Agama Islam adalah aspek peribadatan ritual dalam Islam terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhan berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Singkatnya, Agama Islam hanya mencakup ibadah ritual semata, karenanya bagi Gazalba istilah Agama Islam tidak mencakup keseluruhan ajaran Islam yang tidak saja menetapkan peraturan berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan antar manusia. Dengan demikian Islam lebih luas dari agama (religion) dan agama (religion) hanya merupakan salah satu unsur yang membentuk Islam.

Sempitnya definisi istilah agama (religion) menjadikannya tidak dapat mencakup ajaran Islam secara keseluruhan. Untuk itu Gazalba menggunakan istilah Addin Islam yang memiliki ruang makna lebih luas, sehingga dapat mencakup keseluruhan ajaran Islam. Addin Islam bagi Gazalba mencakup ajaran Islam yang berkaitan dengan kehidupan setelah mati; akhirat, dan kehidupan manusia di dunia, bahkan menurutnya yang kedua lebih ditekankan daripada yang pertama dikarenakan kehidupan akhirat hanya dapat dicapai melalui kehidupan dunia, tapi tidak berarti kedudukan kehidupan akhirat menjadi rendah karena kehidupan akhirat merupakan ujung dari kehidupan dunia. Antara keduanya saling berkaitan erat dan tak dapat dipisahkan. Inilah Addin Islam menurut Sidi Gazalba.

*****

Setelah jelas apa yang dimaksud dengan Addin Islam dan Agama Islam menurut Sidi Gazalba, di mana kedudukan Agama Islam merupakan bagian dari Addin Islam, lalu bagaimana hubungannya dengan Kebudayaan Islam serta kedudukannya masing-masing terhadap Kebudayaan Islam? 

Sidi Gazalba tidak menolak kedudukan agama sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia sebagaimana pendekatan evolusionisme, tapi hubungan tersebut hanya berlaku bagi agama bersahaja dan agama lokal yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Yang Maha karenanya tidak dapat diterapkan untuk Addin Islam. Istilah agama bersahaja yang digunakan Gazalba merupakan penghalusan bahasa dari istilah agama primitif yang lumrah digunakan oleh pengkaji Barat dalam mengkaji masyarakat Timur dan memiliki kesejajaran dengan istilah agama bumi (ardhi) yang lumrah dikenal oleh umat Islam. 

Addin Islam bukanlah agama bersahaja dan agama lokal, Islam tidak pula hasil olah spiritual manusia terhadap kekuatan di luar dirinya. Addin Islam adalah wahyu dari ALLAH dan disampaikan kepada Rasulullah Muhammad teruntuk seluruh umat manusia di seluruh ruang dunia dan sepanjang waktu hingga kiamat tiba, sehingga bagi Gazalba Addin Islam jelas bukan merupakan unsur kebudayaan manusia, bahkan sebaliknya.

Perlu didisplinkan dahulu istilah yang digunakan oleh Gazalba, yaitu Addin Islam dan Agama Islam sebagaimana definisi dan maknanya telah dijelaskan di atas, serta istilah Kebudayaan Islam. Bagi Gazalba, Addin Islam memiliki dua unsur yaitu Agama Islam dan Kebudayaan Islam. Agama Islam berkaitan dengan peribadatan ritual yang orientasinya ialah kehidupan akhriat, sementara Kebudayaan Islam berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia. Antara Agama Islam dan Kebudayaan Islam memiliki kedudukan yang sederajat menurut Gazalba dan antara keduanya tidak dapat dipisahkan; saling berkaitan sebagaimana pernyataan Gazalba berikut:
“kehidupan dunia berudjung pada kehidupan achirat, maka dengan menentukan udjung, dikendalikanlah pangkal. Kehidupan achirat membentuk sikap hidup dalam kehidupan kebudajaan. Sikap hidup itu ditanam dan dirawat oleh ibadat.” (1963, 162)
Dari pernyataan Gazalba di atas dapat dipahami bahwa dalam pandangannya paling tidak terdapat hubungan fungsional antara Agama Islam dan Kebudayaan Islam di mana Agama Islam sebagai penentu ujung, pengendali, dan pemupuk kehidupan kebudayaan umat Islam. Sekilas tampak kedudukan Agama Islam lebih tinggi daripada Kebudayaan Islam sebagai konsekuensi logis di mana pengendali dan pemupuk memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang dikendalikan dan dipupuk, tapi Gazalba sangat menekankan kesederajatannya karena merendahkan kedudukan yang satu akan menyebabkan kerusakan pada yang lainnya, meremehkan yang satu akan menyebabkan kerusakan bagi kehidupan umat Islam entah di dunia atau di akhirat.

Hubungan Addin Islam, Agama Islam dan Kebudayaan Islam menurut Sidi Gazalba
Sumber: Analisa pribadi, 2015

Jelas sudah dalam pandangan Sidi Gazalba bahwa Kebudayaan Islam ialah unsur pembentuk Addin Islam selain Agama Islam. Karenanya mereduksi Islam sebatas agama tidaklah dibenarkan, begitupula melepaskan kebudayaan dari Islam sehingga menghadap-hadapkan Islam vis a vis dengan kebudayaan pun tidak dapat diterima, apalagi menjadikan Islam sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia tentu adalah kesalahan fatal bagi Gazalba.

*****

Pemikiran Gazalba berkaitan dengan Islam, agama dan kebudayaan merupakan terobosan di tengah dominasi pendekatan evolusionisme hingga hari ini, bahkan melampaui pendekatan yang dilakukan oleh Schmidt yang berhenti pada agama sebagai sumber penciptaan kebudayaan tanpa memperjelas konsep agama dan kebudayaan yang dimaksudnya sehingga seakan berlaku untuk seluruh agama dan kebudayaan. Gazalba mengambil langkah yang bijak dengan tidak menolak evolusionisme sebatas digunakan untuk agama bersahaja dan agama lokal, sambil di sisi lain menegaskan pendekatan tersebut tidak dapat digunakan untuk Addin Islam disebabkan perbedaan yang mendasar antara Addin Islam dengan agama selainnya. 

Ikhtiar ilmiah yang dilakukan Sidi Gazalba harus diapresiasi diiringi doa semoga menjadi amal shalih yang akan memberatkan timbangan amal kebaikan beliau kelak di yaum al-hisab. Pemikiran beliau pun harus ditempatkan pada kedudukannya yang benar dan tidak dipandang sebagai pemikiran yang telah selesai, bahkan perlu dikembangkan dan ditambal kerapuhannya. Sebagai manusia, tentu pemikiran Gazalba terkait dengan Islam, agama dan kebudayaan tidak sempurna dan menyimpan berbagai kekurangan. Tanpa mengurangi apresiasi dan kekaguman terhadap beliau, saya mendapati tiga poin catatan terhadap pemikiran beliau.

Pertama, Gazalba menggunakan istilah Addin Islam dan Agama Islam untuk maksud yang berbeda, sementara dalam kamus dan kehidupan keseharian istilah addin dan agama saling dipertukarkan walaupun tidak dapat dikesampingkan antara keduanya memang memiliki makna yang berbeda. Penggunaan dua istilah ini dan kedudukan antara keduanya dalam pemikiran Gazalba akan membingungkan, terkhusus bagi kalangan yang sebelumnya tidak mengenal dan mempelajari karya Gazalba. Di sisi lain penggunaan istilah tersebut dapat dipandang positif sebagai wujud ikhtiar Gazalba menertibkan penggunaan istilah-istilah yang dianggapnya telah rancu dipahami dan digunakan oleh kebanyakan umat Islam. 

Kedua, patut disayangkan Gazalba tidak menggunakan peristilahan yang sudah lumrah dipahami dan digunakan oleh umat Islam seperti ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah atau ibadah dan muamalah. Saya sendiri tidak berani memastikan untuk mensejajarkan istilah Agama Islam dan Kebudayaan Islam yang digunakan oleh Gazalba dengan peristilahan tersebut. Kekurangan inipun dapat dimaklumi sebab Gazalba membangun pemikirannya berangkat dari khazanah ilmu kebudayaan yang telah dirumuskan oleh Barat, sehingga sedikit banyaknya mempengaruhi Gazalba dalam memilih dan menggunakan peristilahan.

Ketiga, Addin Islam yang dimaksud oleh Sidi Gazalba dalam pemikirannya belumlah terang dan sayangnya tidak dijelaskan lebih mendalam oleh beliau. Addin Islam sebatas disampaikan oleh Gazalba terkesan simplistis yang terdiri dari unsur Agama Islam dan Kebudayaan Islam dan keduanya diikat atau bernaung dibawah Addin Islam. Sementara konsep-konsep kunci dan dimensi metafisik Islam yang mendalam tidak dijelaskan posisi dan kedudukannya, ataukah di Addin Islam atau di Agama Islam. Lalu bagaimana konsep-konsep kunci dan dimensi metafisik Islam tersebut berpengaruh terhadap hubungan antara Agama Islam dan Kebudayaan Islam yang disampaikan oleh Gazalba. Hal ini menjadikan pemikiran Gazalba secara diagramatik dapat diterima dan akan mudah disepakati oleh kebanyakan umat Islam, tapi secara operasional akan menjadi kering dan membingungkan sebab umat Islam sebagai subyek memiliki pemahaman terhadap Islam yang kompleks.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Jimbaran pada Ramadhan 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar