Kamis, 10 September 2015

Rumput Tetangga Kini Memang Lebih Hijau; Seruan Bersih-Bersih

Sumber: Akun Twitter Aa Gym pada 23 Agustus 2015

Setahun lalu pada 10 Juni 2014, situs online Kompas menaikkan berita tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hossein Askari, seorang guru besar di bidang politik dan bisnis internasional dari Universitas George Washington Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan Askari bertujuan untuk mengetahui negara yang paling banyak mengamalkan nilai-nilai Islam dengan melibatkan 208 negara. Penelitian yang menggunakan variabel ekonomi dan politik menghasilkan temuan yang mengagetkan sebab negara paling Islami ialah Irlandia disusul Denmark, Luksemburg, Selandia Baru, Swedia, Singapura, Finlandia, Norwedia dan Belgia yang notabene semuanya bukanlah negara mayoritas Muslim. Sementara negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim tak satupun yang menduduki peringkat 25 besar.

Baru-baru ini penelitian serupa akan dilakukan oleh Ma’arif Institute yang bertujuan untuk menyusun Indeks Kota Islami (IKI) berdasarkan 6 prinsip maqashid syariah yakni menjaga harga benda, kehidupan, akal, agama, keturunan, dan lingkungan dengan melibatkan 93 kota. Berdasarkan prinsip tersebut, tim peneliti Ma’arif Institute mentakrifkan Kota Islami sebagai kota yang aman, sejahtera dan bahagia. Direncanakan penelitian tersebut akan berlangsung selama 5 bulan ke depan.

Aku sendiri penasaran, secara apriori jangan-jangan hasil penelitian yang dilakukan Ma’arif Institute tidak akan jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hossein Askari. Kota yang mayoritas berpenduduk Muslim tidak menduduki puncak atau katakanlah 5 besar dalam daftar Indeks Kota Islami. Kontradiktif memang, negara dan kota yang dilabeli Islami bukanlah daerah mayoritas Muslim sementara daerah yang mayoritasnya dihuni oleh umat Islam justru terpuruk menduduki peringkat menengah hingga bawah.

Dalam tulisan ini aku tak ingin membahas substansi penelitian yang telah dan sedang dilakukan apalagi memasuki dimensi epistemologi yang sudah pasti akan mengundang perdebatan sengit pada waktunya nanti. Aku mencoba melakukan refleksi dan mawas diri, apa benar memang begitu buruk kondisi realitas empiris kehidupan kota dan negara yang mayoritasnya dihuni oleh umat Islam. Satu poin kecil saja masalah kebersihan. Aku jadi teringat dengan ekspresi dan kekaguman banyak kawan dan kerabat yang setelah kunjungannya ke Singapura bersepakat menyatakan Singapura adalah kota Islami sebab kotanya bersih, tidak ada sampah berserakan, masyarakatnya sadar akan kebersihan. Menurutnya jauh berbeda dengan kota-kota di Indonesia yang ditinggali atau pernah disinggahi, walaupun kota peraih penghargaan Adipura sekalipun belum menyamai apa yang disaksikan dan dialaminya di Singapura. Lebih menyedihkan lagi kota-kota yang disubordinatkannya mayoritasnya berpenduduk Muslim, dipimpin oleh pemerintah Muslim, dakwah Islam gencar gaungnya, hampir setiap bulan diselenggarakan Tabligh Akbar, hampir setiap hari tersebar pengajian, adzan pun terdengar melengking. 

Sudah seringkali topik thaharah disampaikan dari pengajian kitab hingga kajian tematik khas anak muda Muslim gahol yang ingin tetap gahol sekaligus semakin shalih. Tidak sekali dua kali pembahasan thaharah ditarik pemahaman dan penerapannya dalam bidang kehidupan yang lebih luas seperti menjaga kebersihan lingkungan. Sering juga disampaikan materi kajian perihal peran manusia di alam dunia sebagai abid dan khalifatullah yang salah satu tugasnya ialah menjaga kebersihan lingkungan sebagai wujud beribadah kepada ALLAH. Dalil telah ditegakkan, berbagai penafsiran telah disampaikan, tapi realitas empiris menyampaikan suara yang memang menyedihkan. Membingungkan memang tapi faktanya hingga hari ini kita masih disuguhi sampah tersebar di jalanan dan menyumbat selokan. Itu baru di jalanan, belum kamar mandi yang mungkin sejak keruntuhan Khilafah Utsmaniyah belum dibersihkan dan kamar tidur yang lebih buruk kondisinya dibandingkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lebih mangkelnya lagi, masjid yang diyakini sebagai Rumah Tuhan toh seringkali didapati kondisinya mengecewakan. Kamar mandi bau pesing tak karuan, kolam rendaman kaki hitam legam, karpet dan sajadah lusuh berantakan. 

Tulisan ini mulai terpikirkan ketika beberapa waktu lalu seorang saudara menyampaikan pengalaman memilukan mengikuti suatu acara liburan bersama kawan-kawannya. Ia menceritakan beberapa orang makan di atas kasur, berantakan tak dibersihkan dan langsung saja ditiduri bersama remahan ceceran nasi dan sambal, membuang sampah di kamar mandi, dan banyak yang tak mandi hingga malam datang bau sangit memenuhi seisi kamar yang dihuni hampir 15 orang. Seluruhnya Muslim dan tengah disiapkan menjadi cendikiawan dan ulama Islam masa mendatang. Aku membayangkannya saja merasa mual, jijik, sambil istighfar. 

Jika begitu kondisi fakta di lapangan, bagaimana bisa negara dan kota yang mayoritasnya dihuni umat Islam dapat menduduki ranking atas berdasarkan variabel kebersihan lingkungan saja. Belum lagi kebersihan dalam praktik ekonomi dan politik yang digunakan Hossein Askari, terlepas pemahamannya terhadap variabel yang digunakannya. Bagaimana bisa mewujudkan kebersihan ekonomi dan politik jika tidak diawali dengan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan yang merupakan ruang konkret di mana dirinya setiap waktu bergumul tanpa henti?! Memang jawaban mudahnya, jika nanti Peradaban Islam telah bangkit dan menguasai kembali dunia akan secara otomatis dan seketika lingkungan menjadi bersih. Apa iya begitu? 

Beberapa kasus di atas memang tidak dapat digeneralkan dan digunakan untuk menjustifikasi seluruh umat Islam, tapi kasus-kasus tersebut janganlah dijadikan anomali dan margin error dalam hitungan statistika semata sehingga keberadaannya disepelekan. Bisa jadi landasan teologis telah dipahami hanya saja belum meresapi qalbu sehingga buah amal yang dinanti tak kunjung datang atau memang perkara kebersihan belum menjadi prioritas di kalangan umat Islam. Perkara kebersihan bisa jadi perkara remeh temeh yang tak sebanding dan sepenting perkara Khilafah Islamiyah atau perkara penegakan syariat atau perkara penegakan hukum cambuk dan rajam, tapi bayangkan apa yang dapat terjadi jika lingkungan kotor dan kumuh? Berapa banyak penyakit akan muncul lalu menggerogoti kesehatan dan menyebabkan kematian? Jika ditarik lebih jauh lagi akan sampai pada maqashid syariah yang bertujuan untuk menjaga kehidupan sebagaimana variabel yang digunakan oleh Ma’arif Institute. 

Kita bisa jadi tak setuju dengan perkataan “Kota Singapura adalah Kota Islami” dalam dimensi epistemologisnya, kita pun boleh tak setuju dengan hasil penelitian Hossein Askari dan Ma’arif Institute, tapi sayangnya ketidaksetujuan kita baru sebatas pada keyakinan dan lisan. Aku masih ingat setahun yang lalu ketika Kompas online menaikkan berita tentang penelitian Hossein Askari banyak dari kita yang misuh-reaktif, begitupula beberapa waktu belakangan ini ketika Ma’arif Institute mengadakan uji publik untuk rencana penelitian terbarunya banyak dari kita kembali misuh-reaktif. Kalaupun kita mengadakan penelitian (tandingan) dengan asas filosofis dan variabel penelitian yang ‘shahih’ untuk membela diri, apakah akan didapatkan hasil penelitian yang berbeda? Apakah harus gelap mata menyembunyikan ‘kebobrokan’ realitas empiris sambil menuding kebejatan Amerika Serikat, Zionis, Yahudi, Freemason sebagai biang keladi ketidakmampuan sebagian umat Islam membuang sampah pada tempatnya serta menjaga kebersihan diri dan lingkungannya? Memang manusiawi untuk reaktif ‘ke luar’, tapi baiknya pun kita reaktif ‘ke dalam’ alias muhasabah dan memperbaiki diri kalau memang kita belum becus mengurusi perkara kebersihan, belum lagi perkara lain yang lebih berat dan kompleks. 

Selain sikap misuh-reaktif ‘ke luar’, kita pun dihanyutkan dengan pencapaian Peradaban Islam masa lalu hingga terlelap bagaikan di alam mimpi-surgawi. Sebut saja cerita masa lalu tentang keindahan, kemegahan dan kebersihan Kota Cordoba sambil ngenyek pada masa yang sama Prancis dan Inggris masih berkubang pada kondisi kota yang kumuh, becek dan belum mengenal sanitasi lingkungan yang baik. Cerita semacam itu janganlah dijadikan sekedar memori kolektif-romantik semata, tapi dijadikan pijakan untuk penyadaran diri dan mendorong tumbuhnya amal yang konstruktif dan produktif. Kita sudahi saja sanad ngenyek terhadap abad kegelapan (The Dark Ages) Peradaban Barat karena hanya melestarikan mental ‘hit and run’; setelah ngenyek lalu diam tanpa amal lanjutan karena sudah mencapai klimaks kepuasan psikologis. Kenyataan memang pahit tapi kita harus berani jujur kalau sekarang rumput di halaman mereka memang jauh lebih hijau dan lebat daripada rumput di halaman kita sendiri, tidak seperti dulu lagi. Bagi saya wajar jika karena hal tersebut banyak saudara Muslim yang kemudian kagum dan mengapresiasi kondisi kebersihan lingkungan tetangga. 

Fenomena di atas secara kebudayaan disebut dengan cultural lag yakni ketidakseimbangan antara kemajuan produk budaya dengan manusianya sebagai pengguna budaya. Kita kini punya masjid yang megah dan mewah, tapi kita belum mampu menumbuhkan mental dan perilaku yang sesuai untuk produk budaya semacam itu. Kita pun kini mulai punya jalur pedestrian yang nyaman dan lebar dengan jaringan sanitasi yang baik di bawahnya, tapi tak diiringi dengan perbaikan mental dan perilaku yang sesuai pula. Kondisi manusia demikian hanya membutuhkan waktu yang sebentar untuk terjadinya kerusakan produk budaya sebagaimana berbagai contoh yang telah dipaparkan di atas. Bisa dibayangkan kualitas mental dan perilaku yang dimiliki ketika dihadirkan kasur sebagai produk budaya untuk tidur atau beristirahat kemudian digunakan untuk makan tanpa dibersihkan dan langsung digunakan untuk tidur? Bisa juga dibayangkan kualitas mental dan perilaku yang dimiliki ketika diperkenalkan kamar mandi yang merupakan produk budaya untuk membersihkan badan dan buang hajat digunakan untuk membuang sampah? Ibaratnya, kita memindahkan hijaunya rumput dari halaman tetangga ke halaman sendiri, tapi karena ketidaksiapan kita sebagai pengguna budaya maka hijaunya rumput tersebut dalam waktu singkat akan meranggas tak jauh berbeda dengan kondisi halaman kita sebelumnya, bahkan bisa jadi lebih buruk. 

***** 

Setelah jujur, kembali mengenali diri dan muhasabah, bahwa masalah akarnya memang di dalam diri kita sendiri, barulah kita dapat melakukan perbaikan (ishlah) sebagai wujud pemenuhan peran dan tanggungjawab kita sebagai wakil ALLAH di muka bumi. Beberapa strategi dan cara bisa dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Diawali dengan kajian seputar wahyu yang diiringi dengan gerakan praksis secara massal agar gerakan kebersihan yang dilakukan dapat dimaknai secara mendalam sebagaimana ALLAH menghendaki, bukan rutinitas dan sekedar pemenuhan kewajiban sosial. Diharapkan gerakan yang lahir adalah amal di muka bumi yang secara horizontal melibatkan umat Islam secara massal (jama’ah) dan secara vertikal menguatkan ikatannya kepada ALLAH sebagai pusat semesta. Poin inilah yang akan menjadi pembeda antara Peradaban Islam dengan Peradaban Barat dalam memandang kebersihan yang tidak sekedar bersih secara fisik, tapi juga memiliki ikatan yang kuat dengan realitas metafisik. Bisa dikatakan gerakan kebersihan secara massal yang dilakukan umat Islam tidak sekedar gerakan sosial-budaya, tapi juga gerakan spiritual, minimalnya dipengaruhi daya spiritual. 

Strategi kajian-gerakan praksis massal sudah banyak yang berhasil membuahkan amal. Coba tengok yang berawal dari kajian kemudian menumbuhsuburkan gerakan kembali ke thibbun nabawi atau yang baru-baru ini pelatihan panahan, renang, dan berkuda. Bukan tak mungkin cara serupa digunakan untuk menumbuhsuburkan gerakan kebersihan secara massal di kalangan umat Islam. Umat Islam sebenarnya tak kekurangan solusi. Contoh saja gerakan praksis pernah ditawarkan seorang kawan beberapa bulan lalu yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan mendorong munculnya gerakan kebersihan dengan memanfaatkan budaya populer dan media sosial. Tak muluk sebenarnya, dimulai dengan ajakan bersih-bersih setiap hari ahad dengan membersihkan kamar tidur, kamar mandi, mushola, masjid, atau lingkungan sekitar. Sayang realisasi gagasan tersebut kurang masif, tidak terorganisir dengan baik dan tidak berkelanjutan, di sisi lain massa umat Islam lebih tertarik dengan gerakan tahdzir dan menghabisi sosok-sosok yang dinilai perusak agama yang jika dibandingkan dengan gerakan kebersihan memang lebih seksi, renyah, menantang sekaligus memompa maksimal andrenalin hingga batasnya. 

Kalaulah menengok pada masa lalu tak kurang solusi pula dapat dipelajari yang sayangnya semakin menghilang dan terkisis kemajuan zaman. Contoh saja dahulu di kalangan anak sekolah terdapat tradisi piket kebersihan kelas dan tradisi setiap hari Jumat selesai olahraga bersama dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih sekolah. Sudah menjadi tradisi pula setiap kelas bertanggungjawab terhadap kebersihan kelasnya dan ketika memasuki masa ujian akhir semester setiap murid bertanggungjawab membersihkan kelas dan menyiapkan sendiri bangku kursi yang akan digunakannya untuk ujian. Kini mulai menjamur dibeberapa sekolah para murid dibebaskan dari tanggungjawab bersih-bersih sambil didoktrin urusan kebersihan sudah menjadi tugas tukang bersih sekolah, tukang jaga sekolah, cleaning servis. Murid sudah membayar mahal yang sebagiannya digunakan untuk membayar tukang kebersihan. 

Jika sekolah tak lagi bertujuan membentuk pribadi peka dan ahli kebersihan, keluarga mau tak mau selalu menjadi benteng pertahanan terakhir. Solusi inipun tak bebas dari permasalahan yang seiring gerak Modernisme semakin mengikis dan melunturkan peran keluarga. Perkara kebersihan dipindah-alihkan ke tangan Pembantu Rumah Tangga (PRT) sementara orangtua dan anak-anak adalah tuan rumah yang wajib dilayani. Ketika rumah kotor, tinggal teriak ke PRT. Ketika PRT pulang kampung jadilah rumah bak kandang sapi. 

Nyatanya perkara kerbersihan saja yang dipandang remeh temeh jika dibedah mendalam barulah diketahui begitu kompleks bahkan menyasar dan berkaitan erat dengan berbagai masalah lainnya, dari masalah kebudayaan, mental-psikologis, keimanan, sosial, pendidikan dan sebagainya. Tampaknya memang masih jauh jalan menuju peringkat puncak Indeks Kota Islami atau negara paling Islami, tapi tak berarti masa depan yang bersih, harum dan elok adalah mustahil jika terus tumbuh dan bermunculannya jiwa-jiwa yang telah sadar dan menyambut genderang seruan jihad-kebersihan. 

Mari kita hijaukan rumput di halaman sendiri! Mari memasyarakatkan kebersihan dan membersihkan masyarakat menuju kebangkitan Peradaban Islam yang bersih lahir bathin! 

Allahu a’lam bishawab. 

Ditulis oleh Andika Saputra 
Bertempat di Malang pada Dzulqo’dah 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar