Senin, 13 Juli 2015

Menyoal (Kembali) Arsitektur Islami

Perihal peristilahan Arsitektur Islam ataukah Arsitektur Islami yang tepat digunakan saya tetap pada pendapat saya terdahulu. Saya tidak mempermasalahkan penggunaan kedua istilah tersebut dan saya tidak ingin meramaikan perdebatan di antara keduanya. Yang jauh lebih penting bagi saya ialah makna di balik istilah yang digunakan. Bukan saya meremehkan penggunaan suatu istilah dan menganggap peristilahan secara zhahir tidak memiliki nilai, tapi masih begitu banyak pasal yang lebih utama dan mendesak untuk dipikirkan bersama. Diantaranya ialah merumuskan makna yang benar di balik peristilahan yang digunakan yang memang harus diakui bukanlah merupakan perkara mudah.

Yang mendorong saya untuk kembali menuliskan perihal topik ini setelah sebelumnya telah saya tulis sekitar 2 tahun yang lalu dalam artikel berjudul “Menyoal Arsitektur Islam dan Arsitektur Islami” ialah fenomena belakangan di mana saya dapati pemaknaan istilah Arsitektur Islami yang berkembang pesat, meluas, dan menguat di kalangan mahasiswa pada khususnya yang bagi saya perlu untuk dijabarkan dan ditelaah lebih mendalam. Terlebih dalam konteks wacana pemahaman tersebut perlu untuk ditanggapi agar tidak mengkristal menjadi sebuah doktrin yang diterima begitu saja tanpa bersikap kritis dan mengujinya dengan layak.

Bagi kalangan yang saya maksud di atas, istilah Arsitektur Islami dimaknainya sebagai penerapan nilai Islam dalam perwujudan objek arsitektur oleh kalangan non Muslim, baik penerapan tersebut dipahami atau tidak maupun disadari atau tidak oleh pelakunya. Pemaknaan tersebut dibangun di atas sebuah pemahaman bahwa nilai-nilai Islam adalah universal, sehingga nilai-nilainya teraplikasi secara luas melintasi batas keimanan di berbagai kalangan manusia. Perlu ditekankan yang dimaksud oleh kalangan ini sepengenalan dan sepemahaman saya tidaklah menyamakan derajat dan kedudukan seorang Muslim dengan non Muslim, antara seorang yang beriman dengan yang tidak beriman. Yang dimaksud ialah di dalam diri non Muslim teraktualisasi nilai Islam tanpa subyek tersebut beranggapan dan meyakininya demikian. Anggapan diterapkannya nilai Islam oleh kalangan non Muslim mencakup olah pikir, olah rasa, dan olah karya tidak lain dikarenakan pihak pengamatnya dari kalangan Muslim. Dapat dipastikan terjadi perbedaan anggapan jika pihak pengamatnya berasal dari kalangan Yahudi yang kecil sekali kemungkinan akan menyimpulkannya demikian untuk objek amatan yang sama. 

Berdasarkan pemahaman di atas, kalangan ini membuka pintu untuk mempelajari dan memahami penerapan nilai Islam dalam wujud objek arsitektur melalui kalangan non Muslim, seperti nilai-nilai Islam dalam pemikiran tokoh arsitektur A yang non Muslim bahkan tidak beragama teistik. Pemikiran tokoh arsitektur A dikaji secara mendalam, dicari aspek-aspek yang dianggap merupakan nilai Islam atau memiliki kesamaan dengan nilai Islam, kemudian disimpulkan bahwa pemikiran arsitekturnya adalah Islami. Begitu pula untuk objek arsitektur, sebagai contoh yang seringkali disampaikan oleh kalangan ini, yaitu Singapura adalah kota Islami karena kotanya bersih dan tertata dengan baik yang keduanya merupakan nilai-nilai Islam, walaupun perencana, perancang, pembangun, dan penggunanya tidak menyadari, memahami, bahkan mau tahu.

*****

Saya coba menelaah dan menjabarkan di balik pemaknaan Arsitektur Islami sebagaimana di atas dan darinya saya dapati tiga poin yang menjadi catatan.

Pertama, jika yang dimaksud oleh kalangan ini ialah bersikap kritis terhadap pencapaian kalangan non Muslim, maka tidaklah menjadi masalah dan bahkan merupakan sikap yang tepat. Pencapaian kalangan non Muslim dikaji secara mendalam untuk mengetahui mana yang sejalan dengan nilai Islam sehingga dapat diterima dan mana yang bertentangan dengan nilai Islam sehingga harus ditolak. Tapi tidak berarti segala sesuatu dari kalangan non Muslim yang secara zhahir sejalan dengan nilai Islam diambil dan diterima begitu saja secara bulat tanpa dilakukan pengkajian secara mendalam berdasarkan asas dan cara pandang Islam. Sebagai contoh, kebersihan kota Singapura secara zhahir memang sejalan dengan nilai Islam tapi terdapat perbedaan secara asasi perihal konsep kebersihan antara Islam dengan selain Islam. Kebersihan dalam Islam tidak sekedar kebersihan secara fisik, tapi yang fisik berkaitan erat dengan yang metafisik, yang jasmani berkaitan erat dengan yang ruhani. Selain itu, konsep kebersihan dalam Islam memiliki keterkaitan yang kuat dengan iman. Selain merupakan kepatuhan dan ketundukan terhadap perintah ALLAH, kebersihan jasmani juga merupakan manifestasi dari kebersihan ruhani. 

Akan lebih tepat jika yang dimaksud oleh kalangan ini mengenai makna Arsitektur Islami yang disampaikannya berada pada ranah prinsip yang bermuatan teknis seperti prinsip penerapan konsep kebersihan dalam perwujudan objek arsitektur, bukan pada ranah konseptual yang bermuatan filosofis. Konsep kebersihan yang berasal dari selain Islam tidak dapat begitu saja dinyatakan memiliki kesamaan dengan nilai Islam bahkan dinyatakan merupakan nilai Islam kemudian diambil begitu saja secara bulat. Islam memiliki konsepnya sendiri mengenai kebersihan yang orisinil dan khas, sehingga akan lebih efektif jika daya upaya, biaya dan waktu yang dimiliki digunakan untuk mengenali, memahami, dan meyakini konsep-konsep yang sejak semula berasal dari Islam yang terdapat dalam khazanah keilmuan Islam yang telah dijelaskan dan dituangkan oleh ulama yang berwibawa.

Dengan menempatkan pemahaman kalangan ini pada ranah prinsip yang bermuatan teknis sementara tetap berpijak pada konsep yang sejak semula berasal dari Islam, diharapkan dapat berkontribusi positif memudahkan umat Islam menerapkan konsep Islam dalam perwujudan objek arsitektur melalui beragam prinsip. Semakin banyak dan luas mempelajari prinsip arsitektur, termasuk yang datangnya dari tokoh arsitektur kalangan non Muslim maupun objek arsitektur yang direncanakan, dirancang, dibangun dan digunakan oleh non Muslim, semakin banyak model dan pilihan prinsip bagi umat Islam untuk menerapkan konsep-konsep Islam. Tentu prinsip yang datangnya dari kalangan non Muslim pun tidak bebas nilai karena memuat aspek etis, sehingga penerapannya harus dilakukan penyesuaian dengan aspek etis yang dimiliki Islam.

*****

Kedua, jika yang dimaksud oleh kalangan ini perihal makna Arsitektur Islami sebagaimana yang disampaikannya bertujuan untuk memotivasi umat Islam agar tumbuh kesadaran, kehendak, dan munculnya gerak untuk mengejar dan menyaingi pencapaian yang telah diraih kalangan non Muslim, maka tidak pula menjadi masalah walaupun memiliki konsekuensi lain yaitu menurunkan derajat wacana keilmuan yang membutuhkan keseriusan, ketertiban pikir, dan kedalaman pemahaman menjadi jargon-jargon populer sekedar untuk kebutuhan praktis. Seperti mempelajari pemikiran tokoh arsitektur dari kalangan non Muslim atau objek arsitektur yang diciptanya dan mendapati adanya penerapan nilai Islam, diharapkan dapat memacu gairah umat Islam untuk berkarya secara kreatif dan melampaui pemikiran dan objek arsitektur yang dicapnya Islami. Atau kampanye kebersihan agar umat Islam sadar akan pentingnya mewujudkan dan menjaga kebersihan kota sebagaimana layaknya kota Singapura yang dicap Islami itu.

Ketiga, yang saya khawatirkan ialah jika pemaknaan Arsitektur Islami tersebut berangkat dari sikap inferior terhadap pencapaian yang telah diraih kalangan non Muslim. Hilangnya muruah sehingga merasa rendah diri berhadapan dengan kalangan non Muslim dan pencapaiannya, sementara di sisi lain tidak mengenali dan berupaya untuk memahami khazanah keilmuan Islam yang telah dicapai oleh generasi terdahulu atau bahkan menolaknya dengan anggapan tidak lagi selaras dengan semangat zaman kekinian, menjadikan umat Islam dalam kehidupan berarsitekturnya menggantungkan diri pada kalangan di luar dirinya dan khazanah keilmuannya. Dalam kondisi runtuhnya kondisi psikologis sedemikian, menjadikannya sangat mudah menerima segala sesuatu yang datangnya dari luar tanpa mampu bersikap kritis sedikitpun. Menyedihkannya sikap demikian dilegitimasi dengan berbagai alasan yang dirasionalisasi bahwa agar umat Islam dapat maju maka mutlak harus mengikuti jalan dan cara yang telah dicapai umat lain yang kini tengah berada pada puncak kemajuan. 

Kondisi yang memilukan karena umat Islam menjadikan kalangan di luar dirinya sebagai kiblat bagi kemajuan serta menggantungkan harapan kepada umat lain untuk keberlanjutan kehidupan berarsitekturnya. Jika begitu adanya, pemberian imbuhan Islami hanya sebatas labelisasi tanpa makna yang benar, sekedar upaya yang dapat dilakukan untuk menghibur diri di tengah keterpurukan. Kondisi yang dapat digambarkan di mana umat Islam pasif tanpa gerak sambil membawa stempel label Islami. Menunggu dengan tekun umat lain menghasilkan pemikiran dan karya arsitekturnya, lalu dicap dengan anggapan menerapkan nilai Islam. Yang terjadi baik secara pemikiran maupun metode bukanlah Islamisasi tapi Islami-isasi, pelabelan secara serampangan sesuatu yang datangnya dari luar sebagai Islami.

*****

Demikianlah apa yang dapat saya tangkap dan pahami di balik pemaknaan Arsitektur Islami yang saya dapati. Dari tiga poin yang telah saya jabarkan di atas, patut disayangkan poin terakhir yang cenderung melekat pada sebagian kalangan pengusungnya yang saya temu kenali, sementara yang sebagiannya lagi cenderung tidak memahami dengan baik apa yang dikatakannya seakan sekedar mengamini dan meyakini begitu saja apa yang didiktekan kepadanya. 

Jika ditamsilkan, poin terakhir menggambarkan kondisi umat Islam yang menjadi bayangan bagi kalangan non Muslim yang disinari pancaran sinar Peradaban Barat. Umat Islam ikut begitu saja gerak dan arah yang dikehendaki pihak lain di luar dirinya. Tentu umat Islam dapat merubah peran dirinya menjadi lakonan utama jika saja menyadari memiliki sumber cahaya yang jauh lebih terang, lebih tinggi, dan lebih agung, yang malamnya bagaikan siang, yaitu pancaran sinar Islam. Untuk menjadi lakonan utama di zaman ini memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tak sekejap mata. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk bersikap inferior di hadapan pencapaian yang telah diraih kalangan non Muslim jika saja dirinya ingat telah memiliki ALLAH, kebenaran Islam, dan khazanah keilmuan Islam yang gilang gemilang, yang dengannya dapat menghadapi cabaran zaman dengan penuh keyakinan, kehormatan diri, lagi tawadhu. 

Oleh karenanya, segala bentuk pemikiran yang tergesa-gesa, tidak kokoh, dan tidak memiliki dasar yang kuat, termasuk dalam peristilahan, harus diluruskan agar tidak semakin merusak dan membingungkan. Penggunaan istilah dan pemaknaannya perlu ditertibkan dan diasaskan dengan mendalam lagi kokoh dalam sebuah sistem pemikiran yang menyeluruh. Bukan merupakan simbol penghias, bukan pula sekedar jargon penyemangat dan menghibur diri di tengah keterpurukan. Arsitektur Islam ialah amanah besar yang membutuhkan keseriusan, kedalaman pemikiran, kebersihan hati, keberanian jiwa, dan pertolongan dari ALLAH. 

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Jimbaran pada Ramadhan 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar