Kamis, 02 Juli 2015

Islam, Agama dan Kebudayaan; Sebuah Kebingungan

Ritus pemujaan matahari
Sumber: primbondonit.blogspot.com

Menyoal hubungan antara agama dan kebudayaan serta masing-masing kedudukannya tidak jarang memunculkan debat tiada berkesudahan. Dalam khazanah ilmu budaya yang sangat dipengaruhi pandangan alam Barat terdapat dua mazhab besar menyoal permasalahan ini. Mazhab pertama yang merupakan arus utama hingga kini menyatakan kebudayaan merupakan suatu sistem yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya. Konsekuensi logisnya agama merupakan salah satu unsur pembentuk sistem kebudayaan manusia di mana kedudukan dan perannya dalam sistem tersebut berbeda-beda antara masyarakat satu dengan lainnya. Sementara mazhab kedua menyatakan agama merupakan pembentuk kebudayaan manusia disebabkan nilai-nilai yang berasal dari agama menjadi sumber dan dasar bagi penciptaan kebudayaan. Konsekuensi logisnya, agama menempati kedudukan di atas kebudayaan manusia, agama ialah sumber nilai bagi manusia yang mencipta budaya. 

Mazhab kedua tidak mendapatkan penerimaan yang baik dalam khazanah ilmu budaya atau yang spesifik disebut antropologi agama. Tokoh besar mazhab ini ialah Wilhelm Schmidt yang merupakan seorang antropolog sekaligus pendeta Katolik. Statusnya sebagai pendeta yang tidak bisa dipungkiri mempengaruhi pandangannya terhadap agama dan kebudayaan, tidak jarang mendapatkan kecaman dan kritikan tajam dari kalangan yang memegang teguh (pseudo) objektivisme bahwa ilmu budaya sebagai kajian ilmiah harus objektif dan netral dari bias nilai dan pandangan agama walaupun sudah jelas akan bias nilai dan pandangan –isme-isme selain agama.

Schmidt berangkat dari kajian yang dilakukan oleh Andrew Lang yang merupakan seorang sastrawan dan penulis buku kebudayaan. Lang mengkaji folklor dan mitos suku bangsa di berbagai belahan bumi. Berdasarkan kajiannya Lang menyimpulkan bahwa pada suku bangsa yang telah sangat tua dan masih rendah tingkat kebudayaannya terdapat keyakinan terhadap Supreme Being sebagai pencipta dan penjaga seluruh alam semesta beserta isinya, sehingga baginya keyakinan terhadap Supreme Being merupakan bentuk keyakinan awal manusia yang seiring waktu memudar dan mengarah pada bentuk keyakinan Animatisme dan Animisme. Sebagaimana Schmidt, Lang pun tidak mendapatkan penerimaan yang luas dikarenakan dalam pengkajiannya seringkali menggunakan pendekatan yang tidak selalu rasional yang sudah tentu mendapatkan penolakan dari kalangan arus utama.

Dibandingkan dengan Lang, Schmidt lebih berani lagi dengan menyimpulkan kajiannya bahwa agama berasal dari titah Tuhan yang diturunkan kepada manusia sejak pertama kali keberadaannya di muka bumi yang disebutnya dengan Uroffenbarung atau Urmonotheismus, yaitu bentuk keyakinan terhadap adanya Tuhan yang asli dan bersih yang secara berangsur-angsur terkisis dan kabur seiring dengan kemajuan tingkat kebudayaan manusia. Tampak sekali Schmidt memang dipengaruhi oleh keimanannya.

Pandangan yang dilontarkan oleh Lang maupun Schmidt merupakan sikap ketidaksetujuan terhadap mazhab arus utama yang mengusung pendekatan evolusionisme. Berbeda dengan kalangan Schmidt yang meyakini agama langsung bersumber dari Tuhan kepada manusia pertama, agama dalam pandangan evolusionisme adalah konstruksi suatu masyarakat yang merupakan hasil dari penghayatan dan olah spiritualnya terhadap keberadaan kekuatan di luar yang melampaui dirinya. Tampak perbedaan asasi keduanya dalam memandang agama di mana kalangan Schmidt mendudukkan Tuhan sebagai aktor pencipta agama, sementara kalangan evolusionis mendudukkan manusia sebagai aktor pencipta agama, bahkan kekuatan Yang Maha barulah berarti serta menjadi bagian dan milik masyarakat setelah diakui dan dikonstruksi oleh manusia.

Evolusionis membangun keyakinannya di atas dua pernyataan dasar. Pertama, agama diciptakan oleh manusia tidak lepas dari determinasi kondisi lingkungan di mana manusia tersebut berada, sehingga ditemukannya berbagai bentuk agama di berbagai tempat dapat dijelaskan melalui determinan tersebut. Kedua, disebabkan manusia sebagai pencipta agama larut dalam sejarah; menyejarah, maka begitu pula dengan agama yang bermula dari bentuknya yang sederhana menuju bentuknya yang semakin kompleks, sehingga bentuk agama monoteisme tidak lain merupakan perkembangan dari bentuk agama sebelumnya yang lebih sederhana. Kalangan evolusionis mendasarkan keyakinannya dengan mengamati perilaku penganut dan ritus agama-agama yang dapat diserap secara empiris kemudian dikait hubungkan dalam garis waktu berdasarkan perkiraan umur masyarakat yang diamatinya. Sekilas tampak objektif, tapi jika ditelisik lebih dalam kait hubungan antara agama-agama yang beragam adalah buah dari pemikiran spekulatif yang tidak bisa dibuktikan selain merupakan pengandaian belaka untuk sekedar tampak logis.

Dengan hanya mengandalkan panca indera dan logika, kalangan evolusionis mereduksi agama sebatas bentuk empirisnya yang tampak dari perilaku penganut dan ritus yang dilakukan, sementara dimensi metafisik dan spiritual yang tidak terjangkau kedua fakulti tersebut tidak mendapatkan perhatian dan seakan bukan bagian dari agama. Agama yang dipreteli dimensi metafisik dan spiritualnya adalah agama yang kehilangan dimensi Ilahiyahnya. Agama menjadi sekedar unsur kebudayaan manusia yang terangkai dengan unsur kebudayaan lainnya dan membentuk sebuah sistem kebudayaan. Agama sebagai salah satu unsur kebudayaan terikat oleh hubungan resiprokal dengan unsur kebudayaan lainnya yang berarti perkembangan pada salah satu unsur kebudayaan akan turut mendorong terjadinya perkembangan agama. Di sisi lain, agama sebagai unsur kebudayaan bukanlah sumber nilai yang otonom bagi sistem kebudayaan, justru hubungan resiprokal antar unsur kebudayaan menjadikan agama harus tunduk pada sumber nilai yang berada di luar unsurnya. Karenanya tidak jarang agama sebagai salah satu unsur kebudayaan hanya dipandang secara fungsional terkait dengan kebutuhan hidup dan kehidupan manusia yang sifatnya pragmatis dan di sini kekinian.

*****

Dominasi pendekatan evolusionisme dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan, di sisi lain berbagai pandangan yang berseberangan tidak diberi ruang yang layak untuk mengembangkan dan menyampaikan pemikirannya, menjadikan pendekatan evolusionisme banyak dianut pula oleh kalangan umat Islam dalam memandang hubungan antara Islam dan kebudayaan, walaupun tidak bisa dipukul rata semuanya mengamini begitu saja secara bulat. Pada beberapa bagian memang coba dilakukan modifikasi dan ‘dipaksa’ agar sekilas tampak cocok dengan Islam, tapi pada akhirnya tetap akan terjebak dan berakhir pada kesimpulan yang tidak berbeda dengan kalangan evolusionis. 

Islam oleh ALLAH diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad. Sampai di sini seluruh umat Islam akan bersepakat tanpa ragu. Dari pernyataan tersebut umat Islam yang menggunakan pendekatan evolusionisme dihadapkan pada permasalahan mendasar, yaitu manusia sebagai penerima wahyu yang hidup dalam ruang dunia. Untuk mengatasinya, kalangan ini membangun dua argumentasi. Pertama, keterbatasan manusia sebagai makhluk yang terikat pada kondisi lingkungan, zaman, dan bahasa. Kedua, sifat ruang dan waktu itu sendiri yang menjadikan manusia yang berada di dalamnya menyejarah dan nisbi.

Berangkat dari dua argumen di atas, Rasulullah Muhammad sebagai penerima wahyu adalah sosok manusia yang memiliki keterbatasan, sehingga wahyu yang diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke ruang dunia harus tunduk pada hukum dunia, yaitu keterbatasan. Bagaikan air dan wadah, manusia dengan bahasanya sebagai wadah sangat terbatas untuk menampung air wahyu yang absolut yang tidak dapat ditampung seluruhnya oleh manusia. Wahyu ketika berada di Lauh al-Mahfudz memiliki kebenaran yang mutlak, tapi setelah diwahyukan ke ruang dunia memiliki kebenaran mutlak sekaligus nisbi. Mutlak dikarenakan wahyu berasal dari ALLAH sekaligus nisbi karena medium penerimanya, yaitu keterbatasan manusia dan bahasa. Kalangan ini selalu menekankan Rasulullah Muhammad merupakan penerima wahyu dalam kapasitasnya sebagai manusia yang nisbi. 

Selain medium penerimanya, dengan diturunkannya wahyu ke ruang dunia maka menjadi lekat dengan sifat ruang dan waktu, yaitu kontekstual dan menyejarah. Ketika wahyu disampaikan kepada Rasulullah Muhammad maka wahyu telah membudaya dan menjadi salah satu unsur kebudayaan, sebab wahyu telah mewujud dalam bahasa manusia. Wahyu tersebut menjadi milik Rasulullah Muhammad beserta kaumnya yang hidup di lingkungan, zaman, dan bahasa tertentu. Sebagaimana dengan kebudayaan yang senantiasa berkembang seiring kondisi hidup dan kebutuhan kehidupan masyarakat pengusungnya, begitu pula dengan wahyu yang diyakini telah membudaya didudukkan sebagai teks terbuka sehingga dapat terus mengalami perkembangan penafsiran dan pembongkaran untuk meniscayakan perkembangan Islam yang berterusan. Wahyu bisa jadi telah selesai dengan selesainya masa kenabian Rasulullah Muhammad, tapi penafsirannya tak mengenal selesai. Konsekuensinya tentu saja Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad belumlah sempurna secara aktual, hanya sempurna secara potensial yang memungkinkannya untuk terus berkembang seiring dengan perubahan ruang dan waktu, sehingga dapat dimiliki oleh umat Islam di berbagai ruang yang berbeda dan sepanjang garis waktu.

Islam sebagai unsur kebudayaan masyarakat pengusungnya menjadikannya tunduk pada kekuatan di luar unsurnya, sehingga Islam dapat terus mengalami perkembangan struktur menyesuaikan kondisi hidup dan kebutuhan kehidupan masyarakat pengusungnya. Dengan demikian Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad hanyalah bentuk awal Islam yang akan menemukan kesempurnaan bentuknya di dalam sejarah umat Islam, yaitu ketika Islam dapat dipraktikkan oleh masyarakat pengusungnya di berbagai ruang dan waktu yang berbeda. Tapi tidak berarti Islam pada masa Rasulullah tidak sempurna. Ia sempurna hanya untuk kondisi ruang dan waktu di mana Rasululullah Muhammad hidup, tapi tidak berarti sempurna untuk dapat diterapkan pada ruang dan waktu yang berbeda. Jika begitu argumentasinya, tidak bisa dicegah dari satu bentuk Islam berkembang bermacam bentuk Islam sebagai agama.

Pandangan sebagaimana di atas tidak bisa dikategorikan dalam pandangan Schmidt maupun kalangan evolusionis. Sekilas merupakan sintesis antara keduanya dengan mengawali premis yang tidak jauh berbeda dengan Schmidt tapi menghasilkan kesimpulan yang tidak jauh berbeda dengan evolusionisme. Menjadi tidak jelas hubungan antara Islam dengan kebudayaan, apakah menjadi murni sebagai unsur kebudayaan dan tunduk pada sumber nilai di luar Islam sebagai unsur kebudayaan? Ataukah Islam di sisi ALLAH yang berada di atas sistem kebudayaan sementara ketika Islam diwahyukan kepada manusia di ruang dunia maka tak dapat dihindari akan menjadi salah satu unsur kebudayaan? Atau bagaimana?

Konsekuensi yang lebih buruk lagi dan fatal dengan memandang hubungan antara Islam dengan kebudayaan menggunakan pendekatan evolusionisme ialah pembongkaran aqidah Islam menyangkut kedudukan ALLAH sebagai sumber wahyu dan kedudukan Rasulullah Muhammad sebagai penerima wahyu. Alih-alih menyodorkan solusi dan kepastian, kalangan umat Islam yang menggunakan pendekatan evolusionisme dalam memandang hubungan antara Islam dengan kebudayaan justru merusak Islam dan menundukkannya di bawah pandangan alam Barat terhadap agama. Jelas pendekatan evolusionisme tak dapat digunakan oleh umat Islam dan tak dapat diyakini sebagai pendekatan yang shahih. Atau memang banyak dari kita sedang bingung sehingga kebenaran tak tampak dan kesalahan dipandang indah?

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Syaban 1436 Hijrah Nabi
Diselesaikan di Jimbaran pada Ramadhan 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar